badge

Kamis, 14 Juli 2016

Pengaruh Budaya Angpau THR pada Anak

[Parenting]  Ada satu permintaan yang mengusikku ketika lebaran kemarin. Mungkin, bagi orang lain permintaan ini terasa ringan dan sepele. Tapi buatku, mendatangkan dilema tersendiri. Yaitu ketika datang seorang yang aku kenal baik dengan terang-terangan meminta THR padaku.

"Tante... bagi angpau THR dong." Glek. Aku langsung menelan ludah ketika mendengar sapaan dari orang yang aku kenal baik ini. Yang minta sudah tidak bisa dikatakan anak kecil lagi. Malahan, dia sudah berumah tangga meski anaknya masih kecil memang. Alias masih keluarga muda.
Tuh. Gimana nggak bengong coba diriku?






Aku dan suami sepertinya sepakat untuk tidak membiasakan memberlakukan budaya THR dalam keluarga kecilku. Itu sebabnya, aku tidak pernah bagi-bagi THR pada siapa saja, termasuk pada anak-anakku.

Jika mereka bisa full puasanya, ya biasa saja. Tidak juga diberi selamat.
Karena menurut kami bisa berpuasa itu adalah sebuah perintah agama. Apresiasi untuk sebuah ibadah yang bisa dikerjakan dengan baik itu datang dari Allah. Tidak boleh dicampur dengan apresiasi dari manusia. Karena nanti, perlahan demi perlahan, bisa mengubah nilai  niat dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah itu sendiri.
Hal inilah yang aku ajarkan pada anak-anakku sejak mereka masih kecil-kecil.
Itu sebabnya, anak-anak tidak aku biasakan untuk mau menerima angpau dari siapapun.

Dulu, anak-anakku malah aku ajarkan untuk berani menolak angpau dari siapapun. Itu sebabnya ketika mampir ke rumah tetangga untuk berlebaran, anak-anakku menolak angpau yang disematkan di tangan mereka oleh tetanggaku. Pernah sih ada tetangga yang heran dan bingung. Tapi aku jelaskan bahwa anak-anak tidak terbiasa menerima angpau, barulah tetanggaku mengerti.

Tapi, karena begitu mewabahnya budaya bagi-bagi angpau lebaran di masyarakat kita, maka makin lama penolakan kian terasa sulit. Telebih karena beberapa orang sering terlihat memaksa untuk memberikan angpau pada anak-anak kami.

Mereka menyematkan di tangan anak-anak. - -- Anak-anak menolak dan mengembalikan angpau tersebut. --- Mereka kembali menjejalkan angpau tersebut, dengan wajah kesal dan gemas. --- Anak-anak kembali mengembalikan angpau yang sudah diberikan. -- Mereka mulai kesal dan setengah memaksa anak-anak agar mau menerima angpau. Akhirnya, anak-anakku pun menerima dengan rasa salah tingkah dan mengucapkan terima kasih.

Hmm. Bagaimana ini? Sulit ternyata jika terus bertahan berlawanan arus dengan budaya mayoritas di masyarakat kita.

Untuk menenangkan hati, aku dan suami sempat belajar ilmu agama lagi sehubungan dengan hal ini. Jujur saja. Aku dan suami memang amat takut jika melakukan sesuatu yang sepintas sepertinya baik padahal dalam pandangan agama ternyata merupakan hal yang sia-sia.

Adapun hadiah, Ia merupakan pemberian yang dianjurkan oleh syariat, sekalipun pemberian itu -menurut pandangan yang memberi- sesuatu yang remeh.Disebutkan dalam hadits, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Wahai, wanita muslimah. Janganlah kalian menganggap remeh pemberian seorang tetangga kepada tetangganya, sekalipun ujung kaki kambing”. [HR Bukhari, no. 2566. Lihat Fathul Bari, 5/198]Juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta”. [HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, no. 594. Ibnu Hajar berkata,”Sanadnya shahih”]Tentang anjuran saling memberi hadiah, di kalangan ulama telah terjadi Ijma’, karena Ia memberikan pengaruh yang positif di masyarakat; baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Bagi yang memberi, itu sebagai cara melepaskan diri dari sifat bakhil, sarana untuk saling menghormati dan sebagainya. Sedangkan kepada yang diberi, sebagai salah satu bentuk memberi kelapangan terhadapnya, hilangnya kecemburuan dan kecurigaan, bahkan mendatangkan rasa cinta dan persatuan dengan sesama.
Sumber: https://almanhaj.or.id/2283-hukum-seputar-suap-dan-hadiah.html

Akhirnya, aku dan suami pun melunakkan larangan kami pada anak-anak sehubungan dengan budaya bagi-bagi angpau THR ini pada anak-anak kami.

