Langsung ke konten utama

Cerita Awal Mengapa Aku Hijrah (1)

[Parenting] Ini tulisan bagian pertama. Nanti baca lanjutan ceritanya di bagian berikutnya juga ya. 

Hijrah itu, artinya berpindah. Bisa berpindah tempat bisa juga berpindah perilaku atau keyakinan. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa melihat boks berikut ini ya.

Untuk lebih jelasnya, Hijrah yang dimaksud disini adalah, berpindah dari sesuatu yang kurang baik ke sesuatu yang dirasakan lebih baik lagi. Tentu saja niatnya adalah mendapatkan hal yang dirasakan olehnya lebih baik bagi dirinya.


Kalian pernah tidak, ketika bertemu dengan teman lama yang sudah terpisah belasan atau puluhan tahun ternyata kalian surprise sendiri. Karena ternyata teman lama kalian itu sudah berubah jauh. Ketika dulu dia sering berbuat nakal. Kabur dari sekolah, membantah semua perkataan orang tuanya, melakukan hal-hal yang merugikan orang lain atau bahkan mencelakakan orang lain. Seperti mencuri, merampok, atau mungkin membunuh (naudzubillah min dzaliik). Ketika bergaul dengannya, bayangan kalian akan masa depannya suram. "Dia pasti nanti bakalan jadi penjahat deh. Lah, masih kecil saja sudah sering berbuat nakal dan jahat, apalagi jika sudah semakin besar? Pakarnya nakal kan penjahat?"

Tapi begitu bertemu lagi ternyata gambaran akan masa depan  teman yang suram tersebut tidak terbukti sama sekali. Yang terjadi adalah hal yang sebaliknya.
Ketika bertemu lagi, ternyata teman kalian itu sudah menjadi jauhhh lebih baik. Rambut dan pakaiannya rapi (dan wangi). Perilakunya sopan dan santun. Tutur katanya lembut dan tertata dengan baik. Buah pemikirannya menyejukkan dan cerdas. Kita menjadi orang yang nyaman ketika berada di dekatnya. Dan tanpa terasa, jadi ikut jadi sholeh karena teman kita ini sering mengingatkan kita agar tidak meninggalkan ibadah.

Nah. Inilah yang dimaksud bahwa teman kita itu, sudah melakukan perjalanan hijrah dan hasilnya sekarang menjadi seseorang yang baru; yang lebih baik insya Allah. Lebih baik menurut pilihannya, dan kita pun sepakat bahwa dia memang menjadi lebih baik.

Memangnya ukuran "menjadi lebih baik" itu apa ukurannya?


Tentu saja jika patokannya menjadi lebih baik itu berdasarkan ukuran manusia, maka ini bersifat amat relatif. Karena memang selera manusia itu berbeda-beda.

Aku pernah punya teman. Ketika awal aku bertemu dengannya, dia anak yang terlihat sholehah. Pakaiannya santun, dan dia mengenakan hijab (jilbab) di kepalanya. Rapi dan tertutup. Lalu, dia mengambil tugas belajar di luar negeri. Ketika awal berkenalan dengannya, dia tampak malu-malu. Meski tutur kata dan buah pikirnya kritis dan cerdas. Dia pandai bergaul, sehingga kesan awal malu-malu itu sepertinya karena dia memang butuh waktu untuk melebur dalam pergaulan.

Kehidupan di luar negeri itu berat. Mengapa berat? Karena kita akan berjumpa dengan banyak orang yang berbeda budaya, kebiasaan, pemahaman, agama, gagasan, perilaku, bahasa, sifat, dan sebagainya. Dan apa yang terjadi pada temanku ini? Ketika kami bertemu lagi beberapa waktu kemudian, ternyata dia sudah melakukan banyak sekali perubahan.

Jilbabnya dia lepaskan. Dan pakaiannya mulai dipendekkan hingga tungkai kakinya terlihat. Begitu juga baju atasannya, mulai terbuka. Dan semakin terbuka.
"Aku merasa ini lebih baik daripada aku yang dulu. Dulu aku terkungkung oleh banyak peraturan yang membatasi aku untuk bergerak dan berkembang di tengah orang banyak. Sekarang, aku merasa lebih baik karena punya lebih banyak kebebasan untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat, dan menyampaikan gagasan tanpa terbebani oleh apapun."

