badge

Kamis, 17 Desember 2015

Nol Sampah? Mungkinkah?

[Lifestyle]: Hal yang ditinggal oleh manusia itu, rata di seluruh dunia apapun agama-ras-jenis kelamin-warna kulit-asal benua-usia-dan-status sosial ekonominya, sepertinya adalah  sampah. Rata seluruh manusia pasti meninggalkan sampah dalam kesehariannya. Sebagai orang tua, kita bisa mengajarkan pada anak-anak kita bagaimana caranya untuk menghadapi masalah sampah ini (baca: Buanglah Sampah Pada Tempatnya). Tapi, tentu saja kita tetap akan berhadapan dengan yang namanya masalah sampah; khususnya masalah sampah plastik (baca: No More Plastic Bag).  Ketika sedang blagwalking, aku bertemu dengan blognya Anne Adzkia. Di salah satu postingannya, Anne menulis tentang sebuah komunitas Zero Waste.


Wah.
Menarik banget nggak sih?

"Memangnya mungkin ya kita bisa menghasilkah Nol Sampah alias Zero Waste?"

Itu pertanyaan yang pertama kali muncul di benakku ketika aku membaca artikel berjudul "Event dengan konsep Zero Waste, Mungkinkah?" yang ada di blognya Anne.

Anne, adalah seorang blogger dengan dua orang anak, yang saat ini bermukim di Tangerang. Dia seorang dokter gigi. Blogger, sekaligus ibu yang memilih untuk menyelenggarakan Home Schooling bagi kedua anaknya, setelah kepulangan mereka dari kota Emerald, Queensland, Australia.

Anne bercerita bahwa dia mendapat banyak pelajaran dari kepindahannya ke berbagai kota dan negara. Salah satunya adalah, bahwa penanganan sampah yang bijak dan terintegrasi antara pemerintah, institusi yang ada di masyarakat dan kesadaran masyarakat itu sendiri akan mampu membuat penanganan masalah sampah tidak menjadi terlalu pelik (baca: Manusia dan Sampah).

Bayangkan. Untuk kondisi rumah tangga yang sama-sama menghasilkan sampah. Bagaimana bisa rumah tangga di Indonesia menghasilkan banyak sekali sampah sedangkan di luar negeri (dalam hal ini yang menjadi rujukan Anne adalah kota Queensland, Australia), sampahnya tidak semenggunung sampah di Indonesia. Padahal, jika dibandingkan, sampah-sampah ini sama-sama dikumpulkan di hari-hari tertentu saja. Tidak setiap hari.

Bagaimana caranya untuk menuju ke arah menghasilkan sampah seminim mungkin alias nol sampah? 

Berikut ini aku sarikan dari tulisan Anne tersebut:

1. Selalu pisahkan antara sampah organik dan sampah non organik.

Yaitu, mana sampah yang bisa hancur oleh penguraian alami. Seperti sampah makanan, sampah daun yang jatuh dari pohon, sampah yang terbuat dari bahan yang bisa hancur dalam proses alami. 

Di sekolah-sekolah, fasilitas umum/fasilitas layanan publik, mall, perkantoran, dan kantor-kantor pemerintahan, hal ini sudah dilakukan. Kita bisa melihat biasanya ada 3 atau 2 tempat sampah. Ada yang berwarna hijau, kuning dan merah. Atau yang berwarna hijau dan merah saja. 



Warna hijau, ditujukan untuk sampah makanan atau daun.

Warna kuning untuk sampah yang bisa direcycle. Seperti kotak bekas susu, kertas pembungkus makanan, karton. Jika warna kuning tidak ada, maka sampah di tempat sampah warna biru bisa dimasukkan ke tempat sampah warna hijau. 

Warna merah untuk sampah yang tidak bisa direcycle seperti plastik bekas minuman, plastik bekas makanan, styrofoam.

2. Gunakan selalu wadah makanan yang bisa dipakai ulang. 

Kurangi penggunaan tempat makan yang sekali pakai buang. Nggak apa-apa deh cuci piring. Karena, cuci piring itu jauh lebih ramah lingkungan loh daripada kita memakai wadah makanan yang sekali pakai buang. 

