badge

Jumat, 25 Februari 2011

My Lovely Day

Senja masih menyisakan warna jingga di cakrawala. Sementara wajah bulat matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Ragu aku meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Lalu perlahan membuang napas panjang, membuang resah.

Huff. Mungkin ada sedikit rasa kecewa yang terselip di dalam dada ini. Rasanya sungguh tidak enak manakala ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada tapi tidak ada satupun yang bisa kita lakukan untuk menendangnya pergi. Sedih. Semua rasa sedih yang bersemayam di dalam dadaku ini bermula dari berakhirnya percakapan yang aku lakukan di telepon tadi.




Ya. Sahabat dunia mayaku baru saja meneleponku tadi. Seharusnya, kami mengadakan pertemuan hari Jumat malam besok. Masih ada waktu empat hari lagi dari hari ini (selasa, 26 Februari 2002). Tapi, siapa yang bisa menebak kejadian di masa depan? Tidak seorang pun. Rencana pertemuan yang sudah kami sepakati akhirnya tidak dapat kami lakukan karena sebuah perubahan rencana mendadak.

“Maafkan aku ya Mbak Ade. Ini benar-benar di luar kendali. Tiba-tiba saja acaranya berubah tanpa konfirmasi dari awal.”

Suara Lila, sahabat dunia mayaku itu terdengar sedih di ujung pesawat telepon. Gagalnya pertemuan ini memang sebuah kabar yang menyedihkan bagi kami. Aku mengenal Lila di sebuah forum chatting. Gayanya yang lucu, ceplas ceplos dan selalu melontarkan celetukan yang ringan dan hangat membuatku selalu merasa bahwa kami sudah saling mengenal sejak lama sekali. Bahkan kadang aku merasa kami sudah pernah bertemu di kehidupan sebelumnya. Bahkan kami lupa bahwa ada rentang usia yang terpentang amat jauh di antara kami.

“Iya. Acara jumpa fansnya jadi batal deh. Ih, kok aku sedih ya kita nggak jadi ketemu.”
“Aduh mbak Ade, jangan begitu. Aku jadi mewek betulan nih.”
“Iya. Aku sudah pernah lihat mewek virtualmu. Sekarang pingin melihat aslinya sebenarnya. Ih, sedih.”
“Mbak!”

Sesaat kemudian terdengar suara isak perlahan di ujung pesawat telepon. Bukan hanya isak Lila yang aku dengar di telingaku, tapi juga isakku sendiri. Sungguh, begitu ingin aku bertemu dengannya.

Sebenarnya kabar kedatangan Lila ke Jakarta sudah aku terima satu bulan yang lalu. Sebuah kabar yang suka cita. Tergagap-gagap dia memberitahu tentang rencananya untuk ikut training di Jakarta. Artinya, selalu ada celah waktu kosong di tengah-tengah waktu training yang bisa kami manfaatkan untuk bertemu. Aku ingin melihat jilbab yang melambai-lambai menutupi tubuh mungilnya. Selama ini, semua itu hanya bisa aku lihat dari foto saja. Ah, semungil apa sahabatku ini? Aku juga ingin mendengar suara tawanya yang selalu membahana di sela-sela chatting kami karena selama ini suara tawa itu hanya berupa deretan huruf-huruf saja di layar monitor. Apakah dia memang begitu periang aslinya, atau itu hanya ekspressinya di dunia maya saja? Apakah suara tawanya serenyah yang biasa aku baca di layar monitorku?

Ya Tuhanku. Rinduku pada sahabatku ini ternyata terus tumbuh sejak menanti sebuah perjumpaan yang sesungguhnya. Aku ingin memeluk tubuhnya, mendengar suaranya, menatap wajah cerianya, dan duduk bersisian dengannya sambil mendengarkan semua ceritanya yang selalu terasa tiada pernah habis. Itu sebabnya segera setelah Lila memberitahu rencana kedatangannya ke Jakarta, yang aku lakukan pertama kali adalah mempersiapkan sebuah hadiah untuk tanda mata. Kami tinggal di tempat yang amat sangat berjauhan. Pertemuan yang akan terjadi mungkin merupakan sebuah peristiwa langka. Itu sebabnya aku ingin memberinya sebuah kenang-kenangan.

