badge

Jumat, 29 Januari 2016

Gaptek, Followers dan Folbek

[Parenting] Sepertinya, urusan pertemanan itu terkadang tidak murni karena "aku suka sama dia."
Khususnya di dunia maya.
Namanya juga maya kali ya.
Tidak nyata. Bayang-bayang.



Dulu, aku tidak terlalu peduli sebenarnya dengan hal-hal seperti ini. Jika aku suka, maka aku akan sukarela meng-add seseorang menjadi temanku. Lalu jika statusnya muncul di beranda facebookku, aku akan membacanya.  Akun media sosial pertamaku adalah facebook. Ini aku buka gara-gara teman-teman di SMA mendesakku untuk bikin akun Facebook agar kami bisa saling bercerita kembali. Kejadiannya tahun 2008.

Eh... ternyata lewat akun facebook, aku bertemu dengan banyak teman lama. Senang? Pasti. Apalagi kemudian Reuni dibuat tidak lama setelah dirasakan semua teman lama sudah berkumpul di facebook dan punya akun facebook.

Tapi, mungkin ketika aku masih SMA, apa yang aku sukai masih terbatas. Dan seiring dengan perkembangan usia dan sekolah dan pergaulanku dan kehidupan pernikahanku, apa yang aku sukai juga mengalami perubahan dan perkembangan.

Setelah habis perbincangan tentang masa lalu dengan teman-teman SMA, aku merasa masih ingin memiliki banyak teman yang bisa diajak berbincang tentang hal-hal lain yangbersifat kekinian. Lalu, mulailah aku bergabung dengan group-group komunitas.

Aku ingat, group komunitas pertama dimana aku bergabung di dalamnya di Facebook adalah group para penyuka sastra dan bahasa Indonesia: Group tuhanHuda. Dulu, ini group dengan Founder Hudan Hidayat. Aku suka saja membaca aneka kritik, analisa, perbincangan tentang perkembangan sastra. Meski aku sendiri tidak punya kemampuan untuk menghasilkan karya sastra. Dan aku juga tidak jadi anggota aktif. Hanya beberapa kali menimpali saja.

Suka saja : beri tanda jempol.
Suka : beri komentar
Suka banget : bukan cuma memberi komentar, tapi jika komentarnya dibalas aku akan menulis komentar lanjutan... lalu jadi obrolan di status dia.

Sesederhana itu.

Tapi... siapa bilang  sastra itu tidak memihak?
Ternyata sastra juga punya mata dan selera. Dan perseteruan di dalamnya, membuatku merasa tidak nyaman. Jadi, aku pun memilih menjadi silent reader. Lalu ketika semua orang sudah melupakanku aku pun pergi diam-diam.

Sesederhana itu.

Tidak suka: tidak perlu memberi jempol.
Tidak suka banget: beri komentar yang berseberangan.
Tidak suka banget lalu tidak nyaman : leave group

Sesederhana itu

Lalu aku masuk ke group lain. Yaitu group ibu rumah tangga. Karena aku pikir aku kan seorang ibu rumah tangga. hahahaha. Tapi, ada sisi lain dari diriku yang belum puas jika hanya membicarakan tentang kehidupan ibu rumah tangga saja.

"Sehari-hari aku sudah bergumul dengan masalah itu. Terus, ngapain buka facebook cuma buat baca masalah yang sama lagi?"

Jadi, aku mulai mencari group komunitas yang aku perkirakan sesuai dengan passionku, kesukaanku. Ada group menulis, group membuat rajutan, group cerpen dan puisi, group memasak, group menjahit, group mengasuh anak.

Lalu mulai menjalankan aksi sederhana.

Suka saja : beri tanda jempol.
Suka : beri komentar
Suka banget : bukan cuma memberi komentar, tapi jika komentarnya dibalas aku akan menulis komentar lanjutan... lalu jadi obrolan di status dia.

Tentu saja minus perilaku tidak suka.

Aku belajar satu hal: jangan pernah memulai sebuah peperangan kata-kata di dunia per-facebook-an. Kenapa? Karena pembacanya malas scroll ke atas dan hanya membaca dari komentar yang paling belakang. Akibatnya: mereka menyimpulkan sendiri dan mulai membalas dengan kecenderungan berpihak pada yang "belum tentu benar". 
Hingga akhirnya aku mengenal dunia blogging. Group yang aku masuki: Komunitas Emak Blogger. Sebenarnya, urutannya begini. Aku buat blog dulu, tapi mengisinya dengan curhat pribadi dan aku privat. Tapi lalu aku membaca bahwa group KEB sedang membuka audisi untuk menjadi Srikandi Blogger, jadi aku pun merombak total blogku. Yang semula privat jadi publik. Dan tulisan curhatannya dihapus. Lalu, aku bergabung deh dengan KEB.

