Langsung ke konten utama

Kontribusi Blogger terhadap Masalah Seputar Perempuan dan Anak

[Lifestyle] Nah, sekarang aku mau cerita tentang tema lain yang aku dapat dari acara "THE POWER OF CONTENT" yang aku hadiri hari kamis, 26 Oktober 2016 lalu. Tanggal 26 Oktober ini, bersamaan loh dengan Hari Blogger Nasional. Jadi... selamat hari blogger untuk para blogger se-Indonesia. (nggak papah kan telat beberapa hari buat mengucapkan hal ini? hehehe).

banyak blogger yang datang ke acara ini, ini salah satu diantara mereka


Mari kita bicara, sebagai seorang blogger khususnya, dan sebagai seorang pengguna sosial media pada umumnya (jaman sekarang mayoritas pada punya akun media sosial kan?), kita bisa banget loh berkontriusi bagi pembangunan di Indonesia. Bahkan bukan cuma pembangunan di Indonesia saja, tapi juga berkontribusi pada pembangunan manusia serta moral kemanusiaan secara keseluruhan. Yaitu dengan cara apa? Dengan cara menyumbangkan konten positif dan terus menambah perbendaharaan konten positif di jagad dunia maya ini.

A photo posted by Ade Anita (@adeanita4) on


Zaman sekarang, profesi blogger itu sudah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata oleh siapa saja. Blogger, lewat tulisan dan foto yang dia abadikan lewat blognya, lalu dia sebar link tulisannya di berbagai media sosial yang dia miliki, telah berpartisipasi untuk mensosialisasikan atau menyebar-luaskan sesuatu ke tengah masyarakat. Itu sebabnya, sebagai seorang blogger, ketika dia meninggal dunia maka dia tidak hanya meninggalkan blognya saja. Tapi meninggalkan banyak sekali hal-hal yang terus terabadikan di dunia maya.






 Seperti sudah aku tulis di tulisanku sebelumnya,  acara diskusi terbuka dengan tema The Power of Content ini, diselenggarakan oleh SEREMPAK.

Bisa baca tulisan bagian pertama disini:
 The Power of Content: Bangun Personal Brandingmu melalui Konten Positif

Kita bahas dari berkenalan dulu dengan SEREMPAK ya.

Apa itu SEREMPAK?

SEREMPAK adalah kepanjangan dari seputar perempuan dan anak.






Maman Suherman, yang menjadi salah satu pengisi acara di acara The Power of Content ini, mengatakan bahwa saat ini sebenarnya ada banyak sekali kasus-kasus seputar perempuan dan anak yang terjadi di Indonesia.

Dalam pembukaan sesi sharing yang diberikan pada Kang Maman (panggilan akrab untuk Maman Suherman), Kang Maman bercerita bahwa di Sulawesi beberapa bulan lalu terjadi peristiwa kebakaran yang menewaskan satu keluarga yang terdiri dari ibu dan anak-anaknya. Penyelidikan sementara disimpulkan bahwa kebakaran rumah terjadi karena peristiwa kelalaian yang mungkin dilakukan oleh si ibu.

Tapi, dalam penyelidikan polisi selanjutnya terungkap sebuah penemuan yang mengejutkan. Dari salah satu anak korban kebakaran yang berhasil diselamatkan, diperoleh keterangan bahwa ternyata kebakaran rumah tersebut bukan diakibatkan oleh kelalaian ibunya. Tapi karena pembakaran secara sengaja rumah tersebut oleh salah satu laki-laki yang menjadi tetangga mereka.

Mengapa bisa demikian? Karena, si lelaki ini mengetahui bahwa ayah alias suami si ibu sedang pergi ke luar kota untuk keperluan pekerjaan mereka. Si lelaki ini mengetahui dengan pasti bahwa jika seorang suami atau ayah dalam sebuah keluarga tidak ada, maka keluarga tersebut bisa menjadi amat lemah dan itu artinya mudah untuk diganggu. Maka, didatangilah rumah tanpa kepala keluarga laki-laki tersebut. Tujuannya satu: memperkosa si ibu.

Tapi, di luar dugaan, ternyata perempuan yang menjadi ibu tersebut bukanlah perempuan lemah yang tidak berdaya jika diperkosa. Perempuan ini berontak. Melawan. Dan akhirnya berakhir dengan, terpaksa dibunuh di depan anak-anaknya.

Si lelaki tetangga ini menjadi panik. Dalam upayanya untuk menghilangkan jejaknya, maka dia pun membakar rumah berikut isinya (yaitu perempuan yang sudah dibunuhnya dan anak-anaknya yang masih hidup). Lalu melaporkan bahwa terjadi kebakaran rumah.

Berkat laporan dari satu-satunya saksi yang berhasil diselamatkan tersebut, akhirnya lelaki yang merupakan tetangga tersebut bisa ditangkap dan dihukum selayaknya.







Itulah sebagian kecil saja masalah yang dihadapi oleh perempuan.
Tapi, permasalahannya adalah, ada banyak media (baik cetak maupun elektronik) yang lebih melihat untuk memberikan pada perempuan hanya berita-berita yang tidak penting saja.

