Langsung ke konten utama

Perempuan Tanpa Bola Mata

Kumpulan serpihan 2009-nya ade anita
Yang kasat Mata dan Yang tidak kasat mata

Tulisan ini terinspirasi tulisan teman saya Sofie Yupitasari. Tentang pengalaman dia bertemu dengan makhluk yang tidak kasat mata. Tiba-tiba saja, saya jadi ingat pengalaman saya ketika masih kecil. Lebih tepatnya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.

SD saya, ada di tengah kampung. Dulu, era tahun 70-an (saya lulus SD tahun 1983) Jakarta memang belum se-metropolitan seperti sekarang. Jadi, daerah Pengadegan masih merupakan sebuah kampung. Dalam arti, rumah-rumah orang-orang asli Betawi masih banyak sekali di sekeliling saya ( I wonder… kenapa banyak sekali kata sambung disini?). Tidak seperti sekarang yang kebanyakan telah dihuni oleh kaum pendatang yang sukses membeli tanah penduduk asli Betawi dan penduduk asli Betawinya mengungsi ke daerah Citayem, Bogor.

Baik. Kembali ke cerita tentang saya sebagai anak SD. Karena rumahnya masih di daerah perkampungan, maka otomatis begitu juga dengan sekolahnya. SD saya adalah SD Inpres yang berada di tengah perkampungan. Dulu, waktu kelas satu, dua hingga tiga SD, SD kami termasuk SD yang mendapat bantuan segelas susu gratis setiap pekannya dari PBB. Ini untuk menggambarkan betapa SD saya bukan SD tempat orang-orang kaya menyekolahkan anak-anaknya. Juga bukan SD plus yang punya banyak fasilitas dari hasil sumbangan orang tua murid. Saya penggemar susu. Begitu gemar susu hingga ibu terpaksa harus membuat peraturan berapa gelas susu yang bisa saya minum dalam seharinya. Tidak boleh lebih dari tiga gelas. Susu memang barang mahal dahulu, mungkin setara dengan harga sepiring nasi dan lauk pauk ayam penyet. Tapi sebagai penggemar susu, saya lebih rela tidak makan sepiring nasi dan ayam penyetnya daripada tidak minum susu. Mungkin itu sebabnya badan saya dulu amat sangat langsing (hei! Kenapa baru terpikir sekarang cara mengurangi berat badan sekarang saya? Hahaha.. . dulu saya kurus sekali tapi sekarang subur sekali).
Oke ade. Kembali ke topik. Kembali ke topik. Kenapa sih suka OOT sendiri?
Nah. Karena SD saya ada di tengah perkampungan (pasti sudah hapal dong prolog yang ini..hehehehe); maka di sekeliling SD saya banyak sekali pepohonan. Pohonnnya besar-besar dan rimbun-rimbun. Akar-akarnya yang besar kadang mencuat keluar dari tanah dan bisa kita duduki seperti halnya bangku kayu. Akar yang menjuntai bisa dipakai untuk mengikat ban besar yang akhirnya berubah fungsi menjadi ayunan. Kadang, jika sedang main petak umpet, pohon besar itu benar-benar seperti pohon yang ada difilm-film kartun, karena bisa dipakai untuk tempat bersembunyi. Saya senang main di sekitar pohon-pohon besar itu.

Suatu hari, teman sekelas saya mengajak saya menemaninya pulang ke rumah untuk mengambil buku PR yang tertinggal di rumahnya. Maka, kamipun pergi jalan kaki berdua melewati gugusan pohon-pohon besar tersebut. Ketika itulah saya melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh teman saya. Saya melihat seorang perempuan berambut panjang sekali, hingga melebihi kakinya, dengan gaun putih yang panjang menjuntai, dengan tangan yang terbentang seperti sedang disalib, sedang menari-nari berayun-ayun di pucuk teratas sebuah pohon besar.

Tidak ada penyangga di bawahnya. Juga tidak ada alas yang cukup kuat untuk tempatnya berpijak. Perempuan itu lebih tepat disebut mengambang di atas pucuk pohon. Dia tidak peduli pada sapuan angin yang membuat pucuk pohon meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri. Juga tidak peduli pada awan yang kelihatan melintas hanya beberapa jengkal dari tempatnya berdiri.

