badge

Kamis, 21 Januari 2016

Permainan Masa Kecilku: Gasing

[Parenting]: Suatu hari ketika aku sekeluarga berlibur ke kota Malang, Jawa Timur. Kejadiannya di tahun 2001. Jaman aku masih langsing kayak Peri. Kami naik mobil dari Jakarta ke Malang, lebih tepatnya sewa mobil untuk beberapa hari include supir. Suami seminar dan istri bersenang-senang di tempat rekreasi keluarga. Ya mau gimana lagi? Masa ikut gerecokin acara seminar?

ini foto waktu ke Malang dimana aku  masih muda dan langsing. Tahun 2001


Ketika mampir ke sebuah toko Souvenir setelah berjalan-jalan di perkebunan apel, suamiku menemukan mainan Gasing dari Bambu.

"Wah.. ini nih, mainan waktu ayah masih kecil." Suamiku langsung berseru kegirangan. Persis seperti seorang anak yang disuruh ibunya beresin kamar karena lagi musim demam berdarah jadi segala yang bisa jadi sarang nyamuk harus dienyahkan. Nah, pas lagi beresin kamar itulah tiba-tiba anak itu menemukan mainan kesayangan dia yang selama ini tertimbun mainan lain. Matanya berbinar-binar tanda gembira, mulutnya berdecak takjub, dan wajahnya tuh berekspressi 'ya-ampun-akhirnya-gue-nemu-mainan-ini-juga-dan-itu-berarti-bukan-temen-sekelas-gue-yang-ngambil-ini-mainan-padahal-dia-udah-gue-ceburin-dia-ke-sumur.'

Melihat gasing dari bambu itu, aku pun ikut melonjak gembira.
"Iya benar. Ini mainan gue juga jaman gue masih kecil."

Dan tebak reaksi suamiku apa? Dia langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arahku dengan pandangan bingung.

"Emangnya kita seumur De waktu masih kecil dulu? Kan jaman gue masih kecil, elo lebih kecil lagi?"

Lalu kami saling mengakui bahwa meski ada rentang waktu yang membentang tapi cinta tidak bisa dikalahkan. Eh... apa sih? Kok jadi cerpen? Maksudku, aku dan suamiku tuh sering deh saling mengklaim bahwa ada permainan yang aku dan dia pernah mainkan ketika kami masih kecil dahulu. Saling klaimnya, umumnya karena suamiku tidak percaya permainan ketika dia masih kecil masih beredar di jaman aku masih kecil. Padahal jarak usia kami hanya 7 tahun.

Mungkin karena aku dan suamiku sama-sama produk generasi 80-90-an dimana tidak ada yang namanya gadget, handphone, komputer, acara televisi, dan sebagainya. Jadi, ada permainan yang terus bertahan meski melewati beberapa generasi.

Aku dan suamiku adalah generasi yang menghabiskan waktu bermain di halaman rumah ramai-ramai bersama dengan teman-teman yang biasanya berasal dari teman satu sekolah atau tetangga sekitar rumah. Baju basah kuyub dan rambut lepek karena keringat, wajah berdebu, tangan kotor, kaki tidak bersepatu, lutut berdarah karena terjatuh, bagian dudukan pantat di celana yang kotor karena memang dipakai untuk duduk di atas tanah semua kami lalui.

Waktu masih kecil dahulu, ada banyak sekali permainan yang aku mainkan bersama dengan teman-teman. Ada petak umpet, galasin, petak jongkok, bola gebok, ular naga panjangnya, nenek gerondong, masak-masakan, becak-becakan, dan perang-perangan. Tentu saja semua permainan ini bakalan seru ketika dimainkan bersama dengan teman-teman di halaman rumah.

Lalu bagaimana jika hujan turun dan kami tidak bisa berasa di halaman rumah yang luas? Nah, ada permainan yang bisa dimainkan di dalam rumah sebenarnya. Seperti main karet, bekel, congklak, gambaran, dan permainan yang menggunakan papan permainan seperti ular tangga, ludo, halma.

mungkin ada yang mau membaca tulisan tentang hal itu di sini:

Main Karet Yuk
atau
Perkembangan anak lewat permainan bola bekel

Kembali ke permainan yang diperebutkan klaimnya oleh suamiku dan aku.

Ternyata, ketika kami saling mengklaim bahwa permainan gasing itu ada di jaman ketika kami masih kecil dahulu, anak-anak kami tidak tahu tentang apa itu permainan gasing. Bagaimana cara memainkannya, bagaimana cara kerjanya kenapa dia bisa berputar, dan sebagainya.