Dari sini, aku diperkenalkan tentang pentingnya memiliki akun media sosial Twitter.

Jadilah aku buat twitter.
Aku pakai nama akunnya @adeanita. Eh.. sudah ada yang punya.
Ya sudah.. aku buat dengan nama @adeanita1. ==========>> sudah ada yang punya juga.
@adeanita2 ======>> sudah ada yang punya juga.

HAH! Ternyata nama Ade Anita itu pasaran. Padahal selama ini aku pikir hanya aku pemilik nama itu.

Jadi, mulailah aku menambahkan angka lain di belakang nama Ade Anita. Tanggal lahir.
Tapi lalu aku lupa passwordku apa.
Jadi nggak bisa diakses.
Sudah dikutak katik tetap nggak bisa.
Jadi aku buat akun twitter baru.
Eh.. lupa lagi passwordnya
hahahahahahaha

(usia nggak bisa boong)

Akhirnya, setelah menulis passwordnya di suatu tempat yang mudah dilihat (yaitu dinding kulkas.. coba itu bayangin, nulis password di dinding kulkas. Serasa nulis daftar belanjaan). Jadilah akun yang aku pakai hingga sekarang.

@adeanita4  Alias  https://twitter.com/adeanita4


Terus. Ngapain di twitter? Itu yang aku belum tahu. Yang penting punya dulu saja.
Perlahan, followerku bertambah. Tapi, tampilan twitterku sepi sekali. Lalu, aku diajarkan oleh putra sulungku.

"Ibu kenapa nggak follow orang terkenal saja sih? Nanti RT twit mereka. Kan jadi otomatis twitternya keisi."

Baiklah. Aku ikuti.
Dan setelah membaca banyak twit dari orang terkenal, aku malah jadi dapat ide untuk bahan tulisan.
Wah asyik.

Dan mulailah aku mengikuti twitter orang terkenal segambreng. Sampai aku dapat penalti dari Twitter karena mem-follow lebih dari 2000 orang padahal yang following aku baru seuprit.

huhuhuhu
sedih banget

Jadi, solusinya gimana dong?
Ya sudah, aku RT saja quotes-quotes yang bersifat universal. Dan hasilnya: banyak yang RT balik dan follow aku.

Dan itu awalnya followersku bertambah.

Lalu mulai jaman Instagram. Aku ikut-ikutan bikin akun Instagram.

@adeanita4 alias https://www.instagram.com/adeanita4/


Nah. Mulai lagi deh nggak percaya diri karena gaptek kambuh lagi.
Ini mesti gimana? Kembali putra sulungku memberi petunjuk. Di nggak tega lihat ibunya panik karena gaptek.

"Tinggal foto, terus upload fotonya di Instagram. Jangan lupa beri hashtag yang nyambung dengan foto yang dishare."

Baiklah.
Aku pun melakukannya.

Apa saja aku foto. Sampai akhirnya aku dapat penalti. Tapi bukan dari instagram, melainkan dari putra sulungku itu.

"Ibu, jangan banyak-banyak dong kalo ngeshare foto. Itu kelakuan yang alay banget tau. Orangnya mah sehari satu ini sehari bisa delapan, sepuluh. Ih. Alay banget."

hahahaha
Ya sudah. Aku pun mulai membatasi diri. Sehari cuma 1 foto. Dan hasilnya, meski baru buat akun instagram, followersku bertambah dengan cepat.

Lalu sekarang jamannya buzzer.

Jadi, selain blogger yang bisa menulis dan dibayar tulisannya, ternyata seorang media sosial aktif itu bisa juga mendapat penghasilan dengan menjadi buzzer. Syaratnya apa? Harus punya followers di atas 1000 orang.

Oh. Jumlah itu sudah tercapai rasanya.
Tapi jangan puas dulu.
Ternyata, permintaan bertambah sekarang. Yang dilirik itu adalah jika punya followers mendekati 5000 orang atau lebih.

W-O-W

Gimana caranya?
Lalu aku mulai menilik akunku. Memeriksa satu demi satu siapa yang tidak Follow balik alias Folbek.  hahahaha.... semua semata karena pertimbangan materi.

Jadi... pertemanan bukan lagi karena pertimbangan "Aku suka dia" atau "aku suka pemikirannya." tapi karena "dia follow aku jadi aku folbek dong."
atau
"aku datang ke kamu karena ingin balas kunjungan."

