badge

Sabtu, 21 Februari 2015

Apa yang dimaksud anak diperlakukan bak seorang raja?

Pada tulisan sebelumnya, saya menulis tentang orang tua terbodoh, yaitu orang tua yang tidak bisa membedakan mana yang harus diajarkan pada balita mereka. Awalnya sayang pada anak dan tidak mau mengecewakan anaknya, tapi malah berakhir si orang tua itulah yang akhirnya diperbudak oleh anaknya (silahkan baca di http://www.adeanita.com/2015/02/orang-tua-terbodoh.html)



Ternyata, dari tulisan saya tersebut, muncul sebuah pertanyaan dari seorang pembaca.

Pembaca tulisan saya itu bertanya, tentang sebuah narasumber ilmu parenting lain yang mengatakan bahwa sebaiknya orang tua memperlakukan balita mereka seperti layaknya seorang raja.



Baik. Untuk penjelasannya, mungkin saya akan kutip dahulu tentang ilmu parenting yang ditanyakan oleh Nur Azizah tersebut.

Di dalam pengetahuan umum, pola pengasuhan anak terbagi 3. Pada usia
0-7 tahun, anak diperlakukan bak seorang
Raja. Kita melayani mereka namun kita harus mengarahkannya menjadi Raja yang Bijak. Pada usia
7-14 tahun, anak diperlakukan sebagai seorang
Budak. Maksudnya di sini sang anak diberi latihan tentang kehidupan. Mereka sudah mulai disuruh untuk ini dan itu sebagai latihan kehidupan mereka. pada usia
14-21 tahun, anak diperlakukan sebagai
Mitra. Di sini mereka mulai menanggung sebagian tanggung jawab keluarga. mereka menjadi anak yang mandiri dan dewasa tepat waktu. Di Islam sendiri sebenarnya dibedakan secara garis besar menjadi 2, yakni sebelum Akil Baligh dan sesudah Akil Baligh. Setelah Akil Baligh, maka dia sudah dianggap bisa mempertanggung-jawabkan perbuatannya. (diambil dari Islamic Parenting)

Pertanyaannya adalah: Apa yang dimaksud anak diperlakukan bak seorang raja?

Seperti kita ketahui, kedudukan seorang raja itu adalah kedudukan yang diperolehnya bukan karena pencapaian hasil sebuah usaha tertentu. Tapi kedudukan yang diperolehnya begitu saja (jadi karena tradisi atau warisan atau keturunan). Hanya saja, yang perlu diingat adalah, seorang raja itu tidak bisa hanya dilihat sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan tak terhingga dan semua orang selain dirinya memiliki kedudukan yang lebih rendah.

Kedudukan seorang raja itu, diberikan karena sebuah rasa percaya dari rakyat bahwa figur rajalah yang dapat memberikan perlindungan-kebijaksanaan-keamanan bagi rakyatnya. Jika rasa percaya dari rakyat tersebut tidak ada, maka besar kemungkinan akan terjadi gejolak dan rakyat melakukan pemberontakan guna mencabut posisi raja tersebut sebagai bentuk dari rasa tidak percaya mereka pada raja.

Dari sini, harus disadari bahwa meski kedudukan seorang raja adalah tertinggi di banding orang lain, tapi raja tetap harus memiliki aturan-etika-moral serta kemampuan. Itu sebabnya seorang raja PASTI punya penasehat, perdana menteri, posisi ahli di bidang masing-masing yang bisa diajak untuk berdiskusi, dan sebagainya. Jadi, tidak bisa kita hanya melihat raja sebagai sosok tunggal dalam hal ini. Karena, keberadaan seorang raja itu sebenarnya adalah kesatuan dari sekumpulan beberapa orang yang kebetulan piramida kekuasaan tertingginya diberikan pada satu orang.

Artinya, raja itu tetap harus mengetahui apa yang sebaiknya tidak dilakukan atau dilakukan; apa yang sebainya dihindari dan boleh dijalani; dan sebagainya. Semua pengetahuan ini diperoleh oleh raja dari bimbingan orang-orang yang bekerja sama dengannya di sekelilingnya. Jadi, tidak ada raja yang mengeluarkan aturan sendiri tanpa mendapat masukan terlebih dahulu dari orang di sekitarnya.

Jika seorang anak diperlakukan seperti raja, maka itu artinya, anak diberi kebebasan yang seluas-luasnya tapi di waktu yang sama,  sudah diberitahu terlebih dahulu mana batasan yang boleh dilalui dan tidak boleh dilalui. Sudah diberi rambu-rambu dahulu mana yang boleh dan tidak boleh; mana yang sebaiknya dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan.  

Dengan kata lain, ketika kita memperlakukan seorang anak bak seorang raja, maka kita  hendaknya memanjakan, mengasihi dan menyayangi anak dengan kasih sayang yang tidak berbatas.
Kasih sayang yang diberikan itu pun haruslah kasih sayang yang sama besarnya tanpa membeda-bedakan antara anak satu dengan anak yang lain (adil dan proporsional). Dan dalam rangka pemberian kasih sayang tak berbatas tersebut, maka nilai-norma-aturan yang diajarkan pada anak, harus diberikan dalam bingkai rasa kasih dan sayang.