Wajah perempuan itu amat putih seperti tersiram cat dinding yang kebanyakan campuran airnya. Kantung matanya hitam seperti lebam. Saya langsung menundukkan kepala setelah beberapa saat terperangah melihatnya. Terlebih karena saya merasa bahwa perempuan itu sadar bahwa saya bisa melihatnya dan langsung menghentikan tariannya lalu menatap balik ke arah saya. Lurus dengan tatapan mata yang menghuncam dan meremangkan bulu kuduk. Mata kami sempat bertemu pandang sejenak sebelum saya memalingkan wajah. Menunduk karena takut.

Sejak itu saya jadi tidak berani tidur sendirian. Saya juga tidak berani lagi tidur menghadap selain tembok. Posisi tidur saya satu, menghadap tembok. Di belakang saya harus selalu ada dua buah guling yang menyanggah punggung. Harus. Saya selalu merasa, bahwa jika terjadi sesuatu dan ternyata pemilik wajah menyeramkan itu mendatangi saya, lalu ingin membunuh saya, lebih baik saya berakhir dengan cara tidak pernah melihat wajah dan perbuatannya. Mungkin sakit di daerah punggung tapi lalu mati dengan tenang. Kenangan terakhir saya hanyalah tembok kamar yang bisu. Ah…. Pemikiran kanak-kanak yang dangkal.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun tidur dengan posisi seperti ini, posisi rahang saya pun mengalami pergeseran tidak normal. Rahang saya menjadi miring. Ketika SMA, terpaksa saya harus mengikuti perawatan Ortho untuk memperbaiki rahang miring tersebut. Perlu waktu hampir 3 tahun hingga akhirnya rahang ini nyari kembali ke posisinya (sampai sekarang tidak murni 100 % kembali normal posisinya).

Tapi tidak berhenti sampai disitu. Sejak saat itu, saya jadi sering bertemu tanpa sengaja dengan makhluk-makhluk tidak kasat mata tersebut. Seperti ketika saya tidak bisa tidur suatu malam (dan memang saya sering tidak bisa tidur jika malam ketika masih remaja dahulu). Saya keluar menuju teras kamar.

Rumah saya bertingkat. Jumlah kamar di rumah tersebut ada tujuh. Empat di lantai bawah dan tiga di lantai atas. Ada sebuah teras yang cukup lebar dan panjang untuk kita sekedar berjalan-jalan hilir mudik mencari ide, mengambil napas atau bermain masak-masakan disana. Ya. Semua kamar di lantai atas memang diperuntukkan orang tua saya untuk semua anak perempuannya yang berjumlah tiga orang.

Suatu malam, ketika saya sedang mencari udara segar karena tidak bisa tidur, saya melihat sebuah sosok di atas genteng rumah induk. Sosok perempuan dengan mukenah dan sarung putihnya sedang shalat di atas genteng. Saya terpaku melihatnya. Bagaimana mungkin dia bisa sempurna berdiri di atas kemiringan atap? Setelah selesai salam, perempuan itu menoleh dan langsung mata saya dan matanya bertemu. Subhanallah. Wajahnya putih sekali dan bola matanya hitam sekali (tidak ada putihnya). Saya langsung merasakan lutut saya gemetar. Dengan langkah tergesa-gesa saya langsung meraih pintu masuk, lalu berlari menuju kamar, berselimut hingga leher dan langsung tidur menghadap dinding lagi. Di hari-hari selanjutnya saya jadi sering melihat perempuan itu shalat di tempat-tempat yang tidak masuk akal. Di atas loteng tempat kuda-kuda rangka atap malang melintang; di atas pohon rambutan; dan sekali pernah di dalam kamar kakak. Sampai sejauh ini, kami tidak pernah berkomunikasi (uhhh, jangan sampai!).

Itu yang terlihat. Yang tidak terlihat rasanya sudah tidak terhitung. Pernah suatu malam ketika saya sedang mengetik (karena hanya di waktu malam ketika semua orang sudah jatuh tertidurlah waktu yang tepat untuk menulis), tiba-tiba saya mendapati bola basket terlempar di belakang punggung saya dan hup.. masuk ke dalam keranjang basketnya.

Ya. RUmah saya yang sekarang, memang di ruang keluarganya digantung ring keranjang basket. Sehingga kami sekeluarga bisa bermain basket kecil-kecilan di dalam rumah. Jarak antara ring basket dan meja belajar lebih kurang satu meter. Saling belakang membelakangi.

Ya. Seperti teman saya Sofie katakan dalam notesnya, bahwa dimensi lain di luar kehidupan kita memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Yang penting mungkin saling menghormati keberadaan masing-masing dan tidak merusak keimanan kita. Karena semua makhluk di atas bumi ini, adalah ciptaan Allah SWT dan berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah SWT.
------
Penulis: Ade Anita

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…