Ah.
Sudah tidak sesederhana seperti dulu lagi.

Tapi tidak apa.
Mencoba saja untuk selalu tulus. Insya Allah niat baik akan dinilai dapat ganjaran yang juga baik.
Mungkin orang lain punya pertimbangan materi.
Semoga sih akunya tetap bisa tulus.

Ya.. berusaha deh.

Oh ya, ini aku dapat link untuk mengecek siapa yang tidak folbek kita padahal kita sudah follow dia di instagram:

http://unfollowgram.com/

Sedangkan ini adalah untuk mengecek siapa yang tidak memfollow balik kita di twitter:

www.friendorfollow.com

Sekian. 

btw, mau lihat siapa yang tidak folbek aku di twitter? hahahaha


Hahahaha... para artis dan selebritis.
jadi nih, jamannya aku hobi nonton acara idol-idol gitu (baik yang x-factor atau apapun) aku ternyata memfollow para calon bintang itu. 
Dan tebak? Mereka tidak ada satupun yang folbek aku .

Ih. Asyemmmm.
Jadilah semalam aku unfollow mereka semua. kecuali beberapa yang aku pertahankan. Salah satunya ya si Raditya dika. Aku nge-fans dia memang.

Dan beberapa akun seleb lain aku pertahankan. Tapi jika cuma orang biasa dan tidak membalas follow aku, ya segera aku unfollow. 

Duniaku sudah berubah memang. Jadi.. agak ada pamrihnya meski masih mencoba usaha keras untuk tetap tulus.

==================
catatan ibu dan anaknya:

"Ih. Susah. Ibu nggak bisa nih." Mendengus lalu mendorong notebook. Kadang melempar hape ke kasur. Begini ini jika gaptek kambuh.

Putra sulungku, yang anaknya cuek dan sering malas menyisir rambut karena merasa rambut lurus itu adalah hadiah dari Tuhan agar manusia tidak memerlukan sisir, hanya melirikku sekilas.

"Kenapa lagi?" Hanya itu komentarnya. Matanya tidak beralih dari layar komputer. Wajahnya juga tidak. Tapi, aku tetap saja curhat ke dia.

"Ini. Ibu nggak ngerti gimana cara bikin gambar ini. Kok orang-orang pada bisa ya? Pake aplikasi apa sih?"
"Aku punya fotosop. Nanti aku instal." Lalu dia kembali asyik dengan komputernya.  Dan aku kembali asyik dengan kegiatanku.

Beberapa hari kemudian, 
"Tuh bu. Udah aku instal. Tinggal pake."

Beberapa jam kemudian.
"Ahh.. nggak ngerti. Ibu gaptek banget. Nggak ngerti."

Beberapa hari kemudian.
"Udah. Hapus saja tuh yang diinstal di komputer ibu. Percuma. Ibu mana ngerti makenya kalo nggak diajarin. Tapi diajarin juga percuma. Ibu nggak ngerti-ngerti." (suara seorang ibu yang ngambek dan kesal)

Klik.
Aplikasi has been remove.

Beberapa minggu kemudian.
"Tuh bu. Pake aplikasi ini saja. Cocok buat yang sudah uzur, panikan, cepet ngambek, nggak sabaran, nggak mau belajar, gaptek, tapi pingin eksis di dunia maya kayak ibu."

VOILA.
Berhasil.
hahahahaha (si ibu yang semula ngambek dan kesal sekarang tersenyum)

(putraku itu, sama sekali bukan anak lelaki yang perilakunya charming idola para wanita: lembut, selalu mengeluarkan kalimat berbunga-bunga yang menyenangkan hati, intonasi empuk dan bikin hati meleleh. Dia sama sekali bukan pujangga yang punya segudang kalimat indah di dengar telinga. Juga bukan Hero yang selalu memberikan seluruh wajahnya untuk menatap kita dengan tatapan penuh kelembutan dan cinta. Dia cuek. Melihat kita hanya dengan ujung lirikan mata. Mendengarkan seperti tidak mendengarkan. Menjawab dengan komentar yang asbun. 

Tapi, di balik semua kecuekan dan sikap masa bodohnya, dia diam-diam selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dengan cara tersendiri. Dan tanpa kata-kata yang ada wangi bunga dan kehangatan cinta mungkin di dalamnya. Tapi... aku tetap merasakan kedekatan kami. Ibu dan anak. Unik memang. Tapi cuma dia yang selalu menunggu aku ketika langkahku tertinggal di belakang ketika kami berjalan sekeluarga, karena aku memang tidak bisa jalan cepat).



