Jumat, 24 Februari 2017

Evaluasi Masakan Katering

[Lifestyle] Aku sakit ceritanya bulan lalu (nanti aku tulis sakitku ini di blogpost yang lain ya). Karena sakit tersebut, aku jadi susah buat membuat masakan untuk keluargaku tercinta. Padahal biasanya aku selalu masak sendiri karena di rumah memang tidak menggunakan tenaga ART (asisten rumah tangga).

Sebenarnya, dibilang jago masak juga nggak sih. Aslinya, malah aku tuh termasuk orang yang nggak bisa masak.

Pertama kali aku masak itu, waktu aku baru nikah. Itu asli pertama kali masak dalam arti benar-benar pertama kali. Karena sebelum menikah, aku tuh amat sangat jarang (nggak pernah malah) masak di dapur. Paling kegiatanku ke dapur itu dalam rangka cuci piring. Cuci piring ini juga karena aku kalah dalam persaingan makan.

Jadi, dulu sebelum nikah, karena keluargaku adalah keluarga besar (anaknya 5, lalu ada paman (aku biasa memanggal mereka "om" dan tante yang juga ikut tinggal di rumah), jadilah setiap kali makan, ada sebuah peraturan. Yang makannya paling belakangan selesainya, harus cuci piring. Dan ternyata, aku termasuk orang yang makannya sering lambat mengunyah jadi lambat pula selesainya. Jadi deh, sering cuci piring.

Selain cuci piring, kegiatan masuk dapur yang sering aku lakuin adalah dalam rangka ingin membuat susu putih sendiri.
Hehehe. Aku dulu penggemar susu putih bubuk brand tertentu. Dan level kegemarannya itu sudah tinggi jadi setiap hari bela-belain ke dapur hanya untuk buat susu putih hangat segelas besar.
Hmm... kalian tahu nggak gelas untuk minum es kelapa muda yang bongsor banget itu? Nah.. sebanyak itulah aku minum susu setiap hari.

Sudah. Itu saja kegiatanku masuk dapur sebelum menikah.
Eh... sesekali ibuku suka memanggil sih buat bantu sekedarnya. Seperti ngulek cabe dan bawang buat bikin sambal (karena keluargaku penggemar berat sambal jadi harus ada sambal di atas meja makan. Jika pun ternyata cabe dan bawang merah lagi mahal, maka penggantinya akan terhidang sambal kecap. Yaitu cabe dan bawang yang diiris halus lalu diberi kecap asin Palembang (iya, kecap asin Palembang. kata ayah, kecap asin Palembang itu rasanya berbeda dengan kecap asin merek lain. Jadi, kecap asin di rumahku selalu deh, kecap asin yang diimpor langsung dari Palembang; nggak pernah memakai merek lain yang dijual di pasar).

Nah. Jadi, pengetahuanku tentang memasak benar-benar NOL.
Itu sebabnya ketika suami mengajak menikah, hal jujur yang aku beritahu dia pertama kali adalah:
"Mas, aku nggak bisa masak. Aku nggak bisa nyuci baju, nggak bisa nyetrika, nggak bisa ngapa-ngapain yang terkait dengan pekerjaan rumah tangga, karena sehari-hari aku hobinya cuma nonton tv, dan main. Sama baca buku komik."
Alhamdulillah suami mengerti dengan sepenuh hati.

Baca ini deh, cerita singkat tentang suamiku: "Suamiku romantis: cup cakes yang bikin kesengsem"

Jadilah ketika aku baru menikah, hal pertama yang aku minta ketika teman-teman bertanya "mau hadiah pernikahan apa?" aku dengan yakin menyebut "hadiahin buku resep masakan saja. Tapi yang ada gambar dan step by stepnya ya."

Sekarang, tentu saja kemampuan memasakku sudah lebih baik dibanding waktu baru menikah dulu. HIngga aku jatuh sakit satu bulan yang lalu.

Gara-gara jatuh sakit ini, aku jadi nggak bisa masak seperti biasa. Kebetulan, sakitnya tuh pas bagian lutut kaki. Jadi susah mau masak. Karena buat masak kan harus:

1. Kuat berdiri lama. Nah, yang sakit padahal lutut dan nggak memungkinkan untuk berdiri lama.
2. Punya bahan makanan mentah yang bisa dimasak. Berarti harus dibeli. Mau ngejar tukang sayur yang sekarang jualannya pakai motor, nggak bisa lari akunya. Mau belanja sendiri, nggak bisa nenteng belanjaan yang berat.
3. Nggak ada ide kalau poin nomor 2 nggak terpenuhi.

Dan mulailah aku tergantung pada fitur Gofood. Jadi, setiap hari menelusuri gerai makanan yang tersedia di aplikasi GOJEK ini.
Hingga suatu hari, seorang pengedar leaflet ke rumah-rumah melemparkan sebuah kertas tentang jasa Katering Rumahan. Wah. Pucuk dicinta ulampun tiba.


