Langsung ke konten utama

Pemberian Nama untuk Bayi Baru Lahir

[Parenting] Buat orang bule (baca: orang-orang barat; yaitu yang tinggal di negara barat seperti amerika, eropa dan sekitarnya), mungkin nama itu tidak penting. Itu sebabnya mereka mengenal pepatah yang mengatakan "apalah arti sebuah nama". Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Di beberapa daerah yang ada di Indonesia, nama itu tidak dipandang amat penting. Ada beberapa daerah yang memberi nama pada anak, sesuai dengan peristiwa yang terjadi di waktu bersamaan ketika anak itu lahir, sebagai pengingat akan waktu dan kejadian. Di bagian daerah yang lain, pemberian nama semata diberikan karena anak adalah penerus nama keluarga. Sehingga, terkadang nama anak adalah nama yang sama dengan nama ayah atau kakeknya. Di bagian daerah yang lain, ada yang memberikan nama sesuai dengan suasana hati orang tuanya ketika anak itu lahir. Tapi mayoritas daerah di Indonesia, pemberian nama pada bayi yang baru lahir, diberikan seiring dengan harapan dan asa yang ingin disematkan oleh keluarga besar pada bayi tersebut.

Cerita tentang pemberian nama-nama di daerah di Indonesia, bisa kalian baca di postinganku yang ini ya: Promp #8 : Kendi : Nama Kendi

Di Islam (agama yang aku anut) sendiri bagaimana?

Islam, ternyata menganggap penting pemberian nama pada seorang anak. Karena, dalam sebuah nama yang diberikan tersebut, terkandung doa dan harapan. Itu sebabnya, dalam Islam, pemberian nama pada bayi hendaknya hanya memberikan nama yang bagus-bagus dan positif saja artinya atau penafsirannya. Jangan memberikan nama yang bisa memberi celah untuk penafsiran ganda: bisa negatif bisa positif. Dan tidak boleh sama sekali memberikan nama yang memberi penafsiran negatif. Selain itu, dalam islam, juga disunnahkan untuk memberikan nama sekaligus meng-aqiqahkan bayi pada saat dia lahir atau di hari ke tujuh setelah kelahirannya.

Mungkin, pernyataan sunnah untuk memberikan nama maksimal di hari ke tujuh inilah yang di Indonesia kemudian berubah menjadi sebuah mitos tersendiri. Yaitu, anggapan bahwa jika setelah hari ke tujuh seorang bayi belum juga diberi nama maka nanti bayi tersebut bisa mengalami masalah kesulitan bicara alias bisu. Tentang hal ini, aku pernah menuliskan kisah asal muasal namaku "ade anita" di postingan yang ini nih: Jangan panggil aku anita. 

Sekali lagi, anggapan tentang mitos bahwa bayi yang belum diberikan nama setelah hari ke tujuh itu tidak benar. Itu sepertinya gertak sambal nenek moyang kita yang gemas melihat anak-anaknya belum juga memberi nama pada cucu mereka menjelang hari ke tujuh setelah kelahiran cucu mereka. Jadi, biar bergegas memberi nama, diberikan cerita tersebut. Maksud awalnya sih agar bisa mengerjakan sunnah, tapi karena gemas jadi menakut-nakuti. Sayangnya cerita menakut-nakutin ini akhirnya jadi sebuah kepercayaan tersendiri. Padahal, itu asli MITOS.

Berikut ini, aku kutip dari website islamqo.info tentang dalil mengapa Islam menganggap penting arti sebuah nama dan pemberian nama pada bayi yang baru lahir:

... dijelaskan di dalam sunnah tentang penentuan waktu untuk memberi nama bayi yang baru lahir melalui beberapa hadits, di antaranya adalah:
1.      Hadits yang menunjukkan sunnah hukumnya memberi nama pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi.
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyuruh untuk memberi nama pada bayi pada hari ke tujuh setelah dilahirkan dan membersihkan kotorannya (mencukur) dan di aqiqahi”. (HR. Tirmidzi: 2832 dan dia berkata: “Hadits ini hasan gharib”. Dihasankan juga oleh Albani dalam Shahih Tirmidzi)
Dari Sumrah bin Jundub –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
)كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ ، وَيُحْلَقُ ، وَيُسَمَّى (
رواه أبو داود (3838) وصححه الألباني في صحيح أبي داود .
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh setelah kelahirannya, di cukur dan diberi nama”. (HR. Abu Daud: 3838 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud)
2.      Hadits yang menunjukkan untuk memberi nama pada saat dilahirkannya.
Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
)وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ( رواه مسلم (2315(
“Tadi malam telah lahir seorang bayi, maka saya telah memberinya nama dengan nama Ayahku, Ibrohim”. (HR. Muslim: 2315)
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang lebih utama memberikan nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya, mereka berkata: “Dan hadits Anas menunjukkan bahwa dibolehkannya memberi nama pada hari kelahirannya, bukan disunnahkan”. (Al Mughni: 9/356)
Sebagian ulama Malikiyah, Nawawi dan pendapat Hambali yang lain bahwa disunnahkan memberi nama bayi pada hari pertama, demikian juga disunnahkan untuk memberi nama pada hari ke tujuh.
Imam Nawawi berkata dalam Al Adzkar (286):
“Sunnah hukumnya untuk memberi nama pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi atau pada hari kelahirannya”.
Baca juga dalam Al Inshaf: 4/111.
Imam Bukhori berpendapat bahwa barang siapa yang ingin mengaqiqahi maka diakhirkan pemberian namanya bersamaan dengan aqiqahnya pada hari ke tujuh, sedangkan bagi yang tidak ingin mengaqiqahinya maka pemberian namanya pada hari pertama kelahirannya.
Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (9/588): “Yang demikian itu penggabungan yang lembut, saya belum pernah mengetahui sebelumnya pada selain Bukhori”.
Al Iraqi dalam Thorhut Tatsrib (5/203-204):
“Dan dengan ini –disunnahkannya memberi nama pada hari ke tujuh- merupakan pendapat Hasan al Bashri, Malik, Syafi’i, Ahmad dan yang lainnya. Sahabat-sahabat kami berkata: “Tidak apa-apa memberi nama pada hari sebelumnya”.
Muhammad bin Sirin, Qatadah dan Auza’i berkata: “Jika telah dilahirkan dan kondisi penciptaannya sudah sempurna maka jika mereka mau,, diperbolehkan segera memberinya nama”.
Ibnul Mundzir berkata: “Memberi nama bayi pada hari ke tujuh adalah baik dan kapan pun dia memberi nama maka boleh-boleh saja”.
Ibnu Hazm berkata: “Diberi nama pada hari dilahirkan, namun jika di akhirkan pada hari ke tujuh maka hal itu adalah baik”.
Ibnu Al Muhallib berkata: “Boleh-boleh saja memberi nama pada hari dilahirkan dan pada hari setelahnya, kecuali jika dia berniat untuk mengaqiqahinya pada hari ke tujuh, maka yang sunnah adalah mengakhirkannya pada hari ke tujuh, hal itu diambilkan dari perkataan Bukhori pada bab yang ditulisnya: “Bab Pemberian Nama Bayi Pada Hari Dilahirkannya Bagi Siapa Yang Belum Mau Mengaqiqahinya”.
Yang penting, semua yang telah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa masalah ini berputar antara sunnah atau boleh. Tidak ada yang menyatakan wajib dan fardhu untuk memberi nama pada hari ke tujuh, maka jika dia menunda pemberian nama melebihi hari ke tujuh maka tidak apa-apa dan tidak berdosa dalam hal ini.
An Nawawi –rahimahullah- berkata dalam al Majmu’ (8/415):
“Sahabat-sahabat kami dan yang lainnya berkata bahwa disunnahkan untuk memberi nama bayi pada hari yang ke tujuh, boleh sebelumnya dan setelahnya juga banyak hadits-hadits yang shahih telah menjelaskan hal itu”.

Demikian pentingnya pemberian nama pada bayi dalam Islam sehingga dimasukkanlah dia dalam perkara sunnah, yaitu jika dikerjakan kita akan beruntung karena mendapat pahala, sebaliknya jika tidak dikerjakan kita akan mendapat rugi karena tidak mendapat apa-apa. Buat apa coba tidak mendapat apa-apa padahal tugas kita di dunia ini adalah berusaha untuk mengumpulkan bekal guna perjalanan setelah kematian kelak, yaitu menuju negeri akherat dengan cara mengumpulkan pahala.

