Langsung ke konten utama

Kebab

[Lifestyle: shopping, Resep] Waktu yang paling gerabak-gerubuk itu di rumahku adalah waktu pagi hari. Alarm handphone sengaja aku bikin 3 sekaligus:

  • 1. Alarm pertama untuk bisa bangun shubuh.
  • 2. Alarm kedua untuk bisa bangun shubuh part. 2 (hahaha, karena sering masih ngantuk banget jadi begitu alarm pertama bunyi, reflekku adalah mematikan alarm tersebut. Lalu tidur lagi. Itu sebabnya harus ada alarm part 2).
  • 3. Alarm ketiga adalah mengingatkan sudah tiba waktunya harus masuk dapur (hehehe, setelah usai shalat berjamaah, aku sering ngobrol dulu sama suami dan anak-anakku. Nggak tentu ngobrol apa, nah... padahal kami keluarga hobbi ngobrol. Jadi terpaksa harus dipasang alarm pengingat agar ngobrolnya tidak kebablasan lama).



Setelah alarm ketiga berbunyi, langsung deh jamaah bubar. Ada yang punya kewajiban menyetrika pakaian seragam, ada yang harus mandi duluan, ada yang harus bikin susu. Aku sendiri harus mempersiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah/kerja anak-anak, sekaligus menyiapkan sarapan (*yap, tentu ada pekerjaan bonus lainnya. Yaitu cuci piring sisa makan semalam).

Semua pekerjaan itu, harus diselesaikan sebelum pukul 1
05.40 WIB.
HARUS.
KUDU.
Karena aku dan anak-anak harus sudah berangkat ke sekolah sebelum pukul 06.00.

Yang orang-orang tidak tahu alias behind the scene kerepotan pagi itu adalah: antisipasi galau mikirin menu makanan.
Kadang, eh apa sering ya, pusing loh mikirin "menu apa ya buat dibawa dan dihidangkan?".
Itu sebabnya aku punya beberapa makanan beku di kulkasku. Yaitu makanan yang sebenarnya sudah 3/4 matang tapi butuh sentuhan terakhir agar benar-benar lezat ketika dikonsumsi.

Salah satunya adalah KEBAB.
Bentuknya tidak besar. Ya..kira-kira selebar telapak kaki anak bayi deh (*ukuran apa ini? Hahahah nggak baku banget ya? Oke... diralat. Seukuran 3 cm x 10 cm deh, dengan tinggi jika dari samping 2 cm. Kurang lebih kayak selembar roti tawar yang dilipat dua).

A photo posted by Ade Anita (@adeanit4) on


Ini lumayan banget buat ganjel perut di pagi hari. Karena isinya lumayan padat. Ada ayam giling, tomat, saus tomat, kol, saus cabe dan mayonaise.

Aku selalu nyetok ini di dalam freezer kulkasku. Buat sesekali jika tidak ada ide mau masak apa buat sarapan (*meski suka jangan sering-sering. Karena nanti kalau bosan, bingung deh nyari makanan lain).

Eh...tapi bisa juga sih bikin sendiri. Di hari minggu, aku kadang membuat Kebab sendiru di rumah. Kelebihan bikin kebab sendiri itu adalah, kita bisa mengontrol isi Kebab yang kita inginkan masuk ke dalam perut anak-anak kita.

Ini resep Kebab

Bahan:

Beberapa lembar kulit kebab (*dijual kok).
1/4 kg daging ayam tanpa tulang(lalu dicincang halus setengah kasar. Jadi teksturnya masih bisa dikunyah dan berbentuk daging ayam)
Bawang bombay iris halus
Daun lectuse
Olive oil
Wortel potong kotak dadu kecil
Ketimun iris halus
Bawang putih cincang halus
Bawang merah iris halus
Garam merica cabe bubuk dikit

CARA MEMBUATNYA:


1. Tumis bawang merah halus, bawang putih cincang, s.d harum. Setelah itu masukkan daging ayam. Aduk sampai daging ayam matang. Baru beri bumbu garam merica cabe bubuk dikit (sesuai selera). Sisihkan jika sudah matang.
2. Campur dalam satu wadah: wortel, daun lectuse, bawang bombay dan timun. Siram dengan olive oil light, beri gula dan garam dikit. Aduk jadi salad.
3. Ambil selembar kulit kebab lalu taruh di tengahnya acar sayuran, beri tumisan ayam, beri saus tomat, saus cabe dan mayonaise.
Lipat kulitnya agar isi tidak tumpah.

Goreng dengan minyak sedikit hingga kecoklatan.
catatan: jangan menggoreng sambil mencuci piring dan merapikan rak piring; karena bisa bikin kebab goreng sedikit gosong.

abaikan warna coklat eksotisnya ya.. hehehe


Selesai deh.
Selamat menikmati.

Komentar

  1. Bikin sarapan jadi nggak ribet ya kalo sudah disiapkan sebelumnya... sarapan memang enaknya bikin yang simpel-simpel aja...

    BalasHapus
  2. Wah kalau bikin kebab seperti ini enakny pas hari Minggu deh, jadi bisa lebih nyantai membuatnya. Kalo hari biasa sarapan yg lebih praktis, goreng telur atau bikin nasgor, atau masaknya malam paginya tinggal dihangati saja seperti semur atau rawon :)

    BalasHapus
  3. Alu juga suka bekelin anak2 kebab bikinan sendiri. Tapi pake resep kulit tortila. Nanti aku mau nyobain ala mbak ade deh... :)
    Btw.. Alarm kita sama. Tiga kali nyala juga. :D

    BalasHapus
  4. Suka dikasih sama kakak ipar yg punya catering kalau kebab :D
    Tapi angetinnya biasanya cuma di wajan anti lengket pakai mentega. Kadang malah ga pakai mentega :D

    BalasHapus
  5. Pingin bikin kebab juga deh.

    BalasHapus
  6. waahh asyik juga bikin sendiri.. beli di sebelah mahal euy dagingnya dikit :S

    BalasHapus
  7. Ooo..ada versi instannya kebab..harus coba juga nich

    BalasHapus
  8. aku juga sarapan kebab nih mbak, udah difoto pula hehehe

    BalasHapus
  9. Belom pernah makan kebab.hahahaha..katrok amat yaaa sayaa

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…