Langsung ke konten utama

Pendidikan Karakter: Belajar Gotong Royong

[Parenting] Jika kalian remaja yang besar di era 70an-80an, mungkin masih ingat dengan pelajaran PMP, yaitu pendidikan moral pancasila.
Ini pelajaran kesukaanku dulu ketika masih SD dan SMP. Kenapa? Karena soal ulangan dan ujiannya gampang-gampang banget. Jadi, jika jeblok di pelajaran matematika (maksudnya sudah merasa yakin bahwa nilai matematika bakalan jelek) tidak perlu khawatir tidak naik kelas. Karena, sudah pasti nilai PMP akan mengkantrol nilai jelek matematika.

Bayangkan, jika nilai matematik di rapot 5 saja (eh, aku belum pernah sih dapat nilai segini kecuali waktu aku kelas 1 dan kelas 2 SD dulu), maka ketika nilai ini disandingkan dengan nilai 8 dari PMP maka nilai rata-rata yang didapat menjadi 5 + 8 = 13, nilai-rata di rapot menjadi 6,5. 
Otomatis nilai 6,5 ini bikin nilai rapot cukup untuk dinyatakan bisa naik kelas.

Dan kebetulan, karena ayahku adalah seorang tenaga militer yang lantas dikaryakan di sipil (ayah seorang berpangkat Kapten yang di tahun 1972, memilih untuk dikaryakan di sipil. Ini adalah awal dari Repelita (rencana pembangunan lima tahun) yang dicanangkan oleh Presiden Suharto (Repelita mulainya 1 april 1969). Karena Presiden Suharto termasuk orang yang percaya bahwa militer bisa menangani berbagai macam persoalan bangsa ketimbang sipil yang waktu itu memang belum banyak yang berpendidikan cukup mumpuni seperti sekarang, maka setiap angkatan yang cukup kompeten diberi pilihan, mau tetap berkarir di militer atau ingin dikaryakan di sipil. Nah, ayahku memilih untuk dikaryakan di sipil. Ayah memilih untuk bekerja di PELITA AIR SERVICE, yang waktu itu masih anak perusahaan PERTAMINA.

Sebagai mantan anggota militer yang dikaryakan di sipil, ayahku terkena kewajiban untuk tetap mensosialisasikan ajaran PANCASILA pada masyarakat sipil. Jadi, selain bekerja di PELITA AIR SERVICE, ayah juga mengajar materi PANCASILA dan sering mengisi acara penataran Pancasila di kantor-kantor sipil lainnya, termasuk di lembaga pendidikan.

Akibatnya, yang namanya buku-buku seputar PANCASILA tuh banyak sekali bertumpuk di rumahku. Dan karena aku sering kehabisan bahan bacaan di rumah, jadi aku sering membaca buku-buku ayahku. Itu sebabnya nilai PMP-ku selalu tertinggi di kelas.

Di pelajaran PMP itu, kita diajarkan tentang budi pekerti yang merupakan pendidikan karakter dari penerapan PANCASILA di kehidupan sehari-hari. Seperti pentingnya gotong royong, mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan sendiri, membantu orang tua di rumah,  bermusyarawah dalam menyelesaikan masalah, menjaga kerukunan, dan sebagainya.

Ternyata, meski sepertinya semua pelajaran itu sepele dan tidak berguna, tapi cukup membekas loh di benakku. Dan mungkin ini yang bisa disebut sebagai pendidikan karakter yang cukup berhasil.

Nah... jaman sekarang, tentu saja pelajaran PMP sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, ada pelajaran PKn, tapi materi yang diajarkan ternyata amat padat. Lebih banyak hafalannya dan gaya tutur di buku tersebut juga menurutku cukup berat sih jadi anak lebih terfokus untuk menghafal butir yang penting ketimbang menginternalisasi pesan moral dalam pendidikan karakternya.

Ya sudah.
Sebagai orang tua yang punya kewajiban untuk membentuk karakter anak, maka aku lebih memilih untuk memberikan pendidikan karakter pada anak-anakku secara langsung saja. Salah satunya adalah lewat kegiatan gotong royong dalam mengerjakan sesuatu.

Gotong royong ini dalam arti, ada kerjasama antara anak yang lebih besar dengan anak yang lebih kecil usianya. Karena gotong royong memang tidak mengenal usia dan gender. 

Gotong royong disini adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dalam menyelesaikan sebuah masalah. Atau kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dengan tujuan untuk lebih meringankan sebuah beban pekerjaan yang berat. 
Agar lebih fun dan ikhlas ketika menjalankannya, jangan perintahkan anak dengan nada perintah yang kelewat keras atau kelewat tegas ya. Lakukan dengan mengedepankan kelembutan dan nada suka cita. Jadi, anak tidak merasa sedang ditindas.

ini aslinya kotak ini berat banget loh. Karna isinya pakaian bekas, perlengkapan sekolah dan makanan kaleng yang akan disumbangkan ke luar kota.

Dan ini buku pelajaran PMP jaman aku dulu masih kecil. Kalian mengalaminya juga nggak jaman itu?

credit foto


Komentar

  1. wah ..., mak auahku juga dari kantor dapat tugas jadi penatar P4..,, kantornya sama siiih ya..,

    BalasHapus
  2. kalo aku perhatikan sekarang ini semangat gotong royong mulai memudar terutama di kalangan yg muda2... contohnya nih kalo ada kegiatan bersih2 lingkungan hari Minggu..yg mau keluar rumah cuma segelintir, sisanya baru nimbrung kalo sdh diketok2 pintu rumahnya.. Trus kalo ada mobil mogok di jalan yg mau bantuin juga gak ada, kalopun ada yg bantuin itu diminta bantuan dulu baru mau.. cukup prihatin sih sebenarnya kenapa orang2 skrg ini kesannya koq cuek2 ya?

    BalasHapus
  3. aku masih ngalamin mak buku ppkn kayak gitu ...memang gotong royong mulai jarang apalagi di perumahan kyk saya..

    BalasHapus
  4. Hmmm aku ingat2 anak2ku nggak ada yg heboh bawa2 sapu atau alat kebersihan lainnya untuk kerjabakti seperti aku dulu tiap mau ulangan atau terima rapot. Udah nggak ada gotong royong lagi di sekolahan ya?

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…