badge

Selasa, 29 Maret 2016

Children Are Great Imitation

[Parenting] Masih ingat pepatah yang mengatakan bahwa buah itu akan jatuh tidak jauh dari pohonnya? Arti dari peribahasa itu antara lain adalah, bahwa anak akan mengikuti orang tuanya.

Tapi, benarkah selalu demikian kondisinya?

Kebetulan, aku punya 3 orang anak.
Tentu saja, kita tidak bisa mengatakan mana anak yang sama dengan kita dan mana anak yang berbeda dengan kita.

Kenapa? Karena manusia itu adalah individu yang unik. Mereka bisa berubah-ubah dalam banyak hal. Perubahan itu bisa meliputi banyak hal. Perubahan dalam hal selera, perubahan dalam menentukan sikap, perubahan dalam bereaksi menghadapi sesuatu, perubahan dalam hal kecenderungan untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu.

Dan demikian pula dengan seorang anak.

Aku memahami peribahasa itu sebagai sesuatu dimana orang tua, sebagai sosok yang pertama kali berada di sisi seorang anak ketika mereka tumbuh dan berkembang, adalah sosok yang akan memberikan contoh dan pelajaran bagi anaknya.

Dari orang tualah anak pertama kali belajar berbicara. Pertama kali diajari bereaksi terhadap sesuatu. Pertama kali diperkenalkan dengan kebiasaan. Dan pertama kali diperlihatkan cara menghadapi sesuatu dalam hidupnya. Hal-hal seperti inilah yang tanpa sadar, diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.

Lalu anak tumbuh dan berkembang. Mereka bertemu dengan orang lain, dengan lingkungan baru dan juga mendapat ilmu pengetahuan baru. Semua hal-hal baru ini, dipersandingkan dengan segala sesuatu yang dia dapat dari orang tuanya sebelumnya. Dibandingkan satu persatu mana yang akan dipertahankan dan mana yang akan diperbaharui atau bahkan ditinggalkan. Inilah perubahan yang terjadi dalam kepribadian seorang anak.

Itu sebabnya, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa anak kita untuk mengikuti kehendak kita. Karena anak-anak kita memang akan memiliki kehendak tersendiri. Hanya saja, kita bisa meletakkan dasar yang paling utama di dalam diri anak. Yaitu sebuah kenangan dan nasehat.

Kenangan dan nasehat inilah yang akan selalu menjaga seorang anak ketika dia tumbuh dan besar agar tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh orang tuanya.

Kenangan dan nasehat seperti apa yang sebaiknya diberikan pada anak? Kenangan dan nasehat dalam bentuk prinsip-prinsip beragama dan beretika. 

Anak bisa jadi apa saja. Atau mau jadi seperti apa saja. Insya Allah kita sebagai orang tua akan lebih tenang jika sebelumnya kita sudah berusaha membekali anak-anak kita dengan prinsip-prinsip beragama dan beretika yang benar. 



Anakku yang bungsu, karena dia yang paling sering bertemu denganku saat ini (mungkin karena dia masih SD) saat ini bercita-cita untuk menjadi seorang penulis sekaligus dokter anak atau Guru untuk anak-anak (cita-cita yang ini masih cair sekali sih sebenarnya). Aku akan menyorot keinginan dia untuk menjadi penulis dulu.

Kebetulan, karena aku seorang penulis, maka sebisa mungkin aku usahakan untuk mengarahkan dia agar bisa menjadi penulis yang baik. Mulai dari bagaimana cara mencari ide untuk menulis sesuatu, mengumpulkan ide-ide tersebut, lalu menyaringnya satu demi satu agar ide itu menjadi benar-benar bulat dan mudah untuk diterapkan. Hingga beranjak pada kegiatan menyusun sebuah tulisan agar benar-benar menjadi tulisan yang bisa dibaca dan nyaman dibacanya.

Aku senang karena dari 3 orang anak, akhirnya ada juga yang mengikuti jejakku sebagai seorang penulis. Menjadi penulis itu, jika boleh jujur adalah profesi yang menyenangkan. Khususnya, jika digeluti oleh seorang perempuan. Karena kita sebagai seorang perempuan bisa tetap menjalankan kewajiban kita sebagai seorang ibu dan istri di satu sisi, tapi sekaligus bisa tetap meng-aktualisasikan diri sebaga seorang penulis di sisi yang lain. 

Kebetulan, teman bloggerku banyak yang menjadi seorang ibu rumah tangga yang juga seorang penulis. Salah satunya bernama Ernawati Lilys. Pemilik blog dengan nama blog nanya sendiri: ernawatililys.com ini, adalah seorang ibu dari 2 balita yang aktif menulis blog sekaligus menelurkan banyak buku. 

