badge

Sabtu, 18 Maret 2017

Hiburan di Jakarta bagi Generasi 70-an & 80-an

[Lifestyle] Waktu kecil, ayah dan ibuku senang mengajak jalan-jalan keliling kota. Dulu, tahun 70-an hingga 80-an, yaitu masa ketika aku berusia balita hingga belasan tahun, memang belum ada yang namanya mall atau mega store. Adanya pasar tradisional yang becek di Jakarta. Hiburan jika ingin cuci mata melihat-lihat barang bagus adalah datang ke pameran, atau pasar malam.


Hiburan Mata untuk Generasi 70-an dan 80-an Tempo Dulu



Ada beberapa pameran yang rutin diadakan setiap tahun pada waktu-waktu tertentu. Yaitu, Pameran Produksi Indonesia, Pameran Jakarta Fair, dan Pameran Mainan serta Busana Anak Indonesia. Biasanya, acara-acara ini diadakan di pada bulan-bulan tertentu. Ketika diadakan, pengunjungnya otomatis membludak. Dan memang niat pengunjung datang ke acara pameran-pameran ini adalah bisa membeli barang yang dipamerkan dengan harga miring.

Terus, kalau nggak ada pameran-pameran itu hiburan orang Jakarta apa dong?

1. Taman Ria Anak-Anak Monas.


Nah, karena yang namanya mall dan pusat perbelanjaan belum banyak, maka orang-orang Jakarta jaman dulu (generasi 70-an dan 80-an) mendatangi Taman Ria Monas.
Ini merupakan taman bermain yang cukup besar yang ada di dekat Monas. Letaknya menduduki taman kota yang sekarang dipagari itu. Suasananya mirip dengan Dunia Fantasi Ancol. Suasananya mirip Lippo Karawaci jaman sekarang gitu deh, tapi ini outdoor.

taman ria anak-anak yang tutup jika siang hari (credit foto: http://chrisjiyoong.blogspot.co.id/2015/05/dulu-mereka-pernah-ada.html)


Taman Ria Monas ini bukanya sore mulai pukul 16.00 saja hingga malam pukul 22.00. Siang tutup.




Biasanya, ayah dan ibu mengajak kami anak-anaknya main ke Taman Ria Monas jika sudah dibagi rapot. Oh ya, jaman dulu sistem belajar itu dibagi menjadi catur wulan, bukan per-semester seperti sekarang. Lamanya periode 1 catur wulan itu adalah 4 bulan. Jadi, dalam 1 tahun semua murid-murid akan menjalani 3 kali testing (yaitu ulangan) dan juga 3 kali pembagian rapot.

Karena ingin bisa diajak bermain sepuasnya di Taman Ria Monas ini maka aku dan saudara-saudara kandungku belajar giat agar hasil rapot pada setiap catur wulannya bisa membuat ayah dan ibu tersenyum.

2. Taman Ria Remaja Senayan

Nah, ini juga pusat hiburan bagi orang Jakarta di tahun 70-an dan 80-an nih, buat generasi 70-an dan 80-an. Mirip dengan suasana yang ada di Dufan Ancol juga. Jadi, bisa dibilang ini tempat tandingan untuk Taman Ria Monas.

Bedanya, disini ada danau buatannya. Terus, ada hamparan rumput yang cukup luas untuk gelar tikar dan melihat pemandangan danau buatannya.

Tapi, jaman dulu ayah dan ibuku jarang mengajak kami main ke Taman Ria Senayan. Kenapa? Karena, banyak orang pacarannya. hahahaha.

Nah, mungkin itu bedanya Taman Ria Senayan dan Taman Ria Monas. Di Taman Ria Monas, karena semua permainan yang disediakan memang untuk anak-anak, maka yang datang mayoritas adalah orang tua dan anak-anak mereka. Tidak ada tempat untuk gelar tikar melihat pemandangan.  Sedangkan di Taman Ria Remaja, permainan yang bisa dimainkan itu sedikit. Dan sepertinya sih ya memang ditujukan untuk remaja sih, ya namanya juga taman ria remaja ya.

Jadi seperti mendayung perahu berbentuk angsa di tengah danau. Dan bangkunya ada 2.
Atau Merry go Around alias Komedi Putar bahasa Indonesianya, dengan pilihan kursi ada yang duduk berdua atau kuda-kudaan yang jalan bersisian.
Atau Ferris Wheel atau kincir ria dan setiap bangkunya cuma untuk 2 orang.
Atau kereta api yang berjalan mengelilingi taman dan sekali lagi, bangkunya untuk 2 orang setiap barisnya.
Sisanya adalah jalan tapak berliku dengan pemandangan taman yang asri, yang mungkin bisa jadi jalan tapak yang asyik jika ditelusuri berdua dengan pasangan. hehehe.