Hari-hari setelah kabar bakal kedatangannya, aku terbenam memikirkan hadiah untuk tanda mata. Dan pemikiran untuk memikirkan hadiah yang cocok itu membuatku semakin merindukan pertemuan yang akan terjadi. Hadiah yang akan aku berikan padanya sudah aku tentukan. Sebuah baju yang aku jahit sendiri. Ya, hanya ini kemampuan yang bisa aku lakukan. Lalu dimulailah acara memilih-milih bahan yang sekiranya cocok dengan kulit sahabatku itu, warna kulit yang hanya bisa aku lihat di foto saja selama ini. Dilanjutkan dengan menghitung ukuran tubuhnya, mengira-ngira tinggi tubuhnya dan memikirkan model yang sekiranya cocok dengan ukuran tubuhnya. Semua ukuran tubuh yang hanya aku dapat dari membayangkannya saja. Hadiahku ini adalah sebuah kejutan, jadi aku tidak pernah bertanya padanya berapa ukuran pinggang, punggung, lengan dan sebagainya. Dengan suka cita aku memotong bahannya, menjahitnya menjadi pakaian lalu membungkusnya dengan rapi sambil tidak lupa menyelipkan sebuah surat dan puisi di dalamnya. Tapi… apa yang terjadi sekarang?

“Aku juga nggak nyangka bahwa ternyata, besok pagi aku harus berangkat ke Bogor mbak. Training di Jakarta cuma satu hari saja ternyata. Sisanya dilakukan di Bogor.”

Aku membuang napas panjang. Kecewa. Sesungguhnya, jarak Bogor Jakarta tidaklah jauh, untuk ukuran mereka yang memiliki kendaraan. Tapi aku? Aku tidak punya kendaraan, ditambah dengan harus membawa anak-anak jika bepergian karena tidak ada asisten rumah tangga di rumah, maka jarak Bogor – Jakarta menjadi terlihat amat jauh.

“Aku pingin banget ketemu kamu Ragil.”

Gemetar aku menyebut nama panggilan sayang yang aku berikan padanya. Lila dan suamiku sama-sama anak bungsu, itu sebabnya jika sedang chatting bersama aku memanggil mereka ragil satu dan ragil dua.

“Sama mbak, aku juga pingin banget ketemu mbak.”
“Aku sudah menyiapkan hadiah untuk pertemuan kita ini sebenarnya.”

Tik. Air mataku menetes sedih. Teringat baju yang sudah aku bungkus rapi di atas lemari. Tidak seru jika akhirnya mengirimnya lewat paket pos padahal, aku ingin menyerahkannya langsung.

“Aku juga sudah menyiapkan oleh-oleh untuk mbak.”
“Hadiahku, aku buat sendiri. Aku membuatnya dengan sepenuh hati untuk kamu. Karena aku ingin memberi sebuah tanda mata sebagai ungkapan rasa terima kasih atas persahabatan manis yang sudah terjalin selama ini.”
“Hadiahku juga. Aku membuatnya sendiri juga. Mbak amat special buatku, jadi aku ingin memberi sesuatu yang special dari hatiku yang terdalam, buatan tanganku sendiri.”

Air mataku kembali mengalir. Terharu. Sementara di pesawat telepon yang menempel di telinga, aku pun mendengar sebuah suara isak yang tertahan.

“Mungkin memang kita belum ditakdirkan untuk bertemu ya. Tapi kamu harus tahu satu hal, menjadi temanmu adalah indah. Sungguh... Terima kasih ya untuk persahabatan kita selama ini.”

Isak perlahan Lila berubah menjadi tangis sesenggukan.

Pukul setengah delapan malam lewat, suamiku pulang dari kerja dan heran melihat mataku yang sembab. Dia bertanya kenapa? Akhirnya, aku ceritakan padanya apa yang baru saja terjadi dan (lagi-lagi) sambil …..menangis sedih.

“Ayo. Kalau begitu, kita berangkat malam ini juga ke tempat Lila menginap….”
“Hah ?!?”

Aku bengong, terpana. Lalu menatap suamiku yang bahkan belum berganti pakaian kerja dan meletakkan tasnya. Dia pasti masih lelah, keringatnya masih terlihat menempel di dahinya. Juga belum makan malam. Melihat keterpanaanku, suamiku langsung melemparkan sebuah senyuman dan meraih jemariku untuk meyakinkanku.

“Ade, sahabat kamu menjadi sahabatku juga. Kalau kamu sayang sama dia, begitu juga aku. Dan kesempatanmu untuk bertemu dengannya adalah kesempatan langka, jadi ayo, siap-siap kita berangkat sebelum semakin malam dan terlambat.”
“Mas… tapi nanti kamu kecapean dan jatuh sakit?”
“Apa ada yang lebih indah dari sebuah pertemuan yang sudah diidam-idamkan?”

