badge

Kamis, 02 Maret 2017

Karena Selalu Ada Cerita di Balik Foto

[Lifestyle]

Kegiatanku sehari-hari? Berkisar antara: rumah - sekolah anak-anak - pasar - rumah lagi.
Dimulai dari pagi hari setelah shalat shubuh. Menyiapkan makanan untuk sarapan dan bekal anak-anak, lalu berangkat mengantar mereka. Dari sekolah, kadang mampir ke pasar guna membeli keperluan memasak. Lalu pulang ke rumah. Mulai memasak, menyiapkan makanan untuk yang akan makan siang di rumah juga untuk yang akan membawa bekal untuk dibawa ke tempat kerja. Setelah siang berlalu, mulai jemput anak-anak. Sambil menunggu, aku sering membeli jajanan yang dijajakan di sekolah anak-anakku. Cemilan aneka rupa yang sering dibawa  oleh ibu-ibu orang tua salah satu murid di sekolah anakku. Setelah itu pulang ke rumah. Lebih siang lagi, bersiap mengantar anak pergi les bimbel. Begitu seterusnya. Dan tebak sesuatu yang sering sekali aku temui sepanjang waktu itu? Jawabnya: kuliner.

Dari pagi hingga malam, sepertinya yang namanya kuliner itu terus saja berputar dan akrab dengan keseharianku. Entah kuliner yang aku olah sendiri atau kuliner yang aku beli sebagai jajanan. Kalau dipikir-pikir, mungkin itu ya sebabnya kita-kita yang menjadi ibu rumah tangga biasanya bertubuh tidak langsing. Kita? Aku saja kali. Hehehe.

Tapi, karena akrab dengan kuliner, aku jadi amat menikmati yang namanya keberagaman kekayaan kuliner yang ada di tanah air kita tercinta: kuliner Indonesia. Ada sate ayam, pempek, bika ambon, jalangkote, lemper, satru, tekwan, soto dan sebagainya. Rasanya, jika ditulis satu persatu ada banyak sekali yang namanya kuliner khas Indonesia itu.

Nih, buat soto saja deh. Yang namanya soto itu ada banyak sekali macamnya. Ada soto bogor, soto tangkar, soto betawi, soto medan, soto banjar, soto lamongan, soto kudus, wah. Masih banyak soto yang bahkan aku sendiri belum pernah mencobanya tapi baru sebatas pernah membaca dan melihat gambarnya di majalah.

Itu baru soto. Sedangkan sate, itu juga ada banyak sekali. Ada sate madura, sate solo, sate buntel, sate kelinci, sate ayam, sate kambing, sate kelinci, sate cumi, sate telur puyuh, sate tempe, sate cumi, sate udang. Glek. Ini sambil nulis sambil bayangin dan asli nelen air liur nih.

Mungkin itu sebabnya, meski setiap hari banyak bertemu dengan aneka ragam kuliner, setiap akhir pekan tetap saja aku dan keluargaku melakukan wisata kuliner di luar rumah. hehehe.

wisata kuliner di akhir pekan
Dan nyaris setiap akhir pekan jalan-jalan melakukan wisata kuliner di luar rumah bersama keluarga, rasanya kegiatan ini tidak ada rasa bosannya.

Variasi kuliner Indonesia itu amat beragam dan bervariasi. Setiap tempat menyajikan rasa dan penampilan makanan yang berbeda meski mungkin nama makanannya bisa dibilang sama. Harus diakui, kreatifitas para juru masak kian hari memang kian meningkat.

Makanan sederhana, diolah kembali agar bisa tampil istimewa dan menggugah selera. Bukan hanya itu, bahkan kreatifitas dalam seni penyajian pun kian dikembangkan. Sehingga, makanan yang mungkin dulunya murah dan merupakan jajanan pasar biasa, bisa tampil mewah dan memiliki nilai jual yang mahal.

Nasi berkat. Kreatifitas kuliner yang mengangkat makanan yang biasanya diberikan di dalam kotak jika ada selamatan, tampil mewah di atas meja hidangan dengan nama nasi berkat

Tahu isi di gerai makanan. Bentuknya sama dengan yang dijual di abang gorengan, tapi rasa dan penampilannya yang berbeda membuat tahu isi ini berbeda dengan yang dijual abang gorengan. 

