badge

Sabtu, 31 Agustus 2013

Coffee For Two: Indonesia and Vietnam

"Masih pusing?" Suamiku datang dengan wajah yang digayuti rasa khawatir. Sambil mengangguk dan menahan rasa sakit kepala yang mendera, aku meraih tensimeter yang ada di dekatku. Lalu mulai mengukur tekanan darahku sendiri. Kami memang memiliki sebuah tensi meter di rumah mengingat aku dan suamiku punya penyakit yang berbeda. Aku penderita tekanan darah rendah sedangkan suamiku punya tekanan darah tinggi. Tensimeter ini benda yang amat berguna untuk memantau kesehatan kami berdua. Setidaknya bisa melakukan tindakan dini untuk mengatasi jika terjadi sesuatu. Seperti gejala sakit kepala yang terasa menekan-nekan kepala hingga merasa bola mata seperti ingin loncat keluar, perut mual dan seperti ingin memuntahkan isi perut keluar, serta bumi terasa bergoyang rapuh seperti yang aku alami saat itu.


tekanan darahku yang bikin sakit kepala


"Wah, ternyata emang rendah ya. Mau minum kopi?" Suamiku menawari minuman yang mengandung kafein itu padaku. Kopi memang dipercaya bisa meningkatkan tekanan darah pada penderita tekanan darah rendah. Bahkan. Pada korban tenggelam, tindakan pertolongan pertama yang dianjurkan pada korban tenggalam setelah mereka membuka matanya alias memperoleh kesadarannya juga diberikan secangkir kopi. Karena kopi bisa memacu kerja jantung agar lebih giat lagi memompa darah.

"Boleh deh. Kepalaku sudah pusing banget." Lalu, mulailah aku menyesap secangkir kopi hitam yang tidak kental. Kopi instans sachetan yang memang selalu aku sediakan di rumahku untuk saat-saat tertentu saja.

Di rumahku, keluarga kami memang bukan keluarga penikmat kopi. Bahkan nyaris amat sangat jarang menyesap kopi untuk menikmati waktu yang bergulir. Bisa dikatakan, keluarga kecilku adalah keluarga yang berusaha untuk menerapkan pola hidup sehat secara sadar. Jadi, lebih banyak mengkonsumsi air putih. Teh dan sirup itu sesekali saja. Kecuali suamiku yang rutin minum teh hijau setidaknya seminggu sekali. Tapi, aku selalu punya stok kopi di rumah. Selain diminum jika tekanan darahku sudah kelewat drop, stok kopi di rumah juga disediakan untuk memberi minum kopi jika suatu hari ada tukang yang bekerja memperbaiki kerusakan di rumahku. Mereka biasanya suka menagih kopi. "Bu, boleh minta kopi?".  Juga, stok kopi di rumah itu persediaan jika aku ketempatan arisan keluarga. Entah mengapa, biasanya satu atau dua jam setelah makan siang lewat, ada saja anggota arisan yang minta secangkir kopi. Waktu awal-awal merasakan ketempatan arisan, aku pernah kelabakan ketika mereka menagih kopi.

"Wah... gak punya kopi di rumah."
"Emang gak pernah nyeduh kopi?"
"Nggak ada yang suka kopi kalau gak terpaksa. Jadi gak punya kopi. Malah, gak punya ceret buat nyeduh air panas lagi."

Lalu hening. Aku melihat wajah keheranan saudara-saudaraku pada kondisi rumahku. Sejak itu jika sudah ketahuan bakalan ketempatan arisan, aku segera menyiapkan beberapa sachet kopi di rumah. Juga.... taraaaaa... aku punya ceret air panasnya juga. Hehehe... soalnya kata saudara-saudaraku, kopi jika diseduh dengan air dispenser maka serbuknya tidak seluruhnya larut dan itu membuat aroma kopi jadi kurang menguar wanginya. Harus dengan air yang benar-benar mendidih, tidak seperti air dispenser yang hanya 70 derajat saja panasnya.