Dulu, di awal tahun 2000-an, ada beberapa restoran cepat saji yang menyajikan makanan dengan menggunakan wadah yang berasal dari styrofoam. Setelah kesadaran tentang bahaya styrofoam bagi lingkungan hidup, maka beberapa aktifis lingkungan hidup ramai-ramai berdemo di depan restoran tersebut untuk menolak kebijakan mereka yang menggunakan wadah styrofoam. Syukurlah sekarang restoran-restoran cepat saji ini sudah tidah lagi menggunakan ini. Beberapa ada yang sudah menggunakn wadah makanan yang bisa dipakai ulang; ada juga yang beralih menggunakan wadah dari kertas (ya lumayan deh daripada masih pakai styrofoam).

3. Gunakanlah tas belanjaan sendiri dari rumah. 

Seperti kantong belanja serba guna misalnya. Sekarang ada loh tas-tas untuk menggantikan kantong plastik kresek. Bentuknya juga cantik-cantik. Bahkan beberapa di antara mereka bisa dilipat menjadi kecil sebesar telapak tangan sehingga bisa diselipkan di dalam tas. Jadi, jika kita ingin berbelanja kita tinggal mengeluarkan kantong belanja sendiri dan tidak perlu memakai kantong plastik dari penjual. Jadi, sebelum penjual membungkus barang yang kita beli. Segera sodorkan kantong belanjaan yang kita bawa dari rumah tersebut ke mereka dan minta mereka untuk membungkus belanjaan kita dengan kantong belanjaan tersebut.

4. Gunakan alas makan dari daun, jika memang ingin membuat makanan yang dibungkus. Jangan gunakan kantong plastik. 


Sebenarnya, jika sedang lebaran, yang namanya ketupat dan lontong itu termasuk ide yang ramah lingkungan banget loh. Nenek moyang kita cukup arif ya hingga menghasilkan pemikiran untuk menggunakan sumber daya dari alam. 

Tapi apa yang terjadi pada masyarakat modern kita saat ini? Mereka malah mulai membuat lontong dan ketupat dengan menggunakan wadah kantong plastik. Memang sih, bentuknya jadi lebih rapi, lebih padat dan mungkin tidak cepat basi. tapi... menurutku sih kurang ramah lingkungan. Iya nggak sih?

Wah... ini tantangan banget ya untuk masyarakat di Indonesia untuk bisa menerapkan gaya hidup (lifestyle) nol sampah. Ukuran gaya hidup modern yang ingin ditiru oleh masyarakat kita, sering tidak diiringi dengan kebijakan untuk berpihak pada lingkungan hidup sekitar.




21 komentar:

  1. nol sampah walaupun kelihatannya sepele tapi tantangan sangat berat ya...apalagi d indonesia hehehe

    BalasHapus
  2. Aku gak ngeh lho mbak Ade nulis tema sampah juga. Dan isi postingan kita kompaaaak. Asyik nih. Makasih mbak Ade, kapan-kapan kita nulis barengan lagi ya.

    BalasHapus
  3. Menarik banget ini. berharap banget ya bisa nol sampah ditengah masyarakat yang konsumtif. Semoga suatu hari indonesia mampu mewujudkannya...

    BalasHapus
  4. Nah, perilaku menuju nol sampah ini yang harus terus digalakkan ya Mba. Kadang pada nganggep sepele hal2 spt ini, merasa tak berdampak secara signifikan. Padahal justru saat dimulai dari diri sendiri itulah perilaku cinta lingkungan itu terbentuk.

    BalasHapus
  5. Yang nomor 3 pingin banget kucoba. Tapi lupa melulu :|

    BalasHapus
  6. Gerakan zero waste ini hrs digerakkan dilingkungan kecil dulu. Salah satu comtoh di lingkungan kompleks saya, tiap rumah sdh diwajibkan memilah sampah rmh tangganya sendiri. Jd, di dapur rmh saya ada 2 tmpt sampah, satu untuk sampah organik, satu lg untuk non organik.

