badge

Jumat, 29 April 2016

Tips Menghindari Konflik Dengan Mertua & Ipar

[Pernikahan] Waktu belum menikah dulu nih, calon suami (dan sekarang jadi suami) memberitahuku bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Jadi, aku sepertinya tidak bersiap-siap menghadapi konflik Mertua VS Menantu.

Meski demikian, tetap saja teman-teman sepantaran aku, yang sama-sama menjelang pernikahan juga saling berbagi cerita denganku. Kan biasanya usia 20-an itu cewek-cewek sudah mulai bersiap-siap menjelang pernikahan ya. Setidaknya, mulai serius berhubungan dengan teman prianya. Jadi, bukan cari pacar lagi, tapi cari calon suami.


Ada temanku nih. Dia cerita, ketika oleh pacarnya dikenalkan dengan keluarga pacarnya.

"Aku langsung diajak turun ke dapur sama calon ibu mertuaku." Mendengar cerita dia ini nih, aku langsung terperangah. Terbayang jika aku punya calon ibu mertua. Wah. Aku kan sama sekali tidak bisa memasak. Level tidak bisa memasakku tuh parah banget. Jadi, aku bertanya dong ke temanku itu pengalaman dia.

"Terus... terus. Disuruh masak gitu?"

"Ya nggak sih. Cuma dikasih tahu bahwa pacarku itu penggemar kudapan pizza banget. Jadi, kalau bisa akunya harus belajar bikin pizza home made kalau mau serius dengan pacarku itu. Biar nggak usah beli pizza di luar. Lagian lebih sehat kalau bikin sendiri disamping lebih murah. Jadi aku diajarin bikin pizza home made gitu. Nah, sambil bikin pizza bareng itu kami ngobrol."

"Dirimu bisa ngimbangin calon mertua waktu itu?"

"Aku kan memang suka masak De di rumah. Jadi nggak masalah."

Lain lagi pengalaman temanku yang lain.

"Aku diajak shopping bareng dong. hahahaha...senang banget. Karena ternyata ibunya calonku itu hobi banget yang namanya window shopping dan shopping. Jadi pacarku itu asli cuma jadi supir sama yang  bantu bawain barang belanjaan ibunya aja gitu. Jadi pas aku dikenalin sama ibunya, ibunya tuh serasa ketemu teman baru yang bisa diajak jalan-jalan. Dan aku kan memang suka jalan-jalan orangnya. Jadi klop."

Indah-indah sekali ya pertemuan teman-temanku dengan calon mertua mereka. Disitu aku menyayangkan, "ih, coba calon mertuaku masih hidup ya. Mungkin asyik kali ya bertemu dengan mereka lalu melakukan penyesuaian-penyesuaian."

Eh... suamiku malah mengatakan sesuatu, "Orang tuaku Jawa banget loh, De. Mungkin dia akan terkaget-kaget sih melihat budaya Sumatramu. Jadi mungkin penyesuaian yang harus kamu lakukan agak banyak sepertinya. Kurang lebih, kelihatan deh dari gimana kakak-kakakku itu."

Glek. Suamiku anak ke 10 dari 10 bersaudara. Jadi, sebenarnya yang harus aku persiapkan itu bukan menghadapi mertua (karena mereka sudah tiada) tapi menghadapi Ipar.

Okeh. Untuk diketahui, aku memang berasal dari keluarga besar Sumatra Selatan. Sedangkan suamiku berasal dari Jawa, tepatnya Solo. Budaya keluarga kami tuh berbeda cukup banyak. Waktu awal-awal menikah, suamikulah yang banyak melakukan penyesuaian karena kami ternyata lebih sering berkumpul dengan keluarga besarku.

Penyesuaiannya seperti apa?
Orang Sumatra itu jika berbincang-bincang mengeluarkan suara yang keras. Padahal suamiku tidak terbiasa bersuara keras. Suaranya lembut, intonasinya berderap teratur dan hati-hati. Sedangkan di keluargaku, apa yang terlintas di kepala itu yang keluar dari mulut. Yang namanya saringan otak terlewati sih seringnya. Hahahahaha. Jadi yang penting ngomong dulu, mikirnya nanti saja ramai-ramai jika semua orang sudah mendengarnya.

Jika selesai makan, disana-sini akan terdengar suara orang bersendawa lalu mengucapkan alhamdulillah. Di Sumatra, sendawa yang dilanjutkan dengan hamdallah setiap selesai makan adalah sebuah penghormatan bagi yang punya rumah, sekaligus pujian bagi yang memasak. Yaitu semacam pengakuan bahwa makanannya nikmat sekali hingga bisa membuat perut terasa kenyang.

