Langsung ke konten utama

Blogger Itu Pekerja Kreatif

[Lifestyle] Sepertinya, tulisanku ini masih bisa jadi satu rangkaian dengan tulisan sebelumnya. Yaitu tentang bagaimana gaya hidup seorang blogger. Tentu saja, tiap-tiap blogger memiliki gaya hidup yang sendiri-sendiri. Lengkap dengan aturan yang dia buat sendiri demi kenyamanan dirinya sendiri dalam menjalani profesi sebagai seorang blogger.

baca tulisanku yang sebelumnya, yaitu: Etika Menjadi Seorang Blogger Profesional.

Kenapa harus buat aturan sendiri? Karena, seorang blogger itu sesungguhnya, hanya dia yang menjadi boss sekaligus pekerja untuk dirinya sendiri. Dialah pemikir, pengambil keputusan, pelaksana kebijakan dan aturan yang semuanya berasal dari dirinya sendiri. Termasuk disini adalah, menciptakan ruang kerjanya sendiri sebagai seorang blogger.

Blogger Itu Pekerja Kreatif

Kalian tahu tidak lipstik Purbasari?
2 Tahun lalu, amat jarang orang mengenal lipstik Purbasari. Dan tidak sedikit bahkan perempuan yang memandang sebelah mata pada lipstik merek dalam negeri ini. Gengsi rasanya menggunakan merek dalam negeri yang harganya murah ini.

Tapi, karena kreatifitas para beauty blogger, maka sekarang lipstik Purbasari menjadi terkenal dan dicari orang.
Bahkan, sebuah toko online besar memasang tagline untuk lipstik ini dengan tulisan "lipstik kesayangan para blogger".

Akhirnya, lipstik inipun menjadi naik daun sekarang dan cepat sekali habis di pasaran karena laku keras.

Inilah buah dari kreatifitas seorang blogger.
Dan bukan hanya terbatas pada kosmetik saja. Tapi juga ada banyak produk dan bahkan kebijakan lain yang untuk mempopulerkannya di tengah masyarakat, memakai perpanjangan tangan seorang blogger.

Blogger itu... sungguh seorang yang kreatif.
Dari sebuah tema yang sederhana, dia bisa merangkainya menjadi cerita yang menarik.
Dari sebuah isyu yang tidak dikenal orang, dia bisa mensosialisasikannya hingga akhirnya dikenal oleh masyarakat luas.
Dari sebuah produk baru yang tidak ngetop, akhirnya menjadi produk yang dikenal luas.
Itulah buah dari hasil kerja kreatif. Buah kerja yang dihasilkan dari ruang kerja seorang blogger.
Seperti apa sih?

Ruang kerja seorang blogger, sesungguhnya tidak terbatas dalam sebuah kubikel seperti ruang kerja pegawai kantoran.

Blogger itu, adalah seorang pekerja kreatif. Sehingga, justru sebuah kubikel yang kaku dan sempit, bisa membuatnya menjadi kehilangan kreatitifitasnya dalam menghasilkan tulisan dan berbagai fitur yang mendukung tulisan untuk blogpostnya.

Pekerja kreatif di seluruh dunia secara umum, bahkan perusahaan yang menggunakan jasa mereka, menyediakan aneka fasilitas yang sekiranya bisa memancing kreatifitas tanpa batas pekerja kreatif mereka. 


ini suasana kantor google Jakarta tahun 2014. Credit foto: anita handayani

ruang olahraga di kantor google Jakarta tahun 2014. Credit foto: anita handayani

salah satu ruang pertemuan di kantor google Jakarta tahun 2014. credit foto: anita handayani

Itu sebabnya, aku, yang berani mengaku-aku bahwa aku seorang blogger yang notabene adalah pekerja kreatif (hehehehe) tidak memiliki meja kerja tertentu.

Ketika sedang mengetik, maka aku terbiasa membawa notebookku ke mana saja sudut yang aku suka. Tidak terpaku di satu meja kerja saja.

Terkadang aku mengetik di atas tempat tidur, terkadang di atas kursi lelaki pemalas alias lazyboy, dan terkadang ngedeprok begitu saja di atas lantai. Yang pasti aku tidak pernah mengetik sambil tengkurap. Karena aku punya penyakit asma dan jantungku sedikit.... hmm... begitulah. Jadi tidak bisa jika terhimpit terlalu lama. 

Nah, jika sudah mengetik terlalu lama, biasanya kan bagian bawah notebook akan panas ya. Nah, untuk itu, aku baru deh memakai alas.

Ini nih alas untuk mengetikku.



Meja dengan logo paris ini, bagian bawahnya empuk karena berisi beanbag. Sedang bagian atasnya datar dan lumayan keras untuk jadi alas notebook. Dengan begitu, pahaku tidak terbakar panas notebook.

Sedangkan jika ingin mengetik di lantai atau di atas kursi lazyboy, aku bisa memakai meja lipat yang memiliki kaki. Meja lipat ukuran besar ini aku butuhkan biasanya jika aku sedang mengetik tapi ada beberapa perlengkapan ngeblog yang aku bawa serta.

Perlengkapan ngeblogku adalah:


1. Samsung Tab A. 

Aku tuh terlalu bebal rasanya untuk mempelajari photosop dan infografis keren seperti yang dilakukan oleh para blogger yang keren. Tapi, aku kan juga pingin punya semacam infografis untuk melengkapi tulisanku.

Nah.... akhirnya, suamiku memberiku Samsung Tab A. Alasannya sederhana saja, "Jika tidak bisa membuat sekeren orang lain, buat sendiri dengan tanganmu. Itu juga keren."

Jadilah aku percaya diri menggambar sendiri semua sketsa guna mendukung tulisan-tulisanku.  Hehehehe... meski gambarku seperti gambar anak TK sih.




2. Setelah itu, tentu saja Handphone.

Handphoneku.... hmm... ada deh pokoknya. Suamiku juga yang membelikannya. Sekali lagi, dia mendukung kegiatan menulis dan mengabadikan gambar yang aku jalani. Jadi, dia memfasilitasinya dengan membelikan handphone yang alhamdulillah mumpuni banget.

3. Card Reader

Nah, setelah semua foto, gambar sketch dan semua data yang aku rekam di dalam Samsung Tab A dan handphoneku, maka semua data tersebut tentu harus dipindahkan ke notebook. Untuk mempercepat proses pemindahan data, maka aku menggunakan card reader yang bisa langsung dibaca oleh notebookku.

ini untuk menggabungkan beberapa konektor USB sekaligus di notebook kita.

ini card reader untuk membaca memory card dari handphone. Tinggal dimasukkan ke sini, lalu masukkan ke lubang untuk USB di notebook. Jadi, tidak perlu memerlukan kabel data yang panjang dan ribet. 

Nah... semua benda-benda ajaib ini, kontribusi mereka semualah yang membuatku tidak memerlukan sebuah meja kerja dan bisa mengetik di mana saja dan kapan saja.

Malah hari, sebelum tidur, aku selalu mencharge notebook. Agar besok pagi baterenya terisi penuh sehingga sepanjang hari aku bisa menulis dan ngeblog tanpa harus terikat dengan seutas kabel power.

Terima kasih sekali untuk suamiku yang selalu baik hati dan penuh perhatian mendukung semua kegiatanku untuk jadi blogger dan penulis. Dia selalu memberi yang terbaik yang dia bisa berikan Alhamdulillah.
*terimakasihyasayang 

Komentar

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…