    BalasHapus
  7. Kayanya mimpi deh kalo jadi nol sampah, tapi gak menutu kemungkinan juga. Wong dari paud dan TK aja udah diajari buang sampah di tempat sampah, tetep aja yang tua buang sembarangan. -,-

    BalasHapus
  8. "Selalu pisahkan antara sampah organik dan sampah non organik." Memang di daerah saya ada pemilahan sampah. Dan saya memilahnya dengan baik(inshaallah). Tetapi yang membuat saya kecewa adalah pada akhirnya semua sampah dijadikan satu. Entah itu sampah plasti, daun, dll. Apakah ini hanya di daerah saya? atau di daerah lain juga ada?

    BalasHapus
  9. Buat saya membuang sampah pada tempatnya itu tergantung dari kebiasaan, dulu saya mudah sekali buang sampah sembarangan, kemudian mulai membiasakan diri. Sekarang kalo ada sampah berserakan jadi risih. hehe

    BalasHapus
  10. Sebenarnya bisa ya Mbak. Asal ada keteguhan hati buat memulai dan mempertahankan. Saya dari dulu pengen bawa tempat, biar jajan yang dibeli gak nyampah :)

    BalasHapus
  11. Kebetulan saya bekerja di instansi pemerintah yang salah satu job desc nya adalah mengelola sampah. Untuk poin no 1 setuju banget! dengan catatan, sistemnya memang sudah mendukung. Maksud saya dari hulu hingga ke TPA (Tempat Pengolahan Akhir). Jika tidak, akan sia-sia saja. Untuk di Indonesia, belum semua daerah punya sistem yang support pilah sampah. Ada juga yang sekadar dipisah tempat sampahnya namun begitu diangkut, tercampur kembali di dalam truck nya.

    Nice share Mbak Ade.
    TFS

    BalasHapus
  12. Sebenernya sih bisa, kalo tiap rumah mau memulai nya. Jadi ga butuh lahan besar untuk TPA. Sampah organiknya bs diolah lagi jadi pupuk. Tapi masalahnya rumah mereka udah semen an semua, pupuknya buat apa dong? Dijualnya? Bisa aja sih tapi kadang gimana ya, ada tanggapan, kalo kita bisa bikin, produk itu harganya bisa jatoh gitu.
    Eh bener ga sih mbak?

    BalasHapus
  13. Saya setuju sih tapi kadang mntalitas masyarakat kita blom sampe yg buang sampah sembarangan aja msh ada. Cara terbaik memang adalah memulai dr diri sendiri

    BalasHapus
  14. Sering ktmu tempat sampah 3 warna di tempat umum. Tp masyarakat umumnya tdk mengerti makna 3 warn tsb kecuali di tuliskan detil di atasnya. Jadinya malah buangnya tetep semrawut.hiks

    BalasHapus
  15. kadang pas buang sampah.. mikir.. ah cuma dikit kok..ah.. cuma sya..coba kalau ada 1000 orang yang mikir sama... sedikit..jadi segunung... mulai dari diri sendiri..

    BalasHapus
  16. Di tempatku sampah sudah mulai dipilah, yg dos dan plastik disendirikan. Dijual pd pengepul, trus uangnya buat piknik, hihiii

    Kalo lontong bungkusnya plastik itu apa nggak berbahaya sih, tetap kalah sedap dg yang dibungkus daun ya, mbak.

    BalasHapus
  17. Masalah sampah cukup memusingkan ya. Sudah disediakan tempat sampah, namun ada saja oknum yang entah segaja/lupa membuang sampah tidak pada tempatnya. Menuju nol sampah, mungkin terjadi sich, jika tidak ada oknum yg spt itu. Atau mengurangi bahan yg menjadi sumber sampah, contohnya membungkus makanan menggunakan wadah khusus makanan yg bs cuci pakai.

    BalasHapus
  18. Waaaaaaaaaaaaaa, saya bahkan tidak melakukan semua langkahnya. Heuuuu T__T Syok bahwa ternyata saya termasuk salah satu orang yang aktif merusak bumi T__T

    BalasHapus
  19. pgn banget nih nerapin dlm kehidupan sehari2... semangatt

    BalasHapus
  20. wah kalo sampai nol kyaknya butuh kerja keras dan kerja berat...tapi minimal nggak parah-prah amat lah kalau masalah sampah.... sebagai contoh buang sampah ya pada tempatnya (tong sampah bukan sungai atau yg lain) hehe

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...