Di Jawa, bersendawa itu sebuah perilaku tidak sopan. Apalagi jika setelah makan mengelus-elus perut karena kekenyangan. Itu sebuah gambaran tentang kerakusan.

Di keluargaku, rasanya semua orang bebas saja berbicara. Malah kadang sepertinya semua orang ingin berbicara. Di keluarga suamiku, menyela pembicaraan orang itu tidak sopan. Jadi, harus tunggu sampai titik dulu baru boleh berbicara (dan kadang aku menahan gemas dalam hati menunggu antrian untuk berbicara... hahahahah.... karena aku takut yang aku bicarakan itu keburu habis timing-nya. Keburu kehilangan moment gitu deh).

Dan khusus di  Sumatra Selatan ada sebuah budaya yang spesial. Yaitu, membuat lelucon dari keburukan diri sendiri. Jadi, mentertawakan diri sendiri itu sesuatu yang biasa sekali.

Contoh:
"Pas aku naik mikrolet, semua bangku sudah terisi penuh. Terpaksalah aku duduk menghadap para hadirin. Itu loh, bangku di samping pintu masuk mikrolet. Mana badanku gemuk, keringatan, napas tersengal-sengal karena habis mengejar mikrolet. Eh, sakit perut. Duh. Pingin kentut banget rasanya. Gimana coba. Cari akal.... akhirnya, langsung saja aku nyalakan hape. Pura-pura nelepon siapa gitu. Lalu, pura-pura yang ditelepon tidak mendengar suaraku sehingga aku harus teriak. YANG ITUUU. Dan di saat bersamaan keluar deh gas dari perut, BRUSSHH.... tapi, orang nggak ada yang tahu dong. Karena suara teriakanku lebih kencang daripada suara brush kentutku. Lagian kan angin dari pintu masuk langsung mengacaukan aroma kentut. Jadi nggak ketahuan baunya dari mana."

Di Jawa, lelucon mentertawakan diri sendiri itu sebaiknya dihindari. Karena itu sama saja dengan membuka aib sendiri. Membuka aib sendiri itu terlarang dan memalukan.

Inilah penyesuaian-penyesuaian yang harus aku lakukan ketika sedang berkumpul dengan keluarga besar suamiku.

Kebetulan, di dunia maya, aku punya teman bernama Eni Martini. Dia seorang penulis serba bisa dan juga seorang wirausahawati sekaligus seorang blogger aktif. Blognya bisa diintip di Dunia Eni dengan tagline yang sama dengan judul blognya.

FYI, Eni Martini ini sudah pernah menulis aneka jenis genre novel. Mulai dari novel horor, novel komedi, novel remaja, dan terakhir dia mengukuhkan dirinya sebagai penulis novel genre Roman Lokal. Meski seorang novelis, Eni tetap bagus tulisannya ketika menulis cerita non fiksi. Itu sebabnya dia menyabet beberapa predikat juara di aneka lomba blog dan event kepenulisan lain. Di blognya Dunia Eni itu, Eni Martini banyak bercerita tentang keluarganya, terutama ketika dia mengurus anak bungsunya Pendar; serta kegiatan kepenulisan lain termasuk membuat cerpen yang tidak dipublikasikan ke media lain. Fiuh.  Bukan main ya. Hebat deh pokoknya.


Untuk urusan menghindari konflik dengan mertua dan Ipar, Eni memberikan tipsnya, berdasarkan pengalamannya ketika mengarungi biduk rumah tangganya bersama suami dan kini sudah dikaruniai 4 orang anak (1 orang sudah meninggal dunia ketika masih bayi). Beberapa novel fiksi Eni Martini tentang kehidupan rumah tangga berjudul Tetaplah bersandar di pundakku, Rainbow, dll.


TIPS MENGHINDARI KONFLIK DENGAN MERTUA DAN IPAR

1. Banyak perbaiki cara berkomunikasi.



"Aku orangnya cuek. Bamerku jawa banget, sering menegur jika kami bertemu. Dari cara bicaraku, cara duduk dan lain-lain. Semua dikomenin. Aku dipanggilnya menantu tomboy. Tapi semua bisa aku atasi alhamdulillah pelan-pelan. Caranya, dengan memperbaiki cara berkomunikasi, terutama kalo ketemu keluarga mertua."

2. Adaptasi itu harus.


"Tugasku adalah beradaptasi. Bamerku banyak aturan, aku orangnya santai. Menurutku aturan-aturan itu kadang membuat jarak tak bertepi. Tapi kan adaptasi tetap harus dilakukan. Ya memang sih, ketika melalui tahap melakukan adaptasi itu pasti deh ada adegan tangisannya. Itu sih manusiawi ya. Namanya juga beda banget. Tapi tetap kita harus melakukan adaptasi. Nanti, semua juga akan menjadi kenangan yang indah."

