Langsung ke konten utama

Mengapa Penting Ikut Kajian Agama?

[Lifestyle] Setelah bangun tidur dan shalat shubuh, apa yang kalian lakukan setiap harinya? Ini jadwalku: buat sarapan, masak untuk bekal kotak makanan anak-anakku, antar anak-anak ke sekolah, ke pasar, masak buat makan malam nanti, beberes rumah, mencuci pakaian, menulis, membaca, lalu bersiap jemput anak-anak pulang sekolah, antar mereka ke tempat kursus bimbel, menunggui mereka hingga pulang  bimbel, dan seterusnya.

Rutinitas yang nyaris sama setiap harinya. Kadang, meski terlihat hanya itu-itu saja yang aku lakukan tapi semua rutinitas itu membuat badan terasa begitu lelah. Jika sudah lelah, biasanya langsung tidur.

Begitu saja kegiatanku. Hingga kadang aku merasa, "kenapa hidup kok ya terasa hampa banget ya?". Rasanya, tidak ada gereget sama sekali rutinitas yang aku jalani setiap harinya.

Kala itulah aku memerlukan diri dan menjadwalkan waktu agar bisa ikut Kajian Agama.


Mengapa Penting Ikut Kajian Agama?

1. Untuk Memanggil ulang Pengetahuan Agama yang sebenarnya sudah kita ketahui sebelumnya.

Saya tidak tahu dengan keluarga kalian. Tapi, di keluargaku sejak kecil orang tua kami sudah memperkenalkan agama Islam pada kami. Bahkan, meski mereka bukan orang tua yang amat menguasai ilmu agama sekalipun. Ayahku dibesarkan di keluarga Persis (Persatuan Islam) ketika masih berasa di Sumatra Selatan sana. Tapi karena beliau merantau ke tanah Jawa (Solo, lalu Bandung), maka dia akrab dengan keluarga besar Muhammadiyah dan segala macam budaya dan pengetahuan agama Islam yang berkembang di kalangan Muhammadiyah. Sedangkan ibu, juga dibesarkan di tengah keluarga dengan kultur Muhammadiyah. 

Ketika kecil, ayah dan ibu beberapa kali memanggil guru agama untuk mengajar anak-anaknya belajar kajian agama Islam di rumah; fokusnya sih belajar mengaji Al Quran. Di sekolah negeri yang kami masuki, juga diajarkan pelajaran agama Islam di dalam kelas. Jadi, bisa dibilang sebenarnya pengetahuan agama Islam yang kami miliki sudah lumayan dasarnya.

Tapi, rutinitas hidup dan penumpukan pengetahuan plus informasi setiap harinya di dalam kepala, telah memendam semua pengetahuan agama Islam ini hingga terlupa.
Disinilah pentingnya untuk mengikuti Kajian Agama bagi kita. Yaitu untuk memanggil kembali pengetahuan agama yang telah tertumpuk di dalam ingatan hingga tertutupi oleh pengetahuan lain. Terabaikan.

2. Memperbahari Pemahaman Agama yang Kita Ketahui

 Selain untuk memanggil ulang pengetahuan agama yang sudah kita ketahui sebelumnya, mengikuti kajian agama juga berguna untuk memperbaharui pemahaman agama yang kita ketahui.

Pengetahuan dan informasi tentang ilmu agama memang tidak ada yang baru. Khusus untuk agama Islam, Allah sudah berfirman bahwa islam sudah merupakan agama yang sempurna hingga akhir zaman. 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)

 Tapi, kondisi ketika kita menerima pengetahuan agama tersebut mempengaruhi tingkat pemahaman kita. Hal ini nantinya bisa mempengaruhi penerapan nilai agama tersebut dalam keseharian kita. Karenanya, meski bisa jadi konten dari materi agama yang diberikan tidak ada perubahan dari masa ke masa, tapi kesiapan kondisi mental kita ketika menerima materi tersebut, membuat pengetahuan yang kita dapatkan ikut mengalami pasang surut dan penyesuaian dalam kepemahamannya.

3. Mengubah Kesalah Pahaman yang Terlanjur Dilakukan

Masih terkait dengan point ke 2 di atas. Karena kemungkinan kondisi yang berbeda, bisa jadi ada satu dua pemahaman yang salah selama ini, dan itu membuat kita menjadi salah pula dalam menerapkan ilmu agama tersebut dalam keseharian kita. Disinilah pentingnya ikut kajian agama, bahkan meski sudah berusia lanjut sekalipun. Atau sudah memiliki titel sarjana berderet dan pengetahuan sebagai orang yang memiliki kepandaian di atas rata-rata. 

Itu sebabnya selalu dianjurkan bagi orang Islam untuk berdoa, agar dimudahkan langkah untuk meninggalkan kesesatan dan berjalan menuju kebenaran. Juga doa agar dilembutkan hati hingga kebenaran mudah dipahami dan diberi kekuatan untuk segera meninggalkan kesalahan atau kesesatan.  Doa ini hendaknya diucapkan setiap hari. 

4. Terbinanya tali silaturahmi dengan teman-teman dan saudara seiman.

 Yang terakhir, mengapa penting  ikut kajian agama, karena lewat kajian agama inilah kita bisa membina tali silaturahmi dengan teman-teman dan saudara seiman.

