badge

Rabu, 28 Januari 2015

Dunia di Mata Anak-Anak

Bagaimana sih dunia pekerjaan di mata anak-anak itu? Tahun 2013 silam (hehe kesannya dah lama banget ya?) aku pernah ngobrol sama anak bungsuku, Hawna. Ini aku copas dari status facebookku tahun 2013 itu:

Karena sakit, jadi Hawna di rumah sejak kemarin, tidak sekolah. Dengan begitu, dia ikut akuke depan pintu rumah untuk mengantar suamiku yang akan pergi bekerja. Sambil memperhatikan ayahnya memakai sepatu, Hawna (7 tahun) bergumam.
"Bu, ayah itu sebenarnya kerjanya jadi apa sih?"
"Dosen."
"Oh..." (diam sejenak, mikir, lalu bertanya lagi) "dosen itu apaan?' (gantian ibunya yang ngeliatin dia, dan mikir, 'selama ini kemana aja kok baru nanya sekarang?')
"Dosen itu... mirip guru, tapi yang diajarin tuh mahasiswa. Kayak mas Ibam gitu. Jadi dah pada gede-gede badannya, terus pake baju bebas belajarnya."
"Ihhh, enak banget." (kata 'ih'nya dengan penekanan penuh nada kekaguman)
"Terus, kalo hari senin gak ada upacara bendera."
"Iihhhhh... enak banget!" (nada kekagumannya kian mengental)
"Tapi... mereka gak ada jadwal keluar mainnya."
"Wuiihhh... NGGAK enak banget!" (Hawna mengedikkan pundaknya dengan roman wajah tidak suka)
Lalu dia terdiam.
Cukup lama terdiam dengan bola mata yang serius tanda berpikir.
"Kalau begitu, sekolah yang paling enak itu TK ya bu. Boleh pake baju bebas, keluar mainnya dua kali, nggak ada upacara kalo hari senin, sudah begitu ada pasirnya lagi di tempat main. Ada ayunan, sliding, panjat-panjatan. Gak ada PR, gak ada UAS, masuknya jam 8 lagi jadi kita bisa main dulu puas-puas bareng teman-teman."

xixixixixi... pemikiran anak kecil banget ya. Tapi dunia yang dia gambarkan memang asli menyenangkan sih.
Itu sebabnya pada kakaknya yang kuliah ditanya lagi pertanyaan perbandingan mana yang lebih enak, TK atau Kuliah, si kakak sulungnya yang sudah kuliah itu langsung menjawab, "TK"

Jika pembaca sendiri, jika diminta untuk memilih, menurut kalian lebih enak mana? Jaman kecil atau jaman setelah sudah besar?

Dulu waktu aku masih kecil, aku paling sebal jika ada seseorang yang berkata mengingatkanku:
"Eh... kamu tuh udah gede sekarang. Jangan kayak gitu dong."
atau
"Ih, badannya doang yang gede, kelakuan masih kayak anak kecil."
atau
"De... kamu sudah besar sekarang. Jangan begitu."

Wah.... aku paling sebal satu hal: menghadapi kenyataan bahwa aku sudah tidak lagi kecil. Karena menurutku menjadi orang dewasa itu sama sekali tidak enak. Ada banyak kewajiban dan keharusan dan etika dan etiket dan aturan dan wuaaaaaa... banyak hal-hal lain yang terlarang deh pokoknya.

Jadi... masa kecil itu memang selalu menyenangkan insya Allah.
Jadi... beri masa kecil pada anak-anak kita menjadi masa terbaik yang insya Allah bisa mereka kenang kelak ketika sudah besar nanti.

Perkenalkan nih: KIm Soo Hyun

Aku pernah mengalami kejadian seperti ini nih menjelang malam pergantian tahun (dari tahun 2014 ke 2015).


hehehe
Jadi, di Lotte Shopping Centre itu memang ada poster ukuran asli orangnya yang dipajang di salah satu sudut mall tersebut.

Eh, buat yang belum tahu dimana letak Lotte Shopping Avenue itu, ini ada denahnya:


Duluuuuu. Waktu Pusat perbelanjaan ini baru berdiri, setiap kali kita berbelanja di atas Rp100.000, kita bisa berpose di samping poster gede yang sudah digunting ukuran badan ini. Jadi memang disediakan booth khusus. Nah.. jika kita berbelanja di atas Rp500.000, kita malah boleh meminjam antribut untuk pemotretan tersebut.

Aku... hmm... merasa "tua" untuk  mengambil kesempatan ini. hehehehehhe (malu ama umur euy). Jadi, ketika lewat booth pemotretan cuma bisa... celeguk... menelan ludah diam-diam.