3. Yakinlah bahwa semua "akan indah pada waktunya".

"Semua tantangan ketika melakukan adaptasi menghadapi mertua dan ipar itu sebenarnya mirip seperti ketika kita main rafting. Seru dan mendebarkan. Dan tak terduga. Tapi tetap seru."

4. Perilaku Mertua dan Ipar itu sebenarnya adalah cerminan bagaimana kita sebagai menantu.


"Aku dekat dengan bamer dan bumer setelah pernikahan berjalan 5 tahun. Kenapa? Karena awalnya bumer dan bamerku memang baik padaku. Tapi, setelah lewat masa bulan madu, mereka sepertinya kaget karena mendapati ternyata menantu mereka tidak sesuai dengan harapan mereka. Jadilah ada penyesuaian-penyesuaian. Lewat komunikasi sih. Aku rajin mendengarkan mereka curhat dan bantu memecahkan masalah mereka. Ternyata lewat jalur komunikasi ini kami memperoleh kecocokan. Setelah itulah mereka sekarang baiiiikkk banget. Mungkin pada akhirnya mereka sadar, bahwa KAMU MENANTU THE BEST."

Dengan kata lain nih, menurut penafsiranku (ade anita) jika mertua dan ipar hubungannya kaku dengan kita, jangan-jangan itu karena kitanya sendiri juga melakukan komunikasi yang kaku dengan mereka. Atau, jika mendapati mertua dan ipar terus-menerus merongrong kita misalnya; jangan-jangan itu adalah cerminan bahwa kita tidak bisa bersikap tegas juga di hadapan mereka.

Itu sebabnya, jika mendapati hasil sebuah relasi yang terlihat salah, jangan salahkan orang lain dulu, tapi tengoklah ke diri kita sendiri. Apakah kita sudah melakukan yang terbaik juga?

5. Usahakan untuk memberi penjelasan pada mertua dan ipar tentang prinsip aturan kecil yang kita terapkan dalam rumah tangga kita.


"Suamiku selalu menasehatiku, sebagai anak kitalah yang harus belajar. Bukan orang tua kita yang kita tuntut untuk belajar. Perbedaan antara aku dan mertua seperti, aku tidak suka basa-basi dan aku nggak suka masak. Mertua terkaget-kaget melihatku seperti itu. Tapi, aku jelaskan ke mereka bahwa aku bukannya jutek orangnya cuma nggak suka basa-basi aja. Akhirnya mereka mau mengerti. Yang lain, aku dan suami kan menerapkan paham MITRA. Jadi, antara aku dan suami sejajar posisinya dan saling bantu-membantu. Mertua tentu saja kaget ketika melihat anak mereka harus mencuci pakaian dan piring sepulang kerja misalnya. Nah, aku jelaskan pada mertua bahwa kami menerapkan paham MITRA. Jadi, siapa yang punya waktu luang dan sempat, bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Tidak ada keharusan ini kewajiban anu, itu kewajiban itu. Jadi, tolong menolong saja. Mertua akhirnya menerima dan mengerti tentang paham ke-mitra-an dalam rumah tanggaku ini."

6. Tunjukkan bahwa kita sayang pada mereka.

Dalam sebuah rumah tangga, yang namanya konflik antara mertua vs menantu itu terjadi karena mertua dihadapkan pada kehadiran seorang yang asing dan selama ini berada di luar penglihatan mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka khawatir. Apakah anak kandung mereka bisa bahagia di samping pendampingnya ini? Apakah anak kandung mereka tidak akan mendapatkan kesulitan ketika berdampingan dengan pasangannya ini?

Hal ini terjadi karena biar bagaimanapun, yang namanya "Cinta" itu adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Cinta itu tidak bisa dilihat dan tidak berbentuk. Cinta adalah sesuatu yang hanya bisa dirasakan. Itupun harus dibarengi dengan sebuah keyakinan. Itu sebabnya, kita sebaiknya menunjukkan rasa sayang kita pada mertua dan ipar agar mereka yakin bahwa kita tulus menyayangi mereka karena kita mencintai suami kita yang notabene adalah anak mertua dan saudara kandung ipar kita.

