Langsung ke konten utama

100% Romantis

[Pernikahan] Suami romantis itu seperti apa? Suami romantis itu, adalah ... bukan suamiku sepertinya. hahahaha.
Jika ukuran suami romantis itu adalah suami yang memberi sebuket karangan bunga pada istrinya di hari spesial, nah... suamiku nggak pernah melakukannya.
Atau mengirimkan sms-sms yang isinya kalimat yang romantis. Suamiku juga tidak seperti itu.
Atau jika ukuran suami romantis itu adalah suami yang gemar menghadiahi istrinya berlian. Sekali lagi, suamiku tidak seperti itu.


Jadi... suami romantis itu seperti apa dong kalau versi aku (baca: versi aku dan suamiku).



Hmm.
Entahlah.
Tapi, ada banyak kejadian yang sudah kami lalui berdua dan aku merasa seluruhnya adalah peristiwa romantis.

Seperti ketika dia meraih pinggangku tiba-tiba ketika kami sedang berjalan bersisian di tepi jalan dan ada mobil yang nyelonong lewat dengan kecepatan tinggi. Buatku itu romantis.
Merasakan hangat telapak tangannya di pinggang, lalu tanpa sadar merasakan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat ketika pundakku mennyentuh dadanya tanpa sengaja karena gerakannya yang menarikku tiba-tiba itu. Karena aku jadi tahu, bahwa dia mengkhawatirkan aku. Dia takut kehilangan aku. Dia takut aku celaka. Dan itu 100% romantis buatku.

Atau ketika dia membiarkan jemari tanganku meraih lengannya.
Hmm.... aku termasuk orang yang tidak suka jika ada orang yang menggayuti lenganku. Apalagi menyerahkan beban lengan sepenuhnya di atas lenganku. Apalagi menyerahkan sepenuhnya arah jalan yang akan ditempuh sepenuhnya padaku.
Rasanya seperti orang yang tidak mau susah dan  karena itu dia menggantungkan dirinya sepenuhnya pada kita. Terserah-kamu-deh-mau-kemana-aja, yang-penting-jangan-nyusahin-aku.

Dan ternyata, karakter yang tidak aku sukai itu aku lakukan pada suamiku.

Aku malas berpikir mau ngapain aja dan mau kemana aja. Jadi, aku letakkan lenganku di atas lengan dia yang terlipat menyiku. Memberi sinyal " Terserah-kamu-deh-mau-kemana-aja, yang-penting-jangan-nyusahin-aku." Dengan beban seberat dan serese ini, suamiku bersedia menerimanya. Dia tetap tersenyum, membiarkan lengannya menjadi sandaran lenganku, bahkan kadang meremas jemariku yang lagi bengong dengan penuh kasih sayang sepanjang perjalanan.
Buatku, itu 100% romantis.

Atau ketika aku mengeluh berat badanku yang tidak juga beranjak turun. Lalu ribut minta dibelikan baju lagi baju lagi yang sesuai dengan ukuran badanku yang jauh dari kata langsing. Dia tidak pernah protes. Malah, sesekali tetap mengajak makan-makan di luar.
"Ih, mas ini. Aku pingin langsing malah diajak makan di luar. Terus diingetin terus buat makan... dikit dikit makan. Kapan langsingnya aku?"
"Yang penting sehat, De. Kan enak kalau kita berdua tetap sehat sampai tua."
Sekali lagi, buatku ini 100% romantis.

Juga, yang tak kalah romantisnya itu adalah ketika dia menanggapi semua komen-komen bodohku ketika kami sedang berbincang-bincang, dengan sabarnya. Sambil sesekali tersenyum. Tidak kesal, tidak marah, atau juga tidak merasa putus asa karena istrinya dari tahun ke tahun gemar melontarkan komen-komen yang tidak dipikir terlebih dahulu, gede ngambeknya daripada tampil smart.

Ketika malam sudah tiba, aku pikir dia mengulang kembali semua komen-komen bodohku atau semua perilaku-perilaku konyolku di dalam hatinya. Ini terlihat dari wajahnya yang menggeleng-gelengkan kepalanya  sendiri sambil tersenyum tipis sendiri. Lalu bergumam, "ah... ade... ade... masa begini sih..." Lalu.. cup. Dia mendaratkan sebuah kecupan ringan sebelum berlalu untuk gosok gigi dan siap-siap tidur.
Buatku, ini 100% romantis.


Beberapa hari yang lalu, ketika sedang bongkar-bongkar buku, tiba-tiba melayang jatuh sebuah kartu ucapan ulang tahun yang aku terima dari suamiku beberapa tahun yang lalu. Dan spontan aku tertawa  (setengah bahagia dan setengahnya lagi GR tingkat dewa).

Suamiku memang bukan tipe lelaki romantis yang rajin mengirim sebuket bunga atau mengirim sms-sms yang penuh dengan kata-kata cinta; atau japri-japrian yang isinya bikin deg-degan dan bikin kaki menghentak-hentak sendiri saking bahagianya. Tapi keseluruhan dari dirinya buatku 100% romantis.

Termasuk kartu ulang tahun yang aku terima ketika aku berulang tahun berikut ini nih.... hahaha.. ini kartu yang 100% romantis buatku.







Ahhhh.... aku padamuuuuu suamiku.

Komentar

  1. So sweet banget nih mba ade hehe. Saya doakan tetap harmonis ya mba ^_^

    BalasHapus
  2. semoga tetap samara mba Ade :)

    BalasHapus
  3. Romantis itu tiap orang berbeda ya, Mbak Ade. Suamiku aplagi, romantis-romantisan? jangan harap. Jadi aku selalu bersyukur dengan adanya suamiku, ingin romantis ya aku yang menunjukan, pasti dia juga ngikut kok

    BalasHapus
  4. Lucu-lucu dan memang romantis. suami tidak menuntut istri langsing sungguh luar biasa.
    eh aku pernah baca sms ibu-ibu, suaminya sungguh romantis dalam menyusun kalimat. Puitis banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha saya malah geli lho dengar kata2 puitis, mending gak usah. Buktikan saja dengan perbuatan. Belaian di kepala dari suami saja cukup romantis buat saya.

      Hapus
  5. Masya Allah itu romantis, Mbak Ade.

    Ketika Mbak Ade mampu menangkap rasa sayang pak suami dan menerjemahkan itu sebuah keromantisan.

    Alih-alih yang terjadi pada sebagian pasangan, romantis itu, mereka yang ciptakan definisinya. Maunya dikasih bunga lah, maunya diucapkan I love you setiap hari lah. Gak boleh suami lupa hari ulang tahunnya, lah.

    Padahal romantis itu ya bentuk2 perhatian kecil2 yang suami kasih ke kita. Kalau memang cinta, pasti ada. Tidak harus sesuai dengan definisi si istri. Iya, kan Mbak Ade? :)

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…