badge

Selasa, 08 Desember 2015

Pelajaran dari Obrolan Anak SD

[Parenting]: Siang hari ini mendung. Warna biru di langit rata abu-abu muda. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Tapi bisa juga hujan baru akan turun nanti petang.

Belakangan ini cuaca memang tidak dapat diprediksikan. Meski demikan, 3 orang anak lelaki berpakaian seragam tampak asyik saling berbincang-bincang di hadapanku. Dari tinggi badan mereka yang mungil-mungil sepertinya sih mereka anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kebetulan, aku berada tidak jauh dari mereka. Jadi keberadaan anak-anak SD menjadi menarik perhatianku.


Ketiganya membawa ransel.

"Aku tau nama kamu." Kata anak yang rambutnya kaku bagian atasnya hingga tampak seperti duri landak. Berdiri tajam menunjuk langit.

"Ya iyalah kamu tahu. Kan kita sekelas." Kata temannya yang bertubuh gendut.

"Bukan. Maksud aku nama panjang kamu."

"Siapa nama panjang aku?"

"Ferry Heriawan."
"Yeee...salah. Bukan itu namaku."
"Bener. Itu nama kamu."
"Bukan. Namaku Muhammad Ferry Heriawan Sudeli."
"Bohong. Sok tahu. Salah. Bukan itu nama kamu."
"Benerrr... itu nama aku."
"Bukannn..."

Seterusnya, acara ngotot-ngototan ini asli memancing senyumku. Yang punya nama siapa tapi yang bersikeras siapa.


Lelah adu otot leher karena saling teriak mempertahankan pendapat, gerimis turun perlahan.

Ketiga anak itu menepi. Lalu melepas tas ranselnya dan mulai mengeluarkan jas hujan dari dalam tas ransel mereka. Si rambut jegrak tampak kesulitan membuka ritsleting tasnya. Sigap, si gendut membantunya.

Damai?
Mereka memang tampak mulai berdamai. Sibuk mengenakan jas hujan masing-masing. Melepas sepatu dan memasukkan sepatu ke dalam tas. Mereka bertelanjang kaki. Sebelum menutup tasnya, si gendut tiba-tiba ingat sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah buku.

"Oh iyaa...nih nama aku. Tuh lihat... M. Ferry Heriawan. S.... M ini artinya Muhammad, sedangkan S artinya Sudeli. Nama papa aku."
"Yeee...salah sendiri kenapa nama pake disingkat segala berarti aku juga nggak salah dong."

Hahahhaha.... damainya anak-anak kelas satu SD ini memang hanya sekejap saja.

Ketika gerimis semakin banyak, ketiga anak itu mulai berlari. Si gendut tergopoh-gopoh berlari. Akhirnya si rambut jegrak menggandeng tangannya lalu setengah menyeretnya hingga si gendut tidak tertinggal di belakang.

Aku senang menjadi penonton mereka meski dengan cara diam-diam saja. Perilaku mereka polos dan mengundang senyum. Memang ada perselisihan tapi ketika tiba saatnya ada yang butuh bantuan, mereka tidak segan untuk memberikan bantuan.

Dan memang demikianlah yang selalu terjadi. Meski kelakuan anak-anak itu berupa-rupa dan tidak terduga serta sering di luar logika orang dewasa. Tapi sesungguhnya, perilaku anak-anak memberi banyak pelajaran tentang kehidupan.

Seperti bagaimana mereka berinteraksi dengan temannya. Perbedaan pasti ditemui tapi saling tolong menolong tidak boleh dilupakan. Atau sikap untuk tidak menyimpan dendam di dalam hati hanya karena sebuah perbedaan dalam melihat sebuah masalah. Itulah yang membuat sebuah silaturahim terus bisa terjaga dengan baik.

Disitu sebabnya aku senang memperhatikan anak-anak jika sedang bermain dengan teman sebaya mereka. Karena, bukan hanya hiburan yang aku dapat, tapi juga hikmah tentang kehidupan. Dan sekaligus beberapa nasehat untuk diri sendiri sebagai orang tua.

NASEHAT BAGI PARA ORTU :


1. Ajarkan anak bahwa menjadi pemenang dalam sebuah perdebatan itu bukan sebuah keharusan. Karena ada kalanya memilih untuk diam dan membiarkan perdebatan itu "reda sendiri" justru merupakan tanda bahwa kita lebih mementingkan persatuan ketimbang perpecahan.