Wah. Subhanallah Alhamdulillah. Rasanya memang tidak ada lagi waktu untuk berargumentasi. Kami segera berangkat sekeluarga dengan menaiki taksi.

Malam kian larut, awan hitam terlihat mulai melambai-lambaikan tangan mengajak pada semua sahabat awaawan hitam yang lain untuk berkumpul. Aku takut hujan merusak rencana pertemuanku. Diam-diam aku berdoa agar hujan tidak menjadi penghalang pertemuan ini.

Mobil-mobil merambat di sepanjang jalan, dan kembali aku khawatir kemacetan parah akan mempersulit pertemuan. Diam-diam aku pun berdoa agar lalu lintas berbaik hati memberiku kesempatan untuk berhasilnya sebuah pertemuan.

Di kursi depan, suamiku tampak menyenderkan kepalanya di kursi penumpang. Aku menyelipkan tanganku ke sela-sela pergelangannya yang langsung diraih oleh jemari suamiku dan meremasnya perlahan. Ada rasa hangat yang mengalir perlahan dan membuat ketegangan yang hadir dalam benakku mencair.
“Semoga jadwal bertemu tamunya masih dibuka ya De.”
Aku balas meremas jemari suamiku. Dia sahabat terbaikku yang sejati. Semua pengorbanannya, pengertiannya dan usahanya untuk membahagiakanku selalu membuat haru. Dan kembali diam-diam aku berdoa dalam hati. Kali ini doa khusus tertuju untuk suamiku.

Akhirnya aku dan Lila bertemu. Duh…senangnya.
Sepanjang pertemuan, beberapa kali aku begitu merasa terharu melihat kehadiran dia di hadapanku. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu orang yang selama ini hanya aku temui di dunia maya saja, bersahabat dengannya di dunia maya dan kini bertemu bertatap muka secara langsung. Yah…. ada kejutanannya dikit sih, karena dia ternyata sedikit berbeda dibanding dengan fotonya. Tapi aku begitu larut dalam kegembiraan dan syukur bisa bertemu dengannya jadi lupa dengan rasa perbedaan itu sendiri. Dalam perjalanan pulang, baru aku sadar, sepertinya gaun yang aku buatkan buat dia akan kebesaran, karena ternyata Lila lebih mungil dari yang aku bayangkan dan aku lihat di foto.
Tapi aku senang bukan alang kepalang karena pertemuan itu akhirnya terwujud. Duh, rasanya aku betul-betul menjadi orang yang sangat beruntung.

------------selesai-----------


Penulis: Ade Anita
tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis "Long Distance Friendship"
ini linknya: http://www.facebook.com/notes/info-lomba-dan-peluang-menulis/lomba-menulis-long-distance-friendship/185220411500857

(Lila adalah sahabat dunia maya yang aku kenal ketika di KCMYQ (Komunitas Cyber My Quran; komunitas pengunjung forum chit chat di situs My Quran.com, s.d tahun 2003. Apa kabar kalian semua para KCMYQ-ers?)

Like · · Unfollow post · Share · Delete
Elvinawati Nugroho, Hesti Riyantini, Elisa Trisnawati and 16 others like this.

Cepi Sabre lebih dari lila, sahabat mba ade, dan mba ade sendiri, saya justru terkesan sekali dengan suamimu, mba ade. aih, senangnya kalau bisa jadi istrinya. eh, maksud saya, saya juga mau begitu kalau jadi suami. hehehe ....

jangan cemburu ya, mba ade.
19 February at 12:56 · Like · 2

Astrid Septyanti Fuyuharuaki wah, senangnya...hiks...astrid juga pengen banget ketemu mbak Ade. tapiiii.....jauh nian.
suami mbak Ade keren bgt. patut di contoh...
*ngomong2, katanya LDF buat yg blm prnh ktmu lho mbak.
19 February at 13:02 · Like

Eka Kumala Sinta Suami mba ade memang keren dan luar biasa. Dan kami beruntung mjd mahasiswa beliau. Smoga keluarga mb ade sehat & bahagia slalu :)
19 February at 13:19 · Unlike · 2
Ade Anita ‎@cesa: jangan rebut suamikuuuu (*loh? hehehe)...
19 February at 13:38 · Like · 2
Ade Anita ‎@astrid dan eka: iya.. tulisan ini padahal dah aku tulis lama banget dan tersimpan rapi di dokumenku.. pas nulis ulang, baru sadar kembali.."suamiku baik banget, subhanallah."
19 February at 13:39 · Like · 1