"Jika diberi, kalian boleh menerima. Tapi, jangan pernah meminta. Karena jika meminta, nanti kalian makin lama makin lupa diri lalu tanpa sadar kalian nanti malah jadi seperti mengemis. Itu nggak boleh ya."

Itu sebabnya sudah beberapa tahun ini anak-anak mulai lunak, mau menerima angpau THR dari saudara dan kerabat. Dan tidak ada lagi adegan pemaksaan dari saudara atau kerabat yang ingin memberi angpau THR pada anak-anakku.

Lalu, untuk apa uang yang diperoleh dari angpau THR ini?
Ditabung.

Segera setelah hari lebaran dan masa halal bihalal selesai, dan setelah bank beroperasi secara normal, uang angpau ini kami masukkan ke tabungan. Anak-anak memang sudah memiliki buku tabungan sendiri-sendiri. Mereka tahu jumlah uang tabungan di buku tabungan mereka. Tapi, karena belum tahu pemanfaatan uang, jadi mereka tidak pernah minta dibelikan apa-apa sampai sejauh ini. Uang THR cukup ditabung saja.

Pengaruh Budaya Angpau THR pada  Anak


Kembali pada kasus permintaan dari orang yang aku kenal itu padaku.

Pemberian hadiah itu, memang diniatkan untuk kebaikan. Yaitu menciptakan rasa kasih dan sayang. Serta untuk berbagi kesenangan. Tapi, ada satu hal yang sebaiknya harus diajarkan pada anak-anak. Bahwa hadiah itu, harus diberikan dengan rasa ikhlas oleh pemberinya. Jangan pernah ada tujuan dan niatan lain yang mengiringi pemberian hadiah tersebut. Niat tertinggi, tentu saja diniatkan dalam rangka membangun silaturahmi dan mendapat ridho dari Allah. 
Ketika kita lupa mengingatkan anak-anak kita tentang menerima dan memberikan hadiah tersebut, maka anak-anak dapat tumbuh dengan sebuah persepsi atau pemikiran bahwa... hadiah boleh ditujukan dengan sebuah tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi diri mereka.

Nah.
Jika sudah mulai muncul pemikiran seperti ini, tunggu saja. Mereka akan terbiasa dengan yang namanya budaya gratifikasi alias menerima dan memberikan hadiah dalam rangka  mencapai kepentingan pencapaian tujuan bersama.

Tapi mungkin itu sebuah pemikiranku yang terlalu jauh ya.
Hanya saja. Anak-anak yang tidak pernah diingatkan tentang nilai niat dan ikhlas dalam memberi dan menerima angpau THR lebaran, akan menganggap bahwa budaya angpau itu sebuah keharusan dari yang dewasa pada anak-anak. Dan dari yang kaya pada yang miskin. Dan seterusnya; hingga tidak terasa... rasa malu untuk meminta-minta perlahan hilang dalam diri mereka. Yang ada malah rasa bangga karena sudah berani meminta dan mendapatkan sesuatu.

Seperti yang aku alami ketika lebaran kemarin.

"Tante... bagi angpau THR dong."
"Eh... hehehe... tante nggak biasa ngasih angpau THR."
"Ih tante. Sesekali dong ngasih angpau THR buat kita-kita. Masa angpau  THR buat anak-anak kecil saja. Buat kami juga dong, tante. Kan kami nggak bawa anak, karena anaknya sama neneknya. Jadi anggap saja mewakili anak-anak di rumah. Bagi dong Tante.... setahun sekali ini. Jangan pelit-pelitlah tante."
(Aku nyengir dan mulai salah tingkah)
"Begini. Tante tuh nggak membiasakan anak-anak tante nerima angpau THR bahkan. Dan tante sama om juga nggak pernah bagi-bagi angpau THR. Jika pun kami mau memberikan zakat, infaq atau sedekah ya.... ada urutan mereka yang berhaknya."
"Ih tante tega banget. Masa kami disamakan dengan orang miskin. Ini buat berbagi kesenangan karena lebaran tante. Selembar dua lembar nggak papah kali tante. "

(Aku makin nyengir dan makin salah tingkah. Perlahan, berjalan ke arah suamiku dan berbisik. Llau bercerita padanya. Suamiku hanya melirik dan berbisik tegas perlahan: "Sudah. Jangan digubris. Biarkan saja mereka mau bilang apa saja. Kita dari dulu nggak pernah melakukannya kok. Jangan goyah."
The end.)

1 komentar:

  1. suka tidak suka memang sudah jadi budaya di mana-mana ya mba...aku pun selalu kena todong :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...