Langsung ke konten utama

Mertua VS Menantu

[Keluarga] "Eh... gimana nih kabarnya yang sudah jadi ibu mertua?"
Itu pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-temanku ketika kami bertemu dalam sebuah acara. Aku sendiri sih senyum-senyum saja menanggapi pertanyaan tersebut. Ya mau dijawab apa coba? Karena, rasanya sih sama saja deh apa yang aku rasakan setelah memiliki menantu seperti sekarang. Bangun tetap saja bisa kesiangan; jika sedang malas ya tetap saja malas, dan jika sedang rajin ya tetap saja rajin. Tidak ada yang berubah fungsi atau takaran pekerjaannya.

Yang terasa berbeda itu adalah, jumlah anak yang sekarang bertambah satu.
Itu saja sih.

Mungkin, makanya aku merasa biasa-biasa saja meski sudah ada tambahan anak di rumah (yaitu anak menantu), karena menantuku langsung lebur dan membaur dengan anak-anakku yang lain. Anak-anak perempuanku serasa mendapat teman baru yang klop.

Bagaimana tidak klop coba?
Perbedaaan usia anak-anakku satu sama lain memang cukup jauh. Dari anak pertama ke anak kedua 5 tahun,  dari anak ke dua ke anak ke tiga nyaris 7 tahun.
Nah, karena perbedaan usia yang cukup jauh ini, maka sering muncul kesulitan komunikasi antara mereka. Yang satu ingin ngobrol tentang teman-teman remajanya yang mulai suka jalan-jalan misalnya; yang lain ingin ngobrol tentang teman-teman kecilnya (masih usia anak-anak) yang tidak boleh jalan-jalan sendiri oleh orang tua mereka (ya iya lah, masih anak-anak gitu).

Yang satu pingin ngobrol tentang sebuah barang yang menurut ukuran mereka lucu, yang lain pingin ngobrol tentang sebuah barang yang menurut ukuran mereka lucu juga. Bedanya, yang satu melihat barnag yang disukai saudaranya itu sudah old fashion banget, sedangkan yang lain melihat barang yang disukai saudaranya itu "terlihat tua". Jadi, ujung-ujungnya malah berselisih paham saling bongkar keburukan barang yang disukai satu sama lain, lalu saling meninggikan suara, lalu berakhir dengan sama-sama ngambek.

Begitulah anak perempuan jika perbedaan usianya terlalu jauh, ketika mereka sedang melewati masa Remaja dan Pra Remaja.

Nah, keberadaan menantu perempuanku ini alhamdulillah bisa menjembatani kedua putriku ini.
Sekarang, si remaja yang sudah mulai kuliah bisa dapat teman ngobrol yang asyik; yang perbedaan usianya tidak terlalu jauh dengannya, yang bisa mengerti apa yang dia bicarakan, yang bisa mengerti berbagai istilah gaul yang dia utarakan. Selama ini, jika anak perempuanku ini berbicara denganku, aku banyak nggak tahunya tempat-tempat yang dia maksud. Aku juga sering bingung dengan istilah-istilah gaul yang keluar dari mulutnya. Akhirnya, sesi ngobrol, 50% diisi dengan penjelasan dia agar apa yang tidak aku ketahui aku ketahui terlebih dahulu. Barulah setelah aku tahu, dia lanjut bercerita. Tentu saja sesi pemberian penjelasan informasi ini membuat keseruan dia untuk bercerita berkurang. Jadi yang tadinya wajahnya penuh antusias yang meluap-lupa karena ingin bercerita, rasa antusiasnya mulai berkurang karena energinya habis untuk memberi penjelasan agar aku mengerti.

Nah, semua kendala jurang perbedaan usia antara aku dan anak perempuanku yang remaja dan sudah kuliah ini, bisa diisi dengan menantuku alhamdulillah. Dia bisa mengerti istilah-istilah dan tempat-tempat yang diceritakan oleh anakku. Jadi, sekarang posisi menjelaskan informasi yang tidak aku ketahui ini dibagi dua oleh mereka. Bergantian mereka menjelaskan padaku. Dengan begitu, antusias yang semula terkuras 50% setelah dibagi menjadi hanya berkurang 25% saja. Dengan demikian, keseruan cerita tetap bisa terasa oleh siapa saja. Itu sebabnya anak remajaku yang sudah mulai kuliah ini ini merasa senang karena serasa mendapat sahabat baru, serumah pula.

Sedangkan anak perempuan bungsuku yang baru pra remaja (karena baru lepas dari bangku sekolah dasar); juga senang karena bisa mendapat teman ngobrol yang asyik; yang tidak dalam posisi bersaing untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya; yang tidak dalam posisi untuk mencari kekurangan dari apa yang dia bicarakan; dan yang dirasakan bisa leluasa diajak bicara tentang apa saja tanpa rasa takut dicela.

