badge

Kamis, 05 Juli 2012

Mengenang website Kafemuslimah.com bagian pertama: Menghitung Hari


Apa rasanya jika terpaksa harus berpisah dengan sesuatu yang selama ini senantiasa mengisi hari-harimu?
Tahukah kalian bagaimana rasanya harus berpisah dengan sesuatu yang selama ini senantiasa menemani kita dalam keseharian?
Jangan pernah membayangkannya. Pun jangan pernah berharap bisa merasakannya. Karena rasanya amat sangat sedih.
Huff (sedih).

Akhirnya, setelah nyaris 10 tahun, website dimana aku besar di dalamnya, terpaksa harus ditutup. Pertimbangannya satu: kami, para pengelolanya ingin mengembangkan sayap kami masing-masing agar bisa menjangkau lebih banyak orang, lebih banyak teman dan memandang lebih banyak lagi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa, aneka burung yang beterbangan di angkasa, aneka bunga yang bermekaran di seluruh pelosok negeri, di setiap sudut dunia.




Ya. Dengan kesadaran dan pertimbangan matang, akhirnya website ini harus ditutup karena kami tidak bisa lagi mengelolanya akibat tumpukan pekerjaan yang prioritasnya semakin melesakkan pengurusan website ini menjadi nomor ke sekian.

Keputusan akhirnya dijatuhkan. Tanggal 30 Agustus 2012 nanti, kami resmi tidak akan memperpanjang kontrak kerjasama penyewaan hosting untuk website Kafemuslimah.com.
Lalu, tiba-tiba saja ada rasa sedih yang merayap perlahan di dalam hatiku ketika menyadari hari-hari yang terus berbilang menjelang perpisahan tersebut. Padahal selama ini, aku sudah merasa amat yakin bahwa keputusanku untuk berhenti dari keaktifan di sana adalah keputusan terbaik.  Ternyata, meski selama ini aku sudah merasa amat lelah menanganinya, tapi  kenyataan harus berpisah itu tetap saja sesuatu yang menyakitkan dan menyedihkan. Perih sekali.

Jujur, aku baru saja berjilbab ketika aku pulang ke Indonesia kembali (sebelumnya menemani suami belajar di luar negeri).  Baru berjilbab, dan baru mulai belajar mencintai "islam" (selama ini islamnya islam gaul...hehehe :P).  Tapi aku sudah suka menulis. Tahun 2002, seorang teman mengajakku untuk ikut mengelola website yang ditujukan khusus untuk muslimah saja. Sesuai dengan bidang yang aku kuasai, aku menyanggupi untuk mengasuh sebuah rubrik khusus menampung curhat para muslimah yang masuk ke website ini.

"Gimana cara mulainya? Website ini baru, belum ada pengunjungnya, mau menampilkan curhat siapa?"
"Hmm, gini aja. Kita bikin curhat pancingan saja. Coba deh ingat-ingat, kamu punya nggak uneg-uneg di dalam hati yang siapa tahu bisa aku bantu mencari solusinya."

Lalu kami, para pengelolanya (yang kala itu hanya ada kurang dari 7 orang, kalau tidak salah -sayangnya tidak semua aku kenal, karena yang aku kenal hanya pemilik website ini saja, pengelola lain aku tidak kenal-) mulai membuka ingatan lagi, mengorek-ngorek sekiranya ada pengalaman masa lalu yang bisa diangkat menjadi uneg-uneg.

"Hei, gimana kalau rubriknya dikasi nama uneg-uneg? Soalnya di website lain sudah ada yang pake nama curhat... nanti dikiri kita niru-niru lagi."
"Oke deh, setuju. Jadi, pake nama rubrik Uneg-uneg ya mbak."
"Iya, dan oh ya... satu lagi. Siapapun yang ngirim uneg-unegnya ke aku, jangan beritahu nama dan identitas aslinya ya."
"Kenapa mbak?"
"Aku tidak mau hubungan kita berubah hanya karena aku sudah tahu isi hati kalian atau rahasia terdalam kalian yang sebenarnya."

Lalu, tidak lama kemudian pengelola mengirim sebuah email yang berisi beberapa uneg-uneg yang no name. Maka, mulailah aku membalas uneg-uneg yang ditulis berupa surat elektronik itu layaknya seperti membalas sebuah surat kepada seorang sahabat penaku. Aku memang suka menulis dan punya banyak sekali sahabat pena (asli sahabat pena, dimana kami bertukar kabar lewat surat yang ditulis dengan menggunakan kertas dan pulpen serta dikirim lewat surat dan perangko).  Itu sebabnya balasaku untuk semua curahan hati selalu panjang-panjang.

Ternyata, ini memunculkan sebuah kenyataan baru: aku tidak bisa menulis sebuah komentar pendek-pendek.