Akhirnya, aku dan suami pun sepakat untuk membeli gasing tersebut. Anak-anak kami, mungkin adalah generasi masa depan dimana di jamannya ada banyak permainan tradisional yang sudah punah. Tapi, sebagai orang tuanya, aku merasa ingin memperkenalkan dia pada beberapa permainan tradisional.

Beberapa pertimbangan mengapa permainan Tradisional Aku rasa mengungguli Permainan Digital (modern):


1. Permainan tradisional, banyak yang sebenarnya melatih gerakan motorik halus dan kasar anak-anak secara langsung.

Jadi, bukan hanya gerakan jempol dan telunjuk saja yang dilatih seperti ketika anak memainkan permainan digital di handphone dan tabblet seperti jaman sekarang. Tapi juga keseluruhan gerakan jari-tangan-tubuh-kaki. Keseluruhan. Itu sebabnya permainan tradisional sering lebih menghasilkan keringat daripada permainan digital.

2. Permainan tradisional, juga melatih koordinasi otak dan panca indra anak di saat yang bersamaan.

Seperti bagaimana mengatur keseimbangan tubuh ketika bermain karet, atau bagaimana memerintahkan kaki agar mau berlari gesit ketika main galasin.

3. Permainan tradisional, pada umumnya dibuat dari bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Sampah yang dihasilkan dari permainan tradisional umumnya bisa didaur ulang loh.

4. Permainan tradisional, mengajarkan cara anak untuk bersosialisasi dengan orang lain dan belajar prinsip-prinsip pembentukan karakter yang baik. 

Seperti sportif ketika bertanding, tidak sombong agar tidak dijauhi teman, mau mengalah demi kepentingan orang banyak, tidak egois karena jika seorang diri permainan tidak akan jadi asyik.

Itu sebabnya, akhirnya aku dan suami sepakat untuk memperkenalkan anak-anak kami pada permainan ketika kami masih kecil dahulu.




Jadi, di rumah aku punya beberapa bentuk gasing seperti gasing yang aku mainkan ketika aku masih kecil dahulu.



 Masalahnya, mungkin karna umur ya (hehehehe), ada satu permainan gasing yang aku lupa bagaimana cara memainkannya dahulu. Dan suamiku sepertinya tidak mengalami masa kecil dengan permainan gasing jenis yang satu ini. Jadi dia tidak tahu bagaimana cara kerjanya. Gasing yang ini nih:




Aku ingat sih, itu nanti hasilnya rodanya berputar dan si helikopter bakalan maju ke depan. Nah, nanti teman kita yang punya helikopter yang sama atau bentuk gasing yang sama, akan melepas juga gasingnya dan sengaja dibenturkan ke gasing kita. Gasing yang roboh karena ditabrak dinyatakan kalah.

Yap. Permainan gasing itu, memang permainan yang punya dua sisi. Di sisi lain, dia asyik jika dimainkan seorang diri. Bunyinya terdengar merdu sekali. Tapi, ketika dimainkan bersama dengan teman, maka cenderung ada adegan saling adu gasing.

Ketika aku sudah berumah tangga dan anakku masih kecil, ada sih film seri anak-anak berjudul Bey Blade. Nah, ini sebenarnya juga permainan adu gasing tapi versi lebih modern gasingnya. Ada arena untuk mengadu gasing juga kan di Bey Blade itu? Persis sama dengan permainan gasing tempo dulu.

Apapun permainannya, akan lebih baik jika anak memainkannya dengan pengawasan orang tua dan tentu saja jika ada kesempatan,  orang tua boleh juga menyisipkan pesan-pesan untuk pembentukan karakter anak.

Pembentukan karakter anak lewat permainan itu sesuatu yang efektif sekali menurutku. Karena anak sedang senang-senangnya dengan permainan yang dia mainkan, jadi nasehat orang tua bisa langsung masuk ke benaknya. Dengan catatan: nasehatnya tidak berlebihan dan luber kebanyakan.

-------------
"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa


31 komentar:

  1. Aahhh helikopter dari seng….aku ingat permainan ini….lucu..dan seru, permainan ini menggunakan logika fisika, ketika roda seng berputar..maka akan menghasilkan energi getaran yang bisa membuat helicopter seng ini bergerak maju…,
    Kalo gasing..aku sukan yang berujung runcing..dan bisa di adu dengan gasing lain….sampe pecah berantakan…
    Selamat berlomba…smoga menjadi yang terbaik…keep happy blogging always..salam dari Makassar – Banjarbaru :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dililitnya dimana ya talinya? Kok ya aku lupa hahaha

      Hapus
  2. Dulu pulang sekolah selalu beli gasing di kang mainan, sampek punya 10 kayaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak amat...dijualin bisa tuh

