badge

Rabu, 30 April 2014

[Wordless Wednesday]: Pemakaman

Apa yang menarik dari sebuah pemakaman?
Tidak ada.
Selain sebuah pelajaran, bahwa itulah akhir dari sebuah kehidupan yang dilalui oleh manusia.
Semua yang hidup, pasti akan mati.

shalatlah kamu sebelum kamu dishalatkan













Semua foto-foto ini adalah ketika pemakaman almarhumah kakak iparku, Isbandiati.

Selasa, 29 April 2014

Tujuh Rizki Terbesar

Hari ini aku periksa kondisi mataku. Bulan lalu ceritanya mataku dicek karena aku sering merasa seperti ada tirai yang menggantung di hadapanku jika sedang memandang sesuatu. 
Mengganggu. 
Terlebih karena aku sedang menghadapi tugas penyelesaian beberapa tulisan.
Kata dokter mata sih katanya ada pendarahan kecil di dalam syaraf bola mata dan ada tanda2 katarak dini.
TAKUT? 
Masa iya aku gak takut dengan fakta yang dikatakan oleh dokter. 
Duh... boong kalo aku gak takut.  Bisa melihat itu adalah segalanya. Tapiiiiii...............
.. aku tetap optimis.
Semangat.
Dan juga ceria seperti biasa.
Dan tentu saja memakai obat yang diberikan dokter dengam teratur.
Lepas dari 1 bulan, yaitu hari ini aku kontrol ulang lagi. Kali ini aku ingin sebuah second opinion. Jadi pindah dokter. Alhamdulillah pendarahanya sudah bersih. Hanya saja... dokter mendapati bahwa syaraf mataku sedikit terganggu karena penyakit anemia yang aku derita. Namanya anemia retino....apa gitu. Jadi yang diobati itu tentu saja anemianya.
Sedangkan kataraknya, alhamdulillah juga ternyata bukan. Hanya saja memang ada ketidak jernihan di bola mataku. Tapi itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Diduga mungkin akibat anemia itu tadi. Jadi pasokan aliran darah ke bola mata tidak terlalu lancar. Jadi memang ada selaput yang mengotori. Belum jelas itu apa. Diduga akibat dari anemia retino.. apa gitu (namanya sulit. Sesulit aku tiap kali disuruh nulis nama mantan gubernur California yang artis berbadan besar yang istrinya masih keturunan keluarga John. F. Kennedy itu. Yang depannya Arnold. Aku gak pernah ingat.. yang benar itu.. swazenerger atau szawazeneger atau... huff.. lupakan).
Jadi?
Ahh. Aku senang dengan berita baik yagn dikabarkan oleh dokter mataku ini. Alhamdulillah.
Syukurlah. 
Aku bersyukurnya luar biasa. Lalu tiba2 ingat cerita tentang 7 keajaiban di dunia.
Cari-cari lagi.
Baca-baca lagi.
Dan... terharu lagi.
Ini tulisannya.
Sudah ada yang pernah membacanya?
=============================
Assalamu'alaikum......
Semangaaattttt Pagiiii
TUJUH KEAJAIBAN DUNIA

Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan Tujuh Keajaiban Dunia. Tepat sebelum kelas usai, siang itu semua siswa diminta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing.
Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu, mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu. Malamnya sang guru memeriksa tugas siswa-siswanya itu
Sebagian besar siswa menulis demikian:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Candi Borobudur
Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar tersebut, Guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir. Tetapi saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam.
Lembar terakhir itu milik si gadis kecil pendiam…
Isinya seperti ini:
Tujuh Keajaiban Dunia:
1. Bisa melihat
2. Bisa mendengar
3. Bisa menyentuh
4. Bisa disayangi
5. Bisa merasakan
6. Bisa tertawa, dan
7. Bisa mencintai…
Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa-siswanya.Kemudian menundukkan kepalanya berdoa. Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya, yang telah mengajarkannya sebuah pelajaran hebat.
Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban. Keajaiban itu ada di sekeliling kita untuk miliki.
Bersyukurlah atas semua yang kita sudah miliki.
Dengan syukur, maka akan Allah tambahkan nikmat bagi kita..😊🙏
ini foto matahari yang aku ambil ketika pagi menjelang dari atas jembatan penyeberangan pas aku antar anak sekolah. Subhanallah indahnya. Alhamdulillah masih dikaruniai sehat dan rezeki bisa menikmati keindahan ini.
alhamdulillah. 

