badge

Selasa, 20 Oktober 2015

Produk Local Brand Itu Lebih Keren #SmescoNV

[Lifestyle: Pergaulan]: Suatu malam yang indah (aih) aku menyaksikan tayangan film dokumenter yang ada di saluran National Geografik. Kebetulan banget, tayangannya adalah tentang sebuah kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia, yaitu membuat bahan pakaian dari kulit kayu.

Yap. Kalian tidak salah baca. Ini dari kulit kayu betulan. Jadi bukan dari bulu binatang atau benang yang dipintal. Tapi dari kulit kayu. Jadi, seorang lelaki dengan  kapaknya, pergi ke hutan. Lalu dia mulai memilih batang pohon yang bisa ditebangnya. Dengan kapak, ditebangnya pohon tersebut. Lalu dipanggul menuju ke depan rumahnya. Dan dengan menggunakan kapaknya, dia mulai menguliti kulit pohon yang sudah ditebangnya tersebut. Mirip seperti menguliti kulit Ketela alias Ubi Kayu; jadi kulitnya tidak boleh putus atau robek di tengah atau terbelah. Setelah itu, kulit tersebut dipukul-pukul hingga pipih. Lalu digiling hingga melar. Lalu direndam di dalam air yang sudah diberi cairan kimia dengan menggunakan bahan-bahan alam lainnya. Hingga kulit kayu itupun menjadi lebih lentur dan lemas. Lalu digiling lagi hingga bisa lebih panjang lagi, dan juga lebih tipis lagi. Dan... ajaib... jadilah bahan mirip bahan sarung yang persegi panjang itu.


Wah. Masya Allah. Luar biasa banget. Tontonan ini begitu berkesan di benakku. Berkesan karena kagum.

Tiga ribu tahun yang lalu, masyarakat Indonesia sudah mengenal jenis kain kulit kayu dengan pertama kalinya ditemukan jejak peninggalan prasejarah di Sulawesi, Halmahera, dan Kalimantan. Nenek moyang kita sudah turun temurun mengajarkan bagaimana cara membuat kain kulit kayu (fuya & tapa). Sampai sekarang pun tradisi itu masih ada. Tentu ini merupakan kebanggaan bagi kita karena pembuat kain kulit kayu masih bisa ditemukan di era modern seperti saat ini.
Di Bengkulu, juga ada kerajinan dari kulit kayu. Bahkan, material kerajinan dari kulit kayu ini  pada tahun 2013 diusulkan oleh Pemda setempat untuk menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia.
Nah, jika kalian belum tahu seperti apa kulit kayu yang aku ceritakan ini, kebetulan beberapa hari yang lalu aku mampir ke SMESCO yang ada di Jl. Gatot Subroto kav. 94, Jakarta Selatan. Kain yang aku maksud, setelah diolah seperti ini nih bentuknya:

Tuh.
Keren kan. Kulit kayu bisa setipis itu. Dan bisa dibuat macam-macam.

Konon, bahan kain dari kulit kayu di Bengkulu, memiliki sejarah yang kelam. Yaitu, ketika perang melawan Jepang, masyarakat Bengkulu mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sandang mereka. Sudah bahan baku yang biasa sulit didapat (bahan kain dan benang); jika pun ada jumlahnya langka. Jadi mahal. Akhirnya, nenek moyang berinisiatif untuk mengelupaskan kulit kayu lalu dipukul-pukul hingga tipis dan memanjang. Dan, jadilah kain. Lalu dihasilkanlah aneka model pakaian dan berbagai macam perlengkapan lainnya.

ini lukisan dinding yang akan kalian lihat di pintu masuk SMESCO
Jaman sekarang, tentu saja amat sedikit orang yang mau mengenakan pakaian dari kulit kayu ini. Selain tidak praktis, harganya juga jadi sedikit mahal sih. Kenapa mahal? Karena proses pembuatannya yang sulit dan bahan bakunya yang mulai sulit didapat (berlaku deh hukum ekonomi: permintaan banyak barang sedikit, maka harga naik). Lagipula, orang Indonesia lebih menyukai produk brand dari luar negeri daripada produk local brand dari dalam negeri. Huff.

