Langsung ke konten utama

Resep Sambal Mangga dan Kisah di Baliknya

[Keluarga, Lifestyle : Kuliner] : Kemarin, sepertinya aku terkompori oleh sambal bu Sukri alias @anikkeenola. Beberapa kali nyoba masakan buatan dia terbukti enak jadi liat sambalnya asli bikin kepingin Jadilah step by step resep sambal ibu sukri aku ikuti. Begitu udah jadi dan aku colek, wuihhhhh.... Rasanya emang enak. Lalu tiba-tiba aku ingat almarhum ayahku. Dulu, ayah menanam pohon mangga bacang di rumahnya. Buahnya besar dan bulat sebesar melon. Belakangan, pohon mangga ini ternyata di luar sana dikenal dengan nama Mangga Apel.

Hmm. Sebenarnya, pohon Mangga Apel ini tidak sepenuhnya ditanam oleh Ayahku. Awalnya, pohon ini ditanam di halaman rumahku. Ceritanya, aku ingin menanam tambulapot alias tanaman buah dalam pot. Benih cikal bakal pohon ini aku beli di tukang tanaman seharga Rp15.000. Murah kan. Nah, di rumah, mangga apel ini aku tanam di sebuah pot plastik ukuran besar. Seiring dengan bertambah besarnya tanaman manggaku, pot plastikku pun pecah. Lalu, aku pindahkan ke sebuah pot tanah liat. Dan, akar-akar pohon mangga apelku pun kembali merobek dinding pot tanah liatku. Tukang tanaman langgananku menyarankan agar tanaman mangga apel itu ditanam saja di tanah. Tapi.... hmm. Tanah pekarangan rumahku mini. Luasnya hanya sebesar 2 x 1,5 meter saja. 

Bingung.
Galau.
Aku agak-agak menyesal kenapa berkeinginan menanam tambulapot. Ujung-ujungnya aku malah menelantarkan tambulapot mangga apelku. Tidak disiram, tidak diindahkan. Benar-benar terjadi sebuah pembiaran.Penelantaran.
Hingga ayah dan ibu datang ke rumahku dan kasihan dengan tambulapot mangga apel yang merana. Batangnya kurus, daunnya hanya tersisa beberapa tangkai saja di pucuknya yang bisa dihitung dengan jari. 

"Sudah. Buat ibu aja ya. Biar ditanam di rumah saja." Ibu akhirnya berinisiatif mengadopsinya setelah mendengar penjelasanku. Akhirnya kami bersepakat. Tambulapot mangga apelku dibawa ke rumah ibu dan di tanam di halaman belakang rumahnya yang luas, dekat dengan kolam ikan dan air terjun. 


ini nih bentuk tambulapot mangga apel. Belakangan aku tahu bahwa seharusnya diletakkan dalam tong! hehehe

ini dia bentuk buah mangganya. Besarnya sebesar buah melon nih aslinya. Gambar diambil dari sini
Setelah dipindahkan ke tanah, tanaman mangga apel ini tumbuh dengan subur sekali. Dahannya menjulur melebar dan setiap batangnya rimbun dengan daun. Yang paling mengagumkan adalah ketika mulai bermunculan bakal buah. Awalnya, bakal buah itu muncul kecil-kecil dan bergerombol di ujung ranting, seperti buah duku, lalu terus membesar sebesar buah jeruk dan itu akan terus membesar dan membesar. Ayahku, dengan sabar akan menutupi buah yang sebentar lagi akan masak dengan koran agar buah tersebut tidak dicuri oleh kalong atau musang. 

"Tuh, De. Tanaman dari rumahmu, tumbuh subur di rumah ayah. Sebentar lagi panen itu."
"Wuih.. mangga. Aku dulu nanam mangga sebenarnya karena suka banget sama mangga. Mangga di rumah tuh diapain aja laku. Ade buat  puding mangga, dicampur di tumisan ayam jadi model masakan Thailand gitu, atau dikupas begitu saja. Pokoknya pasti laku deh buah mangga di rumah ade."
"Ya sudah, nanti kalau sudah mau panen, ayah akan bagi ke kamu buahnya."

Ternyata ayah bukan cuma janji palsu saja berkata seperti itu. Dia serius. Begitu serius hingga pada beberapa buah mangga pilihannya, ditulisnya di kulit mangga itu sebuah tulisan:


Ade, 12/8/04
Artinya, buah itu (cuma) untuk ade, dan akan dipetik pada tanggal 12 bulan 8 tahun 2004. 
Jadi, ketika ayah datang ke rumahku dengan sekantong mangga yang besar-besar, pada tiap-tiap buah mangganya ada tulisan berspidol seperti itu. (jujur saja, waktu itu aku mentertawakan kelakuan ayahku itu. Tapi, ketika beliau sudah wafat, aku mengenangnya kini sebagai sebuah perlakuan spesial dari ayahku. Ya, ternyata beliau amat men-spesial-kan aku. Subhanallah, ayah....)