Hingga ketika malam menjelang pergantian tahun, pas mau nonton eh... gak tahunya poster artis-artis Korea sengaja disebar di beberapa titik dan kita bebas-bebas saja jika ingin berphoto ria bersama poster-poster tersebut.
hahahahaha
asyik mantap kan
Jelas saja kesempatan ini tidak aku lewatkan. Akhirnya terjadilah adegan yang aku tulis di status facebookku tersebut.

Ini dia fotonya:


Nah... nah..... mungkin ada yang belum tahu sebenarnya siapa sih artis ganteng Korea yang malu-malu bergaya ketika diajak foto denganku itu? (uhuk..uhuk).

Dia adalah: KIM SOO HYUN.

Ini biodatanya:

Jadi, dari yang aku baca sih, katanya si ganteng satu ini anak tunggal. Dari kecil dia emang sih sempat ikut kerja part time tapi ya emang sudah diarahin juga sih sama orang tuanya buat jadi aktor karena banyak yang memuji kegantengannya yang memang sudah terpatri sejak masih kecil. Itu sebabnya talenta yang dimiliki oleh Kim Soo Hyun banyak. Dia bisa jadi pemain teather, main film/drama, nyanyi, main alat musik, dan modeling.

Aku sendiri, pertama kali lihat penampilan dia waktu dia main film Dream High. Pandangan pertama, aku langsung sukaaaaa sama dia. Nyari-nyari lagunya, koleksi, lalu mulai ngumpulin fotonya. Hahahaha.. Gaje emang. Makanya lantas menghentikan kegilaan itu.
Lantas puasa untuk tidak melihat Kim Soo Hyun lagi.
Eh... lantas mengikuti kembali drama korea The Moon That Embraces the sun...
Aduh.
kacau
karena aku lantas jadi suka lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
Ngumpulin lagunya lagi. Dengerin saat lagi ngetik.
Lalu... mencoba untuk menjauhi lagi agar tidak terlalu suka lagi
Eh... nonton lagi drama You Who Came From The Stars
Lantas suka lagiiiii

kacau
kacau
sepertinya kejadian ini akan terus berulang. Jadi... ya sudahlah.
Nah... ini dia salah satu lagu yang bikin kebat kebit gak karuan pas nontonnya (hehehehe). Aku ambil dari You TUbe:
Selamat menikmati....


Jumat, 23 Januari 2015

Because I Love You

Tanpa terasa, alhamdulillah usia pernikahanku sudah mencapai 21 tahun. Kebetulan, aku dan suami termasuk pasangan suami istri yang tidak pernah mengadakan acara syukuran secara spesial untuk merayakan "happy anniversary" kami.



Tapi.... ketika pagi di hari pengulangan akad nikah itu datang, biasanya aku dan suami saling pandang lalu menatap anak-anak yang kini sudah tumbuh besar.

Alhamdulillah, si sulung sudah mencapai tingkat akhir masa perkuliahannya.
Yang tengah sudah masuk SMA dan kami masih punya anak bungsu yang masih SD (jadi masih punya teman bermain di rumah ketika anak yang lebih besar sudah mulai asyik dengan teman-teman dan kegiatan mereka).

"Mas... alhamdulillah... sudah 21 tahun." (aku, melirik suami sambil senyum-senyum. Si sulung melihat aku yang pandang-pandangan dengan suami nyeletuk usil:)
"Apaan sih 21  tahun?"
"Usia pernikahan ibu sama ayah."
"O." (lalu dia kembali sibuk dengan persiapan untuk ke kampusnya).

"Maksudnya apa sih?" (ini si bungsu yang pingin ikut-ikutan)
"Usia pernikahan ibu sama ayah sudah 21 tahun."
"Maksudnya apa?" (tetap memasang wajah polos)
"Maksudnya, ini hari ulang tahun pernikahan ibu sama ayah yang ke 21."
"Nggak ngerti aku."
"Jadi... 21 tahun yang lalu, ibu sama ayah kan gak kenal awalnya. Terus nikah sebelum akhirnya melahirkan kamu-kamu. Nah.. kejadiannya 21 tahun yang lalu."
"Oo... jadi ibu lahir 21 tahun yang lalu?" (mulai senyap.... jika.... hanya jika... tatapan mataku mengeluarkan sinar laser... sudah pasti yang bertanya ini sudah aku laser)

sabar...
sabar...