Khusus kebiasaan orang Indonesia ini, sebenarnya, pangsa pasar orang Indonesia itu terbagi atas 3 bagian. Yaitu pasar kelas premium, kelas menengah dan kelas bawah. Pasar kelas premium, menduduki hierarki tertinggi dalam piramida pangsa pasar. Kelas ini tidak pernah mempertimbangkan harga. Berapa pun harganya, jika mereka suka dan sudah membuktikan bahwa kualitasnya bagus, mereka akan membelinya. Sayangnya, jumlah pasar kelas premium ini sedikit konsumennya.

Yang banyak itu yang berasal dari pangsa pasar kelas menengah dan bawah. Tapi, sayangnya, kelas bawah nyaris tidak mau diakui sebagai kelas bawah. Mereka ingin diakui sebagai kelas menengah. Dan begitu juga kelas menengah. Mereka gengsi jika disamakan dengan pasar kelas bawah, mereka maunya "terlihat" sebagai "anggota" dari  pangsa pasar kelas premium.

Akibatnya?

Para pelaku yang berada di pangsa pasar kelas menengah dan kelas bawah, lebih sering menggunakan barang-barang KW atau tiruan yang mereka contek gaya dan modelnya dari para pelaku pangsa pasar kelas premium.

Murah? Itu pasti.
Kualitas? Nggak usah dipikirin. Yang penting penampilan terlihat keren seperti para seleb atau kaum sosialita yang jadi idola mereka. Itu sebabnya barang-barang tiruan alias KW (berbagai macam tingkat KW malah), selalu dibanjiri oleh pembeli. Barang-barang dari merek terkenal ditiru habis-habisan.

Merek Lokal? Apa kabarnya?

Nah. Hal yang menarik yang terjadi kemudian setelah banyak pembeli dari kalangan menengah dan bawah yang  membeli barang-barang tiruan adalah, ternyata pangsa pasar Premium malah mulai melirik merek lokal yang kualitasnya bagus. Jadi, jika merek Internasional terlalu mahal, lebih baik memakai produk lokal yang bagus. Nilai plus dari brand local adalah: modelnya kreatif. Jadi, mereka menghindari meniru brand terkenal dari luar negeri karena alasan royalti, lalu mengkreasi model baru yang kreatif dan unik. Nah, nilai plus ini yang membuat pangsa pasar premium merasa lebih keren jika memakai brand local. Tidak pasaran, unik dan tetap nyaman dipakai.

Lucu ya perilaku pasar masyarakat kita.
Tapi, aku suka dengan semua perilaku pasar ini.
Kenapa?
Karena itu berarti satu: saatnya bagi brand local untuk mulai membenahi diri agar bisa berkibar dan dicintai oleh orang Indonesia dan disukai oleh masyarakat Internasional.

Apalagi setelah nilai rupiah sering terpuruk oleh nilai dollar, maka barang asli (original) milik brand terkenal di luar negeri yang sering dipilih oleh pangsa pasar kelas premium, ikut melonjak harganya.

pakaian local brand Indonesia yang keren (bahkan lebih keren ketimbang merek luar)
Aku sendiri, aku termasuk seorang yang menyukai produk lokal. Sebenarnya sih, aku tidak terlalu melihat merek. Meski memang ada keluaran produk merek tertentu yang aku suka karena variasi kreasi mereka yang menurutku memikirkan kenyamanan konsumen menggunakannya.

Menurutku, pakai produk local brand itu  lebih keren


Daripada harus memakai barang KW atau tiruan merek luar, jelas jauh lebih keren jika kita memakai merek lokal Indonesia. Karena kualitas barang KW atau tiruan itu biasanya jelek, tidak awet dan kurang rapi. Lagian pasaran juga sih.