Selasa, 22 April 2014

Trailler novel Yang Tersimpan di Sudut Hati

Aku bikin trailler ini dulu buat iseng. Tujuannya, biar penulisan novel LUKISAN HATI bisa lancar karena aku jadi berasa diingatkan lagi jalan ceritanya. Maklum, menulis novel Dwilogi itu seninya spesial. Dan ini caraku untuk menulis novel dwilogi tersebut.



ABG ngambek

Sudah dua bulan terakhir ini, pekerjaan yang selalu aku lakukan jika ada waktu senggang adalah "mengkarduskan perabotan di rumah". hehe.. ini dalam rangka rencana mau pindah rumah karena rumah yang aku tempati sekarang ingin direnovasi.

Jadi, jangan heran jika ada yang datang ke rumah, maka akan menemukan lemari-lemari yang kosong melompong tak terisi tapi di sudut lain ada tumpukan kardus yang tinggi-tinggi dan b esar-besar. Sebagian sudah diangkut ke rumah kontrakan sih sekarang.

Pekan lalu, giliran kamar menjahit yang aku benahi. Mesin jahit dan semua buku-buku tentang menjahit aku masukkan ke dalam kardus. Lalu aku beri tulisan peringatan di atasnya agar kardus itu tidak ditumpuk dengan kardus buku yang berat-berat. Ugh.. bisa-bisa mesin jahitku rusak jika ditumpuk dengan buku.

Agar tidak ditumpuk, maka aku pun membuat sebuah tanda spesial di kardus itu. Yaitu, kardus mesin jahitnya aku beri tali rafia. Lalu diberi juga tulisan dengan pulpen. Tapi... ugh.. putriku yang sudah jadi ABG remaja, malah ngambek karena semua pertanda itu. Mau tahu kenapa? Ini nih gara-garanya:





Nah... sudah aku tulis kan kata-kata peringatannya.
MESIN JAHIT
JANGAN DITIMPUK... EH
TUMPUK

Iya, ngaku deh. Karena terburu-buru jadi aku salah tulis. Nyari penghapus gak ada jadi ya aku tulis saja ralatnya di bawahnya. Nggak salah kan aku?

Tapi remaja ABG-ku langsung berkomentar.

"Ibuuu... kenapa sih ditulisnya pake pulpen?"
"Ih, ibu nyari-nyari spidol gak ketemu kemarin."
"Ah... ada kok. Pake spidol dong bu, jadi terbaca oleh orang lain. Kalau pake pulpen, terlalu samar."
"Iya.. iya... "

Lantas aku mulai mencari-cari spidol. Tapi, bertemunya dengan stabilo. Warnanya sih orange. Cukup ngejreng kan ya?
Dengan gembira aku pun mulai menulis di kardus, persis seperti yang diingatkan oleh putri remajaku itu.
Setelah selesai menulis, tulisan itu aku pamerkan pada dia.
"Nak.. tuh. Sudah ibu tulis."



Putri remajaku langsung melotot. Sedikit ngambek.
"Ibuuuuuuuuu... aaaahhh.. tau ahhhh."
xixixixixi
Senang aku menggoda remaja ABG yang suka ngambek ini.

Sabtu, 19 April 2014

Obat Gratis Untuk Para Penderita TBC

[Lifestyle] Ada banyak hal yang gratis di dunia ini. Dan aku yakin, semua orang pasti menyukai segala sesuatu yang bersifat gratis.
Udara yang jumlahnya tidak terhingga.
Pemandangan langit yang indah bak lukisan indah dan menawan.
Juga kesehatan yang dijaga dan diperhatikan.

Jumat, 18 April 2014

Wayang Princess

Salah satu tempat shalat jumat yang nyaman (krn ada ac, karpetnya empuk, suasananya tenang) dan perempuan yang ikut serta bisa punya tempat menunggu yang enak juga adalah di Plaza Indonesia, jakarta lantai 6.
Jadi sementara para lelaki shalat Jumat para perempuan bisa cuci mata di etalase toko (*hahhaha gaya hidup hedon banget yaks?... biarin)
Nah.. ketika sedang jalan2 itu aku dan putriku bertemu dengan stand boneka. Dan mereka ternyata menjual figurine Princess Sofia sekeluarga.
Wahhh..
Putriku yang merupakan penggemar Princess Sofia langsung riang ketika kutawari untuk membelinya.
Sekejap kemudian, dia sudah memainkan salah satu scene film Sofia The First.
"Aku hafal semua adegan film itu bu."
Gayanya mirip sekali dengan gaya dalang. Mungkin, cerita yang dia mainkan dengan figurine tersebut bisa dikatakan sebagai wayang modern. Senang saja melihatnya.