Atau bisa juga, ada jenis makanan yang sama, tapi karena berasal dari daerah yang berbeda, maka cita rasa yang menonjol dari tampilan yang terlihat sama pun menjadi terasa berbeda. Jalangkote misalnya. Ketika pertama kali melihatnya, aku pikir rasanya tidak berbeda jauh dengan pastel yang biasa aku beli sehari-hari sebagai jajanan ringan di pasar. Tapi, setelah mencobanya sendiri, ternyata Jalangkote itu berbeda dengan pastel. Beda banget malah meski penampilannya mirip.

Jalangkote yang bentuknya mirip pastel

isi di dalam jalangkote yang ternyata berbeda dengan pastel yang biasa aku beli. Jalangkote lebih padat dan berempah

Itu sebabnya, jika sedang melakukan wisata kuliner bersama keluargaku, aku paling senang mengambil gambar makanan yang terhidang di meja makan di hadapanku. Mungkin, karena aku selalu menemukan aneka macam cerita di balik makanan yang gambarnya aku abadikan tersebut. Seperti ini misalnya:





Suami dan anak-anakku tuh sepertinya sudah hafal banget, apa rutinitas pertama yang akan aku lakukan ketika hidangan yang kami pesan ada di depan mata.

Biarpun perut lapar, matahari bersinar terik, atau hujan turun deras sekali, tapi hidangan yang ada di depan mata harus diabadikan dulu gambarnya. Terlebih jika makanan tersebut punya cerita yang menyertainya.

abaikan daster lusuh dan wajah tak ber-make up serta penampilanku  yang belum mandi ini. Sebelum disantap, abadikan gambar nggak boleh lupa dong. hehehe. 


Seperti kisahku ketika pertama kali bertemu dengan cemilan bernama CLOROT.

"Hah? Clorot? Kok namanya aneh?"
Itu yang pertama kali ditanyakan oleh putriku ketika dia menanyakan sebuah cemilan yang berbentuk kerucut lancip. Mirip cone ice cream, tapi bukan kertas yang membungkusnya. Melainkan dibungkus dengan daun kelapa. Dari atas, tampak penampilan clorot yang berwarna kecoklatan mirip kue keranjang yang biasanya muncul di tahun baru China.

"Mas... mas. Ini semacam dodol?"
hehehe, iya. Aku memang suka norak karena memang di usia 45 lebih sedikit ini, baru sekali ini aku bertemu dengan jenis cemilan yang terlihat unik ini. Itu sebabnya aku bertanya pada suamiku (suamiku berasal dari Jawa, sedangkan aku berasal dari Sumatra Selatan. Jadi, nyaris cemilan yang berasal dari Pulau Jawa diketahui semua oleh suamiku, sementara jika itu cemilan dari Sumatra Selatan... mmm... belum tentu aku ketahui sih. hehehehe).

"Beda, De. Ini lebih mirip... apa ya? Hmm.... aku nggak ketemu padanan yang mirip sama dia."
"Kok namanya clorot?"
"Iya, karena dia di masukkan ke dalam wadah kerucut ini ketika masih agar cair gitu. Jadi seperti di moncrotin gitu. Hmm... kamu ngerti kan maksud aku?"
"Iya, ngerti. Dikucur selagi masih cair."
"Nah. Iya. Setelah itu, dibiarkan dingin dalam suhu ruang hingga dia membeku sendiri. Nah, begini ini penampilannya. Mau coba?"
"Enak nggak?" Aku ragu. Aku kurang suka dodol sebenarnya, tapi jika kue keranjang yang biasa dihidangkan di tahun baru China, aku suka banget.
"Mirip rasa kue bulan nggak mas? Aku suka kalau kue bulan atau semua yang rasanya mirip kue keranjang."
"Miii.... ripp. Kurang lebih mirip meski beda sih. Sudah, coba saja."

Akhirnya, jadilah aku mencoba membeli Clorot ini satu. Iya, benar-benar cuma 1 buah. Karena aku belum yakin rasanya seperti apa.