Oh ya, teman blogger aku, yang bernama Diah, yang merupakan mam blogger dari Kendari, kebetulan baru melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu deh. Si ganteng cilik ini lahir pada tanggal 15 September 2017 lalu. Pemilik blog dengan judul blog It's Simple Me di diahalsa.com bercerita bahwa hingga tanggal 5 oktober 2017, dia dan suami belum berhasil memberi nama pada bayinya karena mereka berdua masih berdebat nama apa yang sebaiknya diberikan pada bayi ganteng mereka. Kita doakan agar si bayi baru lahir kelak menjadi anak yang sholeh. aamiin.

diahalsa






Kenapa kok bisa berlarut-larut urusan pemberian nama bayi lucu ini? Diah menuliskannya di blognya, hal ini karena baik dia dan suami ternyata menghadapi banyak pertimbangan. Jika namanya terlampau indah doanya, suami Diah khawatir kelak si anak ketika sudah besar terintimidasi dengan nama besarnya sendiri. Sedangkan jika namanya asal kasih saja, tentu saja Diah dan suami tidak menghendakinya. Untuk lengkapnya, silahkan baca postingan Diahalsa sendiri ya di blognya tersebut.

Hmm. Tapi iya juga sih yang dikhawatirkan oleh suaminya Diah itu. Di tempatku biasa bertemu orang, ada anak yang namanya indah sekali. Nama ini diberikan karena orang tuanya yang harus menunggu lima tahun baru bisa punya anak. Jadi, semua nama yang indah diberikan pada anaknya. Namanya otomatis menjadi panjang, karena deretan nama-nama indah tersebut. Tapi, ternyata dalam perkembangannya, si anak malah jadi sakit-sakitan gitu. Rapuh sekali. Berbeda dengan adiknya yang punya nama simple. Akhirnya, orang tuanya tersebut pun mengganti nama si anak menjadi nama yang indah tapi tidak terlalu "membebani" anak. Putih Jelita, padahal anaknya hitam manis misalnya.

Memberi nama pada bayi itu memang tidak mudah ya ternyata. Pemberian nama untuk bayi baru lahir itu, bukan hanya kehendak ibu atau ayah saja memang. Kadang, orang tua (kakek nenek) dan keluarga besar juga bisa turut andil dalam hal ini. Itu sebabnya, ada yang kebingungan memberi nama, ada juga yang kebanyakan energi ketika memberi nama pada bayi baru lahir mereka. Aku pernah juga nih menulis tentang nama-nama yang paling panjang di dunia.

Baca postinganku: nama-nama orang yang terpanjang di dunia. Mampir juga ya untuk baca postinganku tentang nama-nama orang yang terpanjnag di dunia ini. Kalian akan tercengang deh melihat betapa panjangnya nama orang-orang tersebut. hehehe.







Komentar

  1. Ngakak baca nama putih jelita, padahal anaknya hitam manis. Iya sih, nama itu kalo menurutku penting. Sebagai doa dari orang tua untuk anaknya. Moga Diah dan suami bisa menemukan nama yang terbaik untuk ananda.

    BalasHapus
  2. Makasiiih spesial blogpost nya ya Mbak Ade 😘

    Iyah nih Mbak, sampe sekarang blm dapat nama. Kakak Faraz juga dulu gitu, sampe 2bln baru fix namanya. Itu juga krna udh mau aqiqah jadilah harus segera tentukan nama biar bisa cetak undangan aqiqahannya juga, hehehehh. Semoga ini segera dapat nama deh 😁

    BalasHapus
  3. Nama adalah doa, saya dulu dikasi tau orang tua untuk memberikan nama yang baik pada anak

    BalasHapus
  4. Semoga nama-nama anak Indonesia gak ada yg aneh-aneh lagi ya mbak, apalagi panjang terus ribet hehe kasian nanti kalo udah besar pas ujian sekolahnya hehe

    BalasHapus
  5. Cari nama bayi gampang-gampang susah hehe, tapi apapun nama yang diberikan pasti ada doa dan harapan2 ortu untuk si bayi.

    BalasHapus
  6. Nama anak-anak saya terinspirasi dari tayangan televisi semua, Mbak hehehe. Tapi kemudian lihat dulu artinya dan saya suka. Untung aja punya orang tua dan mertua yang ngebebasin aja ana-anaknya mau kasih nama apapun asalkan artinya baik. Jadi gak ada titip nama. Kalau ada pasti kami bingung :D

    BalasHapus
  7. Infonya bermanfaat banget nih, menarik juga pembahasannya, mampir juga ya kesini menggenai solusi kewanitaan KLIK DISINI

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…