Acara-acara di televisi, lebih senang menyiarkan berita tentang kisah keseharian Raffi  Ahmad dan istrinya Nagita yang sebenarnya sama sekali tidak memberi pengaruh pada kehidupan perekonomian siapapun. Atau tentang artis yang berkelahi dengan artis lain hanya karena persoalan sepele. Itulah mirisnya pemberitaan yang tersaji di media kita.

Perempuan Indonesia seakan hanya mengenal 4 P saja dalam kebutuhan informasi mereka. Apa saja 4 P itu? yaitu Peraduan, Pinggang, Pigura dan Pergaulan. Media cetak maupun elektronik, dan berbagai elemen dalam masyarakat dan industri komersial, seakan hanya melihat bahwa masalah perempuan itu hanya berkisar pada bagaimana agar perempuan bisa memuaskan pasangannya di ranjang; atau bagaimana untuk bisa tampil cantik dan menarik, atau bisa narsis dimana-mana dan terakhir bisa up to date dengan berita yang tidak penting sama sekali seperti halnya berita yang ada di infotainment.

Padahal kenyataannya, tidaklah demikian. Perempuan itu sebenarnya bisa menjadi PILAR. Dan inilah P kelima dan merupakan P yang paling penting.Yaitu perempuan bisa menjadi pilar dalam masyarakat.

Perempuan dengan segala kemampuan yang dimilikinya, bisa melakukan banyak sekali hal.
Kang Maman mencontohkan dirinya sendiri.

"Saya selalu berharap bahwa saya bisa meninggal dunia terlebih dahulu daripada istri saya. Kenapa? Karena saya merasa saya tidak akan sanggup mengerjakan berbagai macam pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh istri saya. Mulai dari keperluan anak-anak, suaminya, rumah tangga, hubungan dengan tetangga, keluarga, pekerjaan di kantor, bahkan hingga urusan tetek bengek lainnya. Semua bisa dihandle oleh istri saya. Bagaimana jika istri saya meninggal dunia kelak? Saya pasti tidak sanggup mengerjakan itu semua. Dan sepertinya, semua suami pun akan seperti saya. Tidak sanggup berperan ganda bahkan multi peran dalam satu waktu. Itulah sebabnya perempuan sesungguhnya bisa menjadi Pilar dalam Masyarakat."

Dalam rangka menjadi pilar dalam masyarakat tersebut itulah maka perempuan butuh yang namanya berita dan informasi.






Masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan dan anak inilah yang ingin diminimalisir dan diatas oleh SEREMPAK. Dalam hal ini, serempak membidik pemanfaatan teknologi untuk menjalankan misinya.




Berkenaan dengan visi dan misi SEREMPAK, yaitu ingin mengakhiri 3 masalah seputar perempuan dan anak (3 ends) maka dibutuhkan definisi ulang terhadap kebutuhan perempuan.










Nah. Dari ketiga sasaran masalah yang ingin dituju oleh SEREMPAK inilah maka kita para blogger dan pengguna media sosial bisa membantu banget loh. Yaitu dengan menyebarkan konten-konten positif. Karena percaya deh, konten positif itu memiliki kekuatan yang cukup efektif untuk mengatasi dan menghadapi serbuan aneka konten negatif dan budaya yang ingin memarginalkan peranan sesungguhnya dari para perempuan dan anak-anak.

Kalau kata Kang Maman tuh, "sudah saatnya kita berpikir ulang bahwa definisi C_A_N_T_I_K seorang perempuan itu bukan hanya dieja dengan huruf K_U_R_U_S saja. Tapi Otak. "



Komentar

  1. Memang para blogger selalu jadi garda terdepa prihal informasi. Apa lagi blogger perempuan mba, yang kualitasnya sudah tidak di ragukan lagi. Semua yang mereka tulis adalah apa yang mereka rasakan dalam kesehariannya.

    BalasHapus
  2. Bangga jadi bagian Blogger, moga bisa mmeberikan hal2 yang bemanfaat

    BalasHapus
  3. Ya ampun itu kasus di Sulawesi ngeri banget ya mbak, yupp aku ngeblog biar suatu saat nanti keturunanku bisa mengenal aku lebih kenal ketimbang artis2 atau orang terkenal di dunia.
    Alhamdulillah banyak banget blogger2 yang posting hal2 bermanfaat seperti review hotel, tempat wisata, restoran, kosmetik sampai obat, semuanya bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  4. Saya seringkali lebih suka membaca tulisan para blogger ketimbang media mainstream. Karena blogger ada sentuhan pribadinya. Apalagi kalau postinganya positif, rasanya lebih berasa aja.

    BalasHapus
  5. Dari dulu aku lebih sukak baca tulisan blogger ketimbang jurnalis, Mbak. Bahasanya lebih nyantai. Dan tulisannya objektif banget. Beda sama jurnalis yg bisa menggiring pembaca ke arah yg kurang bener. Wkwkwk :p

    BalasHapus
  6. saat ini capek liat berita dari media besar yang isi banyakan ga mutu. mendingan baca tulisan para blogger yang banyak menginspirasi. tetap semangat berbagi mbaa..

    BalasHapus
  7. Seru banget ya mba ade! Dan the power of content memang tidak ada duanyaaa nih!

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…