2. Berusaha mempertahankan pendapat yang salah itu bukan perilaku terpuji. Jika memang salah, tidak ada salahnya untuk membiarkan kebenaran terus maju dan dimenangkan.

3. Perilaku saling menolong itu perlu, bahkan meski itu berarti harus menolong orang yang berseberangan pendapatnya dengan kita.
Karena manusia memang diciptakan untuk bisa tolong menolonh satu sama lain. Namanya juga makhluk sosial.
Iya kan?

Bagian tidak penting dalam tulisan ini:

hehehehe.... kata orang, dalam hidup selalu ada tokoh-tokoh yang kehadirannya tidak penting tapi dia tetap hadir di sekeliling kita. Entah untuk apa. Dalam cerita ini, tokoh itu adalah si anak yang ketiga. Ini kisah tentang 3 orang anak SD, tapi ternyata yang aku ceritakan adalah 2 orang. Terus kenapa tetap aku tulis 3 orang di awal? Karena memang faktanya ada 3 orang. Hanya saja, anak yang ke 3 itu, tidak membawa pengaruh apapun. Kehadirannya ada dan tiada. Dihilangkan pun sebenarnya tidak membawa pengaruh. Tapi dihadirkan pun tidak membawa pengaruh juga.

Jadi? Ish.... jangan sampai deh kehadiran kita di muka bumi ini seperti si anak ke 3 itu. Itu maksudku makanya tetap menulis kisah tentang ke 3 anak ini. 

11 komentar:

  1. Tapi anak yang tidak punya peran apa2 itu masih bisa belajar banyak untuk lebih beperan. Kalau flash back ke belakang, Mbak Ade ... saya dulus seperti anak yang tidak punya peran apa2 itu. Padahal basicnya saya anak yg kritis cuma orang tua saya lebih senang kalo anak2nya penurut dan pendiam. Maka jadilah saya anak yang pendiam. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, saya kini menemui takdir menjadi blogger yang malah kadang2 menulis kritik dan menyampaikannya langsung kepada yang dikiritik.

    Bisa jadi, anak yang tidak punya peran apa2 itu justru belajar lebih banyak dari kedua kawannya mengenai peristiwa hari itu. Dia diam karena sibuk mencerna dan menelaah apa yang sedang terjadi :)

    Maaf, komen saya kepanjangan ya Mbak hehehe

    BalasHapus
  2. anak-anak memang cepat berdebat, tapi cepat pula damai dalam sekejap.

    kalau tentang anak ketiga, saya punya sudut pandang lain. Mungkin anak itu memang pendiam. Mungkin dia gak peduli. Atau bisa juga dia peduli, tapi kalau nanti ikut komen dianggap memihak salah satu. akibatnya debatnya malah bisa jdi runcing :)

    BalasHapus
  3. seringnya saya belajar banyak hal dari anak2,baca ini jadi mbayangin iklan mbak hehehe...

    BalasHapus
  4. Cerita ringan namun sarat pesan. Masih harus belajar banyak utk jadi orangtua yang baik...

    BalasHapus
  5. Untung gak pake jelekin nama Bpknya

    wkt kecil dl, teman2ku sering bw2 nama Bpk mreka buat hina2an. Miris krn wkt ketemu gede mreka msh ngomongin hal yg sma

    BalasHapus
  6. Jdi teringat masa SD dulu sering "jothakan" taapi yaaa gitu akur lagi deh :D hehehe

    BalasHapus
  7. Sama nih kayak duo krucilsku. kalau nggak sama pendapatnya sampai kayak mau berantem. padahal sih cuman kelihatannya aja. Setelah itu mereka sudah main bareng lagi

    BalasHapus
  8. Kebalikan tuh ma orang tua sekarang. Anaknya yang berdebat, orang tuanya yang berantem. Padahal anak-anaknya udah akur.

    Orang tua juga berantemnya lama banget. Pake acara perang dingin segala. -,-

    BalasHapus
  9. Perdebatan anak-anak seru diikuti, ada saja yang menjadi perdeatan mereka. Hal kecil seperti nama panjang bisa membuat mereka berlatih berdebat. Mbak Ade pinter gambar...

    BalasHapus
  10. Anak saya yang paling besar lebih pilih diam kalau ada temannya yang berdebat... tapi sampai di rumah cerita sama saya, mana yang menurutnya lebih baik...

    BalasHapus
  11. sm kayak mak hanna, jd langsung inget, bs dijdiin script iklan nih mak...

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...