kopi semendo, gambar diambil darihttp://erland78.blogspot.co.id/2011/09/kopi-semendo.html

Ngomong-ngomong soal kopi, di daerah asalku, yaitu Sumatra Selatan sana, ada sebuah jenis kopi yang cukup terkenal. Yaitu kopi semendo. Kata penikmat kopi, kopi semendo ini rasanya khas. Pekat, kental dan ada rasa asam sedikit yang nikmat.  Kopi Semendo memang jenis kopi Robusta (jadi berbeda dengan jenis kopi dari Sumatra Utara dan Aceh yang terkenal karena dua tempat ini lebih banyak menghasilkan kopi Arabica)(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis-jenis_kopi). Tapi yang lebih utama lagi, wanginya cukup tajam (meski kopi jenis Arabica tetap juara untuk segi wangi kopi yang kuat).

 Menghirup wangi kopi sebelum menyesapnya adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi penikmat kopi. Itu sebabnya mereka selalu senang dengan asap yang mengepul dari secangkir kopi di hadapan mereka dan ritual meminum kopi dilakukan dengan menyesapnya sedikit demi sedikit. Masih kata penikmat kopi, kopi Indonesia itu wanginya kalah jika dibanding dengan kopi dari Afrika dan Amerika yang benar-benar harum. Masih kata para penikmat kopi juga nih, jaman sekarang cara menyeduh kopi yang modern itu adalah dengan Espresso Machine; karena menyeduh dengan cara menyeduhnya langsung di gelas itu adalah cara yang sudah ketinggalan jaman dan membuat ampas kopi masih tersisa di dalam cangkir (hehehe... untungnya aku bukan penikmat kopi jadi gak terlalu merhatiin detil ini). Itu sebabnya sekarang banyak berdiri gerai kopi modern dan konsumennya selalu bertambah sehingga gerai kopi pun semakin subur. Masih katanya, kopi Robusta itu kopi yang paling bagus untuk dibuat creme agar cantik tampilannya. Itu sebabnya ada campuran kopi tersendiri di gerai kopi modern. Karena selera orang meminum kopi yang macem-macem. Ada yang senang dengan kopi yang pahit, ada yang suka asamnya terasa, tapi yang pasti untuk menghasilkan busa yang bisa dihias-hias maka dibutuhkan campuran kopi robusta di dalamnya.

gambar diambil dari http://www.vemale.com/kuliner/icip-icip/13352-kelezatan-cappuccino-creme-brulee-dan-hazelnut-mau-coba.html


Di dunia, ada lima negara penghasil kopi terbesar di dunia, yaitu Brazil yang menempati posisi pertama, disusul oleh Vietnam di posisi kedua, Indonesia di posisi ketiga, dan seterusnya (http://finance.detik.com/read/2013/03/15/130818/2195025/4/1/ini-5-negara-produsen-kopi-terbesar-di-dunia#bigpic).

Nah, sekarang ada pertanyaan seperti ini:

Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.
Hmm... pertanyaan yang agak sulit sebenarnya. Entah mengapa saya jadi ingat nasib kopi Semendo di daerah Sumatra Selatan sana. Kabarnya, kopi jenis Semendo ini mulai sedikit produksinya karena petani kopi mulai banyak yang alih profesi. Mereka tidak lagi ingin menjadi petani kopi karena produksi kopi ternyata amat tergantung pada kondisi cuaca dan stabilitas harga pasaran. Padahal, kebutuhan hidup sehari-hari para petani ini kian terdesak akibat kenaikan harga barang-barang di Indonesia yang sering tidak masuk akal (ini kita bicara tentang kondisi daerah ya, bukan kondisi di Ibukota dan kota-kota besar di Pulau Jawa). Akhirnya, sekarang banyak petani kopi di Sumatra Selatan yang mengganti tanaman kopi di perkebunan mereka dengan tanaman karet atau kelapa sawit. Kedua komoditas ini memang sedang naik daun dan memberi keuntungan yang lebih baik ketimbang tanaman kopi. Belum lagi cuaca di Indonesia yang beberapa tahun ini sering mengalami cuaca yang ekstreem. Ketika musim hujan, curahnya tuh banyak dan lama. Pas musim kemarau, panasnya ampun-ampunan. Bagi para petani, cuaca yang ekstreem ini memang bikin deg deg ser gimana gitu. Ujung-ujungnya, produksi perkebunan jadi menurun.

