Langsung ke konten utama

Karena Kebersihan Bagian dari Iman

[Parenting] Jika kalian bepergian kemanapun, baik itu dalam rangka pekerjaan atau liburan; baik itu untuk jangka waktu lama ataupun hanya pergi sekejap saja; pada akhirnya kalian akan merindukan untuk pulang. Pulang ke tempat dimana kehangatan, dan kenyamanan menunggu. Pulang ke rumah.

Rumah, bukan hanya sebuah tempat tinggal. Tapi rumah itu adalah tempat untuk melakukan berbagai aktifitas. Serta tempat untuk menjalin asa dan cinta. Dan rumah yang dirindukan adalah rumah yang bersih dan nyaman.



Dulu nih, ketika ibuku masih hidup, ibuku paling cerewet untuk urusan rumah yang kalau bisa rapi dan bersih. Nggak harus mewah, yang penting bersih dan rapi saja. Karena rumah tanggaku tidak memakai tenaga asisten rumah tangga (pembantu rumah tangga) jadi aku sering sedikit menumpuk pekerjaan bersih-bersih.

Menyapu memang tiap hari, tapi untuk urusan mengepal lantai, biasanya aku lakukan seminggu hanya 2 kali saja. Demikian juga mencuci pakaian, membersihkan perabotan dari debu, dan sebagainya. Khusus untuk cuci piring, biasanya aku melakukannya hanya di pagi hari saja. Agar tidak lelah mencuci piring, aku menggunakan perkakas memasak yang mudah dibersihkan. Salah satunya dengan menggunakan wajan teflon.

Ibuku sering langsung bebersihan rumah jika beliau datang ke rumahku. Mungkin dia lelah melihat rumahku yang mirip kapal pecah yang ditelantarkan awak kapal.

Dan kalian tahu apa yang aku rasakan ketika aku baru pulang dari bepergian? Entah itu pulang dari liburan, atau pulang dari opname di rumah sakit? Sentuhan tangan ibuku atas rumahku.
Huff.
Setelah ibuku meninggal tahun 2003, setiap kali kembali lagi ke rumah, sering dalam hati aku kecewa diam-diam. "Duh, rumahku ternyata tetap berantakan meski ditinggal pergi lama. Huff."

Itu sebabnya jika ada rencana untuk bepergian meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang cukup lama; aku bisa berubah jadi sedikit perfeksionis gitu deh untuk urusan kebersihan dan kerapihan rumah.

Kamar mandi aku sikat dulu sebelum pergi, rumah dirapikan, disapu, dipel, cucian dicuci, piring kotor tidak boleh ada di tempat cuci piring, dan sebagainya.
Apa alasannya? Karena aku pingin, pulang dari bepergian, badanku pasti dalam kondisi lelah dan letih, nah.. kalau rumah rapi dan bersih kan aku bisa langsung tidur dengan nyaman setibanya kembali ke rumah.

Jadi ya gitu deh; aku malah nggak bisa santai jika sudah ada rencana untuk bepergian dari jauh-jauh hari. Heheehehe. Bahkana mau pergi untuk diopname karena sakit pun, sempat-sempatnya aku menyapu dan cuci piring dulu, serta menyikat kamar mandi. Meski badan meriang sekalipun. Ya itu tadi, biar pas pulang dari rumah sakit karena sudah sembuh, aku bisa menikmati rumah yang rapi dan tidak berbeda jauh dengan suasana rumah sakit yang selalu  bersih dan hieginik.

Akhirnya, seiring dengan anak-anak yang tumbuh besar, aku mulai mengajarkan anak-anak untuk bebersihan rumah. Kan nggak mungkin juga aku terus yang membersihkan rumah. Harus ada tongkat estafet tukang bebersihan lah.
Biar bagaimanapun, aku kan semakin tua ya. Kemampuanku meng-handle berbagai pekerjaan rumah semakin hari semakin tidak tertangani. Umur itu nggak bohongin sih. Kemampuan jadi terbatas karena pertambahan usia. Tapi tetap; pinginnya sih pas tiba di rumah, rumah tidak terlalu berantakan.

Nah. Satu hal nih. Ternyata, anak-anakku memang membantu pekerjaanku dalam hal bersih-bersih. Tapi, kadang mereka menyisakan sebuah masalah baru. Seperti wajah teflonku yang menjadi rusak misalnya.

Iya, wajan teflonku menjadi retak-retak. Ketika aku tanya kenapa bisa retak-retak setelah dicuci oleh anak-anakku, mereka bilang gemas karena kotoran sisa masakan yang lengket tidak mau lepas. Jadi, terpaksa mereka kerik dengan ujung sendok. huhuhuhu... kejamnya.

Bukan apa-apa sih. Tapi, permukaan teflon yang rusak itu pada akhirnya malah menimbulkan bahaya buat masakan yang kita buat. Aku merangkumnya disini:



Akhirnya, terpaksa aku membeli perlengkapan dapur baru. Eh... nggak lama, piring plastik dan melamin juga mengalami kondisi yang sama. Retak-retak dan kasar permukaannya. Wah. Terpaksa deh dibuang. Karena melamin atau plastik yang rusak itu, malah berbahaya jika dipakai untuk menjadi alas makanan panas.

"Duh nak. Kalau cuci piring, dilihat dong sponnya. Kan ada bagian yang kasar dan halus tuh. Itu ada gunanya lagi, bukan cuma buat pajangan biar cantik. Yang kasar itu untuk panci-panci gitu. Yang halus buat piring, wadah plastik atau teflon." Aku pun akhirnya gemas memberi nasehat pada anak-anakku.

Perhatian: sabut spons hijau scotch brite, digunakan untuk mencuci alat masak. Sedangkan sabut spons anti gores scotch brite, untuk mencuci alat makan dan alat masak teflon atau anti lengket. 

Jadi, membeli spon itu masuk dalam list belanja mingguan di keluargaku.

Di pasar, ada berbagai macam merek spon untuk cuci piring. Mulai dari spon dengan merek supermarket yang bersangkutan, hingga spon tanpa merek apapun. Aku pernah mencoba berbagai macam merek spon. Semua spon pernah aku coba. Mulai dari yang harganya amat sangat murah ( di penjual kelontong keliling, harga spon tanpa merek apapun itu hanya Rp500 loh); hingga spon dengan harga yang amat mahal untuk ukuran sebuah spon. Tapi, pada akhirnya aku setia dengan merek Scotch brite.

Spon merek Scotch Brite itu, dua sisi spon yang direkatkan (kasar dan halus) menyatu sempurna dan tidak mudah lepas. Merek Scotch Brite memang sabutnya memang terdiri dari serat dan mineral berkualitas. Merek lain mudah sekali terlepas dua bagian ini. Jadi, kalau  sudah lebih dari 1 minggu, yang tadinya cuma ada 1 spon, malah terbelah jadi 2 spon tipis-tipis pula.

Selain itu, kekenyalan spon merek Scotch Brite itu tahan lama. Mereka dibuat dengan teknologi yang ampuh membersihkan kotoran. Baik itu Jadi enak digenggam. Merek lain mudah sekali kempes busa sponnya. Juga mudah sekali rontok busanya kalau merek lain.

Itu sebabnya spon merek Scotch Brite menurutku sih 3 x lebih cepat bersih dan 3 x lebih tahan lama dibanding merek spon lain.

Mungkin, karena kualitas Scotch Brite yang bagus ini, maka aku mulai melirik untuk menggunakan produk keluargan Scotch Brite yang lain. Dan ternyata memang ada banyak. Merek Scotch Brite tidak hanya mengeluarkan spon cuci piring saja ternyata. Tapi juga mengeluarkan produk lain untuk keperluan bebersihan rumah.


Tuh... enak kan. Banyak produk keluargan scotch brite ini ternyata.
Jadi, ayolah kita bebersihan rumah dengan Scotct Brite. Karena kebersihan  bagian dari Iman.

Komentar

  1. wow, hadiahnya banyaaak banget
    tante beruntung sekali yaaah

    BalasHapus
  2. waahh, paketannya lengkap banget yaa mbak... semoga makin rajin bersih-bersih :)

    BalasHapus
  3. awet kok mbak pakai prosuknya scotch-brite

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mba Lidya, saya pernah pake merek lain karena lebih murah tapi jadinya lebih mudah rusak juga

      Hapus
  4. Andalan keluargaku jugaaa nih mbaaa.. Terutama Rudi yang hobi bersih-bersih :)

    BalasHapus
  5. iya, ya. Ada spons yang bagian kasar dna halusnya mudah banget lepas. Mendingan Scotch Brite, deh :D

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…