Tuh kan. Gimana nggak banyak orang yang datang ke sini dengan tujuan buat pacaran coba? Itu sebabnya ayah dan ibuku jarang sekali mengajak kami main ke sini, kecuali dalam rangka mengajak liburan saudara yang baru datang dari Palembang. Karena hamparan rumput yang terhampar di depan danaunya ideal untuk tempat duduk-duduk ngobrol sambil makan bersama gelar tikar. Lalu sisanya silahkan jalan-jalan menelusuri jalan setapak yang luas dan berliku-liku sambil ngobrol.

Murah meriah banget tapi bikin bahagia dan terkenang-kenang.

bahkan Rhoma Irama dan Rika Rahim pun bikin film sedang pacaran di Taman Ria Remaja Senayan jaman dulu


3. Air Mancur Menari Monas

Di Monas itu, selain ada Taman Ria Monas, jika malam hari juga ada pemandangan Air Mancur Menari loh jaman dulu. Setiap jam 20.00 wib, kolam yang biasanya hanya memancurkan air mancur biasa saja, akan menampilkan air mancur yang dipancurkan hingga meliuk-liuk pancurannya dan diiringi dengan lagu-lagu. Itu sebabnya kami menyebutnya sebagai Air Mancur Menari dan ini gratis.

Karena waktu pemutarannya terbatas dan hanya sekali dalam 24 jam itu, jadi jika ingin menyaksikan air mancur menari ini ya harus siap-siap menunggu di pinggir kolamnya yang alhamdulillahnya berbentuk hamparan rumput atau pavling blok semen. Disinilah beberapa pedagang kaki lima mulai memanfaatkan situasi. Mereka mulai berjualan kacang goreng, atau kerak telor atau minuman dingin lainnya (teh botol). 

Sejak dulu, pedagang kaki lima yang mangkal gelar dagangan di atas tanah, atau naro-naro bangku di seputar gerobak dagangan mereka tidak diperbolehkan di daerah seputar Monas. Tapi, kalau dagang dengan gerobak pikul atau dorong ya tetap ada sih. Nah, pedagang-pedagang seperti inilah yang meraup untung menawari pengunjung yang sedang menunggu pertunjukan air mancur menari gratis.

Karena Air Mancur ini menari setiap hari, baik itu hari kerja atau hari libur, maka pengunjung yang datang tidak terlalu penuh meski gratis. Meski tetap sih di hari libur, yaitu hari minggu, pengunjung yang menikmati pertunjukkan gratis ini lebih banyak daripada hari biasa.

Kalau ini penampilan taman air mancur Monas saat ini. Sudah lebih canggih otomatis ketimbang dulu.
credit foto: http://1000warnaindonesia.blogspot.co.id/2016/01/14-taman-air-mancur-terbaik-indonesia.html

4. Pantai Binaria, Ancol

Pantai  Ancol itu sudah ada sejak dulu sih. Jamannya Gubernur Ali Sadikit sih yang punya ide untuk mengembangkan kawasan wisata bagi penduduk Jakarta. 
Nah, bedanya Ancol dulu dan sekarang itu adalah; dulu, kawasan swasta mengelola sebagian Ancol dan sisanya Pemda DKI deh yang mengelola. Yang dikelola oleh Pemda DKI ini umumnya adalah wisata gratisan. Memang ada tiket untuk masuk ke pantai tapi selanjutnya, kita bisa menyaksikan pemandangan pantai yang luas, dengan pasir yang lumayan luas juga jangkauannya.

credit foto: http://www.komunitashistoria.com/article/2015/01/29/kawasan-ancol-dulu-dan-kini/


Kawasan yang dikelola swasta memang lingkupnya lebih komersial sih. Ada restoran yang menjorok ke pantainya, ada pantai dengan garis pantai yang jelas dan lebih tertata.

Tapi, karena keluargaku adalah keluarga besar (dulu, ada banyak saudara ayah dan ibu yang merantau ke Jakarta dan tinggal di rumah dan tentu saja sesekali butuh hiburan setelah penat bekerja) maka kami lebih sering mampir ke pantai yang gratisannya, Pantai Binaria.

Hiburannya adalah berenang di laut sambil menyewa ban yang disediakan di pinggir pantai. Selain itu ya duduk sambil gelar tikar di bawah pohon nyiur melambai sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Lalu makan bersama di atas gelaran tikar.