Rabu, 16 April 2014

[Wordless Wednesday]: Fall to Sleep

Maybe, she's too tired.
8 hours in school
From 6.30 am to 03.00 pm
No need air conditioning on board
just wind and fresh air
and she's fall to sleep





Pesan Pengunjung di Wall Facebook

Dua hari yang lalu, tanpa sengaja aku membaca berita bahwa temannya temanku meninggal dunia.
Innalillahi wa innailaihi rajiun.
Mendengar berita duka tersebut, segera aku meluncur ke wall facebook milik temanku itu untuk mengucapkan ucapan ikut berduka cita. Setelah menulis ucapan ikut berduka cita, iseng, aku ingin mengetahui seperti apa temannya yang meninggal dunia tersebut. Jadi, aku klik nama temannya temanku tersebut. Aku pun terbawa ke wall almarhumah. Dan termenung disana. Lama sekali.

Wall-nya, sudah disetting hanya bisa ditelusuri oleh teman saja foto-fotonya. Itu sebabnya aku tidak bisa melihat seperti apa temannya temanku itu. Tapi, seluruh postingan yang ada di wallnya terbuka untuk umum. Jadi aku bisa leluasa membaca apa saja yang ada di wall alhmarhumah. Ternyata... isinya adalah kumpulan ucapan dan ucapan.

Mulai dari ketika dia berulang tahun, lalu menikah, lalu berulang tahun lagi, lalu melahirkan dan punya anak, lalu berulang tahun lagi, dan akhirnya... ucapan ikut berduka cita dan merasa kehilangan atas kematiannya.

Itu saja berita yang tampil di wallnya.
Bisa jadi, almarhumah semasa hidupnya tidak banyak melewatkan waktu bercengkerama dengan teman-teman di dunia mayanya, khususnya di facebook. Itu sebabnya tidak banyak berita yang dibaginya. Tapi, meski demikian, teman-temannya tetap setia mengirimkan doa dan ucapan ikut merasakan kebahagiaan yang dia dapatkan. Bahkan, meski tidak dibalas sekalipun semua ucapan tersebut tapi teman-temannya tetap setia mengirimkan ucapan-ucapan untuk dirinya setiap kali ada momen yang memang perlu diberi ucapan selamat.

Teman-teman itu.... mungkin memang bukan bagian dari keluarga kita. Tapi, kehadiran mereka tetap menghangatkan. Dan tanpa sadar, kehadiran teman-teman di sekeliling kita itu membuat hidup terasa lebih hidup.

Entahlah. Aku terharu dengan kehadiran teman-teman almarhumah yang tetap setia berkunjung meski sapaannya tidak dibalas. Mereka luar biasa sekali. Tetap setia dan ikhlas dalam menjalin hubungan pertemanan.
Almarhumah sungguh beruntung.

Ini dia screen shoot wall facebook temannya temanku itu.





Rabu, 09 April 2014

[wordless wednesday]: Today is Election Day in Indonesia

Yeeeeaaahhh.... Today is Election Day.







Where is everybody?
They are going to election day.
And me too.... yeeeaaaah...


[wordless Wednesday]: Me and Her in Srikandi Blogger 2014 Event

On Srikandi Blogger event 2014, March 9, 2014, I met some friend that I never met before unless in Social Media. Happy, alhamdulillah. This nice event was handle with KEB (kumpulan Emak Blogger)

with Ika Koentjoro


With Lidya Fitrian

With Arin Murtiyarini 
with Winny Widyawati

with Nunung 

with Fita Cakra (Fitria Cakrawati) and Indah Julianti Sibarani

Minggu, 06 April 2014

Tentang Rindu

Tidak perlu sebuah rasa cinta yang begitu besar untuk menghadirkan rasa rindu. Cukup beberapa kali pertemuan, dimana mata bertemu dengan mata dan seulas senyum saling dipertukarkan, maka rindu bisa menjelma dalam dada ketika perjumpaan tidak terwujud.