"Nggak nak. Waktu nikah usia ibu 23 tahun. Ayah 30 tahun. Nah, waktu usia ibu 23 dan ayah 30, eh.. ibu sama ayah nikah deh.... tradammm.... nahhh... kejadian pernikahan itu sudah 23 tahun yang lalu."
"Loh? Katanya ini ulang tahun yang ke 21.. kenapa 23 tahun yang lalu?"
"Iyaaaa... ibu kesel abis ditanya mulu jadi salah ngomong deh."

(lalu si bungsu senyam-senyum gak jelas. Jangan-jangan dia cuma ngetes kesabaranku saja ya?)

"Sabar... bu... sabar. Kalau ibu gak kuat, ibu bisa melambaikan tangan ke atas." (komen si tengah yang asli gak jelas).

Akhirnya.... pembicaraan yang semula direncanakan untuk menjadi sebuah pembicaraan yang romantis... berantakan gara-gara ulah anak-anakku yang iseng.

Ya sudah... lupakan.
Aku pun lalu kembali pada kegiatan rutin seperti biasa... mengantar anak-anak sekolah, beresin tempat tidur, mengumpulkan cucian, ngerapihin letak-letak aneka benda di atas meja... dan suamiku sibuk dengan bebenah isi tas untuk bekerjanya sambil mengutak atik notebook untuk memutar sebuah lagu. Lagu itu disambungkannya ke speaker.... jadi suaranya cukup besar meski dari sebuah notebook.

Aku abai dengan lagu yang dia putarkan. Masih sibuk dengan acara bebenah rumah. Hingga datang pertanyaan dari suamiku:

"De.. inget gak, 25 tahun yang lalu, aku pernah ngasih kamu lagu ini."

Okeh. Stop semua kegiatan.
Dengan seksama aku mendengar lagu yang diputar dari notebook suamiku. Payahnya, ingatanku tidak tergali.

"Nggak inget."
"Aku pernah ngasih lagu ini. Aku rekam di kaset yang aku kasih ke kamu." (okeh... kami adalah generasi 80-an... jadi, jika suka dengan sebuah lagu kita bisa merekamnya dengan menggunakan tape recorder dan hasilnya bisa didengar di kaset).

"Oh ... yang foto sampulnya foto aku ya?" (kembang kempis.... hehehe... dulu sebelum menikah, suamiku ini senang sekali mengambil gambarku secara candid. Nah... fotonya dicetak terus dijadikan sampul kaset kompilasi yang dia buat dengan cara merekam di tape recorder.... it's so eighties ya?)

"Iya... benar."
Jadilah aku bebenah rumah sambil mendengar lagu "because I Love You" yang dinyanyikan oleh Shakin Steven.

Ketika mendengar jalinan lirik-liriknya... hmmm... diam-diam aku GR, sodara-sodara.

(jujur saja ya...  Suamiku bukan tipe suami romantis. Tapi... jika dia sedang ingin romantis... hmm... malah bikin aku terhege-hege meleleh karena GR berat (sayang: kejadian ini sama langkanya dengan kedatangan planet mars yang mendekati bumi).

Ini dia lagu dan liriknya.

Curhat tentang Kurikulum 2013 dan Apresiasi Pembaca Facebook

Semua berawal dari kemasygulanku karena membaca berita bahwa Mendikdasmen berencana untuk membekukan Kurikulum 2013 dan rencana dia untuk kembali ke kurikulum KTSP 2006.

Hmm... Aku kurang setuju dengan KTSP 2006. Aku lebih suka Kurtilas (singkatan dari Kurikulum 2013). Jadi gimana dong?

Akhirnya, aku pun menulis status panjang di facebook. Sebelumnya, aku belum pernah menulis status panjang-panjang di facebook. Tapi, aku benar-benar tidak tahu lagi kemana harus menyuarakan keberatanku dengan rencana pak menteri Anis Baswedan tersebut. Jadilah aku menulis statusku tersebut. Nulisnya juga pake hape... (bayangkan, nulis dihape dan nulisnya panjang. Tapi karena dah niat jadi bisa).

