badge

Sabtu, 05 September 2015

Kucing, Sebuah Pengalaman Yang Lain

Kucing, sebuah pengalaman yang lain. Memangnya ada pengalaman apa saja? hehehe... FYI, aku tuh seorang yang takut sama kucing (ini, silahkan baca ceritaku tentang kucing, dan asal muasal kenapa takut kucing di tulisan ini: KUCING.

Jadi, jika teman chatku banyak yang cinta banget sama kucing, seperti echa alias suria riza yang punya cucuth  sejak masih kecil sampai sekarang besar dan sudah punya anak), atau Melly Feyadin dengan Loki-nya yang meski berkali-kali ngencingin nyaris semua barang yang dia miliki termasuk handphonenya, tapi tetap disayang-sayang, aku tidak terpengaruh sih. Tetap saja gaul  mah gaul, tapi rasa takut tetap tidak bisa dihilangkan. Mungkin aku mirip dengan HM Zwan deh. Meski kayaknya lebih parah aku takutnya, karena HM Zwan masih bisa meneruskan makan di warung yang didatangi kucing setelah kucingnya diusir oleh pemilik warung, nah, aku mah dah nggak nyaman lagi pasti menyelesaikan menghabiskan makanannya.


Nah. Pekan ini, aku mendapat dua kejadian yang tidak enak sehubungan dengan Kucing tersebut.
Ya.
Bukan satu atau tiga... tapi dua. D_U_A alias 2. 
Cukup banyak kan (*apa sih? banyakan juga 3 perasaan daripada 2?)
Nah... ini ceritaku tentang pengalamanku dengan kucing yang lain.

demi menjaga perasaanku sendiri, maka kali ini gambar kucingnya diperagakan oleh Model Cat Woman, perempuan kucing yang jagoan. sumber: google image.


Cerita Kucing Pertama:

Jadi, ceritanya setelah selesai menurunkan putri bungsuku di sekolahnya, lalu membayar ongkos kendaraan umum, aku pun berjalan menuju ke Taman tempat jogging track yang ada Taman Tebet, Jakarta Selatan.

Pagi yang cerah. Pastinya enak dong buat jogging sebentar.
Lalu berjalanlah aku menuju ke taman. Tapi, di tengah perjalanan, dimana trotoarnya nggak mulus-mulus amat karena banyak batu-batu (bukan akik) yang bertebaran di sepanjang trotoar yang rusak itu. Mana gede-gede pula. Tiba-tiba ada dua ekor kucing yang berkelahi.

Duh... Aku nggak ngerti sebenarnya apa permasalahannya sehingga mereka berdua berkelahi. Dan nggak mungkin juga dong aku pisahin mereka. Yang pasti, mereka berdua tuh saling gulat, berguling-guling dengan masing-masing memperlihatkan wajah garang lengkap dengan seringai dan suara geram.
Ahhhhh.... takutttttt.
Aku spontan takut.
Mana kalau kucing berantem nggak lihat sekitarnya lagi. Jadi, badan mereka tuh berguling tanpa kita tahu mau ke arah mana. Duh... Makin deg-degan. Dengar suara MEONGG yang diteriakan dengan nada marah masing-masing tuh serasa mendengar suara guntur yang berbunyi suara kucing di telingaku. Makin takut.

Jadi... aku berusaha menghindari keramaian mereka. Minggir rada ke tengah jalan dan akibatnya...

BRAG.

Aku terpeleset batu-batu yang berserakan di pinggir jalanan. 

OUCH!!!

Sakitttt.

Ini semua gara-gara dua ekor kucing yang berkelahi dan orang yang berada di dekat mereka terkena apesnya.
huff.
ini foto akibat jatuh dan tanganku reflek menahan wajah agar tidak jontor membentur aspal. Pas shalat dzuhur siangnya. baru terasa bahwa ternyata lututku memar dan sakit banget ketika harus menyentuh lantai. Juga celana panjang yang ada robeknya dikit. Ish, parah.

2. Cerita kucing Kedua.

Nah, kemarin, tepatnya hari Jumat kemarin (tanggal 4 september 2015) aku menemani anakku yang akan latihan untuk gerak dan lagu untuk pelajaran SBK (seni budaya dan keterampilan). 

