Langsung ke konten utama

Keluar dan Bekerjalah

[Lifestyle] Matahari sudah naik sepenggalah. Bahkan mungkin lebih. Pantulan bayangan di jalan sudah semakin memendek, jauh lebih pendek dari tubuh asli pemilik bayangan. Meski demikian, Agus masih saja bergelung di dalam selimutnya. Kipas angin yang disetel dengan putaran terkencang, berbunyi berisik dan menggerakkan helai tirai di jendela. Membuat sinar mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar tanpa permisi.




"Oi... Bangun Gus. Bangun! Tiduk bae kau ni."
Bu Fahri memukul pantat anaknya dengan sapu lidi yang biasa dipakai untuk membersihkan tempat tidur. Agus itu bukan lagi seorang anak kecil. Usianya sudah 35 tahun. Belum menikah, apalagi punya anak. Dia masih perjaka tingting, tidak heran jika Bu Fahri ibunya membangunkannya dari tidur seperti sedang membangunkan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah saja. Bagi Bu Fahri, tidak ada perubahan yang berarti dari anaknya tersebut selain dari usianya yang terus bertambah setiap tahunnya. Kelakuannya, terutama kebiasaan Agus yang bangun siang, masih sama sejak dulu hingga sekarang. Tidak heran jika BU Fahri lupa bahwa Agus bukan anak kecil lagi.

"Bangun! Bangun!" Plok. Plok. Sapu lidi kembali mendarat di pantat Agus. Tidak lama, Agus pun menggeliat. Bukan untuk bangun, tapi untuk meraih bantal dan menutupi wajahnya hingga terbenam.

"Baru jam berapa ini Mak? Ayam saja belum terdengar suaranya?"
"Oi.. Oi... Meski ayam dak bakukuk… aghai dak urung siang." Bu Fahri terus memukul-mukul pantat Agus dengan sapu lidi. Meski ayam dak bakukuk, aghai dak urung siang itu adalah ungkapan khas daerah Sekayu, Sumatra Selatan. Artinya adalah meski ayam tidak berkokok, tidak membuat hari terlambat menjadi siang. Jangan pernah menunda pekerjaan hanya karena sebuah kebiasaan penanda waktu tidak bekerja dengan baik. Karena penanda waktu bisa saja salah, tapi waktu tidak pernah salah. Waktu akan terus bergerak, tidak pernah menunggu siapapun, juga tidak pernah sungkan pada apapun. Mereka yang terlambat, akan tertinggal.

"Sebentar lagi lah Mak. Belum puas tidurku nih."
"Kau ini... rezeki dan jodoh itu harus dicari. Tidak bisa ditunggu sambil tiduran saja di atas tempat tidur. Bangun, keluar dan bekerjalah. Laki-laki yang besoke tiduk, ndak dapat ape-ape." Plok. Plok. Plok. Sapu lidi terus saja menyapa pantat Agus. Akhirnya, karena merasa terganggu, Agus pun mengangkat bantal yang menutupi wajah dan kepalanya.