Astrid Septyanti Fuyuharuaki iya mbak...jadi kayax tokoh utamanya ada 2 yah...ck ck ck...
subhanalloh....
19 February at 13:41 · Like
Ade Anita setiap teman LDF sebenarnya punya cerita spesial.. tapi kebetulan yang satu ini terasa luar biasa karena langsung aku abadikan lewat tulisan pertemuannya kala itu.. itu sebabnya aku tahu persis tanggal, hari dan jamnya. Padahal.. sahabatku buanyaaaaaakkk banget dan semuanya aku sayangi.
19 February at 13:41 · Like
Ade Anita ‎@astrid: iya.. baru sadar... duh, mau diedit dah kekirim lagi yang aslinya... hehe.. gpp deh..
19 February at 13:42 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki gpp mbak, yg penting tulisannya membawa pesan...
sy jg smpai skrg nulisnya g jd2. bingung sahabat yang mana yang mau ditulis. hehehe
19 February at 13:43 · Like
Ade Anita hehehe... aku juga gitu kemarin.. sampai akhirnya ketemu file lama di atas di diary notebookku.. :)
19 February at 13:47 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki hmmm, buka-buka lagi...sebenarnya ada sih yang istimewa, tapiiii, g mungkin di publish. hehehe...y sudahlah, saya tulis yang lain saja...
19 February at 13:49 · Like
Ade Anita hehehe.... semangat astrid.. semangat...
19 February at 13:50 · Like

Astrid Septyanti Fuyuharuaki oke mbak....edit edit....
19 February at 13:51 · Like

Oci Aja selalu kereeenn... ^_^ kapan dedlen sih mbak?
19 February at 13:52 · Like
Ade Anita tanggal 27 februari katanya.
19 February at 13:54 · Like · 1

Dhia Nisa Tulisan mba ade, menguak kenangan jg ni, dengan komunitas yg sama :) Sampai sekarang pun aku masih menyayangimu mbas, sahabat maya q. Masih sempat ikutan lomba nya yaaa? :) Btw... Lila yang dari Surabaya ya? (kalo ga salah surabaya, mungkin lila yg pernah aku kenal jg), kalo bener bagi kontaknya dong, ato ada fb nya?
19 February at 14:18 · Like
Ade Anita iya.. lila yang sama... si ragil dari tulung agung.. dulu ada fb sebentar, tapi dilarang suaminya jadi fbnya menghilang.. begitu juga dengan dirinya...:))
19 February at 14:19 · Like · 1

Susan Anggraini Mba ade ceritany bagus, ak jd terharu.. Mau dong jd sahabatmu juga
19 February at 14:31 · Like
Ade Anita sudah... kan kamu sudah jadi salah satu sahabatku...:)
19 February at 14:34 · Like

Faradina Izdhihary huf... aku ikut sedih tadinya, tapi akhirnya ikut bahagia. bagus Mbak ceritanya
19 February at 14:48 · Like

Ilham Q Moehiddin Wah..selamat ya mba Ade...InsyaAllah menang.
Kisahmu ini bagus banget. Aku terenyuh membacanya. ^_^
19 February at 15:25 · Like

Moh Mustakim Hem... (ikut menerawang ke bentang waktu 2002 - 2004 bersama para chater MyQ. Jkt-Bekasi-Bogor-Bandung-Yogya hingga kondangan ke Wonogiri)...:)
19 February at 16:53 · Like

Anne Adzkia Indriani Mbak Ade, suamimu baik banget. Meskipun pulang kerja, lgsg ngajak mbak ade ke bogor. Subhanallah. Alhamdulillah akhirnya ketemu mbak. Ketemu sahabat yg dirindukan pasti sangat membahagiakan...seperti aku yg pgn bgt ketemu mbak ade :)
19 February at 17:36 · Like

Dhia Nisa ‎@ukim: Samarinda ga disebut nih? ga nyampe ya terawangnya hehehe
@mba ade: kayanya banyak yg pengen ketemu mba, bikin acara jumpa fans aja mba :)
19 February at 19:32 · Like

Dessy Aja · Friends with Ade Anita Juga and 2 others
mbak Ade...jd terharuuu..suatu saat nanti pengen ketemu jg sm sahabat mayaku ini..:)
19 February at 19:39 · Like