Karena suka, jadilah aku mencari di google tentang makanan Clorot ini. Dari internet, aku dapati informasi bahwa clorot itu makanan yang berasal dari Purworejo, Jawa tengah. Lebih tepatnya ternyata berasal dari kecamatan Grabag. Dibuat dari tepung beras dan gula merah yang kemudian dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda (janur kuning). Bungkus dari clorot ini disebut klongkongan.

Yang unik dari clorot itu adalah cara memakannya.
aku baru tahu setelah gugling dan clorot yang aku beli habis. Ternyata, caraku makan salah. Pembungkus clorot tidak perlu dibuka, tapi harusnya si kue didorong dari bawah hingga nongol ke atas dan bisa kita kudap.
tuh, harusnya bagian bawahnya dipencet lalu didorong ke atas agar makanan "meleleh" keluar dari klongkongannya. Itu sebabnya disebut "clorot"
Kalau di salah satu tulisan yang aku baca tertulis begini keterangannya: "Jadi janur diulin memutar, kemudian cara memainkannya si janur tersebut “di-clorot” sehingga bisa keluar memanjang. Mungkin seperti itu mengapa namanya Clorot." Di video liputan tentang clorot, kaum ibu tampak cekikikan ketika memberitahu arti "clorot" ini dan aku bengong (aku sebenarnya nggak ngerti, bahasa Indonesianya Clorot itu diartikan apa sih?)

A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on


Clorot pertamaku yang tampil di layar kamera Asus zenfone
Nah. Itulah ceritaku tentang salah satu kuliner Indonesia yang pertama kali aku temui dan rasakan.
Tentu saja, masih banyak kuliner-kuliner lain yang aku temui dan rasakan. Dan karena setiap kuliner punya cerita tersendiri, tidak heran jika foto-foto kuliner yang aku abadikan itu aku simpan di akun Instagramku. Tentu saja, lengkap dengan cerita di balik kuliner tersebut. Dimana aku menemukannya, bagaimana rasanya, kapan, ketika sedang bersama siapa, dan cerita lainnya. Jadi, jangan heran ya jika foto di akun Instagramku kebanyakan isinya kuliner. hahahaha.

akun instagramku. Sudah difollow belum kakak? di @adeanita4 ya 
Tapi, yang namanya memajang foto di akun instagram itu, biar sedap dipandang harus ditunjang juga dengan kamera yang okeh punya. Masalahnya, tidak semua orang mau berepot ria menenteng kamera besar DSLR kemana-mana. Duh, nggak bebas banget deh. Lagian, nanti sibuk foto dan mengatur agar kualitas foto tampil sempurna, lupa selfi. hahahaha. Ini mah aku banget, wajib selfi meski sedang mengambil gambar makanan atau gambar apapun. Nggak mau rugi judulnya.

Waktu aku jalan-jalan ke Kuala Lumpur, kebetulan aku mampir ke gerai Asus yang saat itu sedang meluncurkan salah satu handphone asus zenfone. Wah. Sekalian saja deh aku lihat-lihat apa saja kemampuan handphone Asus Zenfone ini.


Terus, ternyata ketika ngobrol dengan teman-teman yang akun instagramnya foto-fotonya bagus-bagus banget, mereka banyak yang mengaku bahwa mereka menggunakan kamera handphone serinya Asus Zenfone. Kenapa? Aku tanya. Mereka bilang karena seri handphone Asus Zenfone itu punya fitur PixelMaster Camera.

"Apa lagi tuh?"
"Ini fitur spesial yang hanya dimiliki oleh semua handphone serinya Asus Zenfone, De."

Lalu, satu persatu teman-temanku menjelaskan tentang apa keistimewaan dari Fitur PixelMaster Camera yang dimiliki oleh Asus Zenfone series.


Mungkin yang bisa aku jelaskan dari informasi hasil "kompor" teman-temanku yang hasil foto di Instagram mereka memang keren abis itu adalah, bahwa PixelMaster Camera itu merupakan kombinasi antara hardware, software, dan desain optik yang dibenamkan di kamera handphone Asus Zenfone Series. 

