badge

Rabu, 06 April 2016

Kesulitan Belajar akibat Disorientasi Arah

[Parenting] Anak kalian sulit belajar membaca? Atau sulit belajar menulis? Atau tidak bisa berhitung dengan benar? Atau malah mengalami kesulitan mempelajari calistung alias baca-tulis-berhitung? Sekarang usianya berapa tahun? Sudah kelas berapa dia sekarang?

Jika usianya masih usia pra sekolah atau usia Taman kanak-kanak, atau bahkan baru duduk di kelas 1 (satu) tidak perlu khawatir. Diajari saja terus dengan telaten. Anak-anak memang memerlukan waktu dan kesabaran dalam membimbimnya untuk mempelajari ke 3 aktifitas belajar tersebut.

Lain ceritanya jika anak kalian sudah berusia lebih dari 8 tahun dan sudah duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Jangan-jangan, dia mengalami kesulitan belajar?
Kesulitan belajar pada anak-anak itu banyak. Dan sebagai anak-anak, mereka sendiri bukannya tidak mau berterus terang pada orang tuanya, tapi lebih karena mereka memang tidak mengetahui mengapa hal itu terjadi pada mereka. 

Anak-anak memang sering belum mengerti bahwa mereka sebenarnya memiliki sebuah masalah. Atau belum bisa membedakan antara sesuatu yang dianggap bermasalah dan sesuatu yang tidak dianggap bermasalah. Anak-anak cenderung untuk menerima sebuah kondisi dan berusaha memahaminya dengan caranya sendiri.

Contoh:
- Oh, jika deretan huruf ini aku baca DIDU maka aku bakalan dicubit ibu, tapi ibu akan tersenyum jika aku membaca deretan huruf ini sebagai DIDA.
- Oh, untuk bisa mendapatkan uang itu, paman itu akan menciumku. Ya sudah, tidak mengapa deh dicium sebentar. Tidak sakit ini.
- Oh, jika aku menangis maka ibu akan membelikanku mainan itu. Ya sudah, aku menangis saja deh agar dibelikan mainan. 

Konsep benar-salah, boleh-tidak boleh, dosa-pahala, surga-neraka, baik-tidak baik, semua dipahami dengan cara mengamati perilaku yang ditampilkan oleh orang-orang di sekeliling mereka. 

Berbeda dengan kegiatan belajar calistung. Konsep belajar calistung dipelajari anak dengan cara mengenal aneka macam simbol lalu memadu-padankan mereka sehingga membentuku simbol baru yang benar-benar berubah dan berbeda dengan simbol sebelumnya.

Contoh:

simbol 1 dibaca satu. Simbol 2 dibaca dua.
Ketika simbol 1 diletakkan di depan simbol 2 maka dia bukan dibaca satu dua tapi menjadi dua belas. 
Ketika simbol 2 diletakkan di depan simbol 1 maka dia bukan dibaca dua satu tapi berubah menjadi dua puluh satu. 

Jika diperhatikan, semua simbol angka dan huruf serta semua lambang huruf dan lambang bilangan tersebut, harus dipahami bahwa mereka akan berubah bunyi dan makna ketika berubah arah.

Contoh:

huruf jika diputar hingga menghadap ke arah sebaliknya akan berubah menjadi huruf d.
Angka 6 jika diputar hingga menghadap ke bawah akan berubah menjadi angka 9

Dan begitu seterusnya. 
Terlihat mudah ya.
Tinggal dibalik kiri kanan saja.
Tapi, persoalan mudah ini akan menjadi sulit ketika harus dipahami oleh anak yang mengalami kesulitan belajar akibat memiliki disorientasi arah seperti aku.

Jadi, jika anak kalian sudah lewat usia wajar untuk duduk di bangku kelas 2 SD dan masih juga belum bisa calistung dengan benar, mungkin ada baiknya mulai diperhatikan. Jangan-jangan mereka mengalami masalah kesulitan belajar.