Bandingkan dengan negara Vietnam yang lebih stabil petaninya (alias gak galau jadi gak terpikir untuk mengganti tanaman perkebunannya). Bisa jadi, ini alasan kenapa Vietnam menduduki posisi kedua setelah Brazil sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Alasan lain kenapa Vietnam bisa berhasil menduduki posisi kedua di atas Indonesia sebagai produsen kopi dunia, karena satu hal yang tidak bisa dihindari sebenarnya. Yaitu, jumlah penduduk Vietnam yang lebih sedikit ketimbang jumlah penduduk Indonesia.

Emang ngaruh? jawabannya:  Ngaruh banget.

Jadi misalnya gini nih. Indonesia dan Vietnam nih, mereka sama-sama menghasilkan produksi kopi sebanyak 1 juta kantong misalnya. Nah, buat Vietnam. Sebagian produksi ini bisa dinikmati oleh penduduknya yang misalnya Cuma ada 300 ribu orang (ini misal ya). Nah, 700 ribu kantong lagi kan gak habis jika dikonsumsi untuk dalam negeri mereka jadi akhirnya mereka ekspor deh keluar negeri. Sedangkan Indonesia, karena jumlah penduduknya beberapa kali lipat dibanding Vietnam, 1 juta kantong itu, bisa-bisa langsung terserap 90 % untuk konsumsi dalam negeri dulu kan. Sisanya, 100 ribu kantong ini yang bisa diekspor. Tentu saja kurang. Jadi, kalau mau bersaing dengan Vietnam artinya Indonesia harus menanam tanaman kopi lebih banyak lagi dan sekaligus memproduksi kopi lebih banyak lagi karena orang Indonesia itu nyaris sebagian besar adalah penikmat kopi. Jadi agar bisa diekspor ya kopi harus diproduksi lebih banyak daripada kebutuhan nasional dalam negeri. Nah... ini yang susah.

Produksi kopi di Indonesia sebenarnya sudah cukup maksimal kok. Jadi, jika saat ini Indonesia berada di posisi ketiga di bawah Vietnam bukan berarti produksi kopi Indonesia menurun. Karena kenyataannya, jumlah produksi kopi Indonesia itu justru meningkat. Hanya saja, permintaan dalam negerinya juga meningkat. Malahan, produsen dalam negeri memberi taksiran harga lebih tinggi untuk membeli hasil panen kopi ketimbang produsen kopi dari luar negeri. Ya jelas saja petani kita lebih memilih untuk menjual hasi panen kopi mereka ke produsen dalam negeri kan.  Ini dia beritanya jika ingin mengecek kebenaran kabar yang aku tulis ini:

Menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat (U.S Department of Agriculture/USDA), permintaan hasil panen meningkat dari pengolah biji kopi lokal. Konsumsi kopi bisa mencapai jumlah 2,58 kantong pada 2013-2014, sekitar 53% lebih banyak dibanding tiga tahun lalu. Industri ini mengalahkan pasokan para eksportir, ujar Sumita. Para pengolah biji kopi lokal siap membeli biji kopi robusta seharga Rp 21 ribu per kilogram. Sedangkan menurut Sunyoto yang memimpin persatuan petani kopi dengan 37 anggota di dalamnya mengatakan, para pedagang luar menawarkan harga Rp 19 ribu per kilogram.(Shd) (sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/608804/sudah-dua-tahun-ekspor-kopi-indonesia-anjlok/?related=pbr&channel=b).
Lalu, apakah Indonesia dan Vietnam bisa menjadi partner dalam produksi kopi? Nah.. nah... ini juga sulit dijawab. Karena begini, maksudnya partner itu apa ya? Apakah maksudnya partner dalam memproduksi kopi berupa kerjasama dalam membudidayakan tanaman kopi gitu? Kopi itu jenis tanaman yang unik. Gestur tanah, suhu temperatur daerah setempat, cuaca, pola tanam, musim adalah hal-hal yang bisa mempengaruhi rasa dan wangi kopi. Semua unsur ini tidak bisa disamakan antara Indonesia dan Vietnam. Jangankan Indonesia dan Vietnam, kopi dari Mandailing dan Gayo saja, yang sama-sama jenis kopi Arabica, ternyata berbeda rasa dan aromanya (kata penikmat kopi ya hehehe).