"Mak, hari ini aku akan jadi orang besar, mak. Mak janganlah ribut lagi dengan urusan rezeki dan jodohku."
"Besar apa maksud kau, Gus?"
"Agus akan maju jadi calon legislatif mak. Apa mak tak lihatkah wajah Agus terpampang di tiang-tiang listrik?"
"Ai... mana Umak ada waktu untuk melihat tiang listrik. Lagipula, siapa yang nak pilih kau?"
"Mak... kenapa Umak tak percaya denganku? Aku nih ada kemampuan juge."
"Ah... usia kau tuh sudah tiga puluh lime, Gus. Kawan-kawan kau sudah punya anak semua. Kau saja yang masih bujang. Makan saja masih minta Umak. Ongkos, juga masih minta umak. Umak tak tahu apa pekerjaanmu sebenarnya, setiap hari sibuk pamit begawe, tapi nda katek Umak lihat kau pegang duit. Kau tuh... besok suap dai mekan."
Agus cemberut mendengar kiasan yang keluar dari mulut Umaknya. Besok suap dai mekan itu artinya, lebih banyak gumpalan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut, bahkan gumpalan makanan itu jauh lebih besar daripada bentuk bundar wajah pemilik mulut yang akan dimasuki makanan tersebut. Cara makan di Sekayu memang makan dengan menggunakan tangan, bukan dengan sendok. Ada sebuah fatsoen, atau tata krama tersendiri dalam budaya makan tersebut. Yaitu, jangan menyisakan makanan di atas piring. Piring yang bersih dari sisa makanan itu pertanda kepuasan sempurna dari yang makan dan itu adalah penghormatan untuk yang masak atau yang menjamu makanan. Karenanya, agar piring bersih, maka sering makanan dibuat dalam bentuk gumpalan-gumpalan berbentuk bola bakso. Sekali ambil bola makanan, itu sama dengan satu suap. Otomatis, piring pun menjadi bersih dari sisa makanan dengan cara makan seperti ini. Tentu saja membuat bola makanan di atas piring itu ada seninya tersendiri. Yaitu, bola itu diusahakan tidak melebihi lebar mulut. Jadi, tetap cantik dilihatnya ketika sedang menyuap bola makanan ke dalam mulut. Meski demikian, ada saja orang yang ingin buru-buru menyelesaikan makanannya. Karenanya, dia membuat bola makanan yang besar sekali. Maksudnya mungkin agar bola makanan yang besar itu bisa terjejal semua di dalam mulutnya, jadi sekali kunyah. Tentu saja yang terlihat kemudian adalah perilaku rakus. Serakah. Tidak sedap dipandang. Maka, lahirlah ungkapan, besok suap dai mekan, untuk menggambarkan perilaku orang yang serakah, tidak dapat mengukur kemampuan dia mencerna apa yang bisa dicerna karena ingin mengambil sebanyak mungkin.

"Tidak mak, aku dak besok suap dai mekan. Aku biasa saja. Tapi ini benar mak, aku akan maju jadi anggota calon legislatif. Doake saja aku, Mak."

"Terserah kau saja, nak. Aku nih Umak kau. Aku tahu macam mana kau ini. Aku kasihan saja dengan orang yang mengajak kau untuk ikut pemilihan itu. Apa dia sudah tahu kau tuh macam mana? Di mata umak, orang tuh kasihan sekali.
Takecak dikartu mati, masih diajak ke gelanggang."
"Mak, aku dak separah itu." Agus merasa kesal dengan ungkapan yang keluar dari mulut Umaknya. Takecak dikartu mati, masih diajak ke gelanggang itu artinya, sudah tahu mendapat kartu mati tapi masih nekad untuk kembali bertarung di atas gelanggang. Orang-orang di Sumatra Selatan memang gemar menyindir dengan ungkapan-ungkapan daerah jika sedang bercakap-cakap. Sayangnya, ungkapan itu tidak selalu bernada positif. Seringnya ungkapan yang digunakan adalah ungkapan yang berisi ke-nyinyiran. Hanya saja satu hal yang menguntungkan ketika berbincang-bincang dengan orang Sumatra Selatan adalah, mereka tidak mudah tersinggung. Telinga mereka sudah lumayan kebal mendengar berbagai macam ledekan, sindiran dan nyinyiran. Itu sebabnya ungkapan-ungkapan yang mungkin bagi budaya lain terdengar pahit dan menyakitkan, biasanya hanya ditanggapi dengan senyuman saja di kalangan orang Sumatra Selatan. 

 "Terserah apa kata kau lah Gus. Bagi Umak, mimpi saja jika kau nekad ke pemilihan itu. Yang nyata itu adalah, bangun pagi, lalu bersiap-siap menjemput rezeki. Yang pasti sajalah, bekerja dan bekerja. Jangan bermimpi terus."

Agus hanya terdiam, tapi tak urung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tidak lama, terdengar suara air kecipak-cipuk tanda dia mandi. 


