Langsung ke konten utama

TONGSIS: agar narsis bisa jalan terus

Dulu, mungkin urusan narsis bukan sesuatu yang spesial. Bahkan pada beberapa orang, masih dianggap tabu. Beberapa ibu-ibu di sekolah anak saya, sempat melontarkan sebuah perbincangan yang sebenarnya membuat saya menahan senyum.

"Eh, kemarin aku kan iseng ya masukin namaku di google search. Eh.. masa muncul loh namaku disana. Kayaknya, Amerika memang gencar-gencarnya mematai-matai kita deh. Jadi mereka tuh random gitu memata-matai bangsa lain. Coba bayangin, nulis namaku sendiri langsung muncul profilku. Ada nama, semua foto-fotoku. Hadeuhhh..."

"Oh, memangnya, kamu punya akun twitter gitu?"
"Gak ada."
"Facebook?"
"Ya kalo itu sih ada. Jaman sekarang aduh tolong deh kalau nggak punya akun facebook."
"Nah... gugle itu memasukkan nama profil dan foto-fotomu itu diambil dari facebook kali. Bukan karena dirimu jadi inceran intelnya amerika."

Tapi ibu-ibu itu tetap percaya bahwa dirinya sedang dimata-matai oleh pihak asing. Jadilah dia melarang keras dirinya sendiri dan anggota keluarganya yang lain untuk memasukkan semua foto-fotonya ke internet manapun. Akun facebooknya pun ditutup.

Selesaikah persoalan? Tidak. Karena, sekarang kan jamannya internet. Tetap saja pengumuman lulus-lulusan sekolah, bahkan foto-foto dia yang diupload oleh teman dan kerabatnya tidak bisa dicegah juga. Jadi... mau tidak mau.. ibu itu tetap eksis meski berusaha keras untuk tidak eksis.

Nah... sehubungan dengan kata eksis ini, tidak semua orang seperti ibu-ibu temanku itu. Ada juga yang menikmati keeksisan mereka.  Termasuk aku sepertinya.. hehehehe. Dan eksis tidak afdhol jika tidak disertai narsis dengan foto-foto pribadi.

Dan sejak ada fasilitas self picture di kamera henpon maka meski seorang diri kita tetap bisa narsis di depan kamera loh.

Dulu, narsis bisa ditempuh dengan cara meletakkan kamera di depan lengan kita. Hasilnya tidak bagus pasti. Lalu fasiltias kamera di henpon mengalami peningkatan. Disediakan dual kamera dimana salah satunya diletakkan di depan kamera. Dengan begitu, kita bisa melihat wajah kita sendiri di layar sebelum memencet tombol kamera. Hasilnya tapi tetap tidak bagus. Karena perpanjangan lengan kita tetap membuat jarak wajah dan kamera terlalu dekat sehingga wajah jadi terlihat membulat.

Akhirnya, proses kreatif para narsis bergerak. Mereka pun mulai memanfaatkan cermin yang ada di depan mereka untuk menghasilkan foto yang lebih baik.

ini salah satu conton foto narsis dengan memanfaatkan cermin. Tuh, terlihat kan henponnya? Itu tuh kekurangannya

Nah... kendalanya adalah, gambar kameranya tetap terlihat. Jadi ketahuan banget kalau foto diri sendiri.
Akhirnya, mulailah muncul pemikiran untuk menggunakan alat perpanjangan pengganti tangan. Dan muncullah TONGSIS: Tongkat Narsis.

Cara kerjanya sederhana saja, yaitu henpon diletakkan di ujung tongkat yang bisa dipanjangkan tersebut, lalu dipasang timer untuk menghasilkan foto. Misalnya pilih 2 detik, atau 5 detik. Klik tombol kamera lalu jauhkan tongsis dari kita dan SMILE. Difoto deh.

Praktis kan?

besarnya tongkat hanya seperti sebuah gagang sapu saja. Ketika dilipat dia hanya sepanjang sebuah remote. Tapi ketika dipanjangkan isa mencapai satu setengah meter. Nah, henpon taruh di ujungnya. Karena letaknya lebih jauh maka bisa mengabadikan foto rame-rame hingga beberapa orang sekaligus. Ini kebaikan dari sebuah tongsis. JIka tangan sendiri yang digunakan, hanya bisa mencakup dua sampai tiga orang saja.
Ada yang sudah mencoba pake tongsis? Gimana? Ketagihan nggak?
hehehhe.... kok aku iya ya sepertinya....

Komentar

  1. Deuuh, pengen banget punya tongsis mak :D *tunggu ada kontes yang hadiahnya tongsis, pasti ikutan deh :p

    BalasHapus
  2. wah artikelnya menarik..
    jadi tau deh cara kerjanya tongsis...
    boleh juga tuh buat selfie hihihi

    BalasHapus
  3. hahaaa ketagihan banget mbak ade :D

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…