Langsung ke konten utama

warna warni

Apa bedanya kuning, hijau dan pink? Jika hal ini ditanyakan kepada anak bungsuku pasti jawabannya akan terdengar dengan suara yang mantap dan tegas (ya dengan bumbu-bumbu cadel dan sound like donald bebek, maklum dia baru berusia 2 tahun 10 bulan), "Mirip."

Anak dalah hiburan bagiku. Kala jenuh datang melanda, atau penat datang menghampiri, celoteh mereka merupakan sebuah atmosfere baru yang terasa amat menyegarkan dan membuat senyum kembali hadir diwajah dan hatiku. Seperti saat ini, ketika aku dalam dua pekan ini aku mengajari anakku tentang warna-warni. Dimulai dengan menyortir warna-warna crayon yang boleh ada di dalam tempat pinsilnya. Hampir semua crayon datang dengan packing yang penuh dengan variasi warna. yah, paling sedikit aku lihat ada 12 warna. Untuk anak usia dua tahun, 12 warna itu masih terlalu banyak. Sulit untuk mengajarkan bahwa biru muda dan biru tua itu sama-sama warna biru. Jadi, aku pilih saja warna-warna dasar. Kuning, pink, merah, putih, hitam, coklat, orange, ungu, biru dan hijau. Lalu aku ajak dia untuk memegang crayon dengan benar dulu, baru kemudian membentuk apa saja terserah dia. Mulai dari garis, gambar benang kusut, sampai akhirnya dia bisa mewarnai penuh segumpal warna tertentu. Sambil memegang warna, aku ajari dia warna. Jika dia sedang mencoret dengan pink, maka aku ulang-ulang itu warna pink. Dua hari setelah perkenalan tersebut, dia mulai mencoba untuk menerapkan pengetahuan tentang warnanya ke benda-benda yang ada disekelilingnya. "Bu, kalo meja warna apa?" ... "Bu, kalau baju ayah warna apa?"... terus, hampir setiap waktu dia bertanya bukan hanya kepadaku, tapi juga kepada ayahnya atau kepada kakak-kakaknya. Kadang, pertanyaan yang sama bisa diulangnya puluhan kali dalam sehari.  Berhari-hari, sampai kadang orang-orang merasa sedikit terganggu dengan pertanyaannya.  hasilnya, dia sekarang sudah hapal warna coklat. Warna lain,.... hm. Disinilah kelucuannya. 

Kapasitas ingatannya untuk menghapal aneka nama warna sungguh menakjubkan. Dia sudah tahu bahwa ada warna biru, ada warna ungu, ada hijau, pink, kuning, dll, dsb. Tapi... konsep perbedaannya belum dihapal. Jadi, semau dia saja memberi nama warna terhadap benda yang ditunjuknya. Seperti baju hijau, dia sebut kuning. Sepatu hitam dia sebut pink dan sebagainya. Harus benar-benar sabar mengingatkan dia bahwa pemberian nama terhadap identitas warna tidak bisa semaunya. Warna itu kan sesuatu yang bersifat universal. Kalau sesuka hati, waaah.. bisa salah persepsi nanti. Seperti hari ini, ketika aku sedang memakai baju pink dan sedang asyik menyisir rambutku di muka cermin, bungsuku datang dengan wajah polos, lucu dan imutnya. Senyum lebarnya begitu segar menyapaku.

"Eh... ibu lagi nyisir ya?" Aku mengangguk sambil ikut melempar senyum ke arahnya.

"Ibu kok pake baju warna hijau... mau pergi ya?" senyumku langsung berkerut. Dari ujung leher hingga ujung gaun, warna pink begitu mendominasi gaunku.

"Bukan sayang, ini warna pink."

"Kok mirip hijau?" Suaranya masih bertanya, alisnya ikut berkerut. Aku tersenyum geli.

"Apa miripnya sih? Kan beda banget. Ini hijau." Aku menunjuk sisir yang kebetulan memang warna hijau daun.

"Tuh... mirip kan?" suara cadel lucu anakku langsung mendahului pernyataanku. Aku terbelalak sambil menahan tawa. Kalau tertawa, pasti anakku ini akan kecil hati.

"Beda banget. LIhat, ini pink. Ini hijau. Beda kan?"

"Oh, beda ya. " Aku segera meraih tubuh mungil bungsuku ini. Sampai sekarang masih misteri, apakah dia mengerti "konsep sama dan beda" itu. Tapi aku tidak peduli lagi. Dia sungguh sebuah hiburan yang menyegarkan bagiku.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…