Bergaul dengan orang-orang pilihan yang memiliki semangat beragama yang baik, pengetahuan agama yang baik, dan akhlak (karakter) yang baik, bisa mempengaruhi kita agar bisa tetap hidup sebagai orang yang baik, orang yang memelihara agamanya dengan baik, dan orang yang memelihara akhlah (karakter) yang baik.

Khusus yang terakhir ini nih, enaknya bersilaturahmi dengan teman-teman dan saudara seiman itu adalah, kita bisa saling bertegur sapa dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.

"Mbak, jangan mengeluh terus, nanti dirimu jadi sulit untuk bersyukur." 

"Mbak, jilbabmu terawang banget. Gamisnya juga, pakai yang lebih tebal sepertinya lebih enak dilihat dan insya Allah lebih syar'i."

"Sudah, jika tidak suka jangan mencela. Lihat niatnya, membawa makanan ini dengan ikhlas."

Semua nasehat-nasehat yang disampaikan dengan gurauan di atas lebih merasuk ke dalam hati ketimbang kita mendengarnya dari orang yang menggurui. Itulah gunananya teman yang baik.

Sesekali, bolehlah selfi bersama dengan teman-teman yang baik ini. Sekarang kan jaman serba eksis gitu loh. Narsis itu bukti bahwa kita eksis. Eksis baru sah jika sudah ada fotonya.

Ngomong-ngomong soal foto, jadi inget handphone OPPO Indonesia.  Handphone yang satu ini kan memang menyebut diri mereka sebagai Selfie Expert. Bisa jadi karena kamera depan OPPO yang selalu bermega-pixel besar, dengan bukaan dan pixel yang juga banyak dan satu lagi, ada fitur Beautify. Yaitu fitur untuk membuat tampilan fisik yang dipotret terlihat lebih mulus, lebih putih, lebih sempurna.

WOW banget deh pokoknya. Bahkan, meski aku kurang menyukai fitur ini karena wajahku jadi seperti wajah boneka dan tidak nyata, tapi ketika sedang bertemu dengan teman-teman di pengajian, aku ikut bergembira melihat foto-foto kami jadi tampil cantik-cantik. Untuk yang tidak nyaman dengan fitur beautify ini, pengguna bisa banget loh mengatur semulus apa wajahnya setelah selfie, hanya dengan menentukan tingkat beautify yang diinginkan apakah weak, medium, atau strong. Disini enaknya pakai OPPO; handphone lain fitur beautify-nya tidak bisa diatur-atur alias setelannya sudah default dari pabriknya.

Jadi, ilmu agama dapat, teman juga dapat dan ketenangan pun diraih. Setelah mengikuti kajian agama, kita jadi tahu apa yang ingin kita lakukan dan kita tuju. Ada perbaikan dan penataan kembali pula niat kita untuk melakukan sesuatu. Semua itu, bisa membuang segala rasa hampa dan kosong di dalam diri. Karena kita jadi diingatkan lagi, bahwa kita di dunia ini hanya sementara. Tujuan akhir, tentu saja negeri akherat. Dan di dunia ini, kita hendaknya mengumpulkan bekal sebanyak mungkin. 

Jadi... ayolah ikut Kajian Agama.  



Komentar

  1. Emang menyejukkan hati kalau ikut pengajian, bisa sambung silaturahmi dan yg penting senatiasa mengingatkan kita akan kehidupan yg sebenarnya ya mbak Ade :)
    Btw salam kenal mbak

    BalasHapus
  2. Entahlah suka bikin tenang di hati kalo dengerin ato ikutan kajian agama niy. Berasa deh hidup tuh cuma bentar lagi, seolah-olah hari ini yg terakhir

    BalasHapus
  3. Ikut kajian agama bikin hati adem. Senangnya juga ada yang mengingatkan jika iman sedang tidak stabil.

    BalasHapus
  4. MEngikuti kajian agama itu seakan makan, rasa lapar ilmu seketika kenyang

    BalasHapus
  5. biasanya kalau ikut kajian agama gitu suka banyak yang pada jualan udahannya. Seru, sih :D

    BalasHapus
  6. Abis kajian Islam terus foto-foto ama teman yang jarang ketemu, pulangnya lebih fresh lagi deh, dapat ilmu agama terus tambah akrab dengan teman ya Mbk Ade. Hp OPPO keren, iklannya sering di TV jadi pengen punya juga :)

    BalasHapus
  7. Kalo habis ikut kajian agama rasanya seneng but,nambah ilmu

    BalasHapus
  8. Iya Mba..kajian agama itu seperti me-recharge jiwa ya Mba.. Kalau terlalu lama absen dari kajian, jiwa rasanya kosong, mati.

    BalasHapus
  9. apalah artinya diri tanpa agama, mengikuti kajian menambah ilmu dan menjali ukhuwah. Iya mbak Ade, memang penting ikut kajian agama

    BalasHapus
  10. memang penting banget Mba Ade, saat mengikuti pengajian agama kita akan disadarkan kembali apa tujuan utama kita hidup di dunia ini *duh bahasaku kok jadi berat gini*

    BalasHapus
  11. Aku uda lama gak ikut kajian agama. Bisanya kalok di Jakarta sih di Masjid Baitul Ihsan. Ustadznya seru-seru :D

    BalasHapus
  12. Kita wajib menuntut ilmu agama. Karean dengan hanya ilmu agamalah kita bisa sampai ke jannah-Nya

    BalasHapus
  13. wah.. bener banget tuh mbak, kita harus sering-sering ikut kajian agama

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…