Setelah berganti tahun dan pohon mangga kian besar dan melebar, buah yang masak pun kian banyak dan ketika mendekati musim panen mangga, harum buah mangga yang ingin ranum  itu mengundang kedatangan kalong buah dan musang. Jadi, setiap malam sering terdengar buah yang jatuh karena digerogoti kalong (ini cerita ayahku). Akhirnya, ayah memetik buah itu sebelum tanggal yang tertera di sana.

"De... ini belum matang banget. Masih harus nunggu dulu. Tapi, tempat beras di rumah ayah sudah tidak muat tempatya untuk menyimpan mangga. Kamu simpan sendiri saja ya."
"Terus... terus dikupasnya kapan?"
"Memangnya kamu nggak tahu?"
"Ya, paling ade pencet aja. Kalau lembek berarti dah matang."
"Itu namanya busuk, anakku."

Bisa jadi karena ayah gemas melihat kebodohanku, maka, tulisan tangan ayah di kulit buah mangga itu bertambah lagi dengan tulisan baru.


Ade, 12/8/04

2 minggu lagi

 yang artinya, buat Ade, bisa dimakan tanggal 12, bulan 8, tahun 2004 jika buah itu matang di pohon, tapi karena ini sudah dipetik maka baru bisa dimakan 2 minggu lagi.

Jadi, kebayang kan repotnya ayahku yang setiap kali datang dengan sekantong mangga yang sudah ditulis tiap-tiap buahnya, lalu tiba di rumahku masih disibukkan dengan menulis pada tiap-tiap buahnya itu sebuah tulisan baru lagi. Sebelum ditulis, ayah mencium buah tersebut, mengendus-endusnya terlebih dahulu lalu berpikir sejenak untuk memperkirakan kapan estimasi terdekat buah tersebut bisa mulai dikupas.
Aku sering mentertawakan kelakuannya tersebut.
Tapi dalam hati aku senang sekali dengan semua perhatiannya tersebut. Dengan semua kerepotannya tersebut. Dengan semua yang sedang dia usahakan untukku. Spesial untukku. Hanya untukku.

Duh. Ayah.
Ade jadi kangen banget sama ayah malam ini gara-gara kelakuan ayah tempo dulu tersebut.

Dan ketika aku membuat sambal terasi bu Sukri, aku kembali ingat ayahku. Kebetulan, sekarang musim mangga sudah tiba. Buah mangga bisa dijumpai dengan mudah di tukang buah dengan harga yang cukup murah. Dan hatiku berdenyar teringat ayahku ketika mengulek sambal terasi resep bu Sukri. Jadi, aku pun mengupas mangga dan mencampurkannya dalam sambal terasiku. Jadilah sambal mangga bu Ade.

Ini dia resep sambal mangga :

Bahan: cabe, bawang merah, bawang putih, terasi, garam secukupnya, gula juga secukupnya, minyak goreng 3 sdm.
 Cara membuatnya: cabe, bawang merah, bawang putih, semuanya setelah dikupas dan dibersihkan, digoreng dengan minyak goreng jangan sampai kering. Asal layu saja. Setelah itu diangkat lalu diulek kasar di atas cobek. Masukkan terasi, ulek lagi, campur dengan garam dan gula. Setelah itu diaduk rata, lalu masukkan cincangan buah mangga di atasnya, aduk rata, jadi deh.







dan ini jodohnya untuk sarapan pagiku: dengan tempe dan ikan goreng.
 yuk... kita makan.




Komentar

  1. Kenangan yang manis mbak

    BalasHapus
  2. manis mangganya manis pula kenanganya.

    BalasHapus
  3. aku pernah makan sambal mangga ini di SS mak, enak, dan seger

    BalasHapus
  4. Cerita asyik banget, benar2 kengan manis
    Kayaknya saya harus berburu Mangga Apel nih
    Sambal mangga saya beberapa kali makan
    Terima kasih tambulapotnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  5. Duh....mantap banget sambal mangganya Mak... Kayaknya sambal mangga ini menjadi khasnya orang Palembang, bener gak? Di Palembang, sambal mangga ini menjadi sajian pelengkap menu yang disajikan di atas meja makan... Kalau gak ada sambal ini terasa ada yang kurang menunya... Sambal mangga ini lebih segar lagi bila tidak ditumis alias versi mentah... Caranya: uleg cabai dengan garam, lalu tambahkan terasi bakar, lalu tambahkan gula putih dan gula merah, setelah diuleg rata tambahkan mangga yang sudah dicincang halus... Tarraaa...jadilah sambal mangga mentah yang segar... slurppp bikin lapar nih...

    BalasHapus
  6. Foto yang paling bawah bikin ngiler.

    BalasHapus
  7. ngeliat sambelnya benar2 bikin ngiler, sambal dicampur mangga.... *ces...

    BalasHapus
  8. mak adeee...tidaaak...pas liat asli ngenceees heheehhe....kebayang enaaak bangeeet...

    BalasHapus
  9. Ceritanya bikin aku kangen almarhum bapakku mbak. Semog ortu2 kita tenang di alam kubur.diampuni

    BalasHapus
  10. Wah... belum pernah aku makan sambal mangga ini. :(

    BalasHapus
  11. Wah, mantap kali sambelnya,,,,enak buat bikin rujak tuh

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…