badge

Selasa, 30 September 2014

Keluar dan Bekerjalah

Matahari sudah naik sepenggalah. Bahkan mungkin lebih. Pantulan bayangan di jalan sudah semakin memendek, jauh lebih pendek dari tubuh asli pemilik bayangan. Meski demikian, Agus masih saja bergelung di dalam selimutnya. Kipas angin yang disetel dengan putaran terkencang, berbunyi berisik dan menggerakkan helai tirai di jendela. Membuat sinar mentari pagi menerobos masuk ke dalam kamar tanpa permisi.

"Oi... Bangun Gus. Bangun! Tiduk bae kau ni."
Bu Fahri memukul pantat anaknya dengan sapu lidi yang biasa dipakai untuk membersihkan tempat tidur. Agus itu bukan lagi seorang anak kecil. Usianya sudah 35 tahun. Belum menikah, apalagi punya anak. Dia masih perjaka tingting, tidak heran jika Bu Fahri ibunya membangunkannya dari tidur seperti sedang membangunkan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah saja. Bagi Bu Fahri, tidak ada perubahan yang berarti dari anaknya tersebut selain dari usianya yang terus bertambah setiap tahunnya. Kelakuannya, terutama kebiasaan Agus yang bangun siang, masih sama sejak dulu hingga sekarang. Tidak heran jika BU Fahri lupa bahwa Agus bukan anak kecil lagi.

"Bangun! Bangun!" Plok. Plok. Sapu lidi kembali mendarat di pantat Agus. Tidak lama, Agus pun menggeliat. Bukan untuk bangun, tapi untuk meraih bantal dan menutupi wajahnya hingga terbenam.

"Baru jam berapa ini Mak? Ayam saja belum terdengar suaranya?"
"Oi.. Oi... Meski ayam dak bakukuk… aghai dak urung siang." Bu Fahri terus memukul-mukul pantat Agus dengan sapu lidi. Meski ayam dak bakukuk, aghai dak urung siang itu adalah ungkapan khas daerah Sekayu, Sumatra Selatan. Artinya adalah meski ayam tidak berkokok, tidak membuat hari terlambat menjadi siang. Jangan pernah menunda pekerjaan hanya karena sebuah kebiasaan penanda waktu tidak bekerja dengan baik. Karena penanda waktu bisa saja salah, tapi waktu tidak pernah salah. Waktu akan terus bergerak, tidak pernah menunggu siapapun, juga tidak pernah sungkan pada apapun. Mereka yang terlambat, akan tertinggal.

"Sebentar lagi lah Mak. Belum puas tidurku nih."
"Kau ini... rezeki dan jodoh itu harus dicari. Tidak bisa ditunggu sambil tiduran saja di atas tempat tidur. Bangun, keluar dan bekerjalah. Laki-laki yang besoke tiduk, ndak dapat ape-ape." Plok. Plok. Plok. Sapu lidi terus saja menyapa pantat Agus. Akhirnya, karena merasa terganggu, Agus pun mengangkat bantal yang menutupi wajah dan kepalanya.

