Langsung ke konten utama

Tips Berbicara dengan Anak Remaja

[Parenting] Akhir pekan ngapain aja? Akhir pekan yang aku miliki saat ini, tidak lagi 2 hari seperti waktu-waktu sebelumnya. Karena, 2 putriku berada di tingkat terakhir jenjang pendidikan sekolahnya. Putri keduaku sudah kelas 3 SMA (sekarang lebih dikenal dengan istilah sudah kelas 12); sedangkan putri bungsuku sudah kelas 6 SD. Yap, aku punya 2 anak remaja di rumah.

Dulu, ketika mereka masih berada di jenjang sekolah dibawah, akhir pekan yang aku miliki ada 2 hari, yaitu hari Sabtu dan hari Ahad. Sekarang, hari Sabtunya terpakai karena hari Sabtu itu justru hari dimana kedua putriku menjalani pendalaman materi sekolah dalam rangka persiapan menjelang Ujian Nasional.

Ujian Nasional-nya sendiri bukan sebuah momok sih bagi keluargaku. Tapi, kesempatan untuk bisa meraih kesempatan meneruskan pendidikan di jenjang berikutnya itu yang jadi tujuan utama.



"Jika kita santai, maka cuma bisa masuk ke sekolah yang kualitas pendidikanya biasa saja tapi biaya pendidikannya mahal. Belum lagi pergaulan di dalam  sekolahnya yang nggak banget deh."

Itu pesan yang selalu aku sematkan jika sedang ngobrol dengan anak-anakku dalam rangka memotivasi mereka agar mau belajar lebih giat. Mereka pernah bertanya padaku, apa yang dimaksud dengan pergaulan yang nggak banget itu.

"Iya. Karena pendidikannya nggak bagus di sekolah tersebut, akhirnya murid-muridnya jadi punya waktu luang yang banyak dan bingung bagaimana cara memanfaatkan waktu luang yang mereka miliki tersebut. Padahal, sebagai remaja, biasanya ada dorongan di dalam diri mereka untuk melakukan sesuatu. Mereka penasaran pada banyak hal. Lihat televisi dan ada adegan apa gitu, mereka langsung kepingin melakukannya juga. Atau pingin punya juga. Tapi, mereka belum punya kemampuan untuk mendapatkan itu. Jadilah mereka coba-coba sendiri. Bereksperimen. Karena mereka memang punya energi yang banyak sih."


Anak-anakku yang remaja ini, cuma terdiam. Biasanya, jika mereka terdiam, aku berusaha menghentikan obrolanku yang lebih seperti monolog ini.

(catatanku: maksimal kita sebagai orang tua cuma  punya waktu 1 menit saja untuk berbicara monolog di depan anak remaja. Lebih dari 1 menit, remaja seperti menyimak padahal sebenarnya cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Mereka diam-diam akan bosan dan menutup diri mereka sehingga semua nasehat yang kita berikan tidak akan mereka dengar. Meskipun mereka tampak diam menyimak.)

Setelah obrolanku terhenti, aku pun mulai mengajak remajaku pada obrolan interaktif. Bisa dengan kalimat pertanyaan,
"Gimana kalian di sekolah?" atau
"Ibu suka deh dengan karakter si Taek Kwang di School 2015 How Are You." atau
"Kalian tahu nggak kejadian tempo hari tuh? Nah, ternyata nih...."

Pokoknya cari sebuah topik pembicaraan yang  para remaja kita ketahui dan familiar di telinga mereka sehingga perhatian mereka yang semula mulai menutup diri karena mulai merasa sedang kita "ceramahi" kembali terbuka.

Nanti, setelah mereka bersuara secara perlahan jalin obrolan dengan mereka. Sahuti cerita mereka dengan komentar yang membuat mereka mau bercerita lebih banyak lagi.

(catatanku: jangan pernah menempatkan diri sebagai seorang yang tahu segalanya di depan anaka remaja kita. Karena, hal itu hanya akan membuat mereka semakin menjaga jarak dari kita. Tempatkan diri kita sejajar dengan mereka.Tidak mengapa kok tampil sebagai orang tua yang belajar dari mereka.Jangan pernah sungkan untuk bertanya pada mereka jika kita memang tidak mengerti atau tidak tahu.)
Terkadang, dalam hati, satu dua cerita yang meluncur keluar dari mulut anak remajaku tidak sesuai dengan idealisme yang aku pegang. Tidak mengapa. Pokoknya dengar saja dulu dan catat hal yang tidak berkenan itu di dalam hati dulu.

"Memangnya kenapa ibu lebih suka dengan Taek Kwang daripada dengan Han Yi-An?"

Okeh, agar kalian yang tidak pernah mengikuti drama korea bisa mengerti isi obrolanku dan kedua putriku, aku akan sekilas menceritakan tentang drama korea ini terlebih dahulu.

drama korea Who Are You: school 2015
Jadi, ceritanya nih, ada anak sekolah namanya Go Eun Byul dan Go Eun Bi. Keduanya ini anak kembar identik yang sayangnya terpisah sejak mereka berusia 5 tahun. Karena terpisah, kehidupan yang mereka jalani juga ternyata jauh berbeda.