Nah. Untuk kondisi seperti ini, meskipun menurut temanku ini dia sudah berpindah dari kondisi yang menurut dia lebih baik daripada kondisi sebelumnya, tidak bisa kita katakan dia sudah berhijrah.

Karena hijrah itu harus diniatkan karena Allah, dan karenanya harus mengikuti semua hal yang telah diajarkan oleh Allah dalam kitab Al Quran dan dicontohkan oleh Nabi Allah, Muhammad Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya.

Jadi, ukuran "menjadi lebih baik" itu adalah lebih baik versi menurut Islam (yaitu berlandaskan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya).

Cerita Awal Mengapa Aku Hijrah


Kenapa ya aku berhijrah?
Dulu, waktu masih kecil, mungkin seputar SD deh. Aku  punya kemampuan bisa melihat "dunia lain" sebenarnya. Entah mengapa aku bisa memiliki kemampuan ini. Awalnya sih pasti takut lah. Karena bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dan mendapati makhluk yang tidak bisa dilihat oleh orang lain itu menyadari bahwa kita bisa melihat mereka.

Tatapan mereka ketika bola mata kami bertemu itu.... menyeramkan. Seakan dia terpergok kaget, "Eh... elu bisa lihat gua?".
Lalu, kadang mereka mencoba untuk mendekati kita, mencoba untuk berkomunikasi. Masalahnya, ketika mereka mendekati kita, mereka tidak punya kemampuan untuk tampil dengan kondisi fisik yang enak dilihat versi wajah cover majalah perempuan (atau majalah lelaki).

Karena aku takut (pake banget), aku menyembunyikan kemampuanku ini. Eh, disampaikan kepada orang lain juga orang lain tidak ada yang percaya sih. Hingga ketika aku SMP, aku berkenalan dengan seorang paranormal dari Kalimantan. Masih terhitung saudara jauh sih.

"De, tante ajarkan kamu cara menggunakan kemampuanmu itu untuk hal-hal yang lebih baik."
Lalu, dia mulai mengajarkan aku untuk meramal masa depan orang lain. Hahahaha.
Lewat membaca kartu, melihat bayangan di dalam gelas yang berisi air putih, atau membaca raut wajah dan bahasa tubuh seseorang.

Ternyata, ilmu meramal itu bisa dipelajari. Jadi, jangan percaya jika ada orang yang mengatakan bahwa dia bisa meramal masa depan karena mendapat wangsit atau pandangan dari langit.

Setiap manusia, meski mereka unik dalam arti  setiap individu akan berbeda dengan individu yang lain, tapi mereka sering melakukan pengulangan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh individu lain.
Misalnya.
Orang jatuh cinta (eh, kenapa jadi ini contohnya?). Orang yang jatuh cinta itu, akan terlihat dari raut wajahnya yang malu-malu dan cepat sekali tersipu. Kedua bola matanya akan terlihat langsung membinar ketika bertemu dengan orang yang dia cintai. Meski keduanya belum resmi terhubung. Semangatnya akan terlihat nyata ketika kita menyenggol cerita tentang si dia-nya.

"Jadi, aku harus ngapain ya?"

Sampai sini, semua jadi terlihat sama kan antara satu orang dengan orang yang lain? Mereka pasti akan mengalami hal yang sama dan reaksinya juga serupa. Nah, inilah yang dicoba untuk dibaca oleh para peramal. Dan mereka tahu persis bagaimana memainkan peranan sebagai orang yang bisa membaca masa depan. Padahal yang mereka lakukan hanya membaca raut wajah dan bahasa tubuh, lalu memberikan jawaban yang bisa dipercaya oleh orang yang bertanya pada mereka, dan karena percaya maka mereka mulai melakukan sesuatu agar hal yang mereka percaya bisa terwujud.

Tapi, ketika itu aku seorang remaja yang kegirangan karena diajarkan hal-hal yang terlihat hebat. Jadi, aku menyerap ilmu yang diajarkan oleh saudaraku itu. Setelah dia kembali ke Kalimantan, aku mempergiat pendalaman materinya. Hehehe. Membeli buku primbon, buku arti mimpi, dan sejenis itu deh.

Catatan parenting untuk anak remaja kita: benarkah kita sudah mengenal anak remaja kita? Dengan siapa mereka berteman? Dengan siapa mereka mendapatkan sebuah pengetahuan? Karena anak remaja umumnya lebih merasa nyaman ketika bertemu dengan orang lain ketimbang orang tuanya karena mereka merasa menjadi hebat karena merasa mendapat sesuatu yang baru yang mereka dapat sendiri bukan karena diberitahu orang tuanya. Jadi, selalu dampingi anak remaja kita. 

Terus, mulai deh ada satu dua orang yang datang dan bertanya. Aku jawab asal, tapi mereka merasa jawabanku cocok dan bisa dipercaya. Ya sudahlah ya.



Lalu, makhluk-makhluk ghaib yang bisa aku lihat semakin beragam bentuknya. Beberapa mulai memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh orang lain.
"Nanti, temanmu itu akan mendapat kecelakaan karena terjatuh dari motornya." atau
"Nanti temanmu itu akan kehilangan uang yang dia simpan dalam tasnya karena kecopetan."

Wah. Bikin panik.

Ketika SMA, aku memutuskan untuk masuk ekstra kurikuler ROHIS (Kerohanian Islam). Lalu mulai belajar Islam dengan lebih mendalam karena sering mendengar kajian yang diadakan.
Saat itulah aku tahu bahwa aku salah selama ini karena menerapkan kemampuanku untuk hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam Islam.

Pada sebuah kajian, dibahas tentang masa depan. Cita-cita. Waktu kalian berusia 15 tahun seperti aku tempo dulu, apa cita-cita kalian?

Ketika aku berusia 15 tahun, aku bercita-cita untuk menjadi seorang seniman. Lebih tepatnya, menjadi seorang seniman seni rupa patung.
Iya. Aku suka memahat dan memadatkan semen agar bisa membuat patung. Itu sebabnya tanganku ketika itu kasar dan banyak kapalannya. Karena di rumah, aku sering menyisihkan uang saku yang aku miliki khusus untuk membeli semen putih dan kawat. Lalu memilinnya hingga menyerupai figur patung. Mengisinya dengan bubur kertas dari koran bekas yang aku kumpulkan di kamar, lalu menutupinya dengan semen putih. Setelah itu mulai serius membentuk wajah, tangan, tubuh.
Hingga jadilah patung.

Patungnya kecil-kecil sih. Tidak besar. Paling besar seukuran anak bayi baru lahir. Kadang jika sedang belajar malam, aku iseng memahat kayu ranting yang aku pungut di pinggir jalan dengan pisau kater kecilku. Kadang berhasil membuat pion catur, tapi lebih banyak gagalnya.
Penasaran.
Itu sebabnya aku bercita-cita untuk mendalami seni pahat dan seni mematung. Aku ingin menjadi seorang seniman.

Di salah kajian tersebut, setelah aku ditanya mau jadi apa dan aku jawab mau jadi seorang pematung, mentorku menyodorkan sebuah cerita yang dinukilkan dari kisah Nabi Ibrahim. Ayahnya Nabi Ibrahim ini seorang pematung. Dan patung yang dibuat oleh ayahnya Nabi Ibrahim itu ternyata dijadikan berhala oleh penduduk sekitarnya.

Dan ini salah satu teguran yang membuatku berpikir dan tersadar untuk pertama kalinya bahwa kita ini manusia, dan sebagai manusia kehidupan kita di dunia ini terbatas oleh waktu dan aturan.

Terbatas oleh waktu dalam arti, bahwa semua yang hidup itu pasti akan mati.
Dan terbatas oleh aturan itu, karena kematian adalah hal yang pasti, maka yang harus kita persiapkan di dunia ini justru adalah mengumpulkan bekal agar kita bisa lebih berbahagia setelah kematian datang menjemput nanti, karena ada akherat dan surga yang ingin kita raih.



Terus, hubungannya antara Cita-citaku, Hijrah dan Teguran tentang Kematian ini apa?
Karena,
- Aku sadar banget aku tuh orang yang penyakitan. Sejak kecil, yang namanya Unit Gawat Darurat alias Emergency Room. Jadi, agak gentar juga sih dengan ayat tentang kematian ini.
- Aku jadi sadar, bahwa cita-citaku ini, suatu hari nanti malah bisa membuatku menjadi orang yang tidak disukai Allah. Karena, bisa jadi apa yang aku buat itu kelak malah akan menyesatkan manusia lain (ingat kisah ayahnya Nabi Ibrahim).
- Juga karena dalil-dalil berikut ini nih yang bikin aku jadi berpikir ulang cita-citaku.

Dari Ibnu, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Barangsiapa menggambar suatu gambar dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupklannya.’” [HR. Bukhari].
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya diantara manusia yang paling besar siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar-gambar yang bernyawa.” (lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, bab Tashwiir).
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa seorang laki-laki dateng kepada Ibnu ‘Abbas, lalu katanya, “Sesungguhnya aku menggambar gambar-gambar ini dan aku menyukainya.” Ibnu ‘Abbas segera berkata kepada orang itu, “Mendekatlah kepadaku”. Lalu, orang itu segera mendekat kepadanya. Selanjutnya, Ibnu ‘Abbas mengulang-ulang perkataannya itu, dan orang itu mendekat kepadanya. Setelah dekat, Ibnu ‘Abbas meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut dan berkata, “Aku beritahukan kepadamu apa yang pernah aku dengar. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Setiap orang yang menggambar akan dimasukkan ke neraka, dan dijadikan baginya untuk setiap gambarnya itu nyawa, lalu gambar itu akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.’” Ibnu ‘Abbas berkata lagi, “Bila engkau tetap hendak menggambar, maka gambarlah pohon dan apa yang tidak bernyawa.” [HR. Muslim].
Dari ‘Ali ra, ia berkata, “Rasulullah Saw sedang melawat jenazah, lalu beliau berkata, ‘Siapakah diantara kamu yang mau pergi ke Madinah, maka janganlah ia membiarkan satu berhala pun kecuali dia menghancurkannya, tidak satupun kuburan kecuali dia ratakan dengan tanah, dan tidak satupun gambar kecuali dia melumurinya?’ Seorang laki-laki berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ ‘Ali berkata, “Penduduk Madinah merasa takut dan orang itu berangkat, kemudian kembali lagi. Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak aku biarkan satu berhala pun kecuali aku hancurkan, tidak satupun kuburan kecuali aku ratakan, dan tidak satu pun gambar kecuali aku lumuri’. Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa kembali lagi membuat sesuatu dari yang demikian ini, maka berarti dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw.’” [HR. Ahmad dengan isnad hasan].
Larangan menggambar gambar di sini mencakup semua gambar yang bernyawa, baik gambar itu timbul maupun tidak, sempurna atau tidak, dan distilir maupun tidak. Seluruh gambar yang mencitrakan makhluk bernyawa, baik lengkap, setengah, kemungkinan bisa hidup atau tidak, distilir (digayakan), maupun dalam bentuk karikatur adalah haram. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 2, menyatakan, bahwa gambar yang dimaksud di dalam riwayat-riwayat di atas adalah semua gambar yang mencitrakan makhluk bernyawa, baik lengkap, setengah, kemungkinan bisa hidup atau tidak, maupun distilir atau tidak. Semuanya terkena larangan hadits-hadits di atas (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, juz 2, bab Tashwiir).
Larangan yang terkandung di dalam nash-nash di atas juga tidak mengandung ‘illat. Larangan menggambar makhluk bernyawa bukan karena alasan gambar itu sempurna atau tidak. Larangan itu juga tidak berhubungan dengan apakah gambar tersebut mungkin bisa hidup atau tidak, distilir maupun tidak. Semua gambar makhluk hidup walaupun tidak lengkap hukumnya tetap haram.
Walhasil, gambar manusia dalam bentuk karikatur, komik, maupun batik yang distilir adalah haram, tanpa ada keraguan sedikitpun. Semua gambar makhluk bernyawa baik digambar secara gaya natural, surealik, kubik, maupun gaya-gaya yang lain adalah haram. Demikian juga, gambar potongan kepala, tangan manusia, sayap burung dan sebagainya adalah haram. Untuk itu, menggambar komik Sailormoon, Dragon Ball, Ninja Boy, Kunfu Boy, Samurai X, dan lain sebagainya adalah perbuatan haram.
Sedangkan proses mendapatkan gambar-gambar yang diperoleh dari proses bukan “menggambar”, misalnya dengan cara sablon, cetak, maupun fotografi, printing dan lain sebagainya, bukanlah aktivitas yang diharamkan. Sebab, fakta “menggambar dengan tangan secara langsung” dengan media tangan, kuas, mouse dan sebagainya (aktivitas yang haram), berbeda dengan fakta mencetak maupun fotografi. Oleh karena itu, mencetak maupun fotografi bukan tashwir, sehingga tidak berlaku hukum tashwir. Atas dasar itu stiker bergambar manusia yang diperoleh dari proses cetak maupun printing tidak terkena larangan hadits-hadits di atas.
Gambar Untuk Anak Kecil
Adapun menggambar makhluk bernyawa yang diperuntukkan untuk anak kecil hukumnya adalah mubah. Kebolehannya diqiyaskan dengan kebolehan membuat patung untuk boneka dan mainan anak-anak.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Aku bermain-main dengan mainan yang berupa anak-anakan (boneka). Kadang-kadang Rasulullah Saw mengunjungiku, sedangkan di sisiku terdapat anak-anak perempuan. Apabila Rasulullah Saw dateng, mereka keluar dan bila beliau pergi mereka datang lagi.” [HR. Bukhari dan Abu Dawud].
Dari ‘Aisyah dituturkan bahwa, Rasulullah Saw datang kepadanya sepulang beliau dari perang Tabuk atau Khaibar, sedangkan di rak ‘Aisyah terdapat tirai. Lalu bertiuplah angin yang menyingkap tirai itu, sehingga terlihatlah mainan boneka anak-anakannya ‘Aisyah. Beliau berkata, “Apa ini wahai ‘Aisyah?” ‘Aisyah menjawab, “Ini adalah anak-anakanku” Beliau melihat diantara anak-anakanku itu sebuah kuda-kudaan kayu yang mempunyai dua sayap. Beliau berkata, “Apakah ini yang aku lihat ada di tengah-tengahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Kuda-kudaan.” Beliau bertanya, “Apa yang ada pada kuda-kuda ini?” ‘Airyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau berkata, “Kuda mempunyai dua sayap?” ‘Aisyah berkata, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Sulaiman mempunyai kuda yang bersayap banyak?” ‘Aisyah berkata, “Maka tertawalah Rasulullah Saw sampai kelihatan gigi-gigi taring beliau.” [HR. Abu Dawud dan Nasa’i].
Riwayat-riwayat ini menyatakan dengan jelas, bahwa boneka baik yang terbuat dari kayu maupun benda-benda yang lain boleh diperuntukkan untuk anak-anak. Dari sini kita bisa memahami bahwa membuat boneka manusia, maupun binatang yang diperuntukkan bagi anak-anak bukanlah sesuatu yang terlarang. Demikian juga membuat gambar yang diperuntukkan bagi anak-anak juga bukan sesuatu yang diharamkan oleh syara’. Ibnu Hazm berkata, “Diperbolehkan bagi anak-anak bermain-main dengan gambar dan tidak dihalalkan bagi selain mereka. Gambar itu haram dan tidak dihalalkan bagi selain mereka (anak-anak). Gambar itu diharamkan kecuali gambar untuk mainan anak-anak ini dan gambar yang ada pada baju.” (lihat Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah). Wallahu A’lam bi al-Shawab.(www.konsultasi-islam.com)
[Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)] (dikutip dari https://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/hukum-menggambar-makhluk-bernyawa/)
Karena 3 alasan tersebut, aku pun mulai berpikir untuk "Hijrah" untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Dimulai dengan menghapus cita-citaku terlebih dahulu.
Lalu mulai mewajibkan diriku untuk rajin shalat tahadjut dan tidak meninggalkan shalat wajib.
Itu dulu deh.
Karena perubahan kan butuh sebuah ketelatenan dan kesabaran. Jadi, jika ingin melakukan perubahan maka mulailah dari langkah kecil dan sederhana tapi konsisten melakukannya. Berusaha keras agar shalat tidak bolong-bolong itu sulit loh untuk mereka yang masih remaja dan punya banyak teman serta banyak kegiatan. Jadi, apresiasi itu sebagai sebuah usaha yang luar biasa (catatan parenting buat anak remaja kita nih). 

Aku belum memakan jilbab, belum menggunakan pakaian tertutup, masih pecicilan, masih bergaul dengan siapa saja dan tidak perah membatasi pergaulanku, serta masih bebas melakukan banyak hal. 

Itu sebabnya, jika ada teman yang tergabung di grup whats app grup reuni SMA atau SMP yang membagi foto-foto jadul, aku sering merasa malu sendiri.
Astagaaahhhh.... rok ku masih rok mini.
Ya ampunnn... itu kelakuan minus abizzzz.

Catatan parenting untuk anak remaja kita: semua anak remaja, pasti memiliki cita-cita. Cita-cita itu sesuatu yang ingin mereka raih dimana mereka tumbuh dan memperoleh kesenangan menjalaninya hingga ingin mendalaminya. Sesungguhnya, apa yang mereka gemari tersebut, bisa jadi merupakan sebuah bakat atau kecenderungan (minat). Tapi, jika tidak diiringi dengan sebuah pengetahuan, maka cita-cita tersebut bisa jadi malah akan menyulitkan kehidupan mereka kelak. Karenanya, beri pengetahuan yang cukup akan cita-cita yang anak remaja miliki saat ini. Jangan sungkan untuk memberi pandangan yang luas dan ajak mereka diskusi. Jika perlu buka literasi bersama dan pelajari bersama agar mereka dan kita sebagai orang tua, sama-sama belajar kembali. 
Seiring dengan pembiasaan untuk senantiasa shalat 5 waktu dan shalat tahadjut, perlahan, aku mulai bisa menghilangkan keterhubunganku dengan makhluk halus. Lagipula, sebelum tidur aku mulai terbiasa dengan doa-doa yang panjang.
Al Ikhlas 3 kali.
Al Falaq 3 kali.
An Nash 3 kali.
Al Fathihah 3 kali.
Lalu ayat kursi. Lanjut membaca basmallah 21 kali agar bisa terbangun kelak.

Pernah dalam sebuah mimpi, mereka datang dan memberi tahu sebuah rahasia, tapi aku berani menolaknya.
"Tidak. Kalian setan yang akan menyesatkan. Aku tidak percaya."

Lalu mulai konsentrasi dengan pelajaran sekolah dalam arti benar-benar belajar giat.Cita-citaku sudah berubah sekarang. Hahaha.
Usia 16 tahun, dalam pelajaran BP (Bimbingan Penyuluhan) aku menulis, bahwa 20 tahun lagi aku ingin menjadi seorang penulis. Aku juga ingin menjadi seorang perancang busana.
Khusus cita-cita menjadi perancang busana ini, ini adalah pembelokan dari cita-cita seniman seni rupa. Aku tetap menggemari membentuk sesuatu yang indah dilihat mata. Tapi, karena menjadi seniman seni rupa "tidak dianjurkan dalam islam" maka aku membelokkannya, mengubahnya menjadi perancang busana saja.

Catatan Parenting untuk anak remaja kita: Tuh kan. Cita-cita remaja itu lentur loh. Ketika sebuah pengetahuan dan informasi yang lengkap diberikan pada mereka dengan cukup adil, maka tidak ada istilah remaja yang keras kepala. Karena pada fitrahnya, remaja itu adalah anak-anak yang berbadan bongsor. Mereka tetap menyimpan kebaikan sejati dalam diri mereka seperti anak-anak yang polos dan suci pada umumnya. Jika kita bisa dengan tepat memberitahu mereka dimana letak kesalahan mereka dan bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut, insya Allah anak remaja akan menyesuaikan diri dan melakukan perubahan dari apa yang mereka lakukan atau pertahankan selama ini. 

Bersambung ya cerita awal mengapa aku hijrah ini (ini cerita yang disertai dengan catatan parenting untuk anak remaja kita insya Allah). 


Komentar

  1. Ini baru sampe saat mba ade usia 16 th. Dan masih penasaran dg cerita yang menghilangkan kemampuan unik tersebut.

    BalasHapus
  2. Mbak Ade...
    Ada banyak pelajaran yg bisa kuambil di sini.
    JAdi banyak berkaca-kaca, apa kabar dengan diriku saat ini dengan di masa lampau? hik'(
    jauh banget...
    Maacih buat sharing2nya mbak...

    BalasHapus
  3. wah, baru tahu kalo mba ade, bisa begitu ya, untung udah hijrah

    BalasHapus
  4. Berguna banget ni, buat aku yang mau punya anak yang mulai naik remaja

    BalasHapus
  5. Aku juga selalu ngerasa malu kalau ada yang share foto belum jilbaban, mba :(
    terima kaish telah berbagi

    BalasHapus
  6. Keep istiqomah mbak ade. Makasih telah berbagi. Berhijrah lebih menenangkan yaaa

    BalasHapus
  7. hmm, untung skrang mbak ade udah hijrah

    BalasHapus
  8. Baru tahu loh Mbak, klo karikatur itu haram. Huaa, padahal saya punya hadiah karikatur dari seorang teman waktu nikah kemarin. Jd gimana tu Mbak?

    Walau anak masih bayi gini sebagai emak udh harus banyak belajar, demi kebaikan anak di masa yg akn datang, Aamiin.

    Thanks sharingnya Mbak. Alhamdulillah ya Mbak, cita-cita jd penulisnya udh terwujud sekarang :)

    BalasHapus
  9. MasyaAllah :)
    semoga mba Ade (dan saya dan semua muslimah di dunia) bisa istiqamah dan menjadi lebih baik di jalan yang Allah benar-benar ridhai, bukan yang benar menurut pandangan manusia.

    Sayapun......sayapun sangat sadar bahwa tiap waktunya harus berhijrah ke arah yg lebih baik. Tapi kok ya yg dilarang itu lebih manis sekali rasanya di dunia ini.

    Hmmm.....sekalipun sudah ibadah ini itu, tapi esensi atau substansi nyata dr ibadah" itu kadang terasa kosong karena niat yg kemana-mana jadi lalai khusyuk.

    Semoga, semoga, semoga, Allah beri hidayah seindah dan secepat mungkin bagi kita....lebih-lebih sebelum ajal menjemput, amin.

    BalasHapus
  10. Aku nih mesti kasih bimbingan yang lebih buat si bungsu yg senang gambar orang dan hewan.

    BalasHapus
  11. Penasaran ... Mbak Ade sekarang tidak melihat lagi makhluk2 dari dunia lain itu?

    Berkaca dari pengalaman Mbak Ade, remaja bisa dibelokkan cita2nya, ya asalkan tahu dasar yang kuat.

    BalasHapus
  12. penasaran sama lanjutannya Mbaa, nanti kalo udah publish lagi link-nya dibagikan di grup WA yaa :)

    BalasHapus
  13. Saya justru malah pernah terkungkung dalam satu aturan pekerjaan nggak boleh berhijab, sementara kontrak kerja sama masih 1 bulan lagi. Begitu selesai, resign, itulah arti kebebasan bagi saya. Bebas cari duit tanpa harus buka aurat lagi, haha...

    BalasHapus
  14. wah mba Ade punya kemampuan seperti itu ya...

    BalasHapus
  15. Baca sharing parenting Mbak Ade seperti sedang ngobrol di depan Mbak Ade. Lengkap banget

    BalasHapus
  16. mba Ade, cerita temannya itu sama persis dengan cerita teman kakak sepupu yg berhijab lebar namun dibuka setelah ia kerja di LN ;(

    BalasHapus
  17. Masya Allah cerita yang sangat menginpirasi.... Sungguh beruntung orang yang mendapat hidayah.

    BalasHapus
  18. Cerita pengalamannya sangat bermanfaat mba

    BalasHapus
  19. mbak serem amat sih bisa melihat makhluk ghaib, aku hijrahnya pas sma pas masuk rohis mbak

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…