Eni Martini memberi contoh dalam hal ini:
"Kalau ada masalah apa-apa, aku berusaha untuk datang paling dulu guna menawarkan bantuan. Meski bantuannya itu bantuan sederhana. Aku memang bukan tipe wanita jawa kebanyakan. Tapi aku memang orangnya rame, familiar, manja. Butuh waktu belajar  banyak untuk jadi lebih dewasa. Tapi kalau ada yang curhat, aku terbuka dan mau mendengar. Jadi jika mertua kena sesuatu, aku berusaha untuk datang pertama. Dengan begitu mereka jadi sayang sama aku karena mereka akhirnya yakin bahwa aku juga sayang sama mereka dan aku memang cinta dengan anak mereka, yaitu suamiku. Gitu."

Nah.
Itulah Eni Martini yang berbagi pengalaman tentang Tips Menghindari Konflik dengan mertua dan ipar. Teman-teman punya tips tambahankah?

Catatan: bagaimana belajar untuk menjadi Mertua yang Baik? Mungkin kita akan membahas topik ini lain kali ya. Seru juga kayaknya.

14 komentar:

  1. adaptasi, penting nih. Thanks mbak Ade sharingnya

    BalasHapus
  2. Waaah, Mbak Eni menantu idaman 😍😍

    BalasHapus
  3. Aaaaakkkkk dapet tips buat mencuri perhatian mertua.. xixixixix
    Perlu belajar banyak dari tips pemberian mbak Eni ini…
    Makasih untuk sharingnya ya mbak Ade… hhheee

    BalasHapus
  4. Waduh ini saya bgt, Mba, masih adaptasi dgn mertua krn beda life style, hahahaha. Tercerahkan dgn adanya postingan ini. Makasih, Mba.

    BalasHapus
  5. aku belum nikah dan blum punya mertua, tp tlisan ini brmanfaat untk pmblajarn. makasi mbk :)

    BalasHapus
  6. Yakinlah bahwa semua "akan indah pada waktunya". saya adalah salah satu orang yang sangat mempercayai hal ini Mba Ade :)

    BalasHapus
  7. Wah, tema kita hampir samaan mbak :D
    Ini catetan banget buat saya yg sedang akan segera punya mertua dan ipar :)

    BalasHapus
  8. Meski saya dan mertua berasal dari lingkungan yang mirip, tetap saja kami harus saling menyesuaikan diri. Yang paling penting, ketika kita berbeda pendapat dg mertua, kita tetap harus menghormati keduanya.

    BalasHapus
  9. Perilaku Mertua dan Ipar itu sebenarnya adalah cerminan bagaimana kita sebagai menantu ---- saya setuju banget sama point ini mbak Ade, makasih yaaaa tipsnya

    BalasHapus
  10. hiks...saya agak beda mba ade...hampir 10 tahun ini hubungan menantu mertua "adem ayem" saya banyak menerima dan menyesuaikan sm keluarga mertua n suami, berusaha memendam apa yg buat sy kurang sreg... ya liat sisi positivenya aja...
    tp sy pernah smp pd satu kondisi dimana sy sdh tdk tahan dg sesuatu yg selama ini kurang sreg tp sy selalu sy abaikan...akhirnya terjadi "kemacetan komunikasi"!
    tp saya juga yakin semua akan indah pada waktunya.

    BalasHapus
  11. Hahahahaha.. Trik kentutnya okeee jugaaa :). Aku karena berdua dari Sumatera jadi lumayan kompak mba, tapi karakter dan kebiasaan keluarga asliiii berbeda jauh. Jadi tetap butuh penyesuaian. Kalau gesekan memang tidak bisa dihindari ya.. Adaa aja yang ngg klop. Yang penting niat kita ya mba.. Dan saling menghormati itu juga sangat penting

    BalasHapus
  12. Buat urang sunda, kentut atau sendawa juga ga sopan, mbak. Sementara aku kalau masuk angin suka kentut gede, tapi di rumah aja suka keras (ga selalu sih, serius :P). Kalau lagi sama orang banyak suka malu Tapi pernah tuhpulang, dan jalan kaki masuk komplek. Sepi sih, ga ada orang di sekitar eh tiba-tiba aku kentut keras wkwkwk... Ya lempeng aja. Palingan yang di dalam rumah yang aku lewatin yang bisa denger. Btw asik banget itu temennya punya mertua hobi jalan-jalan :)

    BalasHapus
  13. Tegkyu ulasannya mba Ade..jadi kangen Bamerku yang kini berada di Riau

    BalasHapus
  14. sepertinya bukan cara menghindari ya, karena yang namanya konflik itu pasti terjadi pada siapa dan kapanpun gimanapun kita menghindarinya pasti ada konflik. mungkin lebih tepatnya meminimalizir kalau menurut saya sih :-) tapi terimakasih mba inspirasi baru ini ..

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...