Langsung ke konten utama

Main Karet YUk

Jaman digital seperti sekarang, membuat banyak anak-anak yang terpaku di depan layar tablet gadget mereka di rumah. Jemari tangan mereka amat terampil berpindah-pindah dari satu gambar ke gambar lainnya ketika bermain dengan gadget layar sentuh mereka. Tidak terkecuali anak-anakku.

Anak-anakku termasuk generasi digital. Sejak kecil mereka sudah mengenal banyak game-game digital yang tersaji di gadget. Sebut saja game melawan para zombie, atau berkebun, atau mengelola restoran, atau mengerjakan tugas-tugas salon dan sebagainya. Mereka amat familiar dengan layar sentuh. Tidak tergagap oleh tekonologi sama sekali.

Baikkah itu? Entahlah.
Tapi pagi ini, anak bungsuku bertanya padaku tentang cara membuat gelang karet yang dironce hingga panjang menyerupai tali.

"Ibu ingat nggak dulu ibu pernah nunjukin ke aku cara bikinnya? Nah.. itu bikinnya gimana sih bu? Terus buat apa talinya?"

Langsung saja aku meninggalkan pekerjaanku mengetik dan mengambil gerombolan gelang karet yang aku gantungkan di lemari untuk membungkus makanan. Meski dia amat terampil di layar sentuh, tapi untuk kegiatan motorik tradisional, anakku ini ternyata amat gagap permaian tradisional. Jadilah aku mengajarinya cara meronce karet gelang. Kegiatan ini bagus juga untuk mengajarinya gerakan motorik sederhana dan melatih konsentrasi melihat benda yang kecil.


Setelah menjadi panjang, untuk apa karetnya?

"Ini untuk main karet, Nak."
"Seperti apa?"

Astaga. Baru aku sadar bahwa ini jaman digital. hahahaha. Jadilah aku minta anak sulungku untuk memegang sisi lain dari karet dan dia aku ajari melompat tali karet tersebut. Tubuhnya kaku sekali. Beberapa kali terjatuh tapi wajahnya berbinar gembira luar biasa.
Subhanallah.
Senang melihatnya.
Rupanya sesekali menjauhi tablet dan gadget lalu beralih ke kegiatan motorik yang disuduhkan oleh permainan tradisional itu lebih membuat tubuh seorang anak bergerak. Berkembang.
Melompat.
Berlari.
Berusaha.
Jatuh tapi mencoba untuk bangkit.
Sakit tapi segera menghapusnya dengan tawa dan semangat.




hehehehe... seru juga.

Komentar

  1. hehe, jadi inget pas kecil dulu juga suka main karet. dibikin bintang, dll. kadang main lompat tali, tapi kalo udah sebahu susah lompatnya karena yang jaga tinggi2. wekeke :D

    BalasHapus
  2. Dulu, aku juga suka main karet dengan teman-teman. Hehehe

    BalasHapus
  3. kebiasaanku kalau ada karet aku gantung di paku, kadang sampai habis itu karet dipakai main anak-anak

    BalasHapus
  4. huahahaha..jadi inget keisengan akuuuu...mau ajarin anak2 juga aah, sambil mengingatkan mainan masa keciiil hehehe..TFS maaak...

    BalasHapus
  5. sebentar..itu karpet the pooh sama persis punya Faiz, yang menggambarkan penjumlahan kaan ya? ada pooh ada honey juga...birunya plek ituuuh

    Heheee..kalau main karet Faiz malah ditarik trus dilepaskan ..haduh kan bahaya ya Mak, lah kalau aku ajari lompat tali...aku belum bisa loncat bawa debay di perut deeech...hihi

    BalasHapus
  6. Main sambil olahraga

    BalasHapus
  7. Itu mainan kesukaanku saat aku kecil dulu Maaakkk....
    Sekarang anak2 gak ada lagi ya yang mainan itu? hehehe
    Shasa juga sudah lama gak mainan spt itu

    BalasHapus
  8. salah satu mainan favorit saya waktu kecil :D

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…