Langsung ke konten utama

Apa Yang Menyebabkan Perilaku Anak Menyimpang Dari Perilaku Gendernya?

Kemarin, aku menulis tentang memanfaatkan permainan tradisional Bekel untuk perkembangan anak (silahkan baca di http://www.adeanita.com/2015/03/perkembangan-anak-lewat-permainan-bekel.html) . Beberapa teman menginboxku, bertanya apakah ada permainan yang diperuntukkan bagi gender anak lelaki? Karena, beberapa orang merasa bahwa permainan Bekel itu adalah permainan untuk anak perempuan.

Sebenarnya, kalau aku sendiri sih tidak membedakan gender jika itu untuk perkembangan anak. Yang membuat seorang anak setelah melakukan permainan lalu cenderung menjadi kewanita-wanitaan atau cenderung menjadi kecowok-cowok-an, adalah teman  bermain ketika melakukan permainan tersebut.

Jadi begini.
Karena anak-anak perempuan cenderung bermain Bekel, maka ketika ada seorang anak cowok ikut bermain bersama mereka, maka si anak cowok itu akan ngobrol-bercanda-mendengar-menyimak semua komunikasi yang terjalin selama permainan berlangsung. Dan karena situasinya adalah suasana yang amat "anak perempuan sekali" maka satu-dua perilaku anak perempuan itu mulai ditiru oleh mereka. Entah cara mereka berbicara, cara mereka mengambil sudut pandang, cara mereka mengambil penyelesaian atas sebuah masalah, bahkan cara mereka menggerakkan tangan setiap kali berbicara, mempengaruhi gaya si anak lelaki itu tersebut.

Jika Si anak lelaki terus menerus bermain dengan lingkungan yang "berbeda" dengan gender alias jenis kelamin yang dia miliki maka pola perilaku si anak lelaki pun mulai akan mengikuti lingkungannya tersebut. Akhirnya, orang lain mulai melihatnya sebagai "mengalami penyimpangan".  Akhirnya. terlihatlah bahwa perilaku si anak lelaki jadi kewanita-wanitaan.... atau... si anak perempuan jadi kecowok-cowok-an.

CONTOH KASUS YANG DIAMBIL DARI KISAH NYATA:

 Ada seorang ibu yang berasal dari Sumatra. Tahu sendiri kan Sumatra itu menganut paham Patrilineal kebanyakan budayanya. Yaitu paham dimana kedudukan lelaki dipandang lebih tinggi dari perempuan karena lewat lelakilah trah keluarga akan dibawa. Jadi, jika namamu adalah Sobri, maka hanya anak lelakimu yang akan bisa membawa nama Sobri untuk diteruskan di keturunannya kelak. Sedangkan anak perempuan, ikut nama suaminya.

Karena sedemikian pentingnya posisi lelaki, maka kehadiran anak lelaki dalam keluarga adalah sesuatu yang diharapkan (agar bisa meneruskan nama keluarga). Tak jarang, setelah kehadiran anak perempuan yang cukup banyak, barulah lahir anak lelaki. Otomatis, si anak lelaki ini bermain bersama saudara-saudaranya yang perempuan.
Pada keluarga ibu dalam kasus ini, si anak lelaki yang setiap hari, siang malam selalu bermain dengan saudara-saudara perempuannya, mulai mengalami perubahan perilaku dimana si anak jadi berperilaku ke-cewek-cewek-an.
Tentu saja ibunya galau dong. Lalu dibawalah si anak ke Psikolog.
Solusi dari Psikolog?
Si anak diminta untuk diperkenalkan dengan lingkungan permainan dimana ada anak lelakinya.

Setelah beberapa tahun, ternyata benar saran dari si Psikolog tersebut. Si anak kembali normal.

Nah... demikianlah pula dengan permainan Bekel atau berbagai macam permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan seperti masak-masakan, salon-salonan, boneka-bonekaan, dan sebagainya.