Status itu bisa dibaca disini:

https://www.facebook.com/ade.anita.5/posts/10204319336017866


CURHAT TENTANG KURIKULUM 2013
Sebenarnya, aku masih bingung kenapa tiba2 mendikdasmen (*bener gak sih singkatan nya? ) Anis Baswedan menghentikan kurtilas. Padahal KURTILAS ini baru juga diterapkan dan buku paket yang digunakan juga belum tamat (*belum lecek malah sampulnya).
Aku adalah ibu rumah tangga tidak bekerja alias fulltime mom. Jadi dalam keseharianku aku sendiri yang mengajari dan mendampingi anak-anak belajar di rumah. Tiap hari pula aku antar jemput anak2 dengan kendaraan umum jika pagi dan jalan kaki jika pulang sekolah (*sengaja biar bisa ngobrol sepanjang jalan dengan anakku sambil memperlihatkan semua pemandangan yang kami lihat di jalan. Anakku masih SD, ada banyak hal yang dia belum tau atau belum kenal).
Di hapeku, karena ini jaman digital, maka aku bergabung dengan group wali murid kelas anak2ku. Ada group di whats app dan ada juga group BB (*bersyukur android pernah beli aplikasi BBM).
Dulu... Ketika jaman kurikulum KTSP 2006, tas sekolah anakku, aku yang memanggulnya. Bukan apa2, KTSP 2006 itu banyak menerapkan konsep yang abstark pada siswa. Juga bejibun teori yang HARUS dipelajari oleh siswa. Perkara teori dan pelajaran itu terpakai atau tidak oleh siswa yang bersangkutan di masa yang akan datang, tetap saja seluruh siswa harus mempelajarinya.
Pokoknya, semua siswa diperlakukan sama deh. Entah siswa itu lemah di hafalan tapi kuat di tulisan atau si siswa lebih suka kerja lapangan daripada ngutak-ngatik teori. Pokoknya semua harus belajar hal yang sama.
Pokoknya gak mau tau deh bahwa cita-cita siswa itu nantinya mau jadi paramedis atau penjahit tetap harus belajar hal yang sama.
Dan karena tuntutan semua teori harus dipelajari maka buku2 yang dibawa siswa pun banyak sekali. 2 tahun membantu putriku memanggul buku2 di dalam tasnya punggungku sempat sakit. Lalu dokter keluargaku mulai meneliti kenapa punggungku sakit. Setelah ditelusuri dokter akhirnya memintaku untuk menimbang tas sekolah putriku. Ternyata beratnya 7 s.d 10 KG!!
"Ibuuu... putri ibu bawa apa saja sih? Ini sudah sama saja seperti ibu harus memanggul karung beras 10 kg setiap hari."
"Yaa.... mau bagaimana lagi dok? Daripada putri saya yang terhambat pertumbuhan badannya karena bawa tas ini?"

Dilema.
Dilema banget. Siapa yang harus dikorbankan? Punggungku atau pertumbuhan badan putriku? (*aku sih milih ngorbanin punggungku akhirnya. Sambil merutuk arah pendidikan indonesia).

Hingga akhirnya diterapkan lah KURIKULUM 2013.
Waaaaaaaaa. Senang aku dengan KURTILAS ini.
Kenapa?
1. Karena buku yang dibawa sedikit. Jadi ada peleburan dan pengintegrasian pelajaran di KURTILAS. Karena pengintegrasian ini maka mata pelajaran tidak lagi sebanyak mata pelajaran di KTSP 2006.
2. Karena ada pendidikan ketrampilan siswa di KURTILAS. Ini yang superb. Kan tidak semua anak mau jadi Profesor atau peneliti. Ada juga anak yang ingin segera belajar mencari uang dengan melakukan pekerjaan kerajinan atau atau ketrampilan.
Putriku senang ketika diberi PR kerajinan tangan.
"Bu... bagus nggak buatanku? Nanti kalau aku dah bisa buat yang bagus banget bisa dijual kayaknya?"

Anak jadi semangat sekolah. Lebih ceria karena ada banyak tugas berkelompok. Hehehe... putriku itu hobi bercerita jadi jika ada tugas berkelompok dia suka banget. Karena sambil kerja kelompok, dia bisa ngobrol dengan teman2nya.
3. (Akibat penjelasan di atas maka aku suka dengan kurikulum 2013) Karena KURTILAS memungkinkan setiap anak untuk mengembangkan kemampuan mereka bersosialisasi dengan orang lain.
Jika KTSP 2006 yang muatan pelajarannya padat merayap hingga membuat tiap anak harus serius belajar dan lupa bersosialisasi (*krn harus ikut les pulang sekolah biar bisa ngerti pelajaran) maka di KURTILAS ini anak malah didorong untuk bertemu dengan orang lain dan bekerja sama dengan orang lain.
Setiap kali ada pekerjaan kelompok, anak2 sibuk janjian untuk bagi2 tugas. Lalu janjian untuk bertemu guna membicarakan "enaknya kita bikin apa?".
Jadi. .. pembiasaan untuk bekerja sebagai bagian dari sebuah TEAM itu sudah dimulai dari kecil. Dan inilah yang menurutku penting ketimbang mendidik anak jadi sosok individualis yang pintar lebih baik mendidik anak jadi individu yang cerdik mengatasi kekurangan dan kelebihan dengan cara kerjasama kelompok.