--The End--

Cerita Agus ini adalah cerita fakta yang disajikan dengan gaya fiksi. Di daerahku, ada banyak Agus yang bermimpi untuk menjadi anggota legislatif dan bertarung di PEMILU lalu. Yang gagal sudah tak terhitung.


“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”



------------------------------------------------------------------------
keterangan:
- Oi... Bangun Gus. Bangun! Tiduk bae kau ni.: Hei, bangun Gus, bangun. Tidur saja kerjamu.
- besoke tiduk, ndak dapat ape-ape: Banyakin tidur, tidak dapat apa-apa.
- Begawe: bekerja

Komentar

  1. Sudah 3x ikut capres mbok ya sudah berhenti saja ya Jeng.
    Jadi kangen kota Palembang
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixix iya pakde. ada yang sampai jual sawah dan rumah loh.. eh.. masih juga kalah. lama-lama ikut pemilu itu seperti ikut main judi.. untung-untungan dan gamblingnya besarrrr

      Hapus
  2. GA ini asyik ya .. jadi tahu kebudayaan daerah lain. Keren ini Mbak Ade .. moga menang yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mugniar, tujuanku ikut GA ini juga krn hal itu emang. Kapan lagi nulis dengan budaya daerahku..

      Hapus
  3. sindiran peribahasanya memang mengena ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada banyak ungkapan sindiran di masyarakat. Dari ungkapam pendek hingga ungkapan mirip sanjak.

      Hapus
  4. semoga sukses ya mak GA-nya.
    amiin....

    BalasHapus
  5. Daerah sumetera yg mayoritas warganya di kenal keras, tapi kalo menyindir halus cuma telek ya mbak :)

    BalasHapus
  6. Orang-orang dari Sumatra memang terkenal pandai berpantun dan berperibahasa sejak dulu ya mbak. Eh harusnya panggil Kak ya ternyata mb Ade org Palembang :-)

    BalasHapus
  7. wah.. ini seperti cerita Wad-dhuha ya mbak :)

    BalasHapus
  8. Ayo bangun dan bekerjalah....

    BalasHapus
  9. Saya sama seperti Agus, bangun siang, Mak Ade. Hihihi

    BalasHapus
  10. DPR kok dianggap ladang cari kerja.....pantesan di tempatku banyak yg sperti Agus...yang jadi gila sudah tak terhitung lagi...
    selamat berlomba ya...semoga menjadi salah satu yang terbaik...keep happy blogging always,,salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  11. Wah kisah si Agus ini banyak terjadi di Indonesia rupanya, sulitnya mencari kerja membuat orang lebih suka bermimpi

    BalasHapus
  12. banyak juga orang macam agus ditempat saya

    BalasHapus
  13. makasih infonya, sangat membantuh!!

    BalasHapus
  14. Jadi anggot legislatif memang impian banyak orang. Banyak yang membayangkan pasti enak karena gaji besar, fasilitas VIP & kemana-mana dihormati.

    BalasHapus
  15. Menambah pengetahuan tentang bahasa di Indonesia, nih. Makasih sharingnya, Mak :)

    BalasHapus
  16. Salam bug,...

    Blogger Palembang yaaa, kalo gtu salam dr Blogger jogja :)

    bagus blog dan tulisan2nya, seorang Ibu yg menginspirasi nihh, hihi :)

    salam

    BalasHapus
  17. Baru tau nih klo Mak Ade dari Sumatra Selatan.
    Iya nih, banyak bgt ya Agus Agus yg bertebaran dimana-mana.

    BalasHapus
  18. Gutlak ya mak untuk GA nya, aku pikir mak ade urang sunda ternyata dari sumatra :)

    BalasHapus
  19. kayaknya gak cuma di daerah Mak Ade aja. Dimana2 banyak tipe kayak Agus :)

    BalasHapus
  20. setujuu harus giat dalam bekerjaa

    BalasHapus
  21. Banyak yang ngebut cari duit utuk biaya pemilu ya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…