Langsung ke konten utama

Polusi Penyebab Depresi di Jalan Raya

[Lifestyle] Rumahku, karena terletak di antara jalan raya MT Haryono dan Gatot Soebroto di bilangan Jakarta Selatan, sudah sebulan ini benar-benar kondisi jalannya bikin stress tingkat tinggi deh. Macetnya bukan main. Pernah nih, saking macetnya, jarak dekat yang biasanya aku tempuh dalam waktu hanya setengah jam, terpaksa harus dilewati menjadi lebih dari 1 jam. Dan pernah ongkos taksi yang biasanya hanya beberapa puluh ribu, malah mencapai Rp150.000.

Ini semua karena di daerahku memang sedang ada pembangunan jalan. Yaitu penambahan jalur untuk LRT. Jadi, ruas jalan yang seharusnya dilewati oleh 4 jalur kendaraan, menyempit menjadi hanya bisa dilalui oleh 1 jalur saja. Jadi, kebayang kan macetnya seperti apa.

ini pemandangan yang aku abadikan dari situasi kemacetan beberapa hari yang lalu. Benar-benar tidak bergerak selama nyaris 1 jam. 



Kalau sudah begitu, yang paling kasihan itu tentu saja para pengemudi kendaraan bermotor roda dua (motorcycle atau bicycle). Karena jika di dalam mobil, meski terjebak macet parah tapi paparan polusi kendaraan bermotor tidak kita hirup karena mobil umumnya menggunakan AC dan jendelanya tertutup rapat. Berbeda dengan kendaraan bermotor yang langsung bersinggungan dengan udara terbuka. Polusi dari asap kendaraan bermotor, debu-debu yang berterbangan akibat kendaraan yang melintasinya, serta berbagai macam bau-bauan dan aneka asap lainnya, langsung terpapar pada pengemudi kendaraan bermotor roda dua dan penumpangnya.

Jika terkena aneka zat yang mengandung polutan ini, akibatnya tentu saja salah satunya bisa terkena depresi. Kombinasi polusi, tekanan psikologis karena situasi macet, rasa lelah akibat macet, semua saling berkolaborasi menyebabkan munculnbya Depresi di Jalan Raya. Akibatnya, tentu saja bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kualitas ketika menyelesaikan tugas di pekerjaan yang menurun, fokus berkurang, juga berkurangnya keterampilan lain.

Nah. Kebetulan nih, dalam peringatan Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada tanggal 7 April 2017 ini, tema yang diangkat kali ini adalah "Depression: Let's Talk".

Untuk mencegah meluasnya depresi ke tengah masyarakat, Portal Otomotif No. 1 di Indonesia, Mobil123.com dan media online lifestyle Otospirit.com mengadakan kegiatan sosial "mask for bikers". Sebanyak 1.000 masker dibagikan kepada pengguna kendaraan sepedamotor yang melintasi Jalan Radin Inten 2 Buaran, Jakarta Timur.

Kegiatan mask for bikers melibatkan 15 bikers dari lima komunitas sepedamotor (Journalist N-Max Club, Suzuki GSX Club Indonesia, Ninja Injection Owners, Jakarta Max Owner Club, Vario Owner Medias) di persimpangan Buaran, Jakarta Timur, dimulai pukul 16.00 – 17.00 WIB. Selanjutnya mereka turut membagikan seribu masker kepada para pengguna jalan.








Kegiatan bagi-bagi 1000 masker pada pengendara bermotor yang dilakukan oleh portal otomotif nomor satu, mobil123.com ini, praktis menimbulkan daya tarik para pemotor dengan menghampiri dan mengambil masker-masker untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam berkendaran sepedamotor.

Regia Glamouria selaku Direktur Mobil123.com dan Otospirit.com mengatakan, kegiatan ini untuk menyambut Hari Kesehatan Dunia yang setiap tahunnya pada 7 April diperingati oleh seluruh penduduk bumi. Untuk tahun ini, tema global Hari Kesehatan Dunia adalah “Depression: Let’s Talk”.
“Kami merasa masalah depresi ini menjadi tanggung jawab bersama. Kami telah memutuskan untuk fokus Hari Kesehatan Dunia 2017 dengan menggelar kegiatan yang mengarah pada kesehatan lebih baik dengan membagikan masker kepada pengguna sepedamotor," kata Regia Glamouria di Jakarta, Rabu (12/4/2017).
Menurut Regia, kegiatan ini dilakukan untuk menghindari pengguna sepedamotor terpapar polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor, di mana dampaknya akan sangat mengganggu kesehatan di kemudian hari.
"Satu hal yang perlu diingat, polusi udara berpotensi mengacaukan pikiran dan merusak kesehatan manusia. Masker sangat bermanfaat bagi pemotor agar terhindar dari polusi saat berangkar ke sekolah, kampus atau tempat kerja," ucap Regia.

Asal tahu saja ya, pada bulan Oktober 2016, World Health Organization (WHO) meluncurkan kampanye satu tahun untuk memastikan banyak orang yang terkena depresi di semua negara harus mendapatkan bantuan. Dengan kegiatan bagi-bagi masker ini tentunya bisa mewujudkan program WHO.

Di 2015, WHO mencatat lebih dari 300 juta orang menderita depresi atau setara dengan 4,4 persen dari populasi dunia. Hampir setengah dari orang-orang ini hidup di wilayah Asia Tenggara dan Kawasan Pasifik Barat. Dan 3 juta kematian per tahun akibat terpapar polusi udara, di mana 90 persen kematian banyak terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, sebanyak 9,1 juta orang menderita depresi atau sekitar 3,7 persen dari populasi.

Semoga deh kondisi macet yang sekarang rasanya merajai jalanan-jalanan di ibukota akibat pembangunan jalan juga akibat penanaman aneka macam kabel bawah tanah, bisa segera berlalu dan teratasi. Biar kondisi depresi di jalan raya bisa jauh berkurang. 

Komentar

  1. penting bangeeet ya mba untuk pakai masker..aku kebayang sesak nafas aja kalau terlalu banyak menghirup asap knalpot :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa...debu dan asap kendaraan itu yang nggak nahan kalo nggak pake masker

      Hapus
  2. Pernah ngalamin mbaa kemana2 naik motor, kalo ngga pakai helm yang ada tutupannya ngga kuat. Tapi kayaknya skrg perlu juga ditambah pakai masker yaa

    BalasHapus
  3. Tempo hari ke jakarta dan aku ga tahan dengan polusi di sana mbak ade

    BalasHapus
  4. Saya paling alergi sama debu jadi suka sedia masker kalau lagi bepergian.

    BalasHapus
  5. Jalanan emang bikin stress. Balada emak emak pergi kepagian pulang kepetangan

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…