Tidak perlu juga sebuah rasa sayang. Karena sesungguhnya, ketika kita membenci seseorang dan menginginkannya untuk pergi dari hadapan kita karena kehadirannya setiap hari yang terus saja menyusahkan diri kita; suatu hari ketika dia tidak datang mengganggu, sebuah rasa kehilangan tumbuh mungil di dalam hati.

Rindu hadir karena pertemuan yang tercipta.
Menguar asa, menghasut hati hingga pikiran enggan berpaling.
Jika tidak diperlukan sebuah rasa cinta yang begitu besar untuk menghadirkan rasa rindu;
pun tidak diperlukan rasa sayang karena benci pun bisa mementikkan rindu,
lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki rasa cinta yang amat besar dan dalam?
Lalu seperti apa orang yang sama sekali tidak memiliki rasa benci dalam hatinya?
Rasa rindu itu akan membelit hatinya begitu erat hingga membuat sesak
Rindu itu berubah menjadi belati yang sanggup membelah hati untuk dibawa pergi
Menghilang
Membiarkan sekarat hati yang tinggal separuh

Bulan April tanggal 18 tahun 2003 lalu, aku kehilangan ibuku tercinta
Perempuan yang melahirkanku dengan susah payah, dan memberiku nama di hati ketiga aku hadir di muka bumi karena rasa takutnya aku tidak bisa bicara jika tidak diberi nama dengan segera
Menungguiku dengan sabar ketika aku sakit
Berdoa diam-diam ketika sakitku semakin parah
Dan memutuskan untuk meninggalkan semua aktifitasnya di luar rumah karena rasa cintanya pada anak-anaknya
Ketika rezeki berlimpah dia berusaha menyenangkan suami dan anak-anaknya
Dan ketika rezeki menetes pelit dia tetap berusaha membahagiakan setiap mulut dan semua mata
Tangis bersanding dengan tawa
Marah berpasangan dengan belaian sayang
Pukulan tidak pernah berlari sendirian karena senantiasa ada pelukan di belakangnya
Dan cinta terus tumbuh di dalam dada lewat aroma masakan yang menguar olahannya
Dan itulah yang membuatku menulis status seperti ini di Facebook pada tanggal 11 maret 2014 lalu.

Hari ini, aku kangen pingin makan bihun goreng sederhana yang kecapnya gak terlalu manis dan bihunnya gak terlalu gurih. Dulu, ibuku sering membuat bihun goreng ini. Setelah beliau meninggal dunia di tahun 2003, aku mulai keranjingan memesan bihun goreng di resto yg menjual mie dan bihun. Tapi... tidak ada yang memasak bihun goreng seenak buatan ibuku. Dan itu membuatku jadi... semakin merindukan beliau. Termasuk hari ini. Ketika aku malas masak lalu ingin makan tempe bacem. Tempe bacem buatan ibuku itu khas. Tidak pernah terlalu manis seperti tempe bacem orang Jawa.
Dulu dia selalu berkata padaku yang menggemari Tempe: "De, suka makan ikan juga dong. Kamu kan orang Sumatra. Bukan orang Jawa."
Lalu aku selalu menjawab: "Ya udah, nanti suami ade orang Jawa deh. Biar gak harus makan ikan." Hehehehe... lalu suamiku sekarang orang Jawa beneran. Tapi tetap aku tidak bisa membuat tempe bacem. Khususnya tempe bacem seperti buatan ibu yang sengaja dibuat tidak semanis tempe bacem buatan orang Jawa. Dan hari ini... aku kangen tempe bacem ibu.
Hmm.
Tidak.
Lebih tepatnya... Aku kangen ibuku. Kangen banget. Hingga suara kelotakan tikus di dapur yang mungkin sedang bermain-main dengan cucian piring yang bertumpuk di dapurku. Menjelma menjadi khayalan... bahwa ada ibu yang sedang sibuk memasak di dapur. Memasak bihun goreng dan tempe bacem. Spesial hanya untukku saja.
------------------------------
Dan ini beberapa komen dari pembaca status tersebut yang aku suka (tidak semua aku pindahkan komen dari sana):


Astia Zaibi Ia smp skr blm nemuin masakan seberani bumbu ky ibu setiap bkn mknan..selalu berasa kurang berani atw keberanian ga pernah pas apapun makanannya..
3/11/2014 10:44:1