Beberapa merek lokal Indonesia itu, dibuat dan dihasilkan sudah menyesuaikan dengan kondisi negara kita. Seperti batik tuh. Dibuat dari kain katun yang dingin jika dipakai di kulit. Karena, negara kita memang negara Tropis yang nggak mungkin rasanya jika memakai pakaian dari bulu-bulu yang tebal.

aneka cemilan khas Indonesia
Atau aneka cemilan yang dibuat dari berbagai macam hasil bumi yang ada di Indonesia. Hasil pertanian, perkebunan, perikanan, hasil hutan, dan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia. Tentu saja otomatis hal itu berarti aman untuk kondisi perut, dan tubuh orang Indonesia. Dan terutama sih lidah orang Indonesia (hayoo, siapa yang kalau jalan ke luar negeri merasa kehilangan sambal dan kecap?)

Lebih dari itu, ada hal lain yang aku pikirkan dan menjadi alasan mengapa aku memilih untuk memakai merek lokal. Yaitu, diniatkan untuk membantu masyarakat Indonesia dalam berusaha bekerja dengan jujur. Dan diniatkan untuk membantu perekonomian Indoenesia.

Memakai produk Lokal berarti membantu membangun Indonesia


Indonesia, berdasarkan data sensus yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan Indonesia tahun
2014, menduduki peringkat ke 4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.  Dari jumlah penduduk sebesar itu (253,60 juta jiwa), tentu saja tidak semuanya merupakan usia produktif dan bisa memberi kontribusi bagi negara kita. Karena, dari sejumlah besar jiwa tersebut, di dalamnya ada usia anak-anak, usia manula dan juga tenaga kerja yang tidak bekerja. Jadi, terbayang kan betapa besar kerja keras yang harus dilakukan oleh Pemerintah negara kita dalam rangka untuk membawa seluruh rakyat Indonesia agar bisa terus hidup nyaman, aman dan terpenuhi kebutuhannya.

Tidak heran jika lapangan pekerjaan yang bisa menyerap tenaga kerja yang banyak, begitu dibutuhkan di Indonesia. Tapi, meski sudah banyak diselenggarakan, tetap saja jumlah tenaga kerja yang bisa ditampung tidak dapat seluruhnya. Untuk itulah maka bidang usaha wirausaha yang dilakukan oleh perseorangan atau lembaga yang ada di masyarakat ikut memberi kontribusi luar biasa bagi kemajuan Indonesia. Salah satu unit usaha tersebut adalah UKM: Usaha Kecil Menengah.

Beberapa waktu yang lalu, aku pernah menulis tentang bagaimana terbantunya seorang temanku yang kebetulan kena PHK dan tidak mungkin mencari pekerjaan lagi karena usianya yang sudah lewat dari 40 tahun lewat kegiatan UMKM (usaha mikro kecil menengah). Temanku itu, kebetulan dibantu oleh suntikan dana yang diberikan oleh Bank Dunia, bersama dengan beberapa tenaga binaan LSM setempat, membuat Ikan Bandeng Presto Duri Luna (bisa dibaca disini: Mari Bantu Masyarakat Kecil Yang Jujur)

Dari usaha yang kecil ini, siapa yang menyangka bahwa hal ini bisa menggairahkan roda kehidupan sebuah keluarga dan kelompok masyarakat? Dan jika sekumpulan usaha kecil ini terus mengembangkan diri, maka bukan tidak mungkin produk dari UKM bisa menguasai bukan hanya pangsa pasar di dalam negeri saja, tapi juga di luar negeri. Akibatnya apa? Tentu saja meningkatkan perekonomian di dalam negara kita.

Tuh. Jadi, jangan pernah meremehkan merek lokal. 
Pakai Lokal Brand Jelas Lebih Keren.


Karena, jika sebuah merek lokal tapi pengadaannya dilakukan dengan pengawasan akan mutu dan kualitas, bukan tidak mungkin usaha tersebut bisa menjadi usaha besar dan otomatis membantu banyak sekali anggota masyarakat yang ada di Indonesia.