Di brosur itu, tertera menu makanan setiap harinya sepanjang bulan Februari. Dan ada catatannya: menerima pesanan harian, tidak perlu berlangganan.
CIHUYY.
Langsung aku telepon kateringnya. Terus setelah namaku dicatat, mulai deh aku langganan katering rumahan.

Ternyata, mencoba masakan katering tidak terlalu buruk. Terlebih buat aku yang kebetulan sedang tidak bisa memasak karena sakit.

Ini salah satu menu di hari Jumat.

Bakwan Jagung (martabaknya sih aku pesan via gofood-nya GOJEK.

sup bola udang, sambal, bihun goreng
Wah. Lumayan juga kan. Praktis lagi.
Dan ini evaluasi setelah beberapa saat keluargaku

"Rasanya enak kan? nggak terlalu tawar?" (aku bertanya ke anak-anak)

"Ya, beda aja ama selera ibu. Ibu masakannya rasanya khas." (komen anak-anak. Entah harus bangga atau sedih.. hahahaha.. karena, yang sudah-sudah, masakanku rasanya ya selera aku saja. Jika diniatkan untuk masak Kare Jepang, maka rasanya ya jadi Kare khas Ibu kalo istilah anak-anakku.

"Rasanya lumayan. Tapi, kalau kamu yang masak, aku yakin saja kebersihan dan kontrolnya. Aku tahu minyak yang kamu pakai apa, aku tahu air yang kamu pakai apa, aku tahu bahan mentah yang kamu pakai apa." (ini komen suamiku)

"Tapi mas. Bukannya variasi masakan yang dihidangkan di meja makan jadi amat bervariasi sekarang dibanding waktu aku masak dulu. Coba deh ingat-ingat. Kalau aku yang masak, paling banter tumis toge, tumis bayam, tumis kangkung, tumis bakchoy. Lauknya paling ayam goreng, ayam panggang, ayam gulai. Lalu pamungkasnya sup-supan. Setelah itu kembali lagi ke menu tumis-tumis yang itu-itu saja. Iya kan?"

"Iya.  Makanya aku sering ngajak kamu dan anak-anak buat makan di luar setiap beberapa hari sekali.  Paling nggak setiap week end. Itu buat variasi masakan. Tapi, sebenarnya aku lebih suka kamu yang masak sih."
"Meski variasi masakan yang aku bisa itu-itu aja?"
"Tapi aku tahu minyaknya, airnya, bahan mentahnya. Itu nilai plus dari masakan yang kamu masak sendiri."
"Tapi rasanya kan...."
"Enak kok. Masakan kamu enak kok, De. Cuma kadang suka gosong dan nggak ketahuan nama masakannya saja."

Hehehehe.
Sepertinya, setelah kakiku semakin kuat untuk berdiri lama, berlari, berjalan, main engkleng, aku bakalan kembali masak sendiri lagi nih.

"Sesekali, jika kamu merasa bosan masak, kamu bisa pesan katering, De. Kan tempat katering langganan kamu bisa pesan harian lepas kan?"

Sampai detik ini, meski sudah 23 tahun berumah tangga, aku masih belum mengerti apa yang ada di benak suamiku. Tapi yang pasti, dia sering banget bikin aku lumer mendadak. Seperti ice cream yang meleleh karena berada di bawah sinar matahari siang.


8 komentar:

  1. Ikutan meleleh dg perkataannya pak Bandi hehehehe. Oia Mb Ade ibuku dulu punya bisnis warung makan sama katering jadi aku ahli banget bikin daftar menu hahahaha. Bikinnya bukan perminggu tapi per10 hari Krn kata ibuku KLO perminggu org jadi hafal menunya

    BalasHapus
  2. lumeeer mendadaaaak lho ;)..aku belum pernah coba katering nih mba..praktis banget ya

    BalasHapus
  3. Smoga sekarang sudah pulih bener ya mba Ade. ALhamdulillah kalau suami suka dengan masakan istri ya mba :)

    BalasHapus
  4. kalau aku lagi sakit biasanya urusan makanan aku serahkan ke suami hehehe atau mentok2 aku gorengin telur aja :D cepet sembuh ya mba :)

    BalasHapus
  5. Dari dulu terkagum-kagum ama suami Mbak Ade yang luar biasa sabar & selalu menghargai.. langgeng terus yah ^^

    BalasHapus
  6. haha bisa aja suaminya mbak ade, aku malah jarang masak mbak ade, pak suami udah paham banget, kadang malah kita sering makan di luar

    BalasHapus
  7. Suami Idaman .... Pujaan para Istri .. wkwkw

    BalasHapus
  8. Jadi inget zaman baru nikah, masakanku cuma tumis sayur dan tempe, telur, tahu goreng aja hahaha. Sekarang udah bisa masak lain2 tapi yg gampang dan nggak ribet masaknya. Senang ya mb Ade kalo suami suka masakan istrinya ��

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...