badge

Rabu, 30 September 2015

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

[Parenting]: Suatu hari seorang guru berkata pada murid-muridnya.
"Barang siapa yang ingin menjadi seorang murid yang sukses, maka kumpulkanlah debu-debu yang ada di surga."

Ini adalah kiasan dari tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, setinggi mungkin. Karena ilmu itu serupa dengan debu dari surga. Dengan ilmu, kita bisa menyelesaikan berbagai macam hal, dan dengan ilmu pula kita bisa mendapatkan banyak hal. 

Ada banyak sekali kemudahan, kesenangan, keberuntungan, kekayaan, kemapanan dan segala sesuatu yang diinginkan oleh manusia di atas muka bumi ini, bisa didapat jika dia memiliki ilmu. Dan karena jumlah ilmu itu ada banyak sekali maka sebaran ilmu itu menyerupai debu di tengah padang pasir. Tidak terhitung banyaknya. 


Kita kembali ke kelas dimana guru memberi motivasi pada murid-muridnya dengan cara memberikan kalimat peribahasa tersebut. Kelas lalu dibubarkan. Pada seorang murid yang terlihat malas di kelas, guru mendekatinya.

"Bagaimana? Apakah kamu bisa mengumpulkan debu dari surga tersebut?"
Murid tersebut terdiam. Lalu pulang ke rumahnya. 

Keesokan harinya, murid yang sehari-hari selalu terlihat malas itu mendekati gurunya. DI tangannya terkumpul debu-debu yang ditampungnya di dalam tissu.

"Ini debu dari surga yang aku kumpulkan."
Tentu saja guru marah pada murid tersebut. Sekaligus kesal karena itu berarti nasehat dia yang disisipkan dalam kiasan debu dari surga tidak sampai ke muridnya tersebut.

"Kenapa malah ngumpulin debu beginian? Kamu tuh nggak ngerti ya maksud dari cerita saya. Maksud saya adalah, rajinlah belajar. Kumpulkan semua ilmu yang ada di sekelilingmu agar kamu bisa jadi orang yang sukses."

Si murid menatap gurunya.
"Tapi, bukankan bapak mengajarkan pada kami bahwa surga itu ada di bawah telapak kaki ibu. Sepulang sekolah, saya menghampiri ibu saya dan saya membersihkan kaki beliau hingga terkumpul seluruh debu-debu ini. Inilah debu dari surga."

Mendengar pembelaan murid tersebut, guru pun tidak dapat berkata apa-apa lagi.  Karena memang yang dikatakan oleh murid tersebut benar adanya. Ibu kita, sudah mengandung dan merawat kita. Tanpa lelah menemani, membimbing, dan mencurahkan segenap perhatian pada anak-anaknya. 

Berarti kesalahan bukan pada murid tersebut. Tapi pada penyampaian dia dalam menasehati. 

Dalam mendidik anak-anak, memang sebaiknya hindari penggunaan kiasan atau kalimat yagn bersayap. Mengapa? Karena kiasan atau kalimat bersayap itu memang terdengar indah di dengar tapi nyaris selalu memiliki dualisme atau lebih dalam penafsiran. Jika ditafsirkan sesuai dengan penjabaran kata per kata, maka akan menghasilkan tafsir yang berbeda. Dan anak, tidak pernah berpikir dengan kiasan. Mereka berpikir secara nyata dengan cara menggabungkan informasi satu dengan informasi lain. 

Begitu besar pengabdian seorang ibu dan pengorbanannya, maka Islam menghargai seorang ibu dengan memberikan pahala setara dengan Jihad pada seorang ibu yang berhasil mendidik anaknya hingga menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Suatu ketika, Ibnu Abbas pernah diutus oleh para sahabat perempuan (shahabiyah) guna bertanya kepada Rasul perihal apakah mereka juga bisa mendapat pahala sebagaimana para lelaki yang berangkat berjihad. Rasul menjawab, tugas yang dikerjakan oleh istri berupa mengurus rumah, membesarkan anak, dan lain sebagainya, sederajat pahalanya dengan jihad di jalan Allah.

Ats-Tsa'alabi pernah meriwayatkan hadis dari Aisyah, Rasul menyatakan bahwa tidak ada yang pantas bagi seorang istri yang membenahi kondisi rumah kecuali Allah akan mencatat aktivitas itu sebagai kebajikan dan bakal menghapus dosanya lalu meninggikan derajatnya.
Istri yang mengandung lalu melahirkan anak akan memperoleh pahala sebesar ganjaran orang yang berpuasa dan berjihad di jalan Allah. Jika tengah menyusui anaknya, maka malaikat dari langit akan memanggilnya dan akan dicukupkan pahala amal yang lampau dan akan datang. Aisyah berseloroh, ”Allah memberikan segudang kebajikan bagi perempuan, mana bagian kalian wahai laki-laki?” Tak pelak, celetukan Aisyah itu pun membuat Rasul tertawa.

Dan ini adalah parade foto berbagai hubungan ibu dan anaknya yang terjadi pada makhluk ciptaan Allah. Masya Allah indahnya.
(foto berikut ini diambil dari berbagai sumber di google image)



















14 komentar:

  1. Lucuuuu mbak, foto-foto ini jepretnya di mana mbak ? gemesss

    BalasHapus
  2. jadi kangen ibuku

    Salam kenal ya...
    di tunggu kunjungan baliknya + komentarnya juga hehehe

    BalasHapus
  3. kasih sayang ibu itu tiada batasnya ya mbak..
    walopun ibuku crewet #kayak saya, tapi suka kangen omelannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener... bahkan dulu waktu ibuku masih hidup aku selalu sebal dengan tegurannya.. begitu dia sudah meninggal justru itu yang paling aku rindukan

      Hapus
  4. ikutan ini yuk bun http://vanisadesfriani.blogspot.com/p/blog-page_19.html :)

    BalasHapus
  5. subhanallah...........................

    BalasHapus
  6. Subhanallah, bahkan binatang pun menyayangi anak anaknya....

    BalasHapus
  7. Binatang pun sangat sayang pada anaknya, seharusnya manusia lebih lagi ya.
    Gambar koalanya imut banget :)

    BalasHapus
  8. hewan aja menjaga anaknya ya, mba. apalagi manusia. pasti penjagaannya lebih baik. :)

    BalasHapus
  9. itu yang foto lumba-lumba lucu banget, gemesin..
    eh malah OOT yah, hehe..
    sebenernya aku inget ibu di kampung halaman mbak, jadi gak berani nulis apa-apa, nanti jadi sedih :(

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...