Kesulitan belajar pada anak itu ada banyak. Ada yang disebabkan oleh masalah eksternal ada yang disebabkan oleh masalah internal. Eksternal misalnya lingkungan yang kurang mendukung dia untuk bisa belajar dengan baik. Seperti orang tua yang sering mengajak anak bepergian; atau orang tua yang terlalu disiplin hingga anak ketakutan dalam belajar, atau malah orang tua yang kelewat tidak acuh sehingga anak tidak punya kesadaran untuk belajar. Jadi main saja kerjanya sepanjang hari. 

Sedangkan masalah internal, terbagi oleh berbagai macam faktor. Mungkin dia memang memiliki IQ yang borderline (rendah), atau punya masalah lain. Salah satunya adalah memiliki masalah disorientasi arah. Tidak bisa membedakan arah kiri dan kanan. 

Disorientasi arah ini, bukan hanya sekedar tidak tahu arah kiri dan kanan saja. Tapi juga disertai dengan kekurangan lain, seperti sulit mengingat aneka macam simbol lain. Termasuk disini, nama orang, wajah orang, nama jalan, susunan bangunan, susunan rumah, peta dan informasi lain. 

Aku tidak bisa membaca, menulis dan berhitung karena tidak bisa membedakan hal-hal seperti itu. Dan aku juga dikaruniai memori jangka pendek yang cepat sekali terhapusnya. Itu sebabnya aku tidak bisa membaca, menulis dan berhitung hingga duduk di kelas 2 SD.

Setelah melewati masa belajar khusus, akhirnya aku bisa lancar calistung baru di kelas 3 SD. Seterusnya, adalah perjuangan untuk menghafal segala macam simbol-simbol tersebut agar rekat dalam ingatan selamanya. 

Setelah berhasil, ternyata anak dengan masalah disorientasi arah tetap tidak terbebas dari masalahnya. Aku tetap tidak bisa membedakan arah kiri dan kanan. Itu membawaku kesulitan untuk masuk ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh semua murid di sekolah. Ekstra kurikuler apa kira-kira yang tidak ada keharusan harus paham kiri kanan.

Pramuka? Tidak bisa, karena ada pelajaran morse.
PMR? Ada pelajaran memberikan pertolongan pada kecelakaan dan itu banyak mengandalkan pada kemampuan untuk dengan segera tahu arah kiri dan kanan.
Olahraga? Upacara? Wah. Bisa kesal wasit dan kakak pembinanya jika aku salah terus mengambil arah kiri dan kanan.
Pecinta alam dan keamanan? Orang tuaku sih yang pasti nggak setuju.
Akhirnya, hanya tersisa satu cabang ekstra kurikuler yang bisa aku masuki: Kerohanian Islam alias rohis.

Tapi, jika hanya duduk mendengar kajian saja, aku merasa tidak memperoleh keterampilan tambahan. Jadilah aku memilih sub seksi Majalah Dinding di Rohis ketika aku duduk di bangku SMA.

Pengelola Majalah Dinding 


Jika kalian melewati majalah dinding di sekolah, apa yang kalian lihat? Deretan aneka karya yang dikirim oleh murid-murid di sekolah tersebut. Juga aneka artikel populer yang isinya tidak panjang. Semua tertata dengan rapi hingga enak dipandang mata. Kadang, penataannya lucu, kadang girly banget, kadang terlihat datar. Seperti halnya media cetak lain, majalah dinding itu sebenarnya koran yang ditempel di dinding. Hanya saja, majalah dinding itu hanya menampilkan satu halaman saja. Tidak banyak.

Tahukah kalian bahwa team kreatif majalah dindinglah yang telah bekerja keras menata isi majalah dinding tersebut agar sedap dipandang mata dan disukai oleh yang membacanya sambil berdiri.

Majalah dinding yang dikelola dengan baik, biasanya menjadi hiburan tersendiri bagi orang yang lewat di hadapannya. Mereka akan berhenti sejenak sekedar untuk membaca tulisan yang tersaji di majalah dinding tersebut.

Jika majalah dinding ditata datar dan membosankan, maka orang yang lewat di depannya tidak tertarik untuk mampir dan membacanya.