Lagipula, biar bagaimanapun jumlah penduduk Vietnam dan Indonesia itu jauh berbeda. Jika pemilik modal di Indonesia melebarkan sayap dengan cara menanam kopi juga di Vietnam, ujung-ujungnya produksi kopi Vietnam kian bertambah kan? Vietnam lagi yang untung. Sebaliknya, jika kita mengekspor kopi ke Vietnam, nah, jumlah penikmat kopi di Vietnam itu kalah jauh dibanding dengan jumlah penikmat kopi di Indonesia. Jadi, kalau  kerjasama dalam bidang sama-sama mengekspor kopi ke sana, ya jelas Indonesialah yang rugi. Yang beli kopi kita di Vietnam pasti lebih sedikit ketimbang yang beli kopi Vietnam di Indonesia.

Jadi, menurut saya pribadi sih, seperti kondisi sekarang saja. TIdak usah bersaing tapi tetap masing-masing konsentrasi dengan produksi maksimal dan terbaik di negara masing-masing. Toh yang beli kopi semua negara-negara ASEAN itu juga orang-orang di luar ASEAN kebanyakan; seperti Amerika dan Eropa yang memang memiliki tradisi minum kopi yang unik. Semoga saja kedua negara ini tetap bisa menghasilkan yang terbaik dan membanggakan Masyarakat Ekonomi ASEAN.



gambar diambil dari sini dan sini  dan sini juga sini  lalu aku padukan sendiri

So... Coffee for Two Every one?
-------------------
Penulis: Ade Anita

10 komentar:

  1. Kopi indonesia memang nikmat....
    Saya bangga menjadi orang indonesia.

    BalasHapus
  2. kumplit!
    btw, toss mak, aku juga darah rendah.... tapi tetep gk bisa ngopi karena maag akut... *malah curhat* :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. katanya sekarang ada kopi yang gak pake asam jadi aman buat lambung.. seperti luwak white coffe tuh.. ini katanya

      Hapus
  3. yang parah tuh kopi Toraja, malah nama dagangx sdh diambil sama Jepang dan Amerika, padahal menurut data 40% dari penduduk jepang mengkomsumsi kopi Toraja...ckckckck

    BalasHapus
  4. waa br tau kopi bs utk darah rendah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku dikasih tahu sama dokter giziku.. katanya untuk saat2 darurat minum kopi aja buat naikin tekanan darah karen aefek kaffein dlam kopi itu bisa untuk menaikkan tekanan darah dan menggiatkan gerakan jantung. hehehe...dlu aku pernah sempoyongan soalnya krn tekanan darah drop banget lalu jatuh di taman pas jogging. makanya dikasi trik itu ama dokterku.

      Hapus
  5. Kopi semendo pamornya emang udah hampir tenggelam ya mbak,.

    walopun udah bnyk nyicip macem-macem kopi, tp saya masih nganggep kopi kucing tetep yang paling harum (kopi jaman masih anak-anak, entah skrg masih ada atau nggak) :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku gak begitu suka kopi pada dasarnya cuma kebetulan itu solusi darurat kalo sakit jadi ya minum juga sesekali.

      Hapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...