Lagipula, jika masyarakat kita tidak digerakkan untuk lebih mencintai merek lokal dan produksi asli anak bangsa, bukan tidak mungkin kekayaan budaya dan produksi dalam negeri Indonesia akan semakin punah. Generasi mendatang tidak akan lagi mengenal dan mengetahui keberadaan  mereka. Nanti tiba-tiba diakui oleh bangsa lain, baru deh blingsatan merasa kehilangan, padahal sebelumnya mengetahuinya saja tidak.

Duh. Jangan sampai deh.

SMESCO: UKM Galeri produk Indonesia


Ada cara yang mudah untuk mendapatkan produk local brand alias merek lokal dari berbagai propinsi di Indonesia (dan ini juga berguna untuk memperkenalkan produk merek lokal terhadap masyarakat luas dan menawarkan penjualannya). Yaitu lewat UKM Galery atau SMESCO. 

UKM Gallery (Smesco) dibuka dan diresmikan pada tanggal 3 April 2009 oleh Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah saat itu Suryadharma Ali. Misinya adalah ikut menjaga dan mengembangkan warisan budaya Indonesia, dengan terus menerus melakukan pengembangan desain agar daya saing produk meningkat sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.


ini koleksi kain khas Indonesia yang aku beli di SMESCO.
Yaitu dari Propinsi Sumatra Selatan dan Yogyakarta /Jawa Tengah
kain andalan untuk dikenakan di acara formal
Yang dijual di SMESCO  amat beragam.
Mulai dari produk makanan hingga furniture.

Mulai dari pakaian, hingga sepatu.

Mainan anak, mainan orang dewasa (loh? hehehe, maksudku koleksi yang dibeli karena hobbi), hingga benda elektronik produk lokal brand Indonesia.

Galeri SMESCO memang terdiri dari banyak lantai. Jika di lantai dasar dan lantai 2 kita menemukan UKM Galeri, maka di lantai 3, 11, 12, 15 kita akan menemukan UKM Propinsi.


Yang menyenangkan dari SMESCO adalah:


  • Tidak perlu bepergian ke daerah asal tempat barang tersebut dijual. Cukup datang saja ke SMESCO. Lumayan lengkap kok koleksi barang yang dipamerkan dan dijual disana.
  • Di SMESCO kita juga bisa menemukan aneka produk yang mungkin selama ini tidak terdengar gaungnya di dalam negeri tetapi di luar negeri sana alias dunia Internasional, masyarakat Internasional amat mengapresiasinya.
    Penghargaan untuk model radio antik buatan Indonesia
  • ini dia radionya: radio cawang. Model antik radio ini memenangkan penghargaan Internasional loh

  • Kita akan takjub melihat produksi lokal brand yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Aku ada cerita tersendiri. Beberapa waktu yang lalu, seseorang yang sedang berencana untuk menyusun sebuah tulisan tentang perahu khas Indonesia, menghubungi dan mewawancaraiku. Kebetulan, aku memang seorang kolektor bentuk perahu mini. Nah, ternyata, pengetahuan dia tentang bentuk perahu khas Indonesia, masih kalah dengan koleksi perahu khas Indonesia yang aku miliki (cihuy... bangga dong aku. Tumben-tumbennya coba dijadiin narasumber.). Nah... kalian mau tahu darimana aku mengumpulkan koleksi perahu khas Indonesia itu? Sebagian besar, aku dapatkan dari kunjungan "rajinku" jika SMESCO mengadakan pameran produk lokal Indonesia.
    ini model-model perahu mini yang ada di SMESCO
    tuh, keren kan dan semua ini local brand semua loh

    dan ini koleksi perahu mini terbaruku yang aku beli di SMESCO beberapa hari yang lalu. Cantik kan?
    Ini adalah replika perahu layar kepala naga. Dahulu digunakan untuk pergi berperang

  • Soal harga, memang harga yang ditawarkan oleh setiap paviliun yang ada di SMESCO sedikit lebih mahal ketimbang jika kita membeli langsung ke pengrajin di tempat aslinya. Tapi... coba deh dihitung dengan ongkos untuk pergi ke tempat pengrajin itu berada... bedanya tipis banget. Jadi, mending datang ke SMESCO sih menurutku.