Ade Anita Full Astia Zaibi: iya samaaaaa..... bumbu masakan ibu kita itu tidak pedas dan pekat sepreti masakan sumatra tapi juga tidak manis seperti masakan jawa... benar-benar pas aja. Bahkan tempoyak dan sambal cengek buatan ibu belum ada yang bisa menyainginya menurut ade.. always the best..... (termasuk makaroni schotelnya, juga gulai pindangnya)
3/12/2014 11:38:1


Astia Zaibi Bener...ibu kalo masak tampilannya ga pernah pucet tp pas dimakan ga berlebihan..pas..sesuai yg kita pkrin..kalo pedes yha pedes,kalo asem yha asem,kalo manis yha manis tp ga berlebihan cm ga prnh kurang juga rasa dan tampilannya..siapapun smp skr ia...
See more
3/12/2014 12:48:5


BacaBaca Tulungagung jadi ingat makan tempe bacem di rumah mbak Ade... sambil menyuguhkan, kita diwanti-wanti, "ini bukan gosong.. warnanya emang coklat..." hihihi
3/12/2014 1:46:1



Ade Anita Full BacaBaca Tulungagung: hahahahaha... aku gak bisa masakkkk... semua modal nekad. Makanya dikasi warning.
3/12/2014 5:14:3


Umi Widarti 2003? ibuku juga berpulang pada tahun yang sama. Lalu aku pun merindukan masakannya. Merindukan wangi khas kulit ayam yang digoreng.
3/12/2014 11:04:4


Ade Anita Full Sama kita ya mbak Umi Widarti...
3/13/2014 7:11:3


Umi Widarti dua tahun baru bisa keluar dari rasa histeria kehilangan ibuk. Waktu berpulang hanya aku yang mengiringi kepergiannya di ruang HCU. Setengah malam aku bacakan Yassin dan berbicara sama Ibuk yang koma. Hingga aku tertidur disamping Ibuk. Lalu Suster membangunkanku krn angka di monitor menunjukkan kritis. Aku glagapan, tiba2 sdh ada Oom ku - adik Ibu yang datang tengah malam dari Bandung. Digital monitor turun terus angkanya. Dokter menggunakan CPR...mataku nanar didalam kondisi kalut. Tiiiiiiiiiit yang sangat panjang lalu membuatku trasa kaku sekujur tubuh. Wajahku. Wajahku kubenamkan dalam-dalam ke bantal disamping kepala ibuk. Butuh waktu dua tahun utk sembuh dari kehilangan. (mbak Ade...udah critaku, hehehe kebablasan deh). Yuk! masak skg hihih
3/13/2014 9:46:0

Jumat, 04 April 2014

Tanda-Tanda Anak Yang Dibully (part 2): Gosipkah?

Kalian termasuk orang yang percaya pada gosip yang mampir di telingakah? Kebetulan, aku termasuk orang yang tidak langsung percaya.
Jadi, jika ada yang datang padaku membawa sebuah berita yang aku sama sekali tidak tahu, reaksi pertamaku biasanya adalah diam dulu. Dalam hati sih alarm "kepo" ku mulai menyala. hahaha. Tapi, aku berusaha untuk jaim biasanya. Jadi, berita itu aku terima utuh dulu, tapi aku belum bereaksi. Paling mencoba untuk menjadi pendengar yang baik. Setelah itu duduk diam tidak sabar menunggu suami pulang dari kantor. Nah, malamnya baru deh heboh di depan suamiku.

"Mas.. mas... masa nih... " hahahaha, ini dialog awal sebuah gosip banget ya biasanya. Tapi ya begitulah. Mulutku ember jika sudah di depan suami. Nyaris semua rahasia yang aku ketahui, suamiku mengetahuinya. Setelah aku cerita panjang lebar, barulah akhirnya kami berdiskusi. hasil diskusinya gimana? Nah... itu yang unik. Karena hasilnya belum tentu juga aku sepakat dengan suamiku. hahahaha...... biasanya aku punya pendapat sendiri dan suamiku juga demikian dan irisan perndapat itu yang menjadi kesamaan pendapat kami berdua. Jadi pendapatku yang keluar itu ada pengaruh dari hasi diskusi kami. 