      Hapus
    2. Banyak amat...dijualin bisa tuh

      Hapus
  3. Pernah main gasing tapi bukan gasing tradisional kayak gitu. Dulu terkenalnya kan Beyblade, haha

    BalasHapus
  4. Waktu jaman SD dulu pernah main gasing yang kayak gitu di rumah. Alhasil dimarahin gara-gara gasingnya itu bikin laintai rumah baret, haha. Gak ngerti cara mainnya main banting aja LOL

    BalasHapus
  5. Itu yg helikopter prinsipnya sama kaya gasing mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..jadi ada tali yang dililit di apanya gitu nanti pas talinya ditarik rodanya akan berputar. Helikopternys maju deh kayak jalan gitu. Suaranya kayak motor. Masalahnya, dulu aku tau dimana ngelilitinnya tapi kok sekarang lupa ya

      Hapus
  6. ak juga suka gasinggg... setuju bgt tu mb manfaat permainan tradisonal..

    BalasHapus
  7. Main gasing dan yoyo aku ga becus ahahaha tapi helikopter seng itu lumayan, lah. Aku juga sering ngalamin celana yang kotor bagian pantatnya karena sering dipake duduk-duduk. Pulang sekolah kalau abis olahraga ga ganti. Males ganti hahaha. Hasilnya baju olahragaku cepet banget bladusnya :D

    BalasHapus
  8. Kalo gasing bambu aku gatau, tau nya gasing yang kayu bawahnya paku. Trus berubah jaman jadi beyblade *lupa deh tulisannya gimana

    BalasHapus
  9. Faiz baru mengenal nama gangsing jaman dulu, dari cerita neneknya. Kalau sekarang gangsingnya pakai besi, ditarik, kemudian diletakkan di lantai, atau alat yang dipegang.... berputar dech.

    BalasHapus
  10. Aku jarang sih main gasing seringnya congklak sama main bekel. Eh Ular tangga, monopoli dan halma juga. Wuaah kangen main itu lagi.

    BalasHapus
  11. ah jadi ingat jaman kecil. Aku juga sering beli gasing yang model motor2an gitu mbak. Betul juga kalau permainan tradisional itu bisa mengembangkan kecerdasan majemuk anak loh .oops kok jadi iklan postingan terbaru aku ya. Makasih udah ikutan ya mbak Ade

    BalasHapus
  12. permainan tradisional itu bikin tubuh gerak ya mbaa.. aku dulu paling seneng lompat tali, petak umpek, kalo yang diem sukanya bola bekel sama congklak.. skrng anak2 mainnya pake jempol doang heheh

    BalasHapus
  13. itu yang bambu mainnya gimana ya? aku ga bisa, hehe

    BalasHapus
  14. ...jaman aku masih langsing kayak peri
    dicatet! langsing=peri
    ha..ha.... ada ajah mbak!

    *komensalahpokus

    BalasHapus
  15. gasingnya lucuuuu mba Adeee..aku juga pernah main ini waktu kecil hehe

    BalasHapus
  16. Jadi kangen masa kecil dulu. Seru banget mainan ma temen-temen, sampe lupa waktu

    BalasHapus
  17. Permainan jaman kecil dulu emang seru-seru ya mbak.
    Gasing itu kesukaan anakku yang cowok :)

    BalasHapus
  18. Dulu jamanku masih kecil suka juga sih main gasing bareng teman2 cowo... Dulu itu aku rada penasaran kenapa ada benda yang begitu ditarik talinya bisa berputar2 dalm tempo yg cukup lama..

    BalasHapus
  19. Aku pernah ikut suami seminar di Ciawi, ternyata gak ada yg bawa istri. Jadinya kalau pagi-sore aku di kamar aja atau belanja2 di Bogor. Mungkin begitu rasanya jadi simpenan ya wkwkwkkkw

    BalasHapus
  20. Anakku punya semua mainan ini waktu balita sampe SMP, sering beli jadi koleksi malah. Ini mainan anak perempuan dan laki-laki

    BalasHapus
  21. gasing sekarang modern dan lebih praktis, tapi jadinya skil untuk memutar kurang terlatih. Makasih ya Ibu Ade sudah ikutan :) Salam buat si ganteng ya

    BalasHapus
  22. 'ya-ampun-akhirnya-gue-nemu-mainan-ini-juga-dan-itu-berarti-bukan-temen-sekelas-gue-yang-ngambil-ini-mainan-padahal-dia-udah-gue-ceburin-dia-ke-sumur.'

    HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA ngakak baca ini

    BalasHapus
  23. aku ga bisa mba main gasing, mba ade nih tomboy juga ya.. secara gasing itu yg mainin anak laki kebanyakan :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...