Jadi, ceritanya tiap anak di kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Lalu, masing-masing kelompok ini harus menampilkan sebuah tarian kreasi sendiri dengan menggunakan lagu daerah yang ada di Indonesia.

Indonesia tuh kaya banget dengan lagu daerah. Yaiyalah, secara jumlah profinsinya saja sudah banyak. Belum lagi jumlah kabupatennya. Dan itu semua punya lagu daerah masing-masing. Jadi, sejak hari rabu, Putriku sudah memberitahu rencana bahwa dia akan membuat kreasi gerak dengan lagu daerah di rumah temannya, Nadine.

Aku otomatis menemani dong. Secara aku memang bertugas antar jemput dan sekalian deh menunggui dia daripada harus bolak balik. Jadilah pulang sekolah jumat kemarin aku ke rumah teman putriku si Nadine. Begitu sampai di depan rumahnya, dan barulah Nadine dengan suara imut-imutnya mengatakan sebuah berita yang asli bikin jantungku berdebar-debar.

"Oh iya... tante... tante... emangnya tante takut kucing ya? Soalnya Hawna bilang tante takut kucing."
Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa tersenyum dan dengan tenang-manis-penuh wibawa dan senyum keibuan yang dasyat habis, menjawab:

"Memangnya kenapa?"

"Nggak. Soalnya, aku meliharan kucing di rumah." 
DEG. Trouble.
Oke. Aku langsung berusaha untuk tetap tenang. Teman-teman Hawna banyak yang memelihara kucing jenis angora di rumahnya dan setahuku kucing Angora itu kucing pemalas yang kebanyakan hanya meringkuk saja dalam gelungan kasur empuk mewah mereka. Jadi... oke. Aku berkata ke diri sendiri, ah,...paling juga kucing angora. 
Berani.
Aku berani.
Berani.
Berusaha untuk meyakinkan diri sendiri hingga si Nadine dengan cengirannya melanjutkan kalimatnya:

"Kucingku ada tiga. Semuanya kucing kampung."
WHAT???
Mayday
mayday
mayday.....

Aduhhhh.... hatiku langsung mencelos. Rasanya jantungku langsung melorot ke atas lantai.

Dan ternyata benar hadirin yang terhormat. Begitu pintu ruang tamu dibuka, ada seekor kucing kecil yang dengan amat sangat lincah sedang lari kesana kemari. 
huaaaaa.... pingin nangis.
Untungnya, si kecil ini begitu melihat pintu ruang tamu dibuka langsung berlari ke luar rumah dengan amat lincah. 

Okeh. Berkurang satu kucing di dalam rumah. Lalu mataku awas mencari dua ekor lagi. Dan dia ternyata adalah si ibu yang gemuk sekali badannya. Sedang tidur melingkar dengan malas. 
Huff.
Aku senang melihat kegendutan badannya. Karena itu berarti satu: dia nggak bakalan lincah kesana kemari.

Berkurang satu lagi masalahku. Tinggal satu lagi.
Nggak keliatan sih. Jadi, aku berdiri tegang dan mulai mencari lagu-lagu daerah di handphoneku lewat aplikasi You tube. 
Untuk beberapa saat aku dan anak-anak (hawna dan teman-temannya) asyik memilih lagu hingga terdengar suara gemerisik kantong plastik dan muncullah seekor kucing remaja (kecil nggak besar juga nggak. Wajahnya sih masih imut dan jahit gitu, jadi kayaknya sih bukan kucing dewasa).

Nadine langsung sumringah dan berteriak memanggil kucing remaja ini (lupa namanya). Lalu menggendongnya ke dekat kami. Spontan aku kaku ketakutan.

"Oh iya... mama Hawna takut kucing. Lupa."
Lalu, kucing itu dilepas begitu saja.

huhuhuhuhu.
Dan itu adalah waktu latihan paling menegangkan bagiku. Antara sibuk mencari lagu, mengajarkan anak-anak agar bisa menyanyikannya lalu mengumpulkan ide anak-anak gerakan apa yang cocok untuk lagu itu (kami pilih lagu Soleram akhirnya).  Sepanjang latihan, kedua kakiku naik ke atas kursi. Dan aku tegangggg sekali. Pokoknya kewaspadaan tingkat tinggi deh. Tingkat dewa malah.