"Mak, hari ini aku akan jadi orang besar, mak. Mak janganlah ribut lagi dengan urusan rezeki dan jodohku."
"Besar apa maksud kau, Gus?"
"Agus akan maju jadi calon legislatif mak. Apa mak tak lihatkah wajah Agus terpampang di tiang-tiang listrik?"
"Ai... mana Umak ada waktu untuk melihat tiang listrik. Lagipula, siapa yang nak pilih kau?"
"Mak... kenapa Umak tak percaya denganku? Aku nih ada kemampuan juge."
"Ah... usia kau tuh sudah tiga puluh lime, Gus. Kawan-kawan kau sudah punya anak semua. Kau saja yang masih bujang. Makan saja masih minta Umak. Ongkos, juga masih minta umak. Umak tak tahu apa pekerjaanmu sebenarnya, setiap hari sibuk pamit begawe, tapi nda katek Umak lihat kau pegang duit. Kau tuh... besok suap dai mekan."
Agus cemberut mendengar kiasan yang keluar dari mulut Umaknya. Besok suap dai mekan itu artinya, lebih banyak gumpalan makanan yang akan dimasukkan ke dalam mulut, bahkan gumpalan makanan itu jauh lebih besar daripada bentuk bundar wajah pemilik mulut yang akan dimasuki makanan tersebut. Cara makan di Sekayu memang makan dengan menggunakan tangan, bukan dengan sendok. Ada sebuah fatsoen, atau tata krama tersendiri dalam budaya makan tersebut. Yaitu, jangan menyisakan makanan di atas piring. Piring yang bersih dari sisa makanan itu pertanda kepuasan sempurna dari yang makan dan itu adalah penghormatan untuk yang masak atau yang menjamu makanan. Karenanya, agar piring bersih, maka sering makanan dibuat dalam bentuk gumpalan-gumpalan berbentuk bola bakso. Sekali ambil bola makanan, itu sama dengan satu suap. Otomatis, piring pun menjadi bersih dari sisa makanan dengan cara makan seperti ini. Tentu saja membuat bola makanan di atas piring itu ada seninya tersendiri. Yaitu, bola itu diusahakan tidak melebihi lebar mulut. Jadi, tetap cantik dilihatnya ketika sedang menyuap bola makanan ke dalam mulut. Meski demikian, ada saja orang yang ingin buru-buru menyelesaikan makanannya. Karenanya, dia membuat bola makanan yang besar sekali. Maksudnya mungkin agar bola makanan yang besar itu bisa terjejal semua di dalam mulutnya, jadi sekali kunyah. Tentu saja yang terlihat kemudian adalah perilaku rakus. Serakah. Tidak sedap dipandang. Maka, lahirlah ungkapan, besok suap dai mekan, untuk menggambarkan perilaku orang yang serakah, tidak dapat mengukur kemampuan dia mencerna apa yang bisa dicerna karena ingin mengambil sebanyak mungkin.

"Tidak mak, aku dak besok suap dai mekan. Aku biasa saja. Tapi ini benar mak, aku akan maju jadi anggota calon legislatif. Doake saja aku, Mak."

"Terserah kau saja, nak. Aku nih Umak kau. Aku tahu macam mana kau ini. Aku kasihan saja dengan orang yang mengajak kau untuk ikut pemilihan itu. Apa dia sudah tahu kau tuh macam mana? Di mata umak, orang tuh kasihan sekali.
Takecak dikartu mati, masih diajak ke gelanggang."
"Mak, aku dak separah itu." Agus merasa kesal dengan ungkapan yang keluar dari mulut Umaknya. Takecak dikartu mati, masih diajak ke gelanggang itu artinya, sudah tahu mendapat kartu mati tapi masih nekad untuk kembali bertarung di atas gelanggang. Orang-orang di Sumatra Selatan memang gemar menyindir dengan ungkapan-ungkapan daerah jika sedang bercakap-cakap. Sayangnya, ungkapan itu tidak selalu bernada positif. Seringnya ungkapan yang digunakan adalah ungkapan yang berisi ke-nyinyiran. Hanya saja satu hal yang menguntungkan ketika berbincang-bincang dengan orang Sumatra Selatan adalah, mereka tidak mudah tersinggung. Telinga mereka sudah lumayan kebal mendengar berbagai macam ledekan, sindiran dan nyinyiran. Itu sebabnya ungkapan-ungkapan yang mungkin bagi budaya lain terdengar pahit dan menyakitkan, biasanya hanya ditanggapi dengan senyuman saja di kalangan orang Sumatra Selatan. 

 "Terserah apa kata kau lah Gus. Bagi Umak, mimpi saja jika kau nekad ke pemilihan itu. Yang nyata itu adalah, bangun pagi, lalu bersiap-siap menjemput rezeki. Yang pasti sajalah, bekerja dan bekerja. Jangan bermimpi terus."

Agus hanya terdiam, tapi tak urung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tidak lama, terdengar suara air kecipak-cipuk tanda dia mandi. 

--The End--

Cerita Agus ini adalah cerita fakta yang disajikan dengan gaya fiksi. Di daerahku, ada banyak Agus yang bermimpi untuk menjadi anggota legislatif dan bertarung di PEMILU lalu. Yang gagal sudah tak terhitung.