Nah, di sekolah-sekolah atau daerah di mana anak-anak kita sering bermain, biasanya juga berseliweran yang namanya gosip-gosip. Tahu gak, gosip itu mirip dengan asap. Terlihat membesar, disaksikan oleh banyak orang, melingkupi daerah yang luas padahal sebenarnya asal muasal dari asap itu adalah titik api yang bisa jadi kecil saja. Kita bisa menghilangkan asap dengan menghalau asap itu agar pergi tapi jika titik api masih menyala maka asap itu akan tetap hadir. 

JIKA GOSIP SAMA SEPERTI ASAP YANG BERASAL DARI API, jadi, apakah itu berarti gosip itu mengandung sebuah kebenaran? Hal ini lain lagi ceritanya. 

Mari kita lihat kronologi terbentuknya sebuah asap. 
dari sebuah titik api, asap pun terbentuk. membumbung tinggi menuju langit lepas
(btw, kenapa aku salah nulis tahun pembuatan gambar ini ya? aih.. siwer)

setelah tiba di langit yang luas, asap tersebut bertemu dengan asap-asap yang lain, terkontaminasi dan berbaurlah dia
(nah, ini baru bener nulis tahun pembuatan gambarnya. eh.. malah dibahas .. hehe)
Dan demikianlah pula gosip. Bisa jadi, asal muasal dari gosip itu adalah sebuah fakta. Tapi, karena dia bergerak dari mulut ke mulut maka ada penambahan versi ketika fakta itu berpindah dari mulut seseorang ke telinga orang lain dan orang lain itu menyampaikannya lagi telinga orang yang lain lagi. Hasilnya: fakta itu menjadi sesuatu yang berbeda. Ada sisi faktanya tapi sudah berubah bentuknya. Disinilah semua orang hendaknya bijak ketika mendengar sebuah gosip yang mampir di telinganya.

Bijak dalam arti, tidak menolaknya sama sekali tapi juga jangan percaya bulat-bulat kebenarannya. Selalu Tabayyun alias cek dan ricek.

Lalu, bagaimana jika sebagai orang tua tiba-tiba mampir sebuah gosip ke telinga kita bahwa anak kita dibully di sekolahnya?
"Jeng.. jeng... memangnya anakmu itu ...."
Nah... jika mendengar gosip tentang anak kita, semenyebalkan apapun gosip itu,  jangan cepat-cepat marah-marah dulu. Mari kita cek kebenarannya.

Ada beberapa pihak yang harus kita hubungi dalam hal ini:
1. Anak kita sendiri.
Selalu tanya baik-baik ke anak kita, Benar gak dia seperti yang digosipkan itu.
2. Tanya ke teman-teman dekat anak kita.
3. Tanya ke kalangan ibu-ibu yang menyebarkan gosip itu, itu gosipnya awalnya dari mana.
4. Tanya ke guru.

Kebetulan anakku sempat dibully oleh temannya.
Suatu hari, anakku tiba-tiba bertanya padaku:

"Bu, aku ganti tas ya."
"Loh? Kenapa ganti tas? Kan.. masih baru tasnya."
"Gak papah. Pingin ganti ajah."

Tapi, karena anakku itu alhamdulillah-nya adalah anak yang tidak mau menyusahkan orang tua, jadi setelah aku katakan bahwa tasnya masih bagus jadi pakai tas itu saja dia pun menurut. Hanya saja, beberapa hari kemudian, tiba-tiba seorang ibu-ibu di sekolah anakku menghubungiku.

"Jeng.. jeng, jeng tahu tidak bahwa anak jeng itu tidak punya teman di kelasnya."
"Hah? Nggak punya teman?" (padahal selama ini aku selalu merasa yakin bahwa anakku adalah anak yang amat supel dan cukup disayang oleh teman-temannya)
"Iya. Dia dimusuhi oleh teman-temannya."
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Tapi ibu-ibu lain pada ngomongin tuh. Kata mereka kasihan ya si xxx sekarang jadi anak yang dikucilkan di kelasnya."

Oke. Belum boleh panik dan belum boleh khawatir dulu. Itu reaksi pertamaku ketika pertama kali mendengar gosip perihal anakku. Selanjutnya, aku pun mengajak anakku ngobrol.

