Langsung ke konten utama

Permainan Tradisional Indonesia: Bekel

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul Perkembangan Anak Lewat Permainan Bekel aku menulis tentang manfaat permainan tradisional bola bekel terhadap perkembangan anak-anak.

Nah... ini aku buat lagi tulisan yang masih ada hubungannya dengan tulisan tersebut. Yaitu tentang:

HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN KETIKA SEDANG BERMAIN BOLA BEKEL.
(tujuannya adalah sebagai panduan agar kita tidak salah memainkannya).

1. Takut pada Bola.
Coba.. gimana ceritanya kalau pemain takut disuruh menangkap bolanya?

 2. Karena khawatir berlebihan takut tidak bisa menangkap bola yang membal terlalu tinggi, maka bola dimembalkan terlalu rendah.
Waduh. Bisa refotttt banget ini. Karena dijamin bola sudah mengetuk lantai dan kita belum menyentuh bijinya.

 3. Bola ditangkap dengan cara menggendongnya dengan menggunakan lengan.
Fokus deh. Mau main bonenak atau main bola bekel nih?


4. Oke. Karena diminta untuk fokus menangkap bola, maka fokussssss banget... eh. lupa dengan tugas lain yaitu mengambil biji. hehehehe. Ini juga gak boleh.


5. Pernah mendengar pelanggaran Hands ball dalam permainan soccer? Nah.. di bola bekel juga ada pelanggarannya, yaitu ketika kita menangkap bola dengan menggunakan kedua belah tangan kita.
PRITTTT.


6. Duh... Bolanya mana nih?
Bijinya mana?
Hellooooo.... ada orang gak???
Nahhhh... ini yang tidak boleh terakhir: bermain bola bekel saat PLN mematikan saluran listriknya!


Nahhh... itulah beberapa hal yang tidak boleh dilakukan ketika sedang bermain bola bekel.

Komentar

  1. Waktu kecuil sukaa main bekel, tapi tanganku ini kan imyuut kerepotan kalo pas harus megang biji bekel banyak-banyak hehehe

    BalasHapus
  2. Saya mainnya pas pagi-sore, intinya gak pake lampu gitu mak. Dulu mah koleksi saya banyakk, sekarang gak punya. Ponakan jg gak main

    BalasHapus
  3. uwaaa mainanku waktu SD nih hehehe,seru main ini..kolektor juga waktu kecil,yang warna emas sama silver^^

    BalasHapus
  4. Intinya permainan ini membutuhkan konsentrasi dan fokus, ya, Mak. ^^

    BalasHapus
  5. terima kasih infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…