Ernawati Lilys ini sering ikut berbagai event kepenulisan seperti lomba, kuis dan audisi antologi. Buku-bukunya pun terus bermuncullan. Menurut Erna, yang menjadi motivasi dia dalam mengikuti semua itu adalah karena ingin belajar dan menjalin pertemanan. Dari aneka lomba yang dia ikuti dia mendapat teman baru. 

Ide menulis seorang Erna, didapat dari kejadian sehari-harinya. Seperti bukunya yang berjudul "Kuliah vs Kuli-ah" didapat ketika dia menjalankan kerja sambil kuliah. Buku ini ditulis oleh 2 orang temannya yang lain. 

Atau buku untuk anak yang berawal dari anaknya yang selalu minta didongengin setiap kali ingin tidur. Kebiasaan anaknya ini membuat dia terpikir untuk menulis ulang semua dongeng yang dia ceritakan pada anaknya tersebut dalam bentuk buku. 

Itulah salah seorang blogger dan penulis yang aku kenal, Ernawati Lilys.

Kembali ke anakku sendiri. 

Bagaimana memotivasi anak agar hanya mengikuti hal-hal yang baik saja dari orang tuanya?


Ada caranya, dan itu amat mudah. Yaitu dengan terus menerus menasehati dia apa itu baik dan buruk. Dan jujur mengatakan jika sesuatu yang kita lakukan buruk, maka katakan padanya bahwa itu buruk. Jadi sebaiknya anak tidak mengikuti apa yang kita lakukan.

Contoh:
Kebetulan karena putri bungsuku ingin jadi menulis ya. Setelah aku menceritakan enaknya jadi penulis. Aku juga jujur mengatakan padanya apa sisi tidak enaknya jadi penulis. Salah satunya, tentu saja karena penghasilan seorang penulis itu tidak menetap dan sulit diprediksi. 

Juga, kebiasaan banyak penulis yang sebaiknya dihindari yaitu: kurang tidur dan perhatian yang teralih karena memikirkan tulisan yang sedang diselesaikannya.

Nanti, seiring dengan perjalanan waktu, kita dan anak kita bisa saling memberi dan mencari solusi apa yang sebaiknya dilakukan agar kebiasaan buruk yang pernah dilakukan oleh orang tuanya tidak dilakukannya.

15 komentar:

  1. Wah, anakku baru 2, Mba. Masih mikir mau nambah apa ngga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tambah saja. Jika dirimu yakin bisa menjadikan anakmu insan yg berkualitas maka banyak anak lebih baik. Insan berkualitas itu kian sedikit jumlahnya.

      Hapus
  2. Anak-anak tergantung gimana kitanya yah mba, bener banget great imitation.
    Oia, masih usia 2 thnan anakku.. Adeknya masih di dlm perut ^^

    BalasHapus
  3. betul mba..contoh yang baik sangat diperlukan oleh anak-anak..mereka benar-benar copy cat :)

    BalasHapus
  4. kalau anak saya setiap kali ditanya mau jadi apa kalo besar nanti jawabannya selalu sama mau jadi pilot :)

    BalasHapus
  5. iya juga ya... *lalu berusaha inget2 utk diri sendiri kelakuan jelek apa dan kelakuan bagus apa dari ortu yg saya tiru - sadar ataupun gak sadar*

    BalasHapus
  6. Saya belum punya anak, tapi artikel ini sangat mengedukasi. Terima kasih Mbak :)

    BalasHapus
  7. Kalau dengar kata anak,ada sumbu semangat dalam kalbu yang membuat hidup semakin bersemangat. terima kasih kak Ade anita.salam kenal buat anak-anaknya juga ya:)

    BalasHapus
  8. semoga anak-anak mbak Ade anita juga bisa mnjadi penulis yng handal seperti ibunya ya, hee

    BalasHapus
  9. anakku baru 1 dan masih kecil... meski banyak belajar dari mama-mama yang sudah senior... :)

    BalasHapus
  10. keren bangat artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  11. aduh nasehatnya kena banget deh, suka begadang eh mikirin tulisan mulu hahhaha....

    BalasHapus
  12. anak pertamaku, maju mundur kalo diajak menulis :)

    BalasHapus
  13. nnti aku mau bebasin anakku jd apa yg dia mau, tp tetep kudu dibimbing

    BalasHapus
  14. menjaga anak sekarang super duper susaaahhh
    tapi seorang ibu adalah seorang manusia super
    dia akan tau bagaimana cara menjaganya.... tentunya dg memberi contoh nyata

    terima kasih sharingnya ya mbak

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...