Hehehehe.
Anak pra remaja memang begitu. Mudah sekali curiga bahwa orang dewasa akan mengorek kelemahan dan kekurangannya. Akhirnya dia otomatis sering menutup diri dan bersikap defense dengan cara meninggikan suara sebagai gambaran dari penolakan dia untuk dikorek-korek kelemahannya.

Anak pra remaja itu, adalah anak yang tidak mau dianggap sebagai anak kecil lagi. Tapi dia sadar sepenuhnya bahwa dia memang belum besar. Tapi tetap saja ingin dianggap bukan anak kecil lagi. Akhirnya, dia jadi waspada, dan curiga merasa bahwa orang-orang dewasa di sekelilingnya akan tetap memperlakukannya seperti anak kecil dan menganggapnya sebagai anak kecil. Karenanya, dia pun sering menolak kehadiran orang dewasa yang berpotensi "akan membully"nya. Sebaliknya, dia mulai merasakan bahwa teman-temannyalah yang lebih berharga ketimbang orang dewasa lain (termasuk orang tua dan saudara-saudaranya). (tentang hal ini kita bahas di tema parenting a la aku ya di postingan lain di blog ini).

Nah; keberadaan menantuku ini alhamdulillah bisa menjembatani masa adaptasi anak pra remajaku. Jika anak bungsuku ini sedang ngobrol ramai-ramai dan kakak-kakaknya mulai "membully" dia (meski dalam rangka bercanda), maka menantuku ini bisa jadi teman tempat dia berlari minta bantuan. Setidaknya, menantuku ini bisa mengingatkan suaminya (anak pertamaku yang jadi suami dia) agar berhenti sejenak membully adiknya. hehehehe. Kasih jeda lah paling tidak.

Karena situasi yang membahagiakan ini, maka aku sih jadi makin sayang pada menantuku ini. Dia sudah benar-benar seperti anakku sendiri sekarang. Jadi, aku tidak pernah merasa punya 3 anak dan 1 menantu. Yang aku rasakan sekarang adalah punya 4 orang anak.

Punya 4 orang anak


Itu sebabnya ketika teman-temanku bertanya, "Gimana kabar menantu?"
Aku juga bingung menjawabnya. Karena aku merasa biasa-biasa saja. Tidak merasa mendapat menantu. Tapi malah mendapat tambahan anak baru. Anak ketemu gede.
Dan karena dia anakku juga, jadi, perlakuanku pada anak kandungku seperti apa, maka demikian pula perlakuanku pada anak menantuku. Sama, rata, berimbang.
Mereka semua aku sayang.

Jadi, jika ada yang bilang tentang perseteruan antara mertua dan menantu, ah. Itu hanya mitos. Komunikasi dan mind set kitalah yang mengatur apa yang hendak kita terapkan dalam kehidupan kita.







Komentar

  1. Wa,seru ya kalo ngobrol bareng....
    udah kebayang gimana adek dibully kakaknya xixi..

    BalasHapus
  2. Seru ya, Mbak? Jadi pengen lihat, gimana dua anakku ketika remaja nanti? :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Bener banget. Itu cuma mitos. :D Buktinya, mertuaku malah asyik banget orangnya

    BalasHapus
  5. Asyiknya. :D Keluarga bahagiaaa

    BalasHapus
  6. ya Allah seru banget mba, bahagiaaaaa

    BalasHapus
  7. Saya lihat nih keseruannya di instagram. Kita yang lihat aja emang berasa mbaknya jadi punya 4 anak :D

    BTW, menantunya mbak Ade pinter gambar euy~

    BalasHapus
  8. Serunya, keluarga jadi semakin ramai dg hadirnya satu anak lagi.

    BalasHapus
  9. Asyik! Anaknya 4 deh. Tetep yg cowok ganteng sendiri

    BalasHapus
  10. Wah.. kebayang serunya 😍😍😍

    BalasHapus
  11. Aaaah serunya keluarga mba Ade ini. 4 anak kalo sudah ngumpul, pasti rameee :)

    BalasHapus
  12. Liat kebersamaan Mbk Ade dan KEluarganya, berasa adem, tentrem banget, apalagi sama mode pengasuhannya *_*

    BalasHapus
  13. Salut punya ibu mertua yg baik hati dan cantik

    BalasHapus
  14. Mbak ade jadi ibu mertua yang asyik nih, dan menantunya juga bisa langsung membaur ke keluarga mbak ade klop deh ya 😀

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah mertua ku juga asik kok.. sama kayak ibuk.. hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…