Langsung ke konten utama

Drone

[Parenting]:
Sebelum dibagi rapor, putriku melakukan fieldtrip ke museum-museum yang ada di Jakarta. Yaitu ke Museum IPTEK Taman Mini Indonesia Indah (TMII), lalu ke Museum Gajah dan terakhir ke Museum Fatahillah yang ada di Kota Tua, Jakarta.

Sejak beberapa hari, putriku sudah sering membicarakan hal ini. Dia terlihat bersemangat sekali. Sepertinya, untuk pertama kalinya dia bepergian hanya bersama dengan teman-temannya.

"Bu. Teman-temanku katanya pada mau bawa hape nanti. Jadi kita-kita bisa selfi selfi deh." ujarnya kenes.
Ketika hari H tiba, pagi-pagi putriku sudah bangun sendiri. Padahal biasanya dia susah jika diajak bangun pagi untuk shalat shubuh. Perlu bujukan beberapa kali baru bangun dengan tegap. Tapi pagi itu dia bisa bangun sendiri dan bahkan sudah mandi sejak pagi. Tanpa harus disuruh.

Setelah berpakaian, dia makan dengan cepat. Lalu kami pun pergi ke sekolah. Di sekolah teman-temannya sudah pada berkumpul semua. Dan benar saja, nyaris semua anak membawa handphone. Bahkan, banyak yang membawa tongsis alias tongkat narsis.

Jadilah pemandangan yang aku lihat adalah anak-anak kecil yang saling sibuk dengan handphone dan kegiatan narsis mereka. hahahaha.

Asal tahu saja, hari-hari biasa. membawa handphone ke sekolah itu terlarang. Handphone bisa disita dan baru akan dikembalikan jika orang tua datang ke sekolah untuk mengambilnya. Nah, hari itu anak-anak dibebaskan untuk membawa alat komunikasi sendiri. Makanya gaya mereka tuh seperti anak ayam yang kehilangan induknya lalu si gerombolan anak ayam itu langsung sibuk pamer diri sendiri ke teman-temannya.





Tidak bisa dipungkiri sih. Kehadiran penemuan tongkata narsis itu memang semakin menambah semangat untuk mereka yang ingin berfoto ria tapi kalau bisa semua ikut terabadikan dalam gambar. Jadi tidak ada yang harus berkorban tidak punya foto karena kebagian tugas harus mengambil gambar.

Jadi jika ada 2 orang dengan satu kamera di tangan, maka keduanya bisa berfoto bersama dengan bantuan tongsis ini.

Bagaimana jika ada lebih dari 2 orang? Bisa juga. Dengan bantuan tongsis bisa diambil gambar banyak sekali orang. Yang penting itu sudut pengambilan gambarnya tepat.

Seperti ini misalnya:



Kekurangan dari tongsis itu satu: yang kebagian memegang tongkat narsis alias tongsis ini maka lengannya akan terlihat besar karena lengannyalah yang paling dekat dengan kamera.  Terkadang, bukan hanya lengannya yang kelihatan besar. Tapi juga wajah si pemegang tongsis. Di banding orang lain yang ada di belakangnya maka wajah si pemegang tongsis akan terlihat lebih besar ketimbang yang lain.

Nah. Disinilah orang mulai malas jika harus kebagian megang si tongsis.

"Elu aja deh yang pegang. Nanti gue keliatan gemuk banget kalo gue yang pegang."
"Ah.. jangan gue deh. Pipi gue keliatan makin cubby ah. Gue di belakang aja deh."

Mulai deh lempar-lemparan tanggung jawab. Itu sebabnya anakku memberitahuku satu hal.

"Di kampus aku bu, sekarang yang lagi ngetrend itu bukan foto pake tongsis. Tapi foto pake drone."
"Drone ?"
"Iya, drone. Itu loh bu, semacam pesawat kecil yang bisa ditempelil kamera di bawahnya. Nah, kamera ini yang melakukan aktifitas pengambilan gambar. Diaturnya dengan remote. Ini lagi ngetrend banget di kampusku."
"Mahal dong."
"Ya iya sih. Kadang kita jangan ciut dengan harga duluan sih ya. Kalau memang hasilnya cukup memuaskan ya nggak salah sih kita berkorban dikit."

Mungkin, kurang lebih hasil jika memakai drone itu seperti ini nih:


Keren kan. Tidak ada yang terlalu dekat dengan kamera dan pengambilan gambarnya juga bisa diatur. Bisa dekat bisa jauh.