Meski demikian, uneg-uneg pancingan itu tidak perlu menunggu waktu lama. Selang satu bulan kemudian, emailku mulai kebanjiran surat dari berbagai macam orang. Subhanallah.... mereka tidak hanya muslimah ternyata, tapi ada juga laki-lakinya (muslim), ada yang masih anak-anak, ada yang remaja, ada juga yang orang dewasanya. Juga tidak  melulu orang islam, ada juga yang non Islam. Masalahnya macam-macam, amat beragam.

Lalu, babak baru dalam kehidupanku pun dimulai. Aku yang baru saja belajar untuk lebih mencintai  Islam, dihadapkan pada situasi harus menjadi  seorang konselor profesional sekaligus... dianggap sebagai seorang ustadzah.
Setiap malam aku gemetar memanjatkan doa karena takut apa yang aku sampaikan itu salah. Terkadang juga gentar jika mendapat email yang berisi caci maki atau teguran keras.

Mbak, kenapa sih nggak tegas aja bilang bahwa itu dilarang, yang ini boleh. Mbak selalu memberi jawaban yang tidak jelas. Apa jadinya jika semua ustadzah seperti ini? Bisa hancur negara ini. Bisa hancur agama ini jika orang-orang seperti mbak dipercaya mengelolanya sesuatu padahal mbak bukan ahlinya

Duh, duhai. Setiap pekan aku membalas email itu dengan tidak bosan mengatakan:

Saya bukan ustadzah, saya seorang sahabat. Coba, ada banyak sekali ternyata di sekitar kita yang butuh seseorang yang mau mendengar apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya tapi karena sebuah situasi, dia tidak bisa mengatakannya di muka banyak orang. Bahkan tidak bisa mengungkapkannya di depan sahabat atau orang tuanya sendiri.  Ternyata ada banyak teman yang 'tidak punya teman' hingga butuh teman yang tidak diketahui oleh orang lain dan tidak mengenal dirinya. ITulah saya. Saya adalah sahabat, yang akan menerima semua uneg-uneg, mendengar dan bersama mencari solusi, tanpa pernah saya akan mencari tahu identitas pengirim uneg-uneg itu. Karena saya percaya  pada mereka dan saya mau, mereka juga percaya pada saya. Dan mengenai ketegasan yang kamu minta saya lakukan... ketegasan seperti apa?  Hidup itu memang pilihan kok, saya hanya memberitahu pada mereka bahwa ada dua jalan, jalan kebajikan dan jalan kesesatan, jika memilih jalan kebajikan saya akan bersama mereka tapi jika mereka memilih jalan yang lain, itu pilihan mereka. Apa saya salah dalam hal ini?

Jawaban saya ini tidak pernah memuaskan siapapun.

Tetap saja caci maki dan teguran terus berdatangan setiap bulannya dan itu membuat saya jadi belajar banyak hal. 
Ah, mungkin memang salah saya jika menganjurkan ini. Coba deh cari referensi lain, siapa tahu ada jawaban lain.
Hmm, jangan-jangan , ada jalan keluar lain selain jalan keluar yang ini. Baik, ini saatnya untuk belajar lagi, membaca lagi, dan shalat memohon petunjuk Allah lagi.

Tanpa terasa... seiring dengan semua teguran dan caci maki tersebut, saya jadi belajar banyak sekali.  Tentang apa arti ikhlas, apa itu sabar, apa itu harus berhati-hari, bagaimana untuk diam dulu-endapkan dulu-pikir dulu-baru bergerak, dan  tanpa terasa.... cinta saya pada Islam kian besar.

Lewat berbagai macam curahan hati yang masuk ke email saya setiap harinya, saya jadi terpacu untuk gemar membaca buku, gemar mengikuti kajian Islam, juga gemar merenung.  Subhanallah, ternyata, setiap hal di atas muka bumi ini adalah rangkaian pelajaran yang memberikan hikmah.

Ah. Setelah nyaris 10 tahun, baru terasa bahwa website Kafemuslimah adalah bagian dari diri saya yang amat berarti.
----------------
2002 - 2012
Ade Anita (pengasuh tetap dan tunggal rubrik uneg-uneg Kafemuslima.com)
Next note: Curahan Hati yang Meminta Konsekuensi tersendiri


4 komentar:

  1. sayang sekali. kangen juga. dulu waktu kuliah masing sering mampir ke kafe itu, dan copi2 file di sana. he he he. kalo bisa di hidupkan lagi. trims segalanya...

    BalasHapus
  2. barusan kangen mau nengok ke kafe...eeh nggak taunya dah tutup. :)

    BalasHapus
  3. pantesan setiap saya kunjungi ga pernah bisa. ternyata dah tutup toh :(

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...