Secara garis besar, ada 5 keunggulan yang menonjol dari PixelMaster Camera ini. Yaitu:





Okeh.
Tarik nafas dulu.
Buang nafas pelan-pelan.
Fiuh.
Sepertinya teman-temanku berhasil mengompori aku karena aku jadi tertarik untuk bisa memiliki handphone Asus Zenfone Series. 

"Kelebihan handphone Asus Zenfone yang lain itu, mbak Ade. Dia kualitas fotonya sama bahkan lebih bagus kadang ketika disejajarkan dengan merek handphone lain, tapi dari segi harga, Asus Zenfone ini harganya amat terjangkau. Jadi setiap keluaran terbaru, meski mengusung teknologi terbaru dan tentu saja penambahan kemampuan pada fitur PixelMaster Cameranya, harga yang ditawarkan tetap terjangkau dibanding keluaran terbaru merek handphone lain."
(Wah. Lalu buru-buru lirik dompet). 
Ih... kok jadi mupeng.

-----------------------------
Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.



18 komentar:

  1. Lengkap deh ceritanya...
    Di daerah saya Clorot juga ada di kammpung suami. Tetapi lupa namanya, hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku emang rada-rada norak-norak bergembira wktu pertamakali liat clorot.. makanya langsung aku tulis aja

      Hapus
  2. Di tempatku belum pernah nemu Clorot Mba Ade.. Unik jg ya nama kuenya. M

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di Palembang belum ada sepertinya. makanya aku baru liat sekarang. eh... ada yang mirip sebenarnya ama clorot, itu juadah.. tapi juadah lebih lengket sih.. yang ini ringan

      Hapus
  3. Asus emang keren. Jepret kuliner jadi makin asik. Kalau saya paling suka dengan fitur pengindahanya, karena bisa membuat wajah jadi lebih ganteng xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya .. tapi pernah juga ada protes di barat sana karena merasa jadi nggak jujur padahal dia mau ngirim foto sebenarnya dia ke temannya gitu..

      Hapus
  4. namanya memang unik Mbaa, kalo dari cerita Mba Ade, sepertinya saya akan suka deh rasa si clorot ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ringan dan mungil. Jadi kalo mo icip icip dan takut kecele insya Allah sih nggak deh.

      Hapus
  5. vlorot..juga baru dengar dan lihat he3

    BalasHapus
  6. Didaerahku juga ada kayak clorot mbak, tapi entah apa namanya. Bedanya ditempatku nggak pakai janur, tapi pakai daun (Aku nggak tahu nama daunnya). Biasanya sih kalau ada nasi berkat pasti ada kue semacam clorot itu. BTW Asus memang keren mbak. Benar-benar hapenya pecinta photografi. Kalau aku lebih suka pakai mode manual. Biasanya suka ganti setting ISO sama shutter speed aja sih, maklum masih amatir. Lebih sukanya lagi karena di mode manual ada histogramnya juga, jadi bia kelihatan kalau gambarnya ada yg over exposure. CMIIW

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daun pandan mungkin yg mirip sama daun kelapa. Aku baru tau clorot ya sekarang ini.. Makanya rada rada norak norak bergembira gitu deh.
      Btw aku malah gak begitu paham kalo manual. Lagian udah gak sabar pingin nyobain buru buru makanannya sih hahhaha

      Hapus
  7. Ooh clorot itu rasanya mirip kue keranjang ya mb Ade?
    Wah jadi pengin nyicipin. Pasti enak!

    BalasHapus
  8. Aku baru tahu clorot, jadi pengen beli dan coba.

    Ulasan lengkap banget mba ade. Semoga sukses.

    BalasHapus
  9. makanannya menggoda semua hahaha, enak banget itu . bikin ngiler jadinya hahah

    BalasHapus
  10. AKu pernah sekali makan clorot, mba. Manis dan pengen juga nambah. HIhihi

    BalasHapus
  11. waaah lihat foto fotonya
    aku jadi lapaaaaarrr

    BalasHapus
  12. Iya, wisata kuliner pas wiken bisa buat refreshing :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...