Saran Untuk SMESCO:

Percaya atau tidak, pangsa pasar kelas premium di Indonesia itu, amat menanti-nanti yang namanya acara INA CRAFT yang diadakan setiap tahun di JHCC. Banyak produk local brand yang mendadak laris manis dan menguntungkan banyak pengusaha lokal Indonesia. Padahal, kalau diperhatikan, apa yang ditawarkan untuk dijual di INA CRAFT itu, persis sama dengan apa yang ditawarkan di gallery UKM/SMESCO. 

Kenapa bisa begitu? Karena, apa yang dijual di INA CRAFT dijual dengan memikirkan kenyamanan pemakai produk mereka. 

Nah... di beberapa produk local brand yang aku lihat setiap kali aku jalan-jalan ke SMESCO, kadang dibuat masih belum memikirkan kenyamanan pemakai produk mereka. Seperti tali tas yang kadang belum lemas kulitnya, atau model yang out of date alias tidak kekinian. 

Mungkin ini akan menjadi PR bagi kementerian Koperasi dan berbagai pihak terkait, untuk melakukan uji kelayakan mutu dan pembinaan pada UMKM yang ada di bawah binaannya.

Tapi, tetap sih. Aku tetap menyukai produk local brand Indonesia. Dan memakai lokal brand menurutku sih jelas lebih keren.

Iya kan? Iya dong.
------------------------
bahan bacaan:
- Negara dengan penduduk terbanyak di dunia, RI masuk 4 besar (http://finance.detik.com/read/2014/03/06/134053/2517461/4/negara-dengan-penduduk-terbanyak-di-dunia-ri-masuk-4-besar)
- Semua foto disini adalah milik koleksi pribadiku

22 komentar:

  1. Itu kebayanya canteek canteek. Setuju mba, prosuk lokal Indonesia tuh gk kalah keren sm branded luar negeri. ;)

    BalasHapus
  2. mbak panjang amat artikelnya? kapan nulisnya itu yah?

    BalasHapus
  3. Selalu hanyut kalau baca tulisan Mbak Ade. Dalem banget. Semoga mendapatkan Piala SMESCO Netizen Award, Laptop, Smartphone dan uang tunai. Pokoknya Mbak borong deh. Aku dukung :D

    BalasHapus
  4. Slaluu suka ulasannya mak ade snita, detiiiiiilll bgt

    BalasHapus
  5. wah, produknya keren-keren mbak
    bisa bersaing di pasar internasional tuh

    BalasHapus
  6. Kalo aku (komentar jujur banget) bukan seorang brand-minded. Malah cenderung (maaf yang ngerasa ;p) sebel ama yg apa2 hrs merk terkenal. Biarpun KW (komenku nyinyir ya mbak Ade. Jgn dirimuv ya ;p
    Produk lokal yg mendunia malah banyaaaak bgt sekarang. Bangga pokoknya deh.

    BalasHapus
  7. cantik2 ya sebenarnya produk kita ga kalah dengna produk luar

    BalasHapus
  8. Cintai produk Indonesia untuk mensejahterakan rakyat :D

    BalasHapus
  9. Indonesia wow, mbak Ade wow, keren mbak. good luck ya

    BalasHapus
  10. Produk Indonesia memang cantik2, termasuk perempuan Indonesia-nya :))

    BalasHapus
  11. Waaaw, smesco keren banget ya...cinta produk lokal dong

    BalasHapus
  12. Saya ada beberapa Mbak, buatan tangan para ibu-ibu di kampung saya. Senang memakainya

    BalasHapus
  13. ternyata..produk2 indonesia cakeeep pakek bgd ya mak
    ayooo produk2 indonesia, go internasional, yoyoyow..

    BalasHapus
  14. jd inget furniture Jepara yg sering dibawa ke luar negeri

    BalasHapus
  15. Banyak produk dalam negri yg tidak kalah bagusnya dengan produk luar :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...