------------------------------------------------------------------------
keterangan:
- Oi... Bangun Gus. Bangun! Tiduk bae kau ni.: Hei, bangun Gus, bangun. Tidur saja kerjamu.
- besoke tiduk, ndak dapat ape-ape: Banyakin tidur, tidak dapat apa-apa.
- Begawe: bekerja

Kamis, 25 September 2014

Sekolah Impian: Sekolah Dengan Mindset Positif

[Parenting] 3 Orang putriku, bersekolah di sekolah dasar  yang berbeda-beda. Bukan karena kami hidup berpindah-pindah hingga ketiga anak-anak kami juga ikut berpindah tempat tinggal. Sejak menikah hingga sekarang, rumahku tidak berubah, tetap sebuah daerah di wilayah Jakarta Selatan. Kami memang sudah memiliki rumah sendiri jadi belum berkeinginan untuk berpindah ke tempat lain. Jika pun kami harus pergi ke luar kota, maka selalu kembalinya ke rumah dan daerah ini kembali. Itu sebabnya pilihan sekolahnya pun tetap di daerah sekitar rumah.

Rabu, 24 September 2014

Perpindahan Kalor (MATERI TEMATIK kelas 4 SD)

Hawna punya tugas percobaan 2 hari untuk menjelaskan apa itu Perpindahan Kalor Konduksi, Konveksi dan Radiasi. Tugasnya diberikan Hari Senin, Hari Kamis Hawna harus presentasi di depan kelasnya membacakan apa saja yang dimaksud dengan perpindahan Kalor dan apa yang telah dia lakukan untuk mengamati proses perpindahan kalor tersebut.
Aku tulis di blog aja deh, siapa tahu ada yang punya tugas serupa, jadi tulisan ini bisa membantu (maaf jika bahasanya tidak formal karena ini bahan untuk presentasi anak kelas 4 SD)

Jumat, 19 September 2014

Selasa, 16 September 2014

Renovasi Rumah (1): Hal Yang Harus Diperhatikan


[Lifestye] Apakah kalian sudah mulai sering mengeluhkan hal-hal yang beragam dari rumah yang kalian tempati? Atap bocor, mulai banyak sarang tikus, dinding jebol, genteng yang turun, pagar yang karatan, tiang rumah yang miring, listrik yang mulai sering padam tanpa sebab, dan sebagainya? Jika iya, jangan-jangan itu disebabkan karena rumah kalian yang sudah waktunya untuk direnovasi. Just like mine. hehehe.

Selasa, 09 September 2014

Bangkrut!

Aku tuh hobbi main game. Tapi, yang membedakan aku dan anak-anakku adalah: aku main buat iseng-iseng saja mengisi waktu senggang. Cuma kebetulan saja waktu senggangnya ternyata banyak, jadilah yang terlihat main terus. hehehe

Game yang suka aku mainkan adalah game yang tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Dan paling suka main game yang ada kesempatan aku mengatur ruangan, membangun rumah, bertani, mengatur tata kota, yaaa.. semacam itulah. Itu sebabnya game SIM'S pernah menjadi salah satu game yang aku gemari.
Aku bilang pernah kan?
Ya. Pernah.
Karena sekarang aku tidak pernah lagi memainkan game SIM'S lagi. Kenapa? Karena ternyata oh ternyata, aku termasuk orang yang bosan jika menemukan sesuatu yang sudah kelewat mudah atau sudah memiliki segalanya.

Hmm... bingung kan? Nggak mau mikir tapi pas dikasi yang terlalu mudah malah nggak mau.
Ya, demikianlah.
Nah.. hari ini, gara-gara mencari foto untuk diikut sertakan di turnamen foto bercerita dengan tema Chamber, eh aku ketemu sebuah foto yang menggambarkan bahwa aku dulu pernah main game SIM'S dan aku bangkrut! hahahahaha....

Aku inget nih. Jadi kejadiannya gini, aku nafsu pingin melebarkan tanah, jadi aku jual-jualin semua barang-barang yang aku miliki sebelumnya. Tapi, duitnya tetap nggak cukup, jadi aku pun mulai menjual wallpaper, lantai, lalu beranjak ngejual kamar mandi, ruang tidur, dinding per dinding aku jual-jualin... Hingga akhirnya tersisa hanya satu ruangan saja. Emang sih, tanah yang aku miliki jadi super duper lebarrrr.. tapi... aku gak punya duit sama sekali dan rumah yang aku miliki hanya sebuah bilik kamar kecil yang sempit banget. hahahahaha.... Kebayang kan gimana wajah putraku girang banget bisa menggoda ibunya yang bermain tanpa perhitungan ini. Dia puassss meledekku.

Ini nih foto ruangan dimana aku bangkrut dahulu:
bangkrut!


Ruang Kosong dan Ruang Penuh

Sudah pernah melihat sebuah ruangan yang kosong tanpa sebuah barang pun di dalamnya? Aku pernah.