Indria Auliani Bruntungnya mba adeee.. Untung bs ktmu, untung mas adi baeeeek bgeetttt.
Ukim jauh jg ya ngumpul2nya. Aku cm ikut jkt-bogor-bdg ajah..
19 February at 19:43 · Like

Dhia Nisa ‎@indri: bandung yg sm mba emy itu kan yah? yg ketemu chatter bdg, teny, subhan. iya kah?
19 February at 19:47 · Like

Indria Auliani Iya mbk =) msh inget yaaa.. kemana tuwh? Yg ada telaga 3 wrna ituu..
19 February at 19:56 · Like

Dhia Nisa Ciwidey aul, eh tulisannya salah ya :) ada fotonya koq dialbum ku, udah liat belum? eh Kudri kemana ya? tau kudri kan aul?
19 February at 21:27 · Like
Ade Anita kudri itu istrinya rully..tanya sama rully
19 February at 22:13 · Like
Ade Anita ‎@dessy: iyaaaa...aku juga mau ketemu sama kamu des..
19 February at 22:14 · Like
Ade Anita ‎@ukim: waahh..aku cuma sempat keliling ke malang dan bandung saja.. tapi dah senang bgt itu
19 February at 22:15 · Like

Hairi Yanti Huwaaaa... suami mbak Ade baik banget....
btw mbak, rasanya ada syarat ngetag siapaa gitu di lomba ini... bener ga ya?
19 February at 22:15 · Like
Ade Anita ‎@anne: padahal kita dah bbrp kali nyaris bertemuu ya anne
19 February at 22:16 · Like

Dhia Nisa HAH Rully? :) oke deh langsung ke TKP. makasih mba ade
19 February at 22:18 · Like

Nur Rahma Hanifah Speechless... :(
20 February at 06:40 · Like
Ade Anita ‎@yanti: bener banget, tapi belum bisa-bisa..aku dah kirim linknya ke mereka tapi katanya disuruh pelan2 aja ngetag terus sapatau bisa... masih sampe tanggal 27 kok buat usaha ngetaq
20 February at 06:58 · Like

Rizki A. Widiyanto iyah, suamin mbak ade keren sekali.... senengnya kalo jadi istrinya.... (loh???? maksud loh????????) XD
*maap2, comment ngawur! tapi ceritanya so touching mbak... ^^
20 February at 08:19 · Like

Kartini Bhethawee subhanallah... begitu indah kalau qta mempunyai teman yg selalu mengharapkan kehadiran qta.. seperti tak jemu2nya untuk bertemu... itulah ukhuwah.. :).. tik mas adi... weh..weh..weh.. benar2 suami siaga.. *acungi 2 jempol* hehehe
20 February at 10:53 · Like

Fajar Alayubi emosinya terasa skali, mba. ^_^
20 February at 20:04 · Like
Ade Anita ‎@amerul dan fajar: makasih ya
20 February at 20:46 · Like
Ade Anita ‎@tini: ih..jempolmu kukunya panjang-panjang..hehehe ..tks ya
20 February at 20:47 · Like

KembaRa Gelungan Hitam duuuh suami teladan dengan istri yang menjadikannya demikian menghargai arti sebuah persahabatan duuh mbak, cantik banget, semoga sukses ya
21 February at 00:29 · Unlike · 1
Ade Anita makasih mbak Ra... (aku sempat ngintip tulisan kandidat lain jadi rada2 minder sih aslinya.. bagus2 semua.. hiks.)
21 February at 10:11 · Like

Nurul Asmayani Mba, mengharukaaaaan.....
Tulisan Mba selalu mengalir dan menyentuh.Pasti ditulis dengan hati.
21 February at 16:55 · Like

Moh Mustakim ‎@Ziah: anaknya Ruli aja dah mau 6 th... eh baru tau kalo khudri istrinya :)
21 February at 19:08 · Unlike · 1

Elisa Trisnawati waahhh senangnya jadi sahabat Ade.......
24 February at 08:15 · Unlike · 1
Ade Anita ‎@elisa: hehe.. sama dong, aku juga senang punya sahabat seperti dirimu elisa
24 February at 08:39 · Like
Ade Anita ‎@nurul: hehe, mungkin karena aku nulis pengalaman pribadi.. bukan pengalaman orang lain jadi masuk banget ke karakter tulisannya ya...
24 February at 08:40 · Like
Ade Anita ‎@ziah n ukim: hehehe, iya, aku juga dah tahu lama banget kalo kudri nikah sama rully... bahkan sebelum kenal facebook..
24 February at 08:40 · Like

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...