Langsung ke konten utama

Tradisi Berakhir Pekan di Keluargaku

[Keluarga] Apa yang terjadi jika di dompet keuangan menipis tapi yang namanya week-end tetap hadir?
Buat keluargaku, sepertinya tetap saja itu berarti, berakhir pekan jalan terus.



Di sepanjang hari-hari kerja yaitu Senin hingga Jumat di keluargaku, nyaris semua orang punya kesibukan tersendiri. Suami dan Putra sulungku, mereka bekerja hampir sepanjang hari. Sementara anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, setelah lebih kurang 8 hingga 10 jam bersekolah, pulang ke rumah dalam kondisi lelah. Jadi, kami jarang ngobrol riuh ramai. Apalagi terkadang ada beban pekerjaan dari kantor atau sekolah yang harus diberikan keesokan harinya hingga selesai makan malam mereka pun segera masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mengerjakan tugas.

Itu sebabnya jika akhir pekan atau week end tiba, kami selalu berusaha untuk bepergian sekeluarga. Setidaknya makan di rumah makan. Jika sedang ada duit, makannya bisa di mall. Tapi jika duitnya pas-pasan maka acara makan di luarnya di tempat yang murah meriah. Yang penting ada wifi dan jika ngobrol lama tidak buru-buru diusir oleh pemilik rumah makan.

Mungkin, kalian bingung, mengapa jika tidak punya banyak uang harus memaksakan diri untuk makan-makan di rumah makan di luar rumah? Mengapa tidak di dalam rumah saja?

Jawabannya, karena jika di dalam rumah, sulit untuk berkumpul mengelilingi meja makan dalam waktu yang sama dan terlibat obrolan yang seru.

Pasti deh... yang punya PR alias pekerjaan rumah jadi ingat PR-nya belum dikerjakan jadi berusaha keras untuk mengerjakan PR di dalam kamarnya.
Mulia ya anak-anakku ini.
Terus masalahnya apa dengan kedisiplinan mereka akan tugas yang harus dikerjakan ini? Harusnya aku bersyukur ya mereka ingat tugas yang harus mereka kerjakan?
hehehe.
Masalahnya, persiapan untuk mengerjakan PR itu panjang. Awalnya, mereka merasa perlu untuk mendengarkan musik ketika sedang mengerjakan PR. Jadi, mereka pun milih-milih lagu yang akan didengar dan memasukkannya dalam playlist You Tube. Dan itu lamaaaaaa sodara-sodara.
Belum nonton video musiknya. Belum nyangkut jika ternyata bertemu relatif video lain.
Huff. Yang ada adalah:

"Makan yuk."
"Nanti aja deh, aku nyusul. Tanggung, PR ku masih banyak."

Atau yang tidak punya PR, ketika akhir pekan tiba, karena selama Senin hingga Jumat tidak bertemu televisi, maka ketika akhir pekan langsung merasa bahwa acara-acara televisi itu ternyata menghibur untuk ditonton. Jadi, ketika diajak makan bersama:

"Makan yuk. Ibu dah masak nih."
"Nanti deh, tanggung nih. Tunggu penampilan  si X dulu. Seru."

Demikian jika sebuah keluarga punya anak yang tidak lagi berusia anak-anak. Tapi berada dalam rentang usia remaja hingga dewasa muda. Kita sebagai orang tua tidak bisa lagi memaksa mereka untuk mengikuti kehendak kita.
Rumah adalah tempat mereka melepas segala belenggu rutinitas, dan terbebas dari aturan jaga image. Tidak seorang pun bisa membelenggu mereka kembali. Tidak juga orang tua.

Padahal, di sisi lain, aku sebagai ibu rumah tangga, dari hari Senin hingga Jumat terus menerus berada di rumah. Aku butuh piknik. Butuh refreshing untuk bisa melihat pemandangan baru selain sudut-sudut ruangan di rumahku.

Jadi, harus dipaksain memang meluangkan waktu sejenak untuk berkumpul bersama dengan anggota keluarga lain dalam satu waktu, mengelilingi meja makan. Dan itu berarti harus jauh dari rumah. Yaitu di rumah makan.
Memiliki quality time bersama dengan anggota keluarga itu sesuatu yang memang harus diusahakan. Karena jika tidak diusahakan untuk meluangkan waktu, maka selamanya kita akan kehilangan kesempatan untuk itu. Tergilas sendiri dengan waktu dan rutinitas sendiri. 

Jadi, setiap menerima gaji, selalu ada pos khusus untuk berakhir pekan agar bisa makan-makan di luar. Diusahakan gitu deh.

Enaknya makan di luar rumah itu juga satu: aku sebagai ibu rumah tangga, jadi punya waktu 2 hari untuk berlibur dari rutinitas keseharianku sebagai ibu rumah tangga. Aku tidak perlu khawatir harus cuci piring. Tidak perlu mengangkut cucian piring kotor ke basin dan mengatur tumpukannya agar mudah dicuci. Tidak perlu membersihkan meja. Tidak usah masak. Tidak usah menyapu.

Bukankah jika kita makan di rumah makan, semua hal itu dikerjakan oleh pekerja di rumah makan tersebut? Aku adalah tamu mereka, jadi aku tidak perlu melakukan tugas-tugas tersebut.

Itu sebabnya, aku senang jika akhir pekan tiba.

Eh. Tapi bagaimana jika suami ternyata pergi ke luar kota sedangkan kami tetap butuh hiburan murah meriah? Biasanya, aku menghabiskan waktu bersama anak-anakku untuk menonton dvd drama Korea atau film India. wkwkwkwk. Lalu untuk makan, aku telepon makanan yang bisa dipesan lewat telepon atau aplikasi agar bisa diantar ke rumah. Dengan begitu, aku sedikit terbebas dari kwajiban harus masak dan cuci piring dan membersihkan dapur.

Terkadang, jika memang benar-benar tongpes; kami sering berkumpul di dalam kamarku. Semua orang duduk di atas ranjang. Lalu, main UNO atau main kartu.

Atau, duduk dekat piano. Ada yang main piano, ada yang main gitar, lalu kami ramai-ramai nyanyi-nyanyi adu fales-falesan suara.

Itulah tradisi berakhir pekan di keluargaku. Tidak ada yang istimeja memang. Tapi buatku sih luar biasa spesia Mengapa? Karena sesuai dengan kebutuhan dan keinginanku.


Komentar

  1. Akhir pekanku sama aja sih. Malah gak suka klo akhir pekan ke luar banyak orang. Justru saya sama suami makan di luar kalau hari senin, biar gak banyak orang, haha

    BalasHapus
  2. akhir pekan memang waktu yang ditunggu-tunggu setiap orang mbak, tapi terlalu over menikmati akhir pekan jadinya males juga :D

    BalasHapus
  3. Menikmati liburan akhir pekan paling asik emang kumpul bersama keluarga dan quality time ya mbak :)

    BalasHapus
  4. aku selalu berakhir pekan di mall atau dikasur, kalo ga tidur ya ngajak anak main

    BalasHapus
  5. kalo akhir pekan biasanya saya ngumpul sama anak dan suami karena di hari kerja kami hidup terpisah..

    BalasHapus
  6. Saya ga kenal weekeend...suami libur minggu, saya libur jum'at. jadi tiap hari saya upayain quality time

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…