Hal ini, bisa terlihat dari contoh dimana Rasulullah SAW, membiarkan ketika cucunya naik ke atas punggungnya ketika Beliau SAW sedang sujud dalam mendirikan shalat. Ditungguinya cucunya itu hingga si cucu bosan sendiri dan turun dari punggungnya. Setelah itu, perlahan-lahan, anak diajarkan agar tidak mengganggu orang yang sedang shalat. Bahwa shalat itu adalah sebuah bukti tanda cinta pada Allah dan sebaiknya dilakukan dengan khusyuk. Tentu saja, jika ada gangguan maka nilai kekhusyukan akan terhambat. Dari ajaran ini, maka anak-anak akan mengerti betapa pentingnya shalat dan betapa pentingnya penghormatan pada orang yang sedang melakukan shalat (itu sebabnya ketika di jaman Rasulullah, sejak usia anak-anak rasa cinta mereka pada Allah sudah sedemikian tinggi).

Rasulullah SAW juga pernah  menegur seorang perempuan yang memarahi anaknya yang mengencingi pakaian Rasulullah SAW ketika si anak digendong oleh Rasulullah SAW.

"Pakaian ini, najisnya bisa hilang jika kita mencucinya nanti, tapi apa yang kamu keluarkan dari mulutmu dan direkam oleh anakmu, akan sangat sulit untuk dihilangkan dari ingatannya. Jadi, janganlah memarahi anakmu seperti itu."Tentu dengan bimbingan yang penuh kasih sayang pemberitahuannya. Jadi, yang dilarang itu adalah cara memarahi orang tua yang mendapati anaknya berbuat salah. Tapi, pengajaran nilai-nilai apa yang boleh dan tidak boleh tetap harus diberikan pada anak (dengan kalimat yang disesuaikan dengan usianya).

Dengan kasih sayang yang tak berbatas tersebut, maka anak-anak akan merasa lebih dekat dengan kita dan kelak anak akan merasakan kita sebagai bagian dari dirinya saat besar nanti. Kenangan yang baik tersebut, akan membuat anak tahu bahwa ayah dan ibunya selalu ada di sisi mereka selamanya.

Tapi... ada tapinya... jika anak melakukan kesalahan tetap harus diberitahu mana nilai kebenaran yang sebenarnya.

Dengan demikian, dalam bingkai sebuah kasih sayang tak berbatas, ajarkan anak untuk mengetahui kebenaran, ke-Tuhanan, nilai-nilai kebaikan, dan juga beritahu mereka tentang bahaya-bahaya yang sebaiknya dihindari.

Kuncinya adalah: jangan cepat marah, tidak bersikap kasar dan otoriter dan tetaplah bersikap lemah lembut dalam membimbing anak.

20 komentar:

  1. Bagus mak penjelasannya.... bisa dipahami...

    BalasHapus
  2. Wah.. makasih banget Mak Ade atas ilmunya.. memang mendidik anak itu susah-susah gampang, ya.. terlalu memanjakan gak baik, terlalu otoriter juga gak baik..
    nice post, Mak :)

    BalasHapus
  3. Terimakasih sharingnya ya mak. Bertambah lagi ilmu saya :-)

    BalasHapus
  4. mendidik anak memang harus hati2 ya mak, krn akan dibawa seumur hidupnya. saya juga pernah baca ini di buku nya pak muhyidin, klo tdk salah judulnya mendidik anak sholeh sholihah sejak dalam kandungan

    BalasHapus
  5. andai kuraja..mau apa tinggal minta tunjuk sini tunjuk sana dengan sdikit kata *malah nyanyi
    iya mba aku inget ini notednya buat besarin Raffi...bismillah

    BalasHapus
  6. Wah dapet ilmu nh saya. Lumayan buat bekal nanti pas nanti nikah, dan punya anak. Makash yaa, mak.

    BalasHapus
  7. Subhanallah, pemaparan yang dapat kita resapi. Smg kita selalu diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan. Amin ya rabbal alamin

    BalasHapus
  8. pemaparan yang bagus mbak
    saran sih, pemilihan font-nya jangan yang kayak sekarang mbak
    untuk mata saya, susah membaca font yang mbak pakai
    mata saya cepat lelah membacanya, padahal isinya postingannya bagus

    BalasHapus
  9. Pemaparannya mudah dipahami, mbak. Bisa jadi pengingat bagi saya nih. rupa2nya cara asuhku masih campur2. Si sulung sudah kujadikan mitra asuh ketika usia masih 9 tahun. hihi... anaknya lebih dewasa dan ngayomi. Si bungsu yang Juni nanti 7 tahun malah masih manja.... :)
    makasih ya

    BalasHapus
  10. cateeet! buat persiapan kalo punya anak nanti. hihi

    BalasHapus
  11. Adik sepupu saya diperlakuin kaya raja sama mamanya, sekarang semena-mena, saya yang sering marahin, saya gak suka anak kecil tumbuh seenaknya Hehehe

    BalasHapus
  12. berarti saat ini alvin diperlakukan bak raja, dan pascal seperti budak ya mbak :)

    BalasHapus
  13. terimakasih infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  14. terima kasih infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  15. diperlakukan sebagai raja terutama pada usia golden age ya, 0-3 tahun pertama
    selanjutnya baru bisa diarahkan...

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...