Nah, team kreatif majalah dindinglah yang melakukan pekerjaan menata itu semua. Waktu SMA dulu (aku dulu sekolah di SMA 8 Bukit Duri, Jakarta Selatan), aku masuk dalam jajaran team kreatif majalah dinding Masjid di SMA 8. Ekskul Rohis SMA 8 memang diberi tanggung jawab untuk mengelola majalah dinding yang dimiliki oleh Masjid yang ada di dalam lingkungan sekolah. 

Aku senang sekali berada di dalam team kreatif majalah dinding tersebut.
Mengapa?
Karena aku diajarkan bagaimana menampilkan aneka macam variasi huruf sekedar agar tampilan majalah dinding tidak membosankan. 

Jadi, untuk tulisan yang sama, jika setiap hurufnya diberi aksen yang berbeda maka akan tampil kesan yang berbeda. 

Contoh:


Inilah tantangan buatku. Tidak perlu harus menguasai arah kiri dan kanan terlebih dahulu karena yang ada adalah kreatifitas.

- Ini ada puisi. Kita beri hiasan balon yuk.
- Ini ada cerpen, ilustrasinya apa ya enaknya? Gimana kalau dikasi gambar pohon yang daun-daunnya berguguran?

Satu hal yang merupakan tantangan bagi kami adalah, semua ilustrasi yang diberikan tidak boleh menyerupai bentuk makhluk hidup. Boleh diberi awan, daun, bunga, balon, pelangi, bendera, tanah, mobil, atau apa saja yang penting bukan ilustrasi yang menyerupai makhluk hidup.

Ini kan majalah dinding punya masjid, sedangkan gambar yang menyerupai makhluk hidup tidak dikehendaki oleh Masjid SMA 8. 

Tapi larangan ini membuat aku menjadi terpancing untuk kreatif. Tidak mengapa ilustrasinya tidak sempurna, yang penting enak dipandang mata. 
Tidak mengapa kualitas ilustrasinya bukan gambar naturalis, yang penting bisa dipahami dan sekaligus menghibur orang yang melihat dan membaca majalah dinding tersebut.

Mungkin... kreatifitasku dalam menggambar saat menghias blogku, aku dapat karena pengalaman menghias majalah dinding ketika aku remaja dulu.
Allahu'alam.

9 komentar:

  1. belum punya pengalaman mba ade.. anak baru 1 tahun.. tapi dicatet di ingetan majalh dindinnnya..biar bisa buat ntar--ntar..

    tapi dulu aku 7 tahun udah bisabaca..gak pernah TK JUGA...ga tau kok bisa he2..mungkin ibu aku dulu yng ngajarin..

    BalasHapus
  2. Wah hebat ya bun pengalamannya.

    BalasHapus
  3. Aku disorientasi arah, dilengkapi dengan jalan yang seperti bebek. Kombinasi sempurna untuk jadi bahan tertawaan ketika jadi petugas upacara :'(

    BalasHapus
  4. kayaknya saya laki sendri yang baca ini -_-

    BalasHapus
  5. waktu smp saya beberapa kali isi majalah dinding sekolah juga :)
    mas Danar saya temeni nih (nanggapi comment diatas saya)
    saya laki, bapak pula hehehe
    salam sehat dan sukses mbak Anita

    BalasHapus
  6. Patut ditiru nih
    Terima kasih inspirasinya
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  7. Aku dulu juga nulis mading, mba
    Seru ya masih ada mading buat melatih menulis :)

    BalasHapus
  8. Kalau temanku malah benar-benar tidak tahu arah. padahal dia sudah dewasa dan beristri. Yang dia tahu cuma kanan-kiri, sama arah ke laut dan ke gunung.

    BalasHapus
  9. baca ini jaid inget dulu beberapka kali ngajar di sekolah inklusi,kebetulan aku ambil psikologi pendidikan. Seru dan seneng aja rasanya kalo belajar sama anak2 khusus *baca: anak kesulitan belajar*. Harus ekstra sabarr hehehe

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...