Jadi... jika ada yang bertanya, belajar dimana semua kemajuanku sebagai blogger? Ya dari dia.
Gimana caranya? Dengan cara ngambek. hahahaha. 
(ini teori parenting apa coba?)

35 komentar:

  1. So sweet..... jdi pengen gt jg klo nanti intan gedhe. Hahahhaha....
    Aku jd terharu ih baca ini mbak..cinta memang ga selalu disimbolkan dgn kata manis dan bunga yaa....hemmm

    BalasHapus
  2. Wuih amazing banget bisa aktif di banyak media sosial, kalo saya hanya bisa facebokan saja :)

    BalasHapus
  3. Hahaha aku kok ngakak pas dia bilang, "Cocok buat yang sudah uzur, panikan, cepet ngambek, nggak sabaran, nggak mau belajar, gaptek, tapi pingin eksis di dunia maya kayak ibu." hihihi pisss mak :)) tapi ganteng ya dia :v

    BalasHapus
  4. Mbak Ade, aku kadang juga suka keki kalau ngajarin ibu, tapi dari lubuk hatiku yg paling dalam aku juga selalu cari ide tuk bagi ilmu yg mudah untuk diterapkan oleh beliau. Hehe :))

    BalasHapus
  5. Pingin ketawa baca komentar Ibam. :D *puk puk Mbak Ade.

    BalasHapus
  6. Hihi. Mba Adeeee, seru bgt dengar ceritanya dengan putranya...

    BalasHapus
  7. hahaha Ibam pasti banyak fans nya nih mbak Ade.
    Jadi mb Ade pake aplikasi apa? :D

    BalasHapus
  8. Hahaha.. Memang bener banyak yg pake nama ade anita di twitter.

    BalasHapus
  9. Kalau sudah jadi youtuber boleh dong saling subscribe...

    Eaaa malah promosi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahah boleh banget nih :3 aku jugak ikutan dongkak :3

      Hapus
  10. aku sih sudah follow mbak Ade, maunya follow Ibam aja skr boleh kan :)

    BalasHapus
  11. Mba Ade, jgn lupa pasword lg ya, jgn smpe ada akun AdeAnita5 :v

    BalasHapus
  12. senangnya melihat anak laki-laki akrab dengan ibunya, semoga nanti saya dan Wahyu bisa seperti Mbak Ade dan putranya :)

    BalasHapus
  13. Senangnya jika punya anak yang perhatian kaya' gitu. ^^ Eh BTW, itu ciyus anaknya? Kok malah mirip ma adik. -,-

    BalasHapus
  14. kalo di facebook biasanya saya cuma post2 artikel yang menarik saja sih. kalo sampai menulis yang membuat salah paham di fb bisa bahaya.
    wkwk mmg sekarang jamannya menghasilkan uang dari media sosial ya. kalo dulu ada pepatah bilang banyak anak banyak rejeki sekarang : banyak follower banyak rejeki

    BalasHapus
  15. ngikuti perkembangan permintaan agency gak ada habisnya ya mbaa hehe,, nanti pasti ada tolok ukur lagi wkwkw..
    btw, mba, justru cowo yg cuek, dingin, gak romatis itu jadi incaran loh,, soale suamiku juga seperti itu,, cuek2 gimanaaa gitu hehehhe

    BalasHapus
  16. Aih Ibam kau emang putra idaman banget deh... hahaha.
    Rasanya akan banyak gadis yang patah hati deh kalau Ibam sudah memutuskan untuk memilih seorang gadis menjadi pendamping tetapnya nanti.

    BTW, teori parenting Mbak Ade bener2 anti mainstream hahaha

    BalasHapus
  17. Salam kenal. Toss dulu mba'. Aku juga gitu kok. Patut berterima kasih sama si sulung nih.

    BalasHapus
  18. senang ya mbk punya anak bisa diajak duet dan senang bisa ngambekan xixiix

    BalasHapus
  19. sekarang lagi ngetrend follow-followan kayaknya, yaa kalo kita follow..lalu di nggak...saya pikir..ngapain juga dipertahankan followan kita ke dia...,
    ehh..aku sudah follow atau belum yaa
    keep happy blogging always...salam dari makassar - banjarbaru :-)

    BalasHapus
  20. wah so sweet....

    kalo aku sayangnya ud ga maen twitter lagi

    BalasHapus
  21. kalo dipikir2 kenapa ya selebritis agak Somsek..hahaha aku dulu jugabisa tahu siapa yg unfollow sampe kutunggu 2 hari,,langsung balik ta kick semua hahahaha*penghiburan diri :D

    BalasHapus
  22. woww keren bangat artikelnya thanks :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...