Go Eun Byul, tumbuh menjadi remaja yang karena difasilitasi serba ada jadi anak yang sedikit sombong, judes, meng-eksklusifkan diri. Tapi tenar dan pandai di sekolah (karena cantik dan pandai dan kaya). Sedangkan kembarannya, Eun Bi tumbuh sebagai remaja yang kebalikannya. Dia hidup serba terbatas karena sampai dewasa tidak ada yang mengadopsi dia di panti asuhan. Dia jadi remaja yang perhatian pada kesulitan orang lain, baik hati, pemaaf, tidak pendendam tapi sekaligus jadi banyak yang memanfaatkan kebaikan hatinya tersebut.

Di sekolah elitenya, Eun Byul dekat dengan perenang nasional Han Yi An. Mereka bersahabat sejak mereka masih kecil. Suatu hari dalam sebuah studi tour ke luar kota, Eun Byul hilang tenggelam di sungai. Sekolah pun gempar.

Setelah usaha pencarian, tiba-tiba Eun Byul diketemukan lagi tapi dalam kondisi amnesia. Ya sudah, dia pun kembali ke sekolah yang sama. Herannya, dia  tidak lagi dekat dan akrab dengan Han Yi  An, sahabat sejak kecilnya. Tapi malah punya sahabat baru, yaitu Taek Kwang.

Nah, antara Yi an dan Taek Kwang ini, juga punya karakter yang bertolak belakang. Yi An orangnya serius, pemikir,  bijaksana, hati-hati jika ingin  berbicara dan berbuat. Sedangkan Taek Kwang orangnya ceplas ceplos, senang mencari dan mendapat perhatian dari orang lain yang sayangnya perilaku mencari dan mendapat perhatian orang laina tersebut ditandai sebagai berbuat nakal oleh para guru.

"Ibu? hmm... kenapa ya ibu lebih suka dengan Taek Kwang. Karena, ibu suka aja orang yang lucu, suka ngebanyol kayak badut, suka bercanda, kayak cuek padahal dia melindungi kita, kayak nggak peduli padahal dia berusaha untuk bisa menyenangkan diri kita. Ibu suka aja karakter seperti itu. Kalau Yi An kan, orangnya serius. Eh... orang seperti Yi An juga enak sebenarnya. Karena dia nyata memperhatikan kita, melindungi kita, memberi yang terbaik deh pada kita. Terus kayaknya bukan tipa yang madesu... masa depan suram, karena sepertinya dia pekerja yang baik jadi serius dengan karir yang ditekuninya. Kalau Taek Kwang kan orangnya moody banget."

(catatanku: aku mungkin punya selera yang payah. Tapi, tetap saja aku utarakan secara terang-terangan pada anak-anakku seleraku ini. Karena tujuanku disini adalah membiasakan mereka untuk berbicara jujur apa adanya. Jadi, tidak mengapa kok kita memperlihatkan diri kita sebagai orang tua yang punya selera yang payah. Nanti, anak-anak remaja kita yang akan menilai dan berpikir sendiri, apakah selera orang tuanya patut ditiru atau ditinggalkan. 
Kejujuran memang pahit. Tapi, kejujuran bisa membuat orang lain merasa jadi lebih dekat dengan kita karena tahu ketulusan dari keterbukaan yang kita miliki dengan mereka. Justru mereka akan jadi dewasa karena tahu, bahwa di titik ini, mereka harus memilih. Mau jadi sama atau tidak sama dengan sesuatu yang kita buka di hadapan mereka.)

Itu dulu deh catatanku kali ini tentang tips berbicara dengan anak remaja. Lain kali kita sambung lagi ya. Karena, aku sudah lebih dari 1 jam mengetik, berarti sudah saatnya kembali menjadi ibu kembali.

Sampai ketemu di tulisan parentingku berikutnya ya.
Bye
(ade-anita)

Komentar

  1. Anak2 saya cowok semua. Sulung dah remaja. Pengennya jadi sahabat yang enak diajak ngobrol, tapi kadang galau menghadapinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti aku buat tulisan ketika bersama dg remaja cowok ya

      Hapus
  2. Menunggu tulisan tentang remaja cowok karena anakku cowok semua. Dan yang besar dah kelas lima SD bentar lagi remaja. Tips biar mereka mau cerita semuanya ke ibunya ya Mbak. Sekarang sih mereka masih mau cerita semuanya..Nggak tau kalau dah SMP

    BalasHapus
  3. Itu cerita drama koreanya mirip dengan yang dulu hits di Hollywood, yang main artis kembar cewek. Duh, judulnya lupa.

    BalasHapus
  4. Penasaran dengan drama koreanyabk Ade.

    BalasHapus
  5. Aku belom nonton drakor ayang ini neh. Waah aku juga belum punya anak remaja, tapi ngadepin adik yang remaja sudah ada pengetahuan sedikit. Makasih tipsnya mba

    BalasHapus
  6. makasih tipsnya mba Ade, bekal utk anakku kelak remaja. anakku 9 dan 5 th masih suka banyak nanya tp kalo lg ada sesuatu diem aja dan musti dipancing buat ngomong

    BalasHapus
  7. Memang musti pinter2 ngobrol ya mbaaa ama anak2.. musti keep up et updated pokoknya

    BalasHapus
  8. Lebih banyak tantangan orang tua jaman sekarang ya. Harus pinter2 cari cara untuk bisa masuk ke dunia remaja.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…