Bayangkan saja lagi latihan di atas lampit, tiba-tiba kucing remaja itu HOP... menelusupkan kepala mungilnya ke dalam lampit lalu bersembunyi di dalam lampit.
Atau tiba-tiba menemukan plastik sedotan dan akhirnya asyik bermain plastik sedotan. Bergerak lincah ke kiri dan ke kanan.
Ampunnnn...
Lucu sih tapi aku takutttt.





3. Cerita Kucing ketiga


Dan pagi ini, tanggal 5 September 2015, sabtu... tiba-tiba putra sulungku berteriak dari atas loteng.

"IBUUUU.... Ada anak kucing baru lahir di tempat jemuran."

Ya Allah.
Aku mesti bagaimanaaaaaaaaa?????
huhuhuhu.
Kata orang, rumah yang sering dijadikan kucing melahirkan itu bakalan banyak rezekinya. Ah... aku nggak percaya mitos ini. Rezeki kan dari Allah. Karena, aku sih berharap tidak pernah ada kejadian kucing melahirkan di rumahku. Tapi...
Ah.
Seandainya kucing bisa membaca pasti aku akan tulis di depan pintu pagar: dilarang melahirkan di sini.

---------------------------------------

obrolan nggak penting dengan Ibam dan Hawna setelah penemuan anak kucing yang baru lahir itu:


 Ibu: "Bam, serius ada anak kucing baru lahir di atas?"
Ibam: "Iya serius."
Ibu: "Di mananya?"
Ibam: "Tempat jemuran."
Ibu: "Berapa ekor?"
Ibam: "Satu aja sih."
Ibu: "Ibunya ada?"
Ibam: "Nggak ada. Kalau ibunya ada selesai masalah. Kita bisa minta mereka pindah. Ini dia sendirian. Kayaknya sih anak haram deh."
Ibu: "Ih... jangan-jangan itu ibunya malu lalu mau ninggalin anaknya di rumah orang begitu saja. Ngarep biar anaknya diadopsi."
Hawna: "Hah? Emangnya dia anak haram? eh... anak haram apa sih artinya?"
Ibu: "Nggak jelas bapaknya siapa."
Hawna: "Kita cari tahu saja bapaknya siapa."
Ibu: "Warna bulunya apa Bam?"
Ibam: "Nggak jelas. Ada putihnya, ada abu-abunya. Nggak jelas. Makanya aku bilang jangan-jangan itu anak haram." (lalu dia ketawa-ketawa dengan roman wajah jail dan iseng). "Senang kan bu, dapat bahan gosip baru? Jadi nggak takut lagi kan?"


7 komentar:

  1. Saya phobia sama kuciiiiiing mbak...

    BalasHapus
  2. Anak-anakku senang banget sama kucing, aku nggak takut sihh cuman malas ngerawat dan meliharanya.. Jadi sampai saat ini kami nggak punya kucing.

    Eh btw, aku tahu mbak Ade fobia kucing dari postingan blog yang dulu sempat rame itu :D

    BalasHapus
  3. Bintang kalau liat kucing pasti dikejar dan teriak haaaaarrrrh.... kadang saya takut kalo kucingnya berani trus nyakar dia. selama ini kucingnya kaget trus lari...

    BalasHapus
  4. hahahaaa....ngakak abeeezzz baca ini... ayo sini Mba Ade terapi kucing sama akyuuu :D :D Kucing tuh pada intinya takut sama manusia mba, sante ajaaaa...

    BalasHapus
  5. Hihihi, pqsti udah ngga konsen nyari gerakan buat anak2, ya. Parah banget sih takutnya, Bu. Aku takut juga sama kucing, tapi masih biasa saja. Ngga sampai naru kaki ke atas gitu. :D

    Kucing kalau ngga dinakali kadang bisa lebih kalem dr kita lho, Bu. Bhahaha

    BalasHapus
  6. Owalahh mbak...mbak... kucing itu binatang paling lucu sedunia lo...menggemaskan juga.aku punya 5 mbak dirumah. Yuk kerumahku biar ga takut kucing lagi ;)

    BalasHapus
  7. Kalau pengalaman saya...saya rebutan lauk ikan dengan kucing. dan hasilnya saya kalah.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...