Bayangkan. Jika anak sudah dididik untuk bisa bersosialisasi maka kelak dia insya allah akan mampu menolong masyarakat di sekitarnya karena sudah terampil melihat kekurangan dan kelebihan yang dimiliki tiap2 undividu yang menjadi bagian dari masyarakat tersebut.
HANYA SAJA MEMANG ADA BEBERAPA KEKURANGAN DARI KURIKULUM 2013 ini.
Apa saja?
1. Orang tua tidak siap menerima perubahan cara mendidik anak mereka.
Keluhan di group wali murid yang sering muncul adalah

"Pak.. buat ulangan nanti anak saya harus belajar apa ya?" (*hehehhe. Selama ini mata pelajaran memang dibuat terpisah. Jadi kalo mau ulangan matematika maka ortu tinggal buka buku matematika. Nah di KURTILAS ortu bingung apa yang mau diajarkan pada anak. Karena matematika nya terintegrasi dengan pelajaran PKN dan Bahasa Indonesia misalnya.
Contoh yang gampang:
- Perang Diponegoro terjadi tahun berapa? Jika saat ini tahun 2014, maka berapa rentang waktu yang ada? Bagaimana penulisan kata yang benar: Perang Diponegoro atau perang diponegoro?

Mungkin... karena aku terbiasa mengajarkan anakku dengan metode bercerita maka soal ulangan seperti di atas itu buat anakku malah terlihat mudah ketimbang ulangan PKN sendiri yang khusus menanyakan tentang perang diponegoro lalu nanti ada ulangan bahasa indonesia sendiri khusus nanya tentang eyd huruf kapital dan ulangan matematika sendiri khusus nanya tahun2 kabisat.
Tapi ya demikianlah....protes dari ortu yang bingung harus ngajarin apa tetap dominan di group wali murid.
2. Orang tua tidak siap jika mereka harus dilibatkan dalam porsi yang cukup banyak dalam sistem pendidikan kita.
Keluhan di group wali murid selalu:

"Aduh ada tugas bawa karton ya? Saya baru tau malam hari pas anak saya ngasitau. Gimana ya? Saya kerja kantor jadi gak sempat beli kayaknya. Duhhh... ada apa sih dengan sistem pendidikan kita? Kenapa merepotkan sekali."
Loh? Dia yang repot kenapa sistem pendidikan yang disalahkan? Aku paling sebel kalau baca protes kayak gini di group WA atau BB. Dan itu sering banget munculnya.
3. Orang tua merasa khawatir melepas anak mereka sekolah jika tidak ada waktu untuk ikut les dan bimbel.
Yaa... karena KURIKULUM 2013 banyak kegiatan kerja kelompok jadi siswa pulang lebih siang. Padahal ortu dah terlanjur memasukkan anak mereka untuk ikut les dan bimbel.

Hmm.... jadi bingung sayah. Jadi yang pokok itu sekolah atau bimbelnya? Kenapa jika tidak ikut bimbel jadi merasa begitu bersalah dan khawatir anak akan jadi bodoh?
Lalu mulailah gelombang protes terjadi.
Kaum buruh protes minta KURTILAS dihapuskan (*aku sih duganya ya karena ortu yang jadi buruh bingung karena 3 hal di atas).
Kaum terdidik juga protes hal yang sama (*dan kembali aku menduganya karena 3 hal di atas)

Tinggal aku yang padahal merasa senang dengan perubahan yang terjadi pada cara belajar putriku bengong.
Okelah....siap2 punggungku sayang... siap2 bawa karung beras lagi tiap hari.
Huff.

Akhirnya, gelombang tanggapan pun datang. Aku terus berdoa agar usahaku ini bisa membuahkan hasil.
Benar-benar berdoa.
Akhirnya, bantuan datang dari pembaca statusku. Ada 69 orang yang sampai detik ini mensharenya. Dan salah satunya adalah: Mantan Menteri Pendidikan di kabinet SBY, yaitu mendikbud yang membuat kebijakan kurtilas: Muhammad Nuh.

benar-benar berharap status ini bisa sampai di orang yang berkompeten untuk mengubah kebijakan

alhamdulillah... dibaca juga sama Pak Nuh
Ah... senangnya.
Tapi tentu tidak boleh berhenti berdoa meski senang.
Aku tetap berdoa agar jangan dibuang kurtilas itu. Tapi dibenahi lalu diterapkan lagi.

Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...