Bukan jenis permainannya yang bisa mengubah perilaku gender seorang anak. Tapi lingkungan teman bermainnya yang berpengaruh. Jika lingkungannya didominasi oleh satu gender saja sehingga si anak menjadi satu-satunya anak dengan gender yang berbeda dengan lingkungannya, maka secara tidak sadar, anak akan belajar untuk melakukan penyesuaian dalam rangka adaptasi lingkungannya. 

Adaptasi yang terus menerus terjadi, akan merasup alias terinternalisasi sehingga persepsi anak pun akhirnya bisa berubah (bahwa dia sama dengan lingkungan seperti itu atau memang bagian dari lingkungan seperti itu). 

Jadi...  gimana dong?

Saranku sih: cobalah untuk perkenalkan anak pada lingkungan yang lebih heterogen. Dan ketika anak mulai mengenal keberagaman tersebut, tetap ajarkan anak jati diri dia yang sebenarnya itu apa. Ini penting banget menurutku.
Ajarkan tentang konsep diri pada anak sejak usia dini agar anak tahu ke arah mana dia harus belajar. Karena sesungguhnya, proses belajar adalah diawali dengan proses imitasi atau mencontoh dari lingkungan di sekitarnya. 

Lelaki atau Perempuankah aku? Ajarkan anak tentang konsep ini sejak usia dini.




---------------------------------------

(FYI: TULISAN INI TIDAK DIBUAT UNTUK KASUS KELAINAN SEKSUAL SEJAK LAHIR).

-----------------------------------

Komentar

  1. Berarti bisa ya bekelan dimainin anak laki-laki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa2. Asal jangan main ama cewek terus terusan aja

      Hapus
  2. ini sudah saya rasakan sendiri. Saya tomboy karena memang lingkungan bermain saya sejak kecil didominasi oleh anak laki2....

    mampir2 ya Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...dah banyak kejadian kek gitu.. jadi terpengaruh

      Hapus
  3. Bener tuh, lingkungannya harus heterogen. Jadi bunga dalam sekumpulan kumbang kan gak baik ,begitupula sebaliknya. Tapi gak jarang loh anak yang di didik jadi cowol banget atau cewek banget malah jadi menyimpang juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kasus beda lagi tuh. Jadi anaknya mengalami fase denial eh...malah jadi keterusan. Kapan2 aku bahas ttg ini

      Hapus
  4. Aku dulu jaman SD dan SMP tomboy dahsyat, Mak. Penyebabnya lebih karena kurang perhatian orangtua yang sibuk bekerja. Tapi semakin dewasa akhirnya kembali ke jalan yang benar kok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caper ya.. karena kalo ada trouble malah diperhatiin ...

      Hapus
  5. Setuju mbak. Bukan permainan yg salah, lingkungannya

    BalasHapus
  6. Parenting memang masalah serius ya harus selalu diperhatikan perkembangan sikap anak setiap saat

    BalasHapus
  7. sejauh ini sih aman, anakku dua cowo semua :)

    BalasHapus
  8. Wah, bisa belajar dari sini nih. Ada lho teman anakku, laki-laki, kalau bicara seperti cewek.

    BalasHapus
  9. Menarik. Aku jadi inget temen smp yang rada klemer-klemer alias melambai. Lulus SMP ga tau kabarnya, katanya sih pembawaan dia masih kayak smp gitu.

    BalasHapus
  10. Wah, main bekel itu kesukaan saya lho, Mbak.
    Saya biasa ditantang sama anak perempuan saya.
    Mereka penasaran saja. Kok saya bisa banget? He..he..he...

    @nuzululpunya

    BalasHapus
  11. dulu aku suka banget manjat pohon , karena aku suka bergaul dengan anak laki-laki, tapi itu tak membuat aku berprilaku seperti laki-laki.Begitu juga dg anakku yang laki2 suka banget dg boneka yg bentuk binatang tapi tak membuatnya seperti perempuan

    BalasHapus
  12. terima kasih infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…