Langsung ke konten utama

Belajar Memahami Puisi Sejak Kecil

[Parenting] Hmm... judulnya terlalu provokatif ya? hehehe...
Aku sedang merapikan fil-file yang ada di memory notebookku agar tidak cepat penuh ceritanya. Jadi, foto-foto yang tidak terlalu "perlu untuk disimpan" terpaksa aku hapus-hapusin. Juga berbagai macam catatan yang aku kebetulan simpan. Umumnya, catatan orang lain seperti draft novel yang orang lain minta aku untuk jadi first reader atau memberikan endorsment, karena novel mereka sudah pada terbit tentu saja draft-draft itu harus dihapus.


Hasil bebersihan ini lumayan juga ternyata. Ada beberapa space kosong kembali yang aku dapatkan. Alhamdulillah.

Di antara sekian banyak file dan foto yang aku hapus, aku menemukan foto ini. Sebelum dibuang, mungkin aku tulis dulu di sini. Ini kenang-kenangan ketika Putri Bungsuku baru duduk di kelas satu (1) sekolah dasar (tepatnya foto ini diambil di 25 Mei 2012). Diambil dari buku bahasa Indonesia yang dipelajari oleh putri bungsuku tersebut. Yaitu pelajaran untuk memahami puisi.


Buat anak kelas satu SD, meski sudah di akhir tahun pengajaran, menurutku sih puisi ini termasuk sulit. Mengingat anak-anak kelas baru saja lancar membaca. Beberapa malahan ada yang masih terbata-bata membacanya. Itu sebabnya dulu puisi ini aku langsung abadikan dalam kamera. Nah.. perhatikan pertanyaan selanjutnya yang terkait dengan puisi tersebut:




Ada hal yang terkait erat dengan sebuah puisi. Yaitu penggunaan kata-kata yang efektif dalam menyampaikan pesan tertentu. Karena, puisi itu sesungguhnya adalah sebuah pesan yang disampaikan dengan deret kalimat yang singkat, padat dan berima.

Pertanyaannya, apakah anak kelas satu yang (mungkin karena aku seorang ibu, bukan seorang guru) jumlah kosakata yang mereka miliki masih amat terbatas, bisa begitu saja memahami sebuah puisi? Waktu itu aku agak-agak sulit menjelaskan pada anakku arti kata-kata yang ditanyakan di atas. Sulitnya karena aku harus menjelaskan dengan kalimat sederhana agar putriku mengerti dengan mudah. Jadi seperti membumikan "kata yang ada di atas bumi agar kembali membumi".

(Kadang, aku merasa kurikulum yang terlalu sulit itu pada akhirnya membuat guru sering membagi pekerjaan yang tidak bisa dia lakukan pada orang tua. hehehe... ini pasti prasangkaku saja. Jadi, gak usah dimasukin ke hati. Tapi terbayang saja gimana jika orang tua si anak termasuk orang tua yang cuek, atau tidak berpendidikan, atau amat sibuk? Kasihan juga anaknya jika kebetulan mendapat guru yang punya kebiasaan melimpahkan bagian yang sulit pada orang tuanya

Secara tak terduga, aku menemukan status facebook yang aku tulis kemarin ternyata masih terhubung dengan puisi juga. Yaitu keluhanku ketika mendapati diriku sama sekali tidak bisa lagi menikmati puisi dari teman-temanku yang terbaca kian rumit dan sulit untuk dimengerti karena penggunaan kata-kata dari kosakata bahasa Indonesia yang amat jarang dipakai. Pernah mengalaminya juga gak?

Ade Anita Full Yesterday


Aku gak bisa bikin puisi. Bukan karena aku memang tipe tidak romantis (*sayang ya gak ada test parameter untuk ngukur seromantis apa diri kita..xixixi).
Aku gak bisa bikin puisi karena tidak bisa aja.
Tapi aku seorang penikmat puisi. Itu sebabnya beberapa teman yang hobbi nulis puisi di status mereka mungkin termasuk orang2 yang selamanya tidak akan aku remove (*kecuali jika mereka sudah melanggar beberapa ketentuanku).

