Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Ini Pola Hidup Sehat Yang Aku dan Suamiku Jalankan sebagai #healthAgent

[Lifestyle: Kesehatan]: Siapa coba yang mau menderita sakit.
Kebetulan, aku dikelilingi oleh keluarga besar dengan riwayat penyakit yang beragam. Ayahku, punya tekanan darah rendah dan penyakit pencernaan. Sedangkan ibuku punya asma, gula darah, tekanan darah tinggi dan jantung. Kesemua penyakit ini, tentu saja bersifat herediter, alias diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi, kami anak-anaknya membawa gen yang memiliki bakat untuk bisa terkena penyakit-penyakit tersebut.  Jadi baru bakat ya, belum pasti terkena.

Bakat penyakit itu artinya jika kami tidak hati-hati menjalankan pila hidup sehat maka bisa jadi penyakit itu muncul dan menyerang kesehatan kami.

Mengabadikan Matahari

Setiap kali aku pergi mengantar anak-anakku ke sekolah, inilah pemandangan yang paling aku sukai. Melewati moment ketika matahari terbit dari atas jembatan penyeberangan yang ada di atas jalan raya MT Haryono.

Jika sudah begini, rasa lelah, penat, jenuh, panik takut telat, dan sebagainya hilang dalam sekejap.









Anak dan Sepasang Sepatu

Jakarta itu kota yang sering macet.
Sepertinya, semua orang sudah tahu itu ya.
Nah. Untuk mengantisipasi macet, maka aku memilih untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi jika ingin mengantar dan menjemput anak sekolah.

Biasanya, pagi-pagi aku dan kedua putriku sudah berangkat sebelum jarum jam menunjukkan pukul enam pagi. Karena jika lewat jam enam, sudah bisa dipastikan ada yang tiba terlambat di sekolahnya. Rute perjalananku ketika mengantar kedua putriku adalah, yang SMA dulu (SMA 8 Bukit Duri) baru kemudian menuju ke sebuah Sekolah Dasar Swasta di bilangan Tebet.

Jalan kaki, naik jembatan penyeberangan, turun jembatan penyeberangan baru kemudian naik kendaraan umum.


Di Punggungku, ada tas ransel sekolah anakku.
Jika sudah begitu, maka  sebuah benda yang amat besar jasanya buatku adalah sepasang sepatu.

Sejak tahun 2012, kedua lutut dan pergelangan kakiku terkena pengapuran tulang. Jadi, ceritanya kata dokter usia tulangku di kedua tempat itu lebih cepat tua dibanding usia biologi…

Jangan Biarkan Anak Main Gadget Terus

[Parenting] Putriku yang paling kecil, masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar saat ini. Dua pekan lalu, dia diliburkan oleh sekolah karena kakak kelasnya yang duduk di kelas 6 sedang menjalani Ujian Nasional dan Ujian Sekolah.

Kebetulan, di lingungan sekitar rumahku putriku ini tidak punya banyak teman. Malah bisa dikatakan tidak ada. Karena tetangga kiri kanan kebanyakan adalah rumah-rumah yang dijadikan tempat kost-kostan. Jika pun ada rumah yang ditempati sendiri, tidak ada anak kecil yang sepantaran dia.

Ceklist Perlengkapan jika Bepergian Dengan Si Kecil

[Parenting] Bulan Juni hingga Juli, adalah bulan liburan!
Mengapa? Karena, di menjelang akhir bulan Juni, seluruh masa pendidikan sepanjang tahun ajaran selesai ditamatkan. Setelah bagi rapot, anak-anak pun libur kenaikan kelas.
Secara kebetulan, yang memperoleh libur kenaikan kelas bukan hanya mereka yang duduk di bangku sekolah saja (sekolah dasar dan sekolah menengah). Tapi juga mereka yang duduk di bangku kuliah. Bulan Juni dan Juli ini adalah masa liburan setelah mereka menyelesaikan akhir semester genap. Itu sebabnya pada bulan Juni dan Juli tempat-tempat yang menjadi tujuan berlibur keluarga mulai penuh terisi kunjungan.

Pendidikan Seks untuk Mencegah Kejahatan Seksual pada Anak

Suatu hari di tahun 2000-an, yaitu ketika aku masih mengasuh rubrik "uneg-uneg" di website Kafemuslimah.com (yang kini sudah tidak ada lagi); aku mendapat sebuah email yang berisi curhat.

Sebenarnya, yang namanya curhat via email itu sering aku terima. Tapi kali ini, aku benar-benar bengong dan asli termangu. Kenapa? Karena gaya tutur dan gaya berbahasanya amat familiar di mataku. Aku tahu, meski si pengirim email menggunakan nama palsu, tapi dia adalah salah seorang yang aku kenal. Memang tidak ketahuan siapa tepatnya orang tersebut. Tapi...

Dengan kulit merinding aku kembali menekuni isi emailnya. Mengabaikan kenyataan siapa sosok asli di belakang penulis email.
Ya. Aku harus profesional; lihat masalahnya bukan orangnya.
Bantu masalahnya, dan tidak menyorot orangnya lalu memperlakukannya secara berbeda hanya karena dia "orang terkenal atau orang yang aku kenal".
Aku baca baik-baik suratnya... mencoba untuk menelusuri masalahnya....  dan lalu menangis.
Sebagai seo…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...