Langsung ke konten utama

Notes tentang Cinta

notes Tentang CInta
by Ade Anita on Monday, 23 August 2010 at 13:06
Cinta itu sesuatu yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan. Juga tidak pernah kering untuk ditulis kisah tentangnya. Saya selalu suka membicarakan tentang cinta. Mungkin karena dia selalu terasa manis dan menghangatkan. Siang ini (sebenarnya pagi, tapi saya bangun kesiangan hari ini, amat sangat kesiangan), saya membaca sebuah notes yang menulis tentang cinta. Manis sekali. Terasa istimewa karena merupakan kumpulan dari tokoh-tokoh kartun yang amat familiar bagi saya.

Saya penggemar film kartun. Film kartun apa saja saya suka. Eh.. ralat. Tidak semuanya. Karena saya tidak suka beberapa serie kartun Amerika yang diperuntukkan untuk remaja yang sering kasar seperti Bernie and Mice; Brain; Cat and Dog; dan mmm... beberapa deh. Di deretan kartun-kartun ini, ternyata bertaburan perilaku kasar, vandal, kalimat-kalimat kotor dan juga adegan kekerasan lainnya. Tapi saya suka film-film kartun yang diperuntukkan untuk anak-anak. Dan hampir semua film kartun Jepang saya suka (kecuali kartun-kartun tentang robot atau manusia setengah robot).

Notes tentang Cinta yang ditulis oleh Dwi Klik ini manis sekali. Tidak ada sedu sedan, jerit tangis, atau tawa gelak akibat dari Cinta. Tidak ada juga kalimat menggurui, hardikan, atau keluh kesah. Tapi kita tetap tahu bahwa yang sedang diutarakan oleh Dwi adalah sebuah gambaran tentang CINTA.

Tulisan-tulisan Dwi Klik Santosa memang selalu begitu. Halus dalam penceritaannya, bahasanya mengalir tenang, kadang menghentak tak terduga, tapi bsia membius pembaca untuk tertib dan telaten mengikuti alur cerita yang sedang dia kembangkan. Dia baru saja menelurkan sebuah buku yang (kebetulan, saya salah satu penggemarnya, karena mengikuti gaya ceritanya di notes-notesnya. Jadi, senang banget ketika tahu dia menerbitkan buku tentang Wayang. Ya, cerita wayang. Sebagai orang Sumatra, sebenarnya saya tidak mengerti Wayang sama sekali, tidak tahu ceritanya, tidak tahu sama sekali. Tapi, setelah mengikuti puisi, prosa dan notes tentang wayang yang ditulis Dwi Klik, jadi bisa menikmati keseruannya. Saya juga jadi belajar, bagaimana merangkai sebuah cerita dengan gaya baru pada cerita legenda terkenal yang nyaman bagi kita meski cerita itu sudah terkenal sebelumnya). ini info lebih lanjut tentang novel wayang cinta Dwi Klik http://www.facebook.com/photo.php?pid=4819742&id=785318611&ref=fbx_album).
(Btw, saya sudah membeli dan memiliki novel ini. Bagus banget. Kualitas kertasnya bagus, gambar-gambar animasinya kreatif dan bagus, dan sekali lagi.. gaya bercerita Dwi tetap menarik, manis dan menghanyutkan. Asyik dan renyah).

Oke, langsung saja . Beirkut ini notes tentang Cinta yang membuat saya suka banget membacanya. Apakah kalian juga sependapat dengan saya?


ALBUM MANIS ITU BERNAMA CINTA
by Dwi Klik Santosa on Monday, 23 August 2010 at 10:57

1. "Hai, Popeye ... izinkan aku berlayar bersamamu."
"Wekekeke ... di laut hanya ada sunyi dan pedih sesekali dihempas badai, Olive sayang ..."
"Aku tidak takut, Popeye ... aku akan bawa bekal bayam yang buaaannyaakk ... Selalu di dekatmu, apa yang kutakutkan?"

2. "Kenapa Bibi Desi, lebih memilih Paman Donald daripada Paman Untung?" kata Kwak.
"Iya, bukankah setiap gerak Paman Untung selalu mendatangkan untung," timpal Kwek.
"Sedang Paman Donald, kan, melulu sial," seru Kwik.
"Iya, anak-anak yang manis. Soalnya Paman Donaldmu orangnya jujur, sederhana dan selalu bersemangat dalam mencintai."

3. ‎"Kenapa engkau tidak cemburu kepadaku," seru Mini,
"bukankah sudah berhari-hari aku diculik Boris."
"Ya, tapi kau bisa melihat marahku, bukan. Dan tentang kejahatan si gombal yang jahat itu sudah mendapatkan ganjarannya di penjara," sahut Mickey,
"sedang kepadamu, alasan apa yang tepat untuk mencurigai."

4. "Kenapa kau marah-marah kepadaku, Clara?" tanya Gufi.
"Huhhh ... setega itu kau tidak merasa bersalah," tandas Clara Bela.
"Hiiikkss ... aku tidak mengerti apa maksudmu?"
"Tidakkah kau ingat hari ini, hari apa?"
"Hikkss ... hari ini? .. hikksss ... coba kau buka kain di dinding itu, Clara?"
"Ouuuwwhh, Gufiku. Ini foto kita sewaktu kecil sedang bermain manten-mantenan."
"Selamat ulang tahun, Clara. .... Hikksss"

---------------
Penulis: Ade Anita.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…