Puisi itu enak dibaca karena dalam kepadatan kalimat selalu ada makna yang tersurat disusupkan pada tiap2 baris kata2nya.
Bagi seorang penulis puisi, sepertinya tantangan mereka selain menyamarkan makna agar tidak terlalu instan sajiannya adalah bermain dengan kosa kata yang bervariasi.
Nah.. ini juga yang bikin membaca puisi menjadi menarik bagiku. Karena aku jadi bisa menemukan kosa kata baru (*cara cepat belajar kosakata baru adalah dengan membaca puisi orang lain).

Sayangnya...satu hal yang sering terjadi dari para pembuat puisi adalah: keasyikan menggunakan kosakata baru pada akhirnya membuat puisi mereka kian lama kian menjadi menara gading. Hanya segelintir orang yang bisa mengertinya.

Lalu tiba2 saja... hanya tiba2 saja... aku mendapati diriku sudah berhenti membaca puisinya karena akunya malas memeras otak untuk memahami makna sebuah puisi yang dia tulis.
Dan akhirnya aku lupa dengan semua status dia yang dulu pernah aku sukai puisinya.

Apa itu karena aku bukan penikmat puisi sejati ya? Entahlah. Aku suka puisi yang sederhana. Itu saja
Puisi itu enak dibaca karena dalam kepadatan kalimat selalu ada makna yang tersurat disusupkan pada tiap2 baris kata2nya.
Bagi seorang penulis puisi, sepertinya tantangan mereka selain menyamarkan makna agar tidak terlalu instan sajiannya adalah bermain dengan kosa kata yang bervariasi.
Nah.. ini juga yang bikin membaca puisi menjadi menarik bagiku. Karena aku jadi bisa menemukan kosa kata baru (*cara cepat belajar kosakata baru adalah dengan membaca puisi orang lain).


----------------------------

Komentar

  1. Hiks, yang udah besar ginu smpai skrg blm bisa membuat puisi. :D

    BalasHapus
  2. Iya sulit rupanya itu padahal pelajaran kelas 1 sd, seingat saya waktu itu saya belajar puisi tidak serumit itu.
    kak sepertinya itu dobel dobel deh statusnya.
    Saya juga sering bikin puisi, tapi entah kenapa saya bikin puisi justru dikala hati sedang kalut. Nah jadi, puisi yang saya punya kadang kadang puisi galau.
    hehehe.
    saya pernah dimarain sama seseorang, katanya nggak boleh galau. Jadi jangan nulis nulis puisi gitu, yah gimana yah.

    BalasHapus
  3. pelajaran utk anak SD sekarang ini memang aneh mak... Saya juga sering banget protes dengan ngedumel sendiri ttg sulitnya kurikulum utk anak2 SD skrg ini.

    BalasHapus
  4. Tidak ngerti tentang puisi sama sekali :(

    BalasHapus
  5. sejatinya tiap-tiap manusia itu memilki kelebihan dan juga kekurangan..termasuk dalam memahami puisi...ada yang suka puisi ada juga yang tidak..ada yang pandai berpuisi..dan ada juga yg tidak..sebatas hanya menikmati puisi juga termasuk kelebihan,,yang belum tentu dimiliki oleh manusia lainnya...,
    btw- mengenai pelajaran si kecil..yang dijejali soal kosa kata..sementara kosa katanya masih terbatas..ini sebenarnya menunjukkan bahwa sistem pendidikan di indonesia..masih dalam taraf uji coba,,,setiap saat berganti kurikulum..entah kapan berhentinya...
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  6. tidak mudah membuat puisi bermakna seperti itu

    BalasHapus
  7. Mbak Ade, berulang-berulang postingannya :)

    Saya setuju dengan pendapat Mbak Ade ttg puisi dan pendidikan sekarang. Setuju 100%.

    BalasHapus
  8. Saya dulu dari kecil suka sekali membuat puisi, sampai2 mamah sedang masak pun aku buatkan puisi dan diberikan ke mamah :D.. padahal isinya simple banget, puisi anak SD lah

    BalasHapus
  9. Asyiiikkk....akun medsos dan blogku gak akan diremove sm mak ade xixixixi ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…