Sekarang, pembuatan video juga mulai menggunakan Drone loh untuk hasil yang natural. Jadi sudut pengambilan gambarnya bisa diatur seindah mungkin dan tampak tidak dibuat-buat dan tidak kaku.

Cuma.. huff. Harganya sih yang belum bersahabat. Jadi inget nasehat anakku, "Jangan lihat dari harganya, bu. Tapi kepuasan dari hasil yang didapat."
hehehehe

Sepertinya kehadiran Drone akan menggantikan kepopuleran Tongsis nih di tahun depan. Terlihat dari harga Drone yang tadinya mahalnya bikin merem melek, sekarang mulai bersahabat. Turun dikit demi dikit.

Beberapa kali anakku mengajakku untuk melihat Drone yang dipajang di aksesoris fotografi. Harganya sudah tidak didominasi belasan juta lagi. Sudah mulai ada yang lebih murah dari harga handphone.

Ah.
Generasi sekarang memang sudah lebih paham ya tentang perkembangan teknologi seperti ini. Jadi, anak-anakku tuh lengkap pengetahuannya. Yang kecil sudah mengerti fungsi tongsis; yang besar sudah mengerti fungsi drone. Tinggal ibunya yang bengong dan tertatih-tatih menyamai langkah perkembangan zaman.
huff.

Catatan buat diriku sendiri: jangan malu belajar dari anak; karena bisa jadi dia lebih menguasai apa yang terjadi di zamannya sedangkan kita lebih menguasai apa yang terjadi di zaman kita. Jadi, jangan malu untuk belajar dari anak. 

Komentar

  1. Ngeliat foto foto pakai tongsis di atas, berasa inget diriku sendiri dan teman teman kalo pakai tongsis mak hehehe.

    Penasaran juga aku sama drone ini mak. Walau pun tahu, mungkin belum terjangkau harganya dengan kantong emak kaya aku hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang harganya mulai pada turun.. ada yg sejutaan gitu deh

      Hapus
  2. ketika sekarang sudah musim drone, saya malah baru punya tongsis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. selamat ya mbak keke..dah punya tongsis..saya baru punya tong sampah ja.tongsisnya blm punya :D

      Hapus
    2. Hahahaha... masa tong sampah.

      Hapus
  3. hehehe...jaman sekarang sudah sangat keren dan maju...berfoto2 rianya g kayak jaman dulu, waktu masih kecil...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya karena jaman sekarang dah jarang ada yg mau berkorban gak terabadikan di dalam foto

      Hapus
  4. WoW... kemajuan tekhno makin canggih!

    BalasHapus
  5. Suka sama catatan akhirnya, mak. Semoga aku juga bisa sepertimu dalam mendidik anak2 ketika udah besar nanti. :))

    BalasHapus
  6. ini masuk ke wish listku mba adeee...mau Drone hehehehe. Tapi yang penting, kita bisa memanfaatkannya dengan bijka. Plus seperti mba bilang, jangan malu untuk terus belajar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem keknya ama aku. Aku juga memasukan ini dalam wish listku

      Hapus
  7. Drone? tongsis aja buatku kemahalan apalagi drone :D
    Lagi pula gak suka foto selfie jd gak butuh :))

    BalasHapus
  8. Cepet banget ya perubahan zaman sekarang, padahal bedanya hanya 1 generasi doank. Kalau kita orangtuanya gaptek, pasti banyak ketinggalan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastii...teknologi berubah amat cepat emang

      Hapus
  9. iyaaaaaaa sebenernya ini kan dipakai untuk acara-acara yang memumngkinkan utk menjangkau yang susah karena luas. Nah kayanya udah mulai diminati ingin dimiliki secara personal. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya krn bisa diatur jauh dekat dan berbagai sudut pengambilan gambarnya

      Hapus
  10. Sudah musim drone aja nih. :D Aku malah belum punya tongsis. :D

    BalasHapus
  11. kalau pakek drone harus nyiapin bahan bakarnya donk, haduh! tapi emang keren viewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya sekarang ada yg bisa pake batere biasa

      Hapus
  12. drone...? belum pernah lihat..baru tahu nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bentuknya kayak pesawat mainan tapi ini bisa diatur dengan remote

      Hapus
  13. Aku belajar matematika dari Pascal hehehe. Jadi inget nih kemarin ke Gramedia PAscal pingin beli Drone hehehe dipikir mainan

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…