5. Jalan-jalan keliling kota dengan mobil pribadi


Sepertinya keluarga besarku dulu receh banget ya. Kami tidak pernah menuntut untuk bisa berpelesiran ke  tempat-tempat yang mahal. Diajak keliling kota naik mobil pribadi tuh sudah bahagia banget rasanya.

Ayah dan ibu selalu mengajak kami jalan-jalan hanya untuk melihat jika ada gedung bertingkat baru yang baru selesai dibangun.
hahahaha.. norak banget emang. Mungkin karena jaman dulu yang namanya gedung bertingkat tinggi tuh masih jarang banget ya. Jadi, jika ada satu gedung bertingkat baru yang baru diresmikan, kami melewati gedung tersebut hanya untuk melihatnya dari tengah jalan di dalam mobil yang sedang melaju.

Dulu, jalan raya di kota Jakarta tidak macet dimana-mana gitu modelnya. Alhamdulillah banget ya, karena jaman dulu mobil dengan AC itu belum musim. Jadi, jika naik mobil jendelanya harus dibuka agar tidak kepanasan di dalam mobil.

Dan bukan hanya melihat-lihat gedung yang baru selesai dibangun saja, tapi kami juga melihat-lihat perumahan elite yang baru selesai dibuat. Hahahaha... jadi, jaman dulu itu yang namanya kawasan Pondok Indah dan Permata Hijau tuh baru selesai dipromosikan ceritanya. Nah, rumah-rumah yang ada di sana tuh dibangun seperti istana bentuknya. Kesanalah kami sekeluarga sering berjalan-jalan. Melihat rumah-rumah bagus yang dibangun oleh para orang kaya. Karena aku dulu masih kecil, jadi rasanya tuh seperti melihat istana gitu deh, karena anak kecil kan suka lebai gitu ya. hehehe.


Hotel Mandarin tahun 1990-an (credit foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4)

thamrin 73-74. Taksinya masih warna biru muda dengan kap putih dan bis PPD serta mayasari bhakti merajai jalan raya sebagai angkutan umum. credit foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4

Hotel Pullman dan Wisma Nusantara tahun 74. Di tahun 90-an, di wisma nusantara itu ada restoran berputarnya loh, nggak tahu deh sekarang masih ada apa nggak. Maksudnya restoran berputar tuh, dia bisa berputar 360 derajat gitu hingga pemandangan di jendelanya berganti-ganti. Hanya perputarannya pelan sih. credit foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4

Kawasan Thamrin, ca 1974-75. Gedung misterius yang sekarang diinjek Menara BII ada di kiri foto, sementara Gedung Santoso (konon) ternyata dulunya kantor pusat Pertamina (kanan), destroyed 2006. credit komen atas foto dan foto ini: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4. Foto ini sendiri milik: unieqfoto.com

kawasan Thamrin tahun 1977-1979 (credit foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4)

gedung BI tahun 1977-1978. Gedung BPPT baru selesai dibuat. Credit foto: http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=575705&page=4


Dah. Sepertinya itu hiburan di Jakarta bagi generasi 70-an dan 80-an versi ade anita. Maksudnya, versi yang dilakukan oleh keluargaku jaman aku masih kecil dulu.

7 komentar:

  1. Melihat Jakarta tempo doeloe rasanya sejuk mata melihatnya. Berbeda dengan kondisi sekarang yang sumpek, apa lagi kalau melihat kondisi jalanan yang macet.

    BalasHapus
  2. Jaman tahun 1980-an aku masih di Ambon, mba. Tapi Jakarta sekarang memang perkembangannya berbeda banget ya :)

    BalasHapus
  3. Aku belum pernah tahu Jakarta. :'D

    BalasHapus
  4. jakarta jamand ulu mah lancar jaya gak macet yaa..

    BalasHapus
  5. aku generasi 90an, sekali ke JKT, cuma ke ancol dan monas dan itu memorabel banget... Ya tuhan...

    BalasHapus
  6. Dija belom pernah ke jakarta tante
    pingiiiin banget kesana

    BalasHapus
  7. Mbak Ade, aku dan suamiku juga gitu, suka bawa anak anak pakai mobil, cuma keliling kota ngelihat perubahan di kota Jakarta, kadang sampai ke pinggir Jakarta, Bekasi, Bogor atau Tangerang coret.

    Foto-fotonya pasti bikin kangen generasi 70an yang baca tulisan Mbak Ade

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...