Sudah pernah melihat sebuah ruangan yang penuh sekali sehingga melihatnya jadi ikut sesak napas? Aku pernah.

Inilah kedua foto ruangan yang aku ceritakan tersebut.




dua buah ruangan yang saling bertolak belakang. Yang satunya penuh banget, yang satu kosong banget.
Foto ini diikut sertakan di

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 48 : Chamber


Sabtu, 06 September 2014

Resep Sambal Mangga dan Kisah di Baliknya

[Keluarga, Lifestyle : Kuliner] : Kemarin, sepertinya aku terkompori oleh sambal bu Sukri alias @anikkeenola. Beberapa kali nyoba masakan buatan dia terbukti enak jadi liat sambalnya asli bikin kepingin Jadilah step by step resep sambal ibu sukri aku ikuti. Begitu udah jadi dan aku colek, wuihhhhh.... Rasanya emang enak. Lalu tiba-tiba aku ingat almarhum ayahku. Dulu, ayah menanam pohon mangga bacang di rumahnya. Buahnya besar dan bulat sebesar melon. Belakangan, pohon mangga ini ternyata di luar sana dikenal dengan nama Mangga Apel.

Hmm. Sebenarnya, pohon Mangga Apel ini tidak sepenuhnya ditanam oleh Ayahku. Awalnya, pohon ini ditanam di halaman rumahku. Ceritanya, aku ingin menanam tambulapot alias tanaman buah dalam pot. Benih cikal bakal pohon ini aku beli di tukang tanaman seharga Rp15.000. Murah kan. Nah, di rumah, mangga apel ini aku tanam di sebuah pot plastik ukuran besar. Seiring dengan bertambah besarnya tanaman manggaku, pot plastikku pun pecah. Lalu, aku pindahkan ke sebuah pot tanah liat. Dan, akar-akar pohon mangga apelku pun kembali merobek dinding pot tanah liatku. Tukang tanaman langgananku menyarankan agar tanaman mangga apel itu ditanam saja di tanah. Tapi.... hmm. Tanah pekarangan rumahku mini. Luasnya hanya sebesar 2 x 1,5 meter saja. 

Bingung.
Galau.
Aku agak-agak menyesal kenapa berkeinginan menanam tambulapot. Ujung-ujungnya aku malah menelantarkan tambulapot mangga apelku. Tidak disiram, tidak diindahkan. Benar-benar terjadi sebuah pembiaran.Penelantaran.
Hingga ayah dan ibu datang ke rumahku dan kasihan dengan tambulapot mangga apel yang merana. Batangnya kurus, daunnya hanya tersisa beberapa tangkai saja di pucuknya yang bisa dihitung dengan jari. 

"Sudah. Buat ibu aja ya. Biar ditanam di rumah saja." Ibu akhirnya berinisiatif mengadopsinya setelah mendengar penjelasanku. Akhirnya kami bersepakat. Tambulapot mangga apelku dibawa ke rumah ibu dan di tanam di halaman belakang rumahnya yang luas, dekat dengan kolam ikan dan air terjun. 


ini nih bentuk tambulapot mangga apel. Belakangan aku tahu bahwa seharusnya diletakkan dalam tong! hehehe

ini dia bentuk buah mangganya. Besarnya sebesar buah melon nih aslinya. Gambar diambil dari sini
Setelah dipindahkan ke tanah, tanaman mangga apel ini tumbuh dengan subur sekali. Dahannya menjulur melebar dan setiap batangnya rimbun dengan daun. Yang paling mengagumkan adalah ketika mulai bermunculan bakal buah. Awalnya, bakal buah itu muncul kecil-kecil dan bergerombol di ujung ranting, seperti buah duku, lalu terus membesar sebesar buah jeruk dan itu akan terus membesar dan membesar. Ayahku, dengan sabar akan menutupi buah yang sebentar lagi akan masak dengan koran agar buah tersebut tidak dicuri oleh kalong atau musang. 

"Tuh, De. Tanaman dari rumahmu, tumbuh subur di rumah ayah. Sebentar lagi panen itu."
"Wuih.. mangga. Aku dulu nanam mangga sebenarnya karena suka banget sama mangga. Mangga di rumah tuh diapain aja laku. Ade buat  puding mangga, dicampur di tumisan ayam jadi model masakan Thailand gitu, atau dikupas begitu saja. Pokoknya pasti laku deh buah mangga di rumah ade."
"Ya sudah, nanti kalau sudah mau panen, ayah akan bagi ke kamu buahnya."

Ternyata ayah bukan cuma janji palsu saja berkata seperti itu. Dia serius. Begitu serius hingga pada beberapa buah mangga pilihannya, ditulisnya di kulit mangga itu sebuah tulisan:


Ade, 12/8/04
Artinya, buah itu (cuma) untuk ade, dan akan dipetik pada tanggal 12 bulan 8 tahun 2004. 
Jadi, ketika ayah datang ke rumahku dengan sekantong mangga yang besar-besar, pada tiap-tiap buah mangganya ada tulisan berspidol seperti itu. (jujur saja, waktu itu aku mentertawakan kelakuan ayahku itu. Tapi, ketika beliau sudah wafat, aku mengenangnya kini sebagai sebuah perlakuan spesial dari ayahku. Ya, ternyata beliau amat men-spesial-kan aku. Subhanallah, ayah....)

Setelah berganti tahun dan pohon mangga kian besar dan melebar, buah yang masak pun kian banyak dan ketika mendekati musim panen mangga, harum buah mangga yang ingin ranum  itu mengundang kedatangan kalong buah dan musang. Jadi, setiap malam sering terdengar buah yang jatuh karena digerogoti kalong (ini cerita ayahku). Akhirnya, ayah memetik buah itu sebelum tanggal yang tertera di sana.

"De... ini belum matang banget. Masih harus nunggu dulu. Tapi, tempat beras di rumah ayah sudah tidak muat tempatya untuk menyimpan mangga. Kamu simpan sendiri saja ya."
"Terus... terus dikupasnya kapan?"
"Memangnya kamu nggak tahu?"
"Ya, paling ade pencet aja. Kalau lembek berarti dah matang."
"Itu namanya busuk, anakku."

Bisa jadi karena ayah gemas melihat kebodohanku, maka, tulisan tangan ayah di kulit buah mangga itu bertambah lagi dengan tulisan baru.


Ade, 12/8/04

2 minggu lagi

 yang artinya, buat Ade, bisa dimakan tanggal 12, bulan 8, tahun 2004 jika buah itu matang di pohon, tapi karena ini sudah dipetik maka baru bisa dimakan 2 minggu lagi.

Jadi, kebayang kan repotnya ayahku yang setiap kali datang dengan sekantong mangga yang sudah ditulis tiap-tiap buahnya, lalu tiba di rumahku masih disibukkan dengan menulis pada tiap-tiap buahnya itu sebuah tulisan baru lagi. Sebelum ditulis, ayah mencium buah tersebut, mengendus-endusnya terlebih dahulu lalu berpikir sejenak untuk memperkirakan kapan estimasi terdekat buah tersebut bisa mulai dikupas.
Aku sering mentertawakan kelakuannya tersebut.
Tapi dalam hati aku senang sekali dengan semua perhatiannya tersebut. Dengan semua kerepotannya tersebut. Dengan semua yang sedang dia usahakan untukku. Spesial untukku. Hanya untukku.

Duh. Ayah.
Ade jadi kangen banget sama ayah malam ini gara-gara kelakuan ayah tempo dulu tersebut.

Dan ketika aku membuat sambal terasi bu Sukri, aku kembali ingat ayahku. Kebetulan, sekarang musim mangga sudah tiba. Buah mangga bisa dijumpai dengan mudah di tukang buah dengan harga yang cukup murah. Dan hatiku berdenyar teringat ayahku ketika mengulek sambal terasi resep bu Sukri. Jadi, aku pun mengupas mangga dan mencampurkannya dalam sambal terasiku. Jadilah sambal mangga bu Ade.

Ini dia resep sambal mangga :

Bahan: cabe, bawang merah, bawang putih, terasi, garam secukupnya, gula juga secukupnya, minyak goreng 3 sdm.
 Cara membuatnya: cabe, bawang merah, bawang putih, semuanya setelah dikupas dan dibersihkan, digoreng dengan minyak goreng jangan sampai kering. Asal layu saja. Setelah itu diangkat lalu diulek kasar di atas cobek. Masukkan terasi, ulek lagi, campur dengan garam dan gula. Setelah itu diaduk rata, lalu masukkan cincangan buah mangga di atasnya, aduk rata, jadi deh.







dan ini jodohnya untuk sarapan pagiku: dengan tempe dan ikan goreng.
 yuk... kita makan.




Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...