badge

Sabtu, 20 Desember 2014

Dikejar Anjing

Jalan-jalan ke blognya mak HM Zwan aku jadi inget bahwa dulu aku punya pengalaman serupa: dikejar anjing.

Jadi ceritanya, waktu kecil, ketika pulang sekolah aku dan kakak pulang jalan kaki. Untuk mencapai rumah, rute yang harus kami lewati itu ada dua, memotong jalan lewat kompleks tentara Zeni atau jalan memutat lewat jalan besar yang ada di tepi sebelah perkebunan karet.


Di kompleks Zeni ini ada banyak orang ysng memelihara anjing. Yaitu orang Toraja yang tinggal di ujung dekat pintu masuk dan orang Ambon yang tinggal di ujung jalan keluar. Tapi memelihara di sini dalam arti setelah diberi makan maka anjing-anjing itu dibiarkan berkeliaran di dalam kompleks. Kotoran anjing tersebar dimana-mana sehingga kita harus hati-hati dalam berjalan. Dan ketegangan jelas terasa di sepanjang perjalanan. Khususnya buat aku dan kakak yang takut pada anjing. Jadi sepanjang jalan aku pribadi pasti merapal al Fathihah dan basmallah banyak-banyak.
Karena alasan inilah maka aku dan kakak lebih senang lewat jalan memutar meski jaraknya lebih jauh.

Suatu hari, ternyata anak tentara yang orang Ambon itu sedang main ke rumah temannya yang tinggal di jalan memutar yang biasa kami lewati. Dan ketika main itu dia membawa anjingnya turut serta. Seekor Herder yang berwarna hitam dengan dada keemasan. Besar dan bengis sekali wajah anjingnya. Anjingnya dilepas begitu saja sementara pemiliknya ngobrol dengan temannya. Ketika itulah aku dan si Herder bertemu.

Pandang-pandangan.
dan aku mulai deg--degan.
Herder itu mulai menyeringai.
dan aku makin gemetar.

Pemiliknya sepertinya sudah tahu gelagat tidak baik. Jadi dia langsung menghamoiri anjingnya hati-hati sambil bilang "tenang..tenang...."

Tapi mana bisa tenang! Rasa takutku sudah naik hingga ke kepala. Jadi, begitu Herder itu menyalak keras sekali, Aku langsung berbalik arah dan berlari.

Melihat aku berlari tentu saja Anjing itu langsung mengejarku. Bahkan pemiliknya pun gelagapan tidak mampu menahan anjingnya yang besar itu.


Aku berlari. Untungnya, dulu aku memang gemar lari karena masih langsing dan kakinya jugs panjang. Aku berlari menuju perkebunan karet. Ini perkebunan dimana aku sering mengambil getahnya untuk dibuag bola bekel dan bols kasti.  Aku hafsl pohon-pohon di perkebunan inI. Pada sebuah pohon dengan cabang yang rendah aku langsung memanjatnya. Tinggi... hingga anjing tidak bisa meraihku. Anjing itu menunggu di bawah. Dan di atas cabang pohon karet aku mulai menangis histeris minta tolong.

Pemilik anjing datang dan memegang anjingnya lalu memintaku untuk turun.  Tentu saja aku menolaknya. Tubuh pemiliknya lebih kecil daripada anjingnya. Jika anjingnya berulah lagi belum tentu dia bisa mengendalikan anjingnya lagi.

Akhirnya,  orang lain datang.  Beberapa sekaligus. Dan setelah anjing dan pemiliknya pergi, barulah aku turun dari pohon.
fiuh.
Tegang sekali.
 Aku pun pulang sambil berlinang air mata dan kaki yang serasa mau copot akibat berlari kencang. hahaha


8 komentar:

  1. ha, ha, kebayang mak Ade dulu,pasti mukanya pucat pasi. Wah kayak anak-anakku mak Ade mereka tkut seakali anjing padahal ortunya dokter hewan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah? itu gimana ceritanya ortu dokter hewan tapi anaknya takut hewan... hahahahahaha.... takut emang gak bisa direkayasa ya ternyata

      Hapus
  2. Mbak Ade typonya parah nih. Untung tetep bisa dipahami :)

    BalasHapus
  3. Iyaaaa.. ngapdet dari hape...hahahha

    BalasHapus
  4. anakku pernah hadap2an dgn anjing. itu ak liat bgt dgn jelas. anakku teriak setengah mati, sementara si anjing melihat ke arahnya dgn menggonggong keras tapi ngga gigit. aku antara ketawa dan kasian langsung nyamperi dia dan ngusir anjingnya... duuuh

    BalasHapus
  5. keren bangat informasihnya terima kasih

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...