"Eh, di sekolah tadi, kamu main apa aja?"
"Banyak bu. Aku main kejar-kejaran sama z, b, a, c."
"Oh ya? Seru nggak?'
"Seruuu..."  Lalu meluncurlah cerita keseruan permainan yang dialami oleh anakku. Sepanjang dia bercerita aku memperhatikan perilakunya. Tidak ada yang berubah. Dia tetap lincah seperti biasanya, tetap menyenangkan hatiku juga, tidak terlihat murung, tetap bersemangat dan ceria. Hmm... jadi gosip yang mampir ke telingaku itu benar atau tidak sih?

Besok-besoknya, mulailah aku lebih intensif datang ke sekolah. Duduk-duduk bersama para ibu dan terlibat dalam obrolan dengan mereka. Dan mulai mencari tahu perihal gosip yang aku dengar. Para ibu tetap berkeyakinan bahwa anakku dikucilkan di kelasnya.
Berarti ada dua fakta yang aku terima:
1. Anakku dikucilkan di kelasnya (ini fakta yang aku dengar dari gosip ibu-ibu di sekolah).
2. Anakku tidak ada masalah apapun dengan teman-temannya (ini fakta yang aku dengar dari anakku sendiri)
Keduanya saling bertolak belakang.
Jadi.. mana yang benar?

Langkah berikutnya, aku pun mulai melakukan pengamatan di sekolah. Agak sulit karena akses untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah itu tidak mudah. Sekolah steril dari lingkungan luar ketika jam pelajaran dimulai. Tapi, ketika saat makan siang dan shalat dhuhur tiba, gerbang sekolah dibuka untuk mereka yang ingin membawakan makanan untuk anaknya. Hanya ada waktu setengah jam tapi lumayanlah. Dari hasil pengamatan itu aku mendapat fakta baru. Yaitu:
1. Ternyata benar anakku tidak ada masalah apapun dengan teman-temannya. Dia tetap bermain dengan riang gembira dengan teman-temannya. Teman-temannya masih banyak.
2. Teman-teman anakku itu berasal dari luar kelasnya. Jadi dari kelas lain. Loh? Kemana teman-teman kelasnya? Ternyata, di kelas, anakku hanya punya dua orang teman.
Berarti dua fakta yang aku terima di atas ada benarnya.

Oh. Tidak. Itu berarti anakku benar dong dikucilkan di kelasnya. Kenapa? Kenapa?

Aku kembali mengajak anakku berbicara empat mata. Berbagai macam cara aku gunakan untuk mendekatinya agar dia mau bercerita tanpa merasa sedang diinterogasi. Level rasa ingin tahu dalam hatiku benar-benar melonjak tinggi tapi aku berusaha keras untuk terlihat tenang dan santai. Karena sekali saja aku terlihat "mau tahu banget" aku takut anakku malah jadi berusaha untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.

Dari hasil obrolan ibu dan anak itu aku jadi tahu bahwa semua masalah ini bermula dari permintaan anakku yang ingin berganti tas.
OMG.Dulu kenapa aku gak curiga ya?

Jadi, ada sekelompok anak di dalam kelas, yang kebetulan memiliki kemampuan untuk memobilisasi pendapat orang lain (ini kayaknya emang bakat-bakatan dan kebetulan anak itu dikaruniai bakat itu) dan kebetulan sekelompok anak itu adalah anak-anak yang TIDAK SUKA DENGAN FIGUR PRINCESS. Padahal, anakku itu amat sukaaaa (pake banget) dengan figur Princess. Itu sebabnya tas yang dia pakai ke sekolah gambarnya adalah gambar Princess.
Karena kesukaan yang bertolak belakang ini maka sekelompok anak-anak itu mengancam anakku jika tidak menuruti kemauan mereka maka anakku tidak akan ditemani oleh teman-teman sekelas.
NAH. Itu sebabnya di kelas anakku hanya punya 2 orang teman (setianya).

"Terus... kamunya kasihan dong jadi nggak punya teman."
"Nggap papah bu, kan aku masih bisa berteman dengan teman-teman dari kelas lain."

Ah. Syukurlah (aku langsung mengecup pipi anakku ketika dia mengatakan hal ini).

Tapi.. tentu saja hal ini tidak bisa dibiarkan bukan? Lalu bagaimana cara penyelesaiannya? Bersambung ke bagian ke tiga saja ya. Soalnya kepalaku pusing nih.  Sekalian nati aku cerita solusi untuk menghadapi Bullying di sekolah insya Allah. 

Be a Writer

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...