badge

Jumat, 26 Agustus 2016

PAUD Holistik dan Integratif

[Parenting] Pernahkah kalian mengalami sebuah kesulitan menghadapi masalah teknologi terkini dan ternyata orang pertama yang membantu anda mengatasinya justru datang dari anak anda yang masih kecil? Jika iya, maka kalian tidak sendiri mengalami hal ini. Karena, Bapak Jahja Setiaatmadja pun, yang merupakan Presiden Direktor Bank Centra Asia (BCA) juga pernah mengalaminya. Dalam sambutannya di acara penyerahan secara simbolis bentuk Kerjasama antara BCA dan UNICEF untuk program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) di Jakarta, Senin 22-8-2016 lalu, hal ini terungkap.

Jadi, ceritanya suatu hari di acara resital musik sekaligus pemberian hadiah untuk kompetisi musik ini yang dihadirinya, Pak Jahja menghadapi kesulitan mengoperasikan salah satu aplikasi di gadgetnya. Dikutak-katik tetap dia tidak menemukan solusinya. Kebetulan, di sisinya ada cucunya yang masih berusia pra sekolah. Melihat kakeknya kebingungan, dengan ringan si cucu menawarkan bantuan. Bukan hanya membantu, bahkan juga menjelaskan dengan gamblang pada kakeknya bagaimana mengoperasikan aplikasi teknologi terbaru yang tersemat di gadget milik kakeknya. Terbukti bahwa anak-anak itu, sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak bisa kita remehkan meski mereka jauh lebih kecil dari kita.

Penguasaan teknologi anak-anak jaman sekarang memang luar biasa. Sejak usia dini mereka sudah bisa mengoperasikan perangkat gadget dan akrab dengan gadget. Bagi masyarakat middle up class, masalah gadget bagi anak memberi dampak positif dan negatif tersendiri. Sisi positifnya, anak jadi akrab dengan teknologi terkini, tapi sisi negatifnya hal ini melahirkan sebuah addicted anak pada perangkat gadget.



Untuk itu, tugas orang tua dalam hal ini adalah, bagaimana caranya agar membuat anak tetap bisa bersosialisasi dengan orang sekitarnya. Jangan sampai punya kepandaian dalam menguasai teknologi tapi tidak bisa bergaul dengan orang lain. Itulah tugas orang tua di perkotaan menurut Pak Jahja Setiaadmadja.

Lalu bagaimana dengan orang tua dan anak-anak yang tinggal di pedesaan dan daerah pelosok? Seperti misalnya di Papua sana. Masalahnya tentu berbeda lagi.

BCA dan UNICEF dalam hal ini, memiliki jejak rekam yang panjang dalam menjalin kerjasama guna memberikan edukasi dalam rangka mengembangkan kecerdasan dan moral anak serta parenting education bagi orang tua maupun pengasuh.

Dimulai sejak tahun 2000 dan berkelanjutan pada tahun 2014 dan 2015, BCA mendukung kegiatan UNICEF dalam program pendidikan ramah anak. Program ini merupakan salah satu implementasi dari pilar bank BCA yaitu solusi cerdas. Melalui pilar solusi cerdas, BCA berupaya aktif melakukan aneka macam program maupun bekerja sama dengan lembaga yang dianggap kompeten dalam mengembangkan pendidikan masyarakat Indonesia.

Sekarang, bentuk kerjasama antara UNICEF dan BCA adalah dalam bentuk pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini secara holistik dan terintegrasi, di daerah Papua.

Apakah  PAUD HOLISTIK INTEGRATIF itu?


Kita sepakati dulu yuk. Bahwa pendidikan bagi anak-anak itu sangat penting. Kita sebgai bangsa Indonesia harus mendukung pendidikan karena pendidikan merupakan pondasi awal bagi pembentukan kualitas manusia Indonesia. Pendidikan, juga merupakan dasar untuk memperkuat perkembangan pada anak.

Anak-anak, dimanapun mereka berada, apapun kondisinya memang sepatutnya bisa mengenyam pendidikan. Bukan hanya pendidikan bahkan, tapi juga kesehatan dan rasa aman. Tapi, kenyataannya, hal ini ternyata tidak bisa didapat oleh seluruh anak secara keseluruhan. Ada kondisi-kondisi dimana hal ini sulit untuk diraih. Seperti kondisi alam yang jauh terpencil dan sulit didatangi, ancamana penyakit yang mengintai akibat kondisi lingkungan tempat tinggal anak tersebut, juga hal-hal lain.

Tahukah kalian bahwa ternyata nih, faktanya, di Indonesia terdapat sekitar 1,9 Juta anak di bawah usia 1 tahun yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Sehingga mereka berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa, seperti campak, polio dan difteri (sumber: katalog UNICEF.

Fakta lain yang juga mengejutkan adalah, ternyata 33% anak balita di Indonesia, tidak memiliki akte kelahiran. Akibat tidak memiliki akte kelahiran ini, maka anak-anak ini akan menghadapi masalah ketika mendaftar sekolah, mengakses layanan kesehatan, mendapat manfaat dari program-program sosial dan perlindungan terhadap pernikahan anak.

Fakta lain lagi nih, terdapat sekitar 6,8 Juta anak usia 7 - 18 tahun tidak bersekolah di Indonesia. Mereka adalah anak-anak dari keuarga termiskin di Indonesia yang memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar untuk tidak mengenyam pendidikan seklah dasar dibandingkan anak-anak dari keluarga yang paling sejahtera.

Ugh. Jika diteruskan mungkin fakta-fakta ini akan panjang dan mengejutkan.
Karena itu, maka menjadi penting untuk memfokuskan perhatian pada pentingnya pemberian dan pengembangan pendidikan bagi anak usia dini. Dan bukan hanya bagi anak saja dalam hal ini perhatian tersebut diberikan. Tapi juga bagi orang tuanya, gurunya, serta pengasuh anak tersebut. Semua pihak-pihak yang terkait dengan kehidupan keseharian anak-anak harus dilibatkan sehingga program pendidikan anak usia dini baru bisa dikatakan berhasil. Inilah yang disebut dengan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif.

Mengapa orang tua dan pengasuh dilibatkan dan dianggap penting dalam hal ini? Karena, orang tua dan pengasuh anaklah yang sebenarnya paling mengerti bagaimana cara menyampaikan sebuah pesan. Karena itulah, maka peranan orang tua dan pengasuh dalam hal ini adalah, harus dilatih juga agar bisa ikut membantu menstimulasi anak-anak mereka.


Mengapa Papua menjadi Pilot Project PAUD HOLISTIK INTEGRATIF?




Indonesia itu luas sekali. Propinsinya banyak, dan penduduknyapun beragam. Lalu, mengapa dalam hal ini Papua ditunjuk sebagai Pilot Project PAUD Holistik Integratif?

Karena faktanya:
1. Indonesia adalah negara keempat tertinggi dengan total jumlah anak sangat kurus: yaitu sebanyak 3.000.000 (tiga juta) kasus (menurut riskesdas 2013).
2. Terdapat 1 dari 20 anak di Indonesia yang mengalami malnutrisi akut (menurut riskesdas 2013 dan senses 2010 mengenai proyeksi ukuran populasi untuk 2013).
3. Indonesia adalah negara ke 4 tertinggi di dunia dengan jumlah anak yang tidak tevaksinasi atau tidak mendapat vaksinasi lengkap.
4. Penduduk Papua adalah 1% dari populasi penduduk Indonesia tapi ternyata memiliki angka HIV/AIDS 15 kali lebih tinggi dariapda angka rata-rata nasional.
5. Sebuah survey menemukan bahwa 30% anak di Papua putus sekolah (sumber: NSESI 2012).
Untuk lebih lengkapnya, mungkin infografis di bawah ini bisa membantu memberi gambaran sebenarnya tentang kondisi di lapangan.



Bahkan, ibu Gunila Olsson, yang merupakan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, mengatakan bahwa jika saat ini nih, Papua menjadi sebuah negara, maka bisa dipastikan bahwa Papua akan menjadi negara termiskin di dunia. Mengapa? Karena masyarakat Papua banyak yang tidak memiliki pendidikan yang layak. Bukan hanya karena tidak mau bersekolah tapi juga karena sulitnya untuk memperoleh akses untuk meraih pendidikan. Medan yang berat, dan budaya yang mengukung mereka merupakan kesulitan tersendiri yang harus dihadapi.

Itu sebabnya, Papua dipilih untuk menjalankan pilot project penerapan PAUD Holistik Integratif di Indonesia. Jika pilot project ini berhasil, maka model PAUD Holistik Integratif ini bisa diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.

Program PAUD HI sendiri, sebenarnya memang sudah dicanangkan pemerintah melalui Keputusan Presiden nomor 60 pada tahun 2013. Diharapkan, dengan kerjasama antara BCA dan Unicef ini maka dapat meningkatkan kualitas serta angka partisipasi PAUD di Papua.

Ibu Gunila Olsson, dalam acara yang aku hadiri ini mengatakan bahwa beliau menyampaikan penghargaannya atas dukungan BCA. Beliau mengatakan:

"Program PAUD HI akan dijalankan di Sorong dan Raja Ampat. Kami percaya kontribusi ini akan membawa perkembangan positif karena usia dini memiliki peranan terpenting dalam hidup. Penelitian membuktikan bahwa pada 1000 hari pertama, ratusan sel otak terhubung setiap detiknya dan pada usia lima tahun otak berkembang hingga 90 %. Sel-sel otak yang terhubung tersebut membangun balok-balok dalam kehidupan seorang anak. Mereka membantu menentukuan perkembangan kognitif, emosional dan sosial dari seorang anak, serta membantu kapasitasnya untuk belajar, mencapai sukses dankebahagiaan di masa depan. Program PAUD Holitis Integratif ini mempersiapkan anak-anak pada periode emas mereka agar mendapat masa depan yang lebih baik." 
Lebih lanjut, Ibu Gunila Olsson mengatakan bahwa pendidikan pada anak  usia dini, akan menghantarkan anak untuk bisa memperoleh keuntungan dari lingkungan sekitarnya. Yaitu meliputi memaksimalkan proses belajar mereka. Banyak studi yang mengatakan bahwa usia emas anak untuk belajar dalam hal ini justru berada di usia 0 hingga 6 tahun. Dengan dasar pendidikan yang kuat ini maka bukan tidak mungkin kita akan memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang.

Jadi anak-anak itu sebenarnya bukan hanya masa depan kita, tapi juga merupakan investasi untuk masa yang amat panjang. Mereka kelak akan menjadi customer kita di masa yang akan datang, tenaga kerja kita di masa depan, dan penghubung antara masa sekarang dan masa depan.


2 komentar:

  1. Guru2 PAUD disini selalu mengingatkan orang tua untuk segera memasukkan anaknya ke PAUD. Tapi orang tuanya kadang ogah2an, karena harus nungguin. *termasuk saya*.

    Etapi sekarang si Alfi udah masuk paud sich Mbak :)



    BalasHapus
  2. Program ini bagus sekali mba Ade! Pendekatan holistik memang sangat kita perlukan untuk mempersiapkan anak-anak dengan tantangan baru yang akan mereka hadapi kelak

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...