BERADAB, BERILMU DAN BERSATU

[Catatan Akhir Tahun] Akhirnya, catatan akhir tahun, seperti yang biasa aku buat setiap akhir tahun di blog ini, dimulai hari ini. Tidak seperti biasa dimana aku menulis tentang catatan pengalamanku sendiri sepanjang tahun. catatan akhir tahun pembuka kali ini adalah tulisan orang lain. Isinya bagus banget. Begitu bagus sehingga aku ingin menyimpannya sebagai pengingat diri sendiri. Judulnya, Berada, Berilmu dan Bersatu. Penulisnya adalah Viena Alifa; Seorang penulis perempuan yang muslimah, sholehah, dan amat lembut, santun, baik banget orangnya. Subhanallah. Aku share tulisannya disini ya. Selamat terinspirasi.

credit foto: viena alifa


Vienna Alifa
3 Februari 2017

BERADAB, BERILMU DAN BERSATU

Jika kita rindu akan persatuan dalam tubuh umat Islam, ingin persaudaraan menguat, berharap agar saling sinergis dalam berdakwah dan mensyiarkan agama-Nya, maka singkirkan ego, redam hawa nafsu dan hilangkan hasad.

Yang masih belajar tak perlu menganggap ustadz/syaikhnya lebih mumpuni dari selain kelompoknya. Yang masih berbenah tak usah mengira dirinya sudah paling sesuai sunnah. Yang mulai mengajar hati-hati menjaga sikap dan lisannya agar tak merasa selalu benar. Yang sudah jadi panutan semoga tak mengarahkan pengikutnya pada pengkultusan.

Semakin banyaknya ulama dengan berbagai gaya, dari beragam fikrah, dan bermacam kafa'ah semestinya membuat kita bersyukur. Karena mereka sudah berkorban mengisi kebutuhan ummat dari beragam sisi. Ada yang keras menindak kemungkaran, ada yang lembut mengajak pada kebaikan. Ada yang ketat menjaga syari'at, ada yang ringan memberi syarat. Ada yang tampak di permukaan, ada yang sibuk di pedalaman. Ada yang suka berkiprah di panggung perpolitikan, ada yang senang menekuni dunia pendidikan. Dan seterusnya. Intinya kita harus paham bahwa setiap pemuka agama selalu siap menopang ketimpangan iman, ilmu dan amal di dalam diri kaum muslimin.

Bagi para pembelajar tentu tak semua gaya ulama cocok di hati. Pastilah ada kecenderungan kepada salah satu golongan sesuai pemikiran yang kita miliki. Tak mungkin kita ambil seluruh fatwa mereka dari berbagai madzhab untuk dijalani. Kemampuan diri kita pun bervariasi tatkala harus berproses meninggalkan yang haram dan mengikuti yang sunnah.

Lalu apakah ini bisa menjadi cikal bakal perpecahan ummat?

Ya, apabila karena ketidaksepakatan atau ketidakmampuan itu membuat kita ringan meremehkan pendapat salah satu atau beberapa ulama. (contoh : blum bisa ninggalin rokok tapi nyalahin fatwa yang ada, blum mau memilih pemimpin muslim tapi mengingkari fatwa ulama, dll)

Ya, manakala kita kemudian enteng menebar ketidaksukaan pada pemuka agama apalagi dibumbui dengan cercaan dan cacian yang akhirnya berujung pada fitnah. (Duh, sedih hati saya pas baca seorang ustadz dijuluki 'abal-abal', 'koplak', 'katrok', dsb)

Ya, jika kita sibuk mendebat perbedaan yang tidak prinsip hingga lalai terhadap kewajiban asasi sebagai hamba dan prioritas hidup yang harus dilakoni. (misalnya, status di medsos sering di-update tapi tilawah Al-quran macet bin mandeg)

Ya, ketika kita terus kerahkan energi untuk menyudutkan saudara seiman yang belum paham atau beda sudut pandang atau sedang khilaf tanpa sedikit pun rasa empati. (misal: nafsu mencecar lebih dominan mengalahkan niat menasehati, lebih suka debat bukan diskusi sehat).

Ingatlah...
Para pembelajar yang betul bersungguh hati dalam meniti ilmu itu selayaknya sudah dibekali oleh adab. Para ulama salaf banyak berpesan tentang hal ini, di antaranya Imam Malik pada seorang pemuda, "Pelajarilah adab sebelum kau mempelajari ilmu apapun."

Jadi kalau dalam dada kita semangat bersatu masih berkobar mestinya kita bisa tetap menghargai setiap pendapat, amal serta argumentasi yang beredar di kalangan orang beriman. Saat tidak setuju, utarakan dengan bahasa santun tanpa mengurangi kecintaan kita padanya. Ketika tak sesuai, tahan komentar yang memancing tumbuh dan menyebarnya kebencian di tengah ummat. Pas gemes ingin mengoreksi, lakukan diam-diam pada yang bersangkutan (jika memungkinkan) atau sampaikan secara umum dan terbuka lewat lisan pun tulisan tanpa perlu menyebut namanya.

Kalau masih belum sreg dan gak sejalan juga, panjatkanlah doa. Minta pada Allah agar Dia berkenan mengampuni kekeliruan kita, saudara kita dan para pendahulu. Serta semoga Dia beri hidayah pada kita semua, sehingga yang salah menjadi sadar, yang hatinya sempit menjadi lapang dan yang khilaf menjadi insyaf. Sehingga tak sampai muncul pertikaian, permusuhan, dan kebencian di antara sesama muslim apalagi pada para ulamanya.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي
قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (Qs. Al-Hasyr : 10)
@vi3nzz
~Bentley, Feb 2017

Tidak ada komentar