Langsung ke konten utama

Ajarkan Anak Untuk Menjauhi Kejahatan

[Parenting] Kejahatan yang menghantui anak-anak itu semakin banyak saja. Ngeri sekali rasanya jika sudah mendengarkan berita di televisi atau radio, atau membacanya di media massa. Rasa-rasanya, anak-anak kita hidup di dunia dan masa yang amat menakutkan, mencekam dan luar biasa bahayanya.

Seorang teman berkata, waspada boleh tapi kalau bisa jangan jadi parnoan juga. Hmm, parnoan disini itu bukan berasal dari kata porno, tapi penggalan dari kata paronoid, yaitu ketakutan yang berlebihan akan sesuatu. Oleh bahasa gaul diadopsi menjadi kata "parno".

Sekarang, yang namanya kejahatan itu tidak hanya menimpa anak perempuan saja. Tapi juga anak lelaki. Dunia memang terlihat amat menyeramkan dan itu bukan berarti diseram-seramin agar terlilhat menakutkan. Tapi memang asli seram. Asli menakutkan.

Aku ngobrol dengan teman-temanku. Mereka bertanya, kenapa ya kok  kejahatan terhadap anak-anak tuh semakin banyak terjadi. Sepertinya sih ada beberapa penyebabnya yang mungkin terpikirkan oleh kami. Yaitu:

1. Semakin banyak orang yang tidak mau susah dan egois hanya memikirkan dirinya sendiri.

Iya. Sekarang tuh di negara maju sana, pria dan wanita semakin asyik bekerja dan mengembangkan kemampuan diri sendiri sehingga mereka merasa sayang jika waktu yang mereka miliki harus habis untuk hamil, melahirkan dan membesarkan anak. Mereka ingin cara yang gampang saja, adopsi anak.

Niat awalnya sih baik, membantu anak-anak yang terlantar atau hidup di bawah garis kemiskinan di negara berkembang atau negara miskin. Masalahnya, niat baik ini tidak disertai dengan tindakan mengunjungi sendiri negara miskin atau negara berkembang yang dimaksud. Mereka menyerahkan pada broker yang membantu mencari anak miskin tersebut. Dan disinilah celah kejahatan bisa dimasuki. Broker tersebut lebih suka mencari dengan cara gampang, yaitu menculik anak. Sembarang anak. Dan karena keinginan tertentu maka kian lama anak yang diculik pun mulai bervariasi. Akhirnya, randomlah ciri anak yang rawan penculikan.

Atau adanya kebutuhan untuk pengobatan tanpa mau berlelah-lelah antri untuk mendapatkan pengobatan. Seperti misalnya organ tubuh yang rusak harus diganti dengan organ tubuh yang baru. Keinginan ini membuat banyak anak dan wanita yang diculik untuk diambil organ dalam tubuhnya. Naudzubillah min dzaliik, semoga keluarga kita terhindar dari kejahatan ini.

2. Jauhnya Keimanan membuat Orang yang Jahat semakin Banyak.

Mungkin ini terdengar amat klise, tapi ini benar adanya. Orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan Hari Pembalasan, tidak punya rasa takut untuk berbuat jahat. Akibatnya, kejahatan kian hari mengalami kenaikan tingkat kesadisannya. Karena sekali mereka berbuat jahat dan berhasil, maka mereka akan merasa bahwa tidak ada lagi yang perlu ditakuti untuk melakukan kejahatan yang lebih besar lagi. HIdup dianggap sebagai sebuah permainan dimana ketika sudah mencapai level permainan tertentu maka harus naik ke level berikutnya.

Mungkin sebagai gambaran, bisa dilihat dari berita tentang terbongkarnya kejahatan Pedofilia yang terjadi di sebuah komunitas internet. Dimana anggotanya diharuskan untuk mengunggah foto terbaru kejahatan pedofilia yang mereka kerjakan. Innalillahi wa innailaihi rajiun, naudzubilllah min dzaliik. Semoga keluarga kita terhindar menjadi korban kejahatan tersebut.

3. Adanya kesempatan untuk berbuat jahat.

Ini juga berkontribusi terhadap kejahatan. Anak-anak yang bermain tanpa pengawasan dari orang dewasa di sekitarnya; atau anak-anak yang dibiarkan berkeliaran bebas tanpa ada aturan yang tegas dari orang tuanya, adalah anak-anak yang rawan untuk menjadi korban kejahatan.

Nah, itulah sebagian dari penyebab kejahatan yang menimpa anak-anak kita semakin marak terjadi.

Menjadi parno jangan, tapi menjadi lengah juga jangan. Ya, sebagai orang yang beriman, kita tidak lantas menjadi takut dan tidak percaya pada kekuasaan Allah SWT. Salah satu ciri dari orang yang bertakwa dalam Islam adalah, kita diharuskan untuk berusaha dengan sekuat tenaga dan segenap upaya untuk melakukan apapun tindakan yang bisa kita kerjakan untuk mencegah dan menghindari kejahatan.  Selanjutnya tentu saja kita harus berdoa agar Allah SWT senantiasa melindungi diri kita dan keluarga kita.

Nah, kebetulan, pas aku lagi main ke blognya Hidayah Sulistiowati, yaitu Hidayah-art.com dengan nama blognya: My Mind. Untaian Kata Untuk Berbagi, Hidayah menulis sebuah artikel yang menarik disana. Yaitu tentang "Ajarkan Anak untuk Menolak".

Menurut blogger yang akrab dipanggil Mbak Wati ini, sejak dini dia sudah mengajarkan anak-anaknya untuk berani menolak.

Ya, sejak dini aku memang mengajarkan anak-anak agar mereka berani menolak bila :
1. Diminta melepas pakaian oleh orang lain (siapapun itu, dokter, guru sekolah bahkan kerabat) tanpa didampingi orang tua.
2. Menolak dengan tegas setiap pemberian jajanan atau uang dari orang tak dikenal. Ajarkan anak-anak agar tidak tergiur dengan hadiah uanh berujud apapun.
3. Ada yang mengaku saudara atau teman ayah dan ibu untuk menjemput dan mengajak pergi ke suatu tempat untuk keperluan bermain atau acara apapun.

Bahkan, bukan hanya sekedar mengajarkan anak untuk berani menolak saja. Mbak Wati juga sudah mengajarkan pendidikan seks pada anak-anak sejak mereka masih berusia dini.

Selain itu sejak usianya tiga tahun, saya udah berani mengenalkan nama asli organ vital anak cowok. Nggak pake nama pengganti karena takutnya mereka akan kebingungan bila ada yang menyebut nama asli. Karena anak saya cowok, ya saya bilang kalo alat kelaminnya itu bukan burung tapi penis :) Tidak ada orang yang boleh menyentuhnya. Entah itu guru, tetangga, apalagi orang asing.




Sepertinya, apa yang diajarkan mbak Wati pada anak-anaknya ini adalah sesuatu yang hendaknya setiap keluarga juga mengajarkan pada anak-anak mereka deh. Aku sendiri, selalu mengajarkan dan mengingatkan anak-anakku berulang kali agar mereka menjauhi kejahatan dengan cara berani menolak, berani berteriak, dan berani melaporkan serta lebih baik menghindar jika terlihat ada kejahatan yang terjadi karena bisa jadi nanti diri sendiri malah terlibat.

Gimana? Setuju kan? 

Komentar

  1. Wah itu tulisan lama ya, makasih mba Ade udah sharing pentingnya orang tua mengajarkan anak untuk menjaga diri sejak dini. Apalagi sekarang makin banyak nih kejahatan seksual, miris kalo baca beritanya.

    BalasHapus
  2. Penting ya mbak Ade untuk mengajarkan anak menjauhi kejahatan, Marwah juga sudah saya ajarkan sejak kecil. Kalau ada yang jemput sekolah gak kenal jangan pernah mau, dan diajarkan untuk mengutarakan jika ia merasa gak nyaman dengan seseorang

    BalasHapus
  3. di mulai dari kecil dikenalkan ya mbak, dunia makin kejam

    BalasHapus
  4. :( , makin takut kalau lihat anak kecil main-main kelapangan tanpa didampingi ortunya

    BalasHapus
  5. betul mba aku juga sudah mulai story telling biar anakku paham mana yang baik dan buruk, mana yang mesti nanti dia lakuin ketemu yang kek gtu.

    BalasHapus
  6. Setuju, Mbak Ade. Sedini mungkin anak diajari untuk menolak pemberian dari orang yang asing atau belum sama sekali dikenal. Mewanti-wanti untuk tidak menerima tamu, yang mengaku saudara padahal tahu sendiri itu bukan saudara. Nah, ini tugas orangtua nich, mengajak anak untuk silaturahmi ke rumah saudara besar.

    BalasHapus
  7. Saya sudah dapat juga video itu. Lumayan membantu menyegarkan kembali ingatan dan edukasi ke anak bagaimana menjaga dirinya.
    Semoga kelak dia bisa terus menjaga dirinya sampai dewasa.

    BalasHapus
  8. wah ini pelajaran berharga banget untuk saya... makasih mbak!

    BalasHapus
  9. Saya sering mengatakan agar kita mengamankan ring-1 yaitu sekitar diameter 1 meter dari badan kita.
    Jika ada tawuran misalnya, tak perlulah kita nonton. Manfaatnya tidak ada tetapi bisa ketimpuk batu oleh pelaku tawuran.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  10. Mantap mbak, hal ini sangat perlu di ajar kan kepada anak.

    BalasHapus
  11. Penting memang mengajarkan hal semacam ini pada anak, saya juga sering mengingatkan murid-murid tentang hal ini.

    BalasHapus
  12. Setuju, itu penting banget buat anak-anak. Apalagi sekarang ini kejahatan semakin banyak aja ya.

    BalasHapus
  13. serem kalau liat kondisi sekarang. apalagi kalau punya anak perempuan, jangankan anak remaja batita aja udah serem mau ditinggal tinggal kalo lagikerja

    BalasHapus
  14. insyaallah saya juga sudah mengajarkan